Z World

Z World
Episode 26: Perjalanan melewati masa.


__ADS_3

Aku berhasil melewati portal, tapi sudah terlambat bagiku. Tidak terdengar teriakan ataupun tangis. Segera aku memegang kedua bahu Elmina, penuh kekhawatiran kusuruh dirinya untuk mendeteksi kehidupan di seluruh penjuru Bumi.


"Itu, butuh waktu 12 jam untuk melakukannya dan juga, aku harus jauh dari gangguan" malu-malu.


"Terima kasih Elmina, Tetua Ender aku juga butuh bantuanmu. Lihat daerah sekitar bila ada yang selamat, prioritas kita sekarang melindungi Elmina" melepas lelah.


Elmina langsung duduk menyilakan kaki, menutup matanya. Untung juga hari masih pagi, kami juga muncul di atas atap tempat dimana aku dan Tetua Ender pertama kali menuju Ender. Jika saja aku membawa mereka datang ke Ender, apakah aku tidak akan kehilangan mereka? Aku termenung, duduk di pinggir gedung. Menatap ke bawah dimana semua kehidupan musnah dalam sekejap, hatikumerasa sakit kehilangan Yuna. Dialah yang membuatku kuat, jika tanpa dia apa yang terjadi, aku mungkin akan tetap berdiam di tempat, dan mungkin saja hidupku sama seperti Ayah atau Ibu. Setelah berpikit lama, hidup biasa dan seperti ini juga memiliki kekurangab dan keuntungannya sendiri. Dari kejauhan, Tetua Ender menghampiriku menunggangi Endra. Tepat di depan Endra berhenti, Tetua Ender dengan wajah khawatir langsung berkata.


"Dik Yohan cepat, ikuti aku" menarik tangan Yohan.


"Baik-baik, tapi biarkan aku memunculkan sesuatu dulu untuk melindungi Elmina" menarik tangannya.


"Munculkan, Golem Besi" kata Yohan menapakkan tangannya ke tanah.


Di tiga sisi muncullah Golem Besi dengan perawakan tinggi, ditumbuhi tumbuhan merambat di beberapa bagian tubuh, dan sangat keras. Golem Besi memiliki sifat sangat taat dengan Tuannya, setiap kali Tuannya merasa disakiti oleh seseorang maka Golem Besi akan menyerangnya sampai mati atau Tuannya menyuruh mereka berhenti. Golem Besi sangat ekspresif kepada manusia, tapi pada suatu waktu sihir ini hilang dan hanya berpindah ke tangan Eder.


Akhirnya hatiku merasa sedikit lega, aku melangkah menunggangi Endra. Segera Endra membawa ke suatu daerah, daerah yang mati walau sekitarnya penuh tumbuhan yang tumbuh subur. Menurutku ini merupakan pertanda. Tetua Ender melompat dari tubuh Endra, mendarat tepat di tanah mati itu. Tak lama aku menyusulnya, Endra terbang melihati sekitar kami.


"Jadi, apa ini Tetua Ender?" tanyaku meremas pasir.


"Ini aneh, mungkin sesuatu terjadi. Ini pernah terjadi saat dulu, coba kubuka buku ku dulu" membuka buku.


"Sudah ketemu! Ini adalah retakan dimensi, ini tidak dapat dimunculkan seseorang, hanya muncul dengan sendirinya dan membawa orang yang masuk ke dalamnya ke sembarang tempat. Perbandingan kemunculannya satu banding satu juta" wajah khawatir.

__ADS_1


"Semoga saja Yuna dan lainnya tidak masuk kemari. Tetua Ender, coba cari tahu lebih dalam tempat ini, aku akan kembali untuk melihat Elmina" suruhku.


"Baiklah, tapi. Kemungkinan besar umat manusia di Bumi sudah musnah" kata Tetua Ender.


Kuabaikan perkatannya, mereka pasti masih hidup. Aku selalu berpikiran positif, jadi dengan begitu hatiku tidak terlalu gelisah. Pasti, mereka masih hidup. Pasti aku bukan manusia terakhir Bumi, pasti ada harapan dalam setiap masalah.


"Tetua Ender, aku akan meneliti Bumi untuk saat ini. Jika sudah selesai segera menuju ke Elmina, setelah itu ceritakan padaku apa masih ada Manusia di Bumi" pergi begitu saja.


"Dik Yohan, hati-hatilah. Dalam setiap langkah yang kau lewati, selalu ada pengorbanan maupun konflik..."


"Pasti selalu ada jalan keluar, terima kasih Tetua Ender" potongku.


Sudah kudengar kata-kata bijaknya berulang kali, sampai diriku sudah mulai bosan dibuatnya. Untungnya di sekitarku adalah hutan, kuteliti satu demi satu tumbuhan. Beberapa jam kemudian akhirnya selesai, menurut hasilku, tumbuhan tahan terhadap virus dan mampu mengenbangkan dirinya, jika mereka kalah berkompetisi, itu artinya tubuhnya membiru dan layu seketika. Kulihat ke arah langit, langit pun juga begitu, sedikit demi sedikit Bumi menjadi planet mati. Dengan perasaan bercampur aduk, aku terbang menuju ke tempat Elmina berada.


Kulihat golemku melakukan tugasnya dengan baik, kulempar mereka ke tanah. Kali ini mereka mendapatkan tugas, hanya tugas kecil, mencari mereka yang masih hidup. Ku tidur di samping Elmina yang masih berdiam diri. Ku lihat wajahnya yang serius, dia terlihat sangat serius melaksanakan tugasku, bahkan waktu hidupnya dia berikan cuma-cuma hanya untuk membantuku.


"Yohannn...."


"Yohann..Bangunlah payah!" menampar pipi Yohan.


Sontak aku terbangun dari diriku, aku mengelus-elus pipiku yang sakit. Kulihat Ainyu berdiri di depanku dengan wajah kesal, dia menarik tanganku menuju ke suatu tempat. Sudah lama aku tidak masuk ke alam bawah sadarku. Bahkan tempat ini masih saja polos, tidak ada apapun. Sambil berjalan, kutanyai dirinya banyak hal. Mungkin bisa mendapat sihir baru.


"Ainyu, kenapa di sini masih polos saja?" tanyaku menengok kanan-kiri.

__ADS_1


"Diamlah Yohan, alam bawah sadarmu sedang diserang malah dirimu menanyai diriku terus. Suttt...." menutup mulut Yohan, menunjuk ke depan.


Mataku ku tajamkan, saat aku tahu siapa dia sebenarnya sangat menakutkan. Badan penuh parasit hitam yang panjang menari kesana kemari, tubuh besar membungkuk, wajah yang tertutupi oleh kegelapan, membawakan kapak hitam besar di tangan kanannya yang gatal untuk memukul siapa saja yang menghadapinya. Ainyu menarikku agak mundur, mungkin jarak penglihatannya terbatas.


"Yohan, aku sudah mencoba melawannya untuk mempertahankan alam sadarmu, tapi itu hanya percuma. Setiap kali aku menyerang, seranganku diserap olehnya, setiap dia menyerap kekuatanku, seakan-akan dia menyerap seluruh tenagaku. Sewaktu-waktu parasitnya menyerang dengan ganas dan sewaktu-waktu juga kapaknya juga tidak lupa ikut beraksi, tapi seluruh indranya sudah sangat berkurang, sekitar 90%" jelas Ainyu khawatir.


"Hemm, ahh. Aku baru mempelajari sihir baru dari Tetua Ender. Akan aku kalahkan dia" mengepalkan tangan.


"Tunggu!! Sihirmu tidak bekerja di sini, di sini kamu bagaikan manusia biasa. Tapi, kamu tetap bisa membangun kekuatan seperti sihir hanya dengan mentransfer kekuatan dari dunia nyata ke alam bawah sadar. Kejadian ini terjadi juga karena salahmu" wajah memelas.


"Apa?!! Salahku apa?" terkejut.


"Salahmu lah!! Karena kekuatan di dunia nyatamu begitu kuat sedangkan kekuatan di alam bawah sadarmu begitu lemah, maka dengan mudah mimpi buruk dapat menyerang di sini, hanya dengan mengirimkan mimpi buruk saat kamu tidur. Untuk kali ini aku hanya dapat menahannya, jadi virusnya tidak menyebar, tapi kamulah yang harus membunuhnya sendiri dengan cara melawan mimpi buruk itu sendiri"jelas Ainyu menarik kembali Yohan ke rumahnya.


"Kita mau ke mana lagi?" tanyaku.


"Melawan mimpi burukmu lah, apa lagi?" kesal.


Baru beberapa aku melangkah, tiba-tiba di depanku berdiri megah villa yang begitu besar. Mataku sempat tak bisa aku kedipkan, segera Ainyu menarikku ke dalam, di dalamnya ada banyak barang-barang mewah. Taman yang begitu indah bagaikan permadani, tumbuhan yang dulu hampir tak kukenali. Rasa ini sudah lama tidak aku rasakan, tapi tak tahu kapan dan bagaimana. Tapi, entah mengapa aku pernah merasakan hawa ini.


"Hai, cepat berbaring di kasur. Dan cepatlah tidur, kau lawan sendiri mimpi burukmu sedangkan aku mengendalikan parasit itu agar mimpi burukmu tidak mengganas" pergi, menutup pintu.


"Hahhh, semoga berhasil" gertakku berbaring di kasur.

__ADS_1


Mulai ku tutup mataku. Kesadaranku sedikit demi sedikit terkikis. Air laut asin yang ganas memenuhi tubuhku, jika saja aku tidak diselamatkan olehnya. Apakah aku bisa sejauh ini? Menggapai bintang-bintang.


1 generasi Yohan sebelumnya.


__ADS_2