
Aku terbangun di kasur, wajah-wajah yang tidak asing melihatiku. Aku terduduk sedikit merengek. Aku melihat mereka agak sedikit kabur, aku membiarkannya karena setiap kejadian seperti ini mataku agak kabur. Tiba-tiba seorang wanita dengan baju formal membacakan sesuatu didepanku. Tee-chan dan lainnya terdiam mendengarkan.
"Pertarungan akan dimulai 10 menit lagi, setiap setelah memenangkan pertarungan anda mendapatkan sebuah hati misteri. Terimalah" memberikan sebuah kado.
Kado itu dibungkus dengan sangat rapi, kuterima walau aku bingung. Saat dia pergi, kubuka kado yang diberikannya, aku bingung dengan apa yang ada didalamnya. Tee-chan mendekat sedikit untuk melihat apa yang didalamnya, wajahnya terkejut tak percaya. Dia langsung mengambil permata kecil itu, mengangkatnya ke atas.
"I-Ini adalah mata Ender. Ini mungkin hadiah, baru pertama kali aku melihat mata Ender, jika mata ini dijual harganya akan sangat mahal. Aku dengar-dengar, dunia Ender adalah dunia dimana kegelapan berasal, dimensinya pun hampir tak tersentuh" mengelap permata itu dengan hati-hati.
Permata Ender, permata yang seukuran genggaman tangan orang dewasa. Aku tak habis pikir, hanya sebuah permata cemerlang yang mudah pecah mahal harganya?
"Apa keunggulannya?" tanyaku agak meremehkan.
"Keunggulannya, teleportasi. Kamu bisa melakukan teleportasi, teleportasi bukanlah sihir, jadi tidak bisa dibatalkan dengan cara biasa, dan konsekuensinya" berhenti mengelap permata.
"Wohhh, bagus juga. Tapi, apa konsekuensinya?" tanyaku.
"Konsekuensinya, setelah melakukan teleportasi dan melakukannya lagi kecepatanmu akan melambat, entah sampai berapa tingkat kelambatan yang ditimbulkan, tapi jika digunakan terus-menerus dalam waktu singkat permata akan pecah, lebih buruk lagi. Penggunanya tidak bisa bergerak lagi, tak bergerak membatu. Bahaya bagi maniak kekuatan" mengembalikan ke Yohan.
"Tidak perlu Kak, ambil saja sebagai hadiah. Aku tidak memerlukannya" menolak.
Kak Tee-chan menerima agak terpaksa dan segera pergi dengan wajah memerah yang agak merasa malum. Kelakuannya yang seperti itu membuatku masih bisa menggelengkan kepala setiap melihatnya. Kulihat ke wajah Yuna yang terkejut saat dia menyadari aku melihati wajahnya. Dia sedikit memalingkan pandangan, wajahnya agak memerah. Kepalanya agak ditundukkan. Aku mulai tersenyum melihati wajah yang selalu membuatku senang, tiba-tiba air matanya menetes. Yuna langsung memelukku erat, dia menangis mengerang seperti bayi. Kuelus rambut hijau lembutnya, mengingatkanku akan kampung halamanku. Apakah Ayah dan Ibu masih bahagia disana? Apakah aku mempunyai adik baru? Hal-hal indah seperti ini sulit didapatkan.
"Yuna, jangan menangis. Aku akan melindungimu, pasti. Aku.. Akan melindungimu,(bahkan selama ini aku selalu berlindung di depanmu, apa artinya pahlawan sepertiku" menunduk melihar rambut Yuna.
Tangis Yuna mulai terhenti. Dia kembali duduk dikursinya, mengelap air matanya. Matanya terlihat bersinar saat menangis, wajahnya terlihat cantik saat menangis. Yuna berdiri dari kursinya dan mendekatiku. Dia naik ke kasur dan duduk didepanku, posisi kita sangat dekat. Perasaanku bercampur aduk, jika aku beranjak dari kasur apa Yuna akan membenciku? Banyak pikiran yang terlintas di benakku sekarang.
"Yohan" menatap wajah Yohan.
__ADS_1
"Yu.... Yuna. Bukan bermaksud begitu, tapi bukankah ini terlalu cepat" merasa gugup, pipiku memerah.
"Yohan, aku tidak ingin menyembunyikan apapun lagi. Sebenarnya aku sudah dewasa" masih menatap Yohan.
"Eh?" kejutku.
"Umurku 56 tahun, bukan 16 tahun. Apakah kau tetap menyukaiku walau aku lebih tua 40 tahun? Apakah kau akan mencintaiku?" menunduk malu.
"Yuna... Kenapa? Kenapa kau berkata seperti itu? Aku sudah berjanji, aku akan tetap mencintaimu sampai aku mati" mencium Yuna.
"Ehhhmmm... Yohan, ini terlalu cepat" mendorong pelan Yohan.
Aku merasa tertekan, Yuna akan membenciku, Yuna akan membenciku, pikiranku sudah mencapai batasnya. Aku mencoba menahan godaan Yuna, tapi dia terlihat terlalu menggoda. Kukepalkan tanganku, mencoba menahannya sekuat mungkin, semoga tidak terbangun. Tidak seperti apa yang dikatannya, aku sangat terkejut, Yuna melepaskan kancing bajunya. Seketika hawa ruangan ini semakin panas. Inilah hari yang aku tunggu-tunggu, melakukan hal dewasa.
"Yohan, apakah kau akan bertanggung jawab atas diriku?" menunduk dengan kata-kata terdengar menggoda.
"Mohon jangan membenciku, sebenarnya aku" membuka baju.
"Apa!!!" teriakku.
Ternyata Yuna adalah keturunan Succubus, iblis wanita yang memeras jiwa manusia dengan cara memeras ****** mereka sangat kering. Ekornya terlihat bergoyang-goyang di belakang tubuhnya, telinganya berangsur-angsur meruncing, begitu pula tubuhnya. Tubuhku tidak bisa kutahan, Yuna ternyata wanita dewasa. Dia tersenyum menggoda ke arahku. Aku mencoba memalingkan pandanganku, tapi sedetikpun aku tidak berkedip melihat tubuh seksi-nya. Akhirnya, perjuanganku terbayar.
"Yohan, maukah kau mengambil keperawananku?" menempelkan tubuh ke tubuh Yohan.
"Yuna. Dadamu,(goblog, apa yang kau katakan bodoh. Apa aku teleportasi saja dan melakukannya saja di rumah. Tapi, PERMATANYA!!! Sudah ku kasih ke Tee-chan)" mulai tertekan.
Sementara itu di tempat lain.
__ADS_1
"Nikmati saja tubuhnya Yohan" bersiul kesenangan.
Aku merasa menyesal memberi hadiah ke Tee-chan lagi, kenapa aku baru ingat sekarang kalau dirinya selalu menjahiliku, setiap terdesak.
"Yohannn... Yo-Ha-N" goda Yuna mengelus dagu Yohan.
"Eh, Yuna bagaimana kalau kita melakukannya setelah kontes? Kan kita harus menang" mencari alasan, wajahku sudah tidak karuan.
"Ehhhmmm, Yohan tidak berpikir yaa. Kalau Yohan ingin menang, cukup beri aku satu saja.." mendekat ke telinga Yohan.
"A-Apa itu?" mulai gugup.
"Anak darimu" menjilat telinga Yohan.
"Ti-Tidak-Tidak-Tidak!!! Oh iyaa, aku ada urusan lain!!" mencari alasan.
Secepat kilat aku beranjak dari kasur, menuju ke pintu keluar yang terbuka lebar. Brakkk... Kesempatanku untuk kabur akhirnya kandas, ekor Yuna menutup pintu kamar dan menguncinya. Ekornya mengambil kunci dan memberikannya ke Yuna, Yuna menyimpan kuncinya di balik baju. Wajahnya berubah menakutkan. Aku merinding melihat wajah cantik menyeramkannya, lagi.
"Sepertinya cara lembut tidak bekerja untukmu ya Yohan" menatap tajam Yohan
"Yuna, lakukan saja dirumah dan semua akan baik-baik saja!!" gertakku.
"Yohan, hanya menggertak. Apa kau tidak mau menikmati tubuh wanita yang kau sukai? Mari membuat anak Yohan" menarik tubuh Yohan dengan ekornya.
"(GAWAT!!! GAWAT!!! Kalau begini apa boleh buat)" teriakku dalam hati.
Tidak ada jalan keluar, hanya ada satu. Membuat Yuna puas. Aku mencoba memikirkan rencana lain untuk kabur, tapi apa?!!!
__ADS_1