Z World

Z World
Episode 16: The Last Summoner.


__ADS_3

Samudera hijau menghantam langkahku.


Jubahku terhelai begitu keras.


Tak bisa kutahan lagi, pesanan ini harus aku kirimkan. Tapi, kenapa dia menghantuiku? Ini paketku, kenapa kau mengganggunya.


"Kakak tolong!!" tangis anak kecil.


Shyyyaaaa....Crassss...


"Kau tidak apa adik kecil?" menhempaskan pedangnya.


Goblin menginvasi desaku, membunuh dan menyiksa orang-orang tersayangku. Setiap malam aku terus menangis, kenapa tuhan memberiku kekuatan ini? Tapi, aku tidak bisa tinggal diam. Kuambil tameng dan pedangku, mulai keluar melawan ketidak adilan.


Dia menebas-tebas pedangnya tanpa henti, darah pertarungan berceceran dimana-mana, harum semerbaknya mawar ternoda, zirah besi mengkilap ternodai dosa, tak henti-hentinya dia membela negaranya sampai suatu ketika, dirinya tak pernah terlihat lagi.


"Begitu ceritanya" cerita Tee-chan agak menyombongkan diri.


"Ohh, begitu ya. Terus, teruss?!" kata Bonnie kepo.


"Udah gitu aja, ceritanya cuma segitu. Hai, Yuna, Gandasvara. Sudah selesai dengan Tuan-mu?" tanya Tee-chan melihat ke arah belakang.


Yuna dan Gandasvara mencoba keras menyembuhkan luka Yohan. Bekas dimana-mana, tapi dia tak kunjung sadar.


Sementara itu...


"Mungkin sampai disini saja Yohan, pacarmu sudah memanggil" kata Ainyu.


"Hahh, oke. Eh, apa kau bilang tadi?"


Mataku langsung terbelalak, kulihat banyak sekali asap mengepul di langit, langit yang dulunya cerah seketika berdarah hitam. Kulihat sekitar, banyak sekali mobil-mobil rusak, mayat-mayat tergeletak di jalan dan mulai kulihat dia, kumerangkak menuju ke mayatnya. Air mataku tak tertahan lagi, hatiku mulai sakit.


"Eh, Yohan sudah bangun?" kejut Yuna.


Semua orang langsung mengerumuni dirinya, mereka yang selamat bertahan hidup secara berkelompok. Kepalaku masih terasa sakit saja, kulihat banyak sekali orang mengerumuniku. Saat kulihat-lihat lagi, hanya kelompok kerjaku saja, tapi kejadian asing kudengar, suara geraman manusia-manusia yang meminta tolong.


Segera aku berlari ke atap, gedung persatuan dikerumuni banyak sekali orang, mereka tak terlihat seperti biasa. Mataku kutajamkan, melihat pakaian-pakaian mereka koyak, darah menetes dari badan-badan mereka, penuh bentolan dengan kulit berwarna ungu. Tak lama, Yuna mengejarku, nafasnya tersengal-sengal langsung memeluk diriku dari belakang.


"Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanyaku serius.


"Yohan, aku khawatir sekali padamu" tangis Yuna.


"Yuna katakan!! Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" mulai merasa muak.


"Yohan, kenapa kau begini?" menatap wajah Yohan.


"Jawab saja Yuna!!" memarahi Yuna.


Yuna mundur beberapa langkah, dia terlihat ketakutan. Yohan yang marah tak memandangi dirinya takut atau tidak, dia tetap menanyakan hal yang sama berulang kali.


"Kenapa Yohan? Kenapa kau berteriak kepadaku?!!" terjatuh.


"Aku sudah muak dengan sikapmu, selalu manja, lihatlah Yuna, lihat dunia ini!! Aku pasti akan menghancurkan bangsamu" menatap kejam Yuna.


"Kau bukan Yohan!! Siapa kau sebenarnya?" tanya Yuna mengerutkan dahi.


"Aku masih Yohan, Yuna. Dunia ini hancur karena Serentina yang dipimpin Sena. Maukah kau membantuku?" tersenyum manis.

__ADS_1


"Hemm" balas senyum Yuna.


"Terima kasih Yuna. Maafkan aku atas perkataanku tadi".


Kupeluk dirinya erat-erat. Tak akan kubiarkan dirinya diambil lagi, walau nyawaku taruhannya, akan kulindungi dirinya, selalu dan pasti karena aku sudah berjanji. Hatiku merasa takut, melihat mayat-mayat hidup itu, ingin aku merasa merinding, tapi jika aku takut Yuna pasti membenciku.


Tak lama Tee-chan tiba, dia langsung menarik kami kedalam ruangan. Ingin aku bertanya, tapi wajahnya yang sangat khawatir itu, pasti sesuatu telah terjadi.


"Di..langit..hah..hah" sengal Tee-chan.


Aku melihat ke langit, tidak banyak, tapi terlihat cukup berbahaya. Gagak, mereka terinfeksi. Kawanan gagak itu terlihat mengitari di atas kami, kututup pintu. Terduduk di tangga meminta penjelasan Tee-chan.


"Gagak-gagak itulah yang memanggil gerombolan zombie di bawah kemari. Mereka berteriak berkali-kali dan itu mengundang mereka, mereka kemari untuk menggigitku. Mereka akan menggigitku Yohan!!!" berteriak ketakutan, matanya melotot.


"Tee-chan tenanglah.(Sepertinya makhluk-makhluk ini mampu memancarkan aura ketakutan dan diserap manusia yang belum terinfeksi, tapi kenapa aku tidak merasa takut?) tenanglah Kak, kukira Teressa Nova adalah orang hebat, ternyata hanya pecundang" mengejek Tee-chan.


"Apa kau bilang?!!!" marah Tee-chan kehilangan rasa takutnya begitu saja.


Tiba-tiba suara gemuruh terdengar di bawah, gedung serasa bergetar. Kuaktifkan mata penglihatan aura-ku, aura penuh kegelapan kental sedang mencoba menerobos, tapi Gandasvara menahannya. Segera kuberlari ke bawah, Tee-chan dan Yuna mengikutiku dari belakang. Sesampainya di bawah, tak terhingga, bahkan tak terbayangkan. Aku mulai merasakan takut di kedua kakiku, wajah-wajah mereka yang tersiksa.


"Yohan!! Kenapa kau hanya diam saja?" teriak Tee-chan menembaki Zombie.


"Apakah?" tak berkeming.


"Apakah aku bisa membunuhmu?"


Pukulan pedang besarnya menghancurkan perisai Gandasvara, secepat mungkin Yuna membantu, perisai mulai sekarat. Aku maju menundukkan kepala, kukepalkan tanganku, darah menetes dikeduanya. Suara mulai terdengar, tangisan dan teriakan mereka, tidak asing bagiku.


"Ini semua, adalah salahku. Kalian mundur" mengarahkan tangan ke depan.


Jdummm...


Wajah-wajah mereka tak akan kulupakan. Bertubrukan mereka hanya ingin memakanku. Perawakannya besar dengan berbagai benda tajam tertancap di badannya, bersenjatakan pisau pemotong daging yang besar, wajahnya tertutupi karung. Hempasan tangannya membuatku terbangun, kepribadian yang selalu kupendam akhirnya terbangun. Mereka semua terhempas ke belakang, terlihat jalan lurus sesaat, tapi secepat kilat mereka mulai menyerangku. Kuhempaskan mereka berkali-kali, entah kenapa teriakan mereka terdengar enak di telingaku


"Cih, payah! Yolanda ikut aku!!" lari Tee-chan ke atap.


"Kalian cewek yang dibelakang. Siapkan perisai" perintah Yohan nada menakutkan.


Yuna dan Gandasvara menyiapkan perisai yang siap dilepaskan dibelakang Yohan. Yohan perlahan-lahan mundur sambil menghempaskan angin dari tangannya. Tanpa ekspresi Yohan menaiki tangga, Bonnie yang tidak berguna mengikuti Yohan, tapi.


"Kau bantu mereka, tahan selama mungkin" nada dingin.


"B-Baik. Jaga dirimu baik-baik Yohan" berbalik arah.


"(Dewa tidak perlu keberuntungan)" mulai berjalan.


Tee-chan menembaki burung-burung itu. Tak kunjung diam, mereka berteriak semakin keras, dari balik gedung-gedung tinggi mereka mulai berkumpul mengerubungi satu gedung ini. Keringat Tee-chan mulai membasahi tubuhnya, Holanda yang menjaga tubuh Tuannya dari serangan gagak mulai kwalahan. Kutepuk bahunya, memerintah mereka berdua berlindung di dalam. Tanpa berkata sedikitpun, angin berhembus keras menghempaskan mereka, kehilangan keseimbangan dan menubruk gedung-gedung dengan sangat keras. Yohan berjalan ke pinggir, melihati lautan manusia yang sudah berubah. Yohan menampakkan wajah cemberut, tangan kanannya mengangkat ke atas.


Langit seketika berubah menjadi hitam, petir-petir menyambar ke bawah. Tanpa henti-hentinya, awan hitam itu menggumpal di satu titik, membentuk sebuah portal yang sangat besar. Dari portal itu terlihat sebuah kepala hitam keluar, sisik-sisik keras yang hitam. Leher panjangnya mulai terlihat, dia menghumbaskan abu ungu yang turun perlahan-lahan. Mata Yohan sepenuhnya berubah ungu, meneteskan darah merah. Naga yang perkasa itu turun ke tanah, menggemparkan seluruh Dunia.


"Akulah reinkarnasi Raja Ender ke-1, dengan ini menyatakan perang dengan Zastan dan Serentina"


Kata-katanya langsung sampai ke telinga Sena, dia langsung beranjak dari takhtanya, berjalan beberapa kalah ke depan. Yggyist tak lama datang, merapalkan mantra. Lubang hitam lama-kelamaan muncul di depan mereka.


"Ayo, Putri" kata Yggyist mengawali langkah.


"Hmm" balas Sena memantukkan kepala.

__ADS_1


Di depan terlihat Sena dan Yggyist yang sudah sampai, hanya berjarak kurang lebih 50 meter. Dengan melayang, Sena menghampiri Yohan, mengambil tongkatnya.


"Raja Ender yang bijak, apa yang membuatmu menyatakan kata yang bodoh itu?" tanya Sena.


"Sebenarnya ini bukan keinginanku, ini keinginan Yohan. Jika aku tidak memenuhi keinginannya, Ender Heart akan hancur" jelas Yohan.


"Jadi, Yohan ingin aku mati ditanganmu?" mengacungkan pedang ke arah Yohan.


"Cermati saja kata-katanya, dia tidak ingin membunuhmu, tapi aku ingin" menghilang.


Yohan seketika berada di belakang Sena, mencekiknya langsung sekuat mungkin. Yggyist langsung mengeluarkan sayapnya, terbang mengeluarkan cakarnya siap menyerang Yohan.


GGGGRRRRAAAHHHH.....


"Naga pintar" puji Yohan.


"Le..paskan!!" berontak Yuna.


"Te..le..port".


Tiba-tiba sebuah pedang muncul diatas Yohan, dengan Teleport Yohan kembali ketempatnya berdiri. Zanis muncul di belakang Yohan, beberapa meter.


"Hentikan waktu" ucap Sena.


Seketika seluruh pergerakan terhenti, Sena menghampiri Yohan. Menempelkan tangannya ke dada Yohan, tapi seperti jebakan. Yohan langsung memukul wajah Sena, tubuh Sena tiba-tiba Teleport ke belakang.


"Ibu Mana, akan kubunuh dirimu". mengepalkan tangan.


"Coba saja, Raja Ender" remeh Sena.


"(Korosi)"


Sena seketika melemparkan kedua pedangnya yang seketika terbalut asap ungu kental. Belum juga sampai ke tanah, pedang itu sudah habis tak tersisa. Yuna meringis kesakitan, kulitnya yang sedikit terkena asap ungu tadi, membekas, seperti bekas terbakar.


"Percuma saja kau sembuhkan, seranganku tidak akan bisa kau sembuhkan" Yohan mengangkat tangan ke atas.


"Cih" Yuna mundur beberapa langkah.


Yuna melayang pelan-pelan mendekati Yggyist, Yohan menurunkan tangannya. Tiba-tiba waktu berjalan kembali, Sena memegang bahu Yggyist dan Teleport ke tepmat mereka berdiri pertama kali. Mereka berjalan mundur memasuki portal.


"Sekarang hanya tinggal kau saja, Zanis" mengarahkan tangan ke Naga.


Waktu kembali berhenti, tubuh Naga itu berubah menjadi debu, berhenmbus menyelimuti Yohan. Debu ungu itu berkumpul di telapak tangan Yohan, memadat membentuk tangan besi. Zanis mengeluarkan seluruh tenaganya, sekuat-kuatnya dia menggenggam tombak emasnya. Auranya menembus langit membakar gedung yang diinjaknya.


Tanpa aba-aba, Zanis langsung menyerang Yohan yang berdiri tak bergerak sedikitpun. Tak disangka, Zanis terkecik oleh tangan b"esi Yohan. Dia meronta-ronta tak berdaya.


"Percuma saja kau pamer aura, hanya orang bodoh yang menghambur-hamburkan. Sama saja..." meremuk leher Zanis.


"Jika kau ini lemah" mengelap tangan kanannya ke baju Zanis.


Langit kembali cerah, Yohan seketika tergeletak pingsan.


"Putri, bukankah ini kesempatan yang tepat bagi kita menyerang?" saran Yggyist memberi hormat.


"Tidak, tunggu dulu. Aku ingin melawan Raja Ender itu, kirimkan pasukan untuk menyerang Ender" berdiri tegas.


Percuma saja, jika diluar terlihat tampan ataupun sungguh mempesona, tapi didalamnya busuk sebangkai daging busuk. Hanya orang-orang naif yang menghambur-hamburkan hidup mereka untuk melakukan hal tidak penting, tapi dimataku manusia adalah sama.

__ADS_1


__ADS_2