
Aku terbangun dikasur, rumah sakit? Kulihat kearah jendela luar, sudah kuduga. Tangan dan kakiku dirantai, bergerak sudah tidak mungkin. Suasana sepi dan tenang, tak terasa keributan sedikitpun. Hatiku merasa tenang, aku tak ingat siapa diriku, tak ingat kenapa aku disini, aku tak ingat apapun.
"Ingatannya hilang, ini masalah besar" pusing Tee-chan.
"Tidak apa Kakak, ini juga salahku tidak bisa menjadi pelayan yang baik bagi Yohan" menunduk sedih.
"Tidak perlu menangis Yuna, lakukan pendekatan secara pelan-pelan. Jika salah sedikit, ini menjadi masalah besar. Lagi pula ini bukan salahmu" menatap serius.
Tee-chan dan Yuna masuk kedalam ruangan. Aku tidak tahu siapa mereka, tapi mungkin jika aku bertanya, mungkin mereka bisa memberitahuku. Perempuan yang terlihat dewasa itu mendekat dan melepaskan rantaiku. Kupegang tanganku bergantian, duduk menatap wajah perempuan itu. Aku memulai pembicaraan.
"Terima kasih, siapa kalian?" tanyaku.
"Aku Tee-chan dan anak kecil yang bersamaku dia adalah Yuna"
"Cihhhhh...." tatap Yuna malas ke Tee-chan.
"Tee-chan, Yuna. Salam kenal" berjabat tangan.
Untuk sekarang aku harus berbuat baik jika mau mendapatkan informasi lebih. Aku senang bisa bertemu perempuan cantik pertama kali. Saatnya mendapat informasi lebih.
"Tee-chan, Yuna. Siapa kalian?" tanyaku.
__ADS_1
"Anggap saja kami keluargamu dan ini adikku" menatap Yuna.
"(Mungkin dia orang baik) Terus, kenapa aku ada disini?" tanyaku lagi.
"Kecelakaan, bukan. Kami menemukanmu tergeletak tak sadar di pinggir jalan. Untung saja kami menyelamatkanmu" sedikit terbata-bata.
"(Berbohong! Tapi, jangan dulu. Tidak, niat mereka sudah baik)" pikirku.
Yuna terlihat sedikit gugup. Aku merasakan keanehan didadaku, kuelus dadaku. Merasakan seperti ada energi yang terus mengalir memberiku kekuatan. Aku beranjak dari kasur, berjalan menuju ke jendela. Kupegang, rasanya berdebu, dingin, dan bersih, seperti hatiku. Kulihat cahaya mentari, seperti memberiku harapan. Wajahku berbalik dengan senyuman, senyum yang mempercayai mereka. Tee-chan dan Yuna agak tersentak sedikit karena senyuman Yohan, Tee-chan mengelus kepalanya merasa sedikit pusing.
"Jika sudah baikan, ikut kami" kata Tee-chan.
"Tidak, aku sudah baikan. Aku merasakan kekuatan yang mengalir didadaku, seperti menyembuhkanku" mengelus dadanya.
"Yuna, kami sudah mencoba yang terbaik" menepuk bahu Yuna.
"Tidak!! Pasti ada cara, aku yang Pelayannya kenapa tidak bisa membantunya, aku payah!! Aku payah!!" memukul-mukul kepala.
Tee-chan menarik tangan Yuna, menatapnya tajam, tangis Yuna semakin mereda. Tatapan yang memberi isyarat pasti ada jalan keluar.
"Yuna, kami akan mengusahakannya. Perkumpulan juga akan bertanggung jawab" menatap tajam.
__ADS_1
"Sudahlah, perkumpulan apanya. Biarkan aku sendiri" putus asa, meninggalkan rumah sakit.
"Sudahlah Tuan, beri Putri Yuna untuk sendiri. Dirinya sangat tertekan melihat Kakak Yohan" kata Yolanda mencoba menenangkan Tee-chan.
"Ayo Yolanda" menarik tangan Yolanda.
"Kemana Tuan?" tanya Yolanda bingung.
"Balas dendam. Gigi dibalas gigi, darah dibalas darah, daging dibalas daging, saudara dibalas seribu nyawa" marah Tee-chan.
Tee-chan menuju ke perkumpulan yang merupakan pusat kota Ruby, gedung pencakar langit 3 bersaudara. Tee-chan masuk ke ruang kerjanya, mengambil secarik kertas dan bolpen, mulai menuliskan sesuatu.
Air mata mewarnai tulisannya.
"Yolanda, kita akan berburu" kata Tee-chan.
Tee-chan menuju ke ruang amunisi, mengambil banyak senjata dan perlengkapan tambahan. Dia keluar dengan gaya, orang-orang memanggilnya"Sang Pemburu". Di depan pintu keluar, Tee-chan berhenti. Yolanda yang mengikuti dibelakangnya bingung.
"Tuan, kenapa berhenti?" tanya Yolanda.
"Aku, tidak tahu harus kemana" jawab Tee-chan malu.
__ADS_1
"E, ehehehehe(persiapan tanpa rencana ya gini)" tertawa paksa.