
Ternyata mata duitan hanya mengerjaiku, demi mendapatkan waktu tambahan untuk menyiapkan ulang tahunku ke-8. Semua memberiku hadiah yang berharga, kalung kayu putih yang diberikan Seraphine melingkar layaknya arus air dia berikan dengan kecupan selamat ulang tahun, dan mata duitan itu memberiku harga pantas, diskon saudaranya hanya naik 0,01%, dasar payah. Walau sempat ayah memarahi dia, tapi semua berakhir dengan senyuman.
Aku terbangun di pagi dingin yang menembus sampai ke tulang. Bagiku ini sudah biasa, kebiasaanku sehari-hari, walau sedikit aneh, aku mulai tidur jam sebelas malam dan bangun jam dua pagi, tapi entah kenapa, aku tidak merasa lelah sekalipun. Aku jogging menyusuri rumah-rumah yang masih sepi. Pemandangan begitu dingin dan mengerikan, hanya ada suara jangkrik menyusuri jalanku.
"Huhh, dingin juga ya. Apa aku mampir ke kuburan aja, buat nangkap jangkrik" berhenti, berpikir sejenak.
Beberapa menit yang menakutkan.... Aku berlari terbirit-birit, habis sudah celanaku basah terbasahi ompolku sendiri. Sekuat tenaga kutancap gas, kenapa aku begitu bodoh, masuk ke area makam tanpa persiapan. Bayangan hitam mengerikan itu terus saja mengikutiku. Aku berlari berputar-putar menyusuri desa.
2 menit berlalu... Dia tetap saja mengejarku, sepatu kananku sempat kulemparkan ke wajahnya, sekarang aku berlari terpincang-pincang. Sampai suatu ketika ajalku menjemput, aku tersandung ranting pohon yang seketika jatuh di depanku. Aku terjatuh dengan tragis, kututup mataku kuat-kuat, tidak kuat melihat ajalku menjemput. Tak kusangka aku mati konyol, jika aku bisa mengulangi kejadian ini, aku akan makan makanan cepat saji, menjadikan buku sebagai bantal, membantah guruku, apapun yang bertolak belakang dengan diriku sekarang. Dia datang, menyentuh dadaku dengan kaki kecilnya, aku rasa ini agak terasa janggal, pelan-pelan kubuka mataku. Hatiku tak pernah selega ini sebelumnya, ternyata hanya kucing hitam yang terduduk di atas dadaku, dia mengamati wajahku begitu lama.
"Wahh, kucing hitam. Ahaha, kucing bodoh, sempatnya aku mati saja. Ayo pulang" menggendong kucing hitam itu.
Aku kembali, menahan celanaku yang terkopoh-kopoh karena kucing ini. Kucing hitam payah, baru saja kugendong, dia sudah tidur saja. Aku berjalan menyusuri jalan. Aku merasa ada rasa janggal, seperti seseorang melihatiku terus. Aku mencoba mengacuhkan perasaanku ini, tapi terus saja perasaan ini muncul bahkan lebih kuat, seperti ingin memberitahu siapapun. Aku kembali ke rumah, mengganti bajuku dan segera tidur lagi, jika bukan karena kucing hitam ini siapa lagi. Kuletakkan kucing hitam itu di sebelah kepalaku agar bisa kulihat mata hitamnya.
"Dasar kucing bodoh, kenapa kau begitu akrab denganku? Apa kamu tidak curiga jika aku memutilasi mu?" tanyaku nada senang.
Dia membalas perkataanku dengan melingkatkan tubuhnya, terdengar suara dengkurannya yang keras saat dia tertidur. Keesokan harinya. Tiba-tiba Seraphine membangunkanku, wajahnya terlihat gugup. Dia segera melemparkan beberapa baju dan celana bagus ke tubuhku. Aku hanya berdiri bingung.
"Loh, apa ini?" tanyaku mengamati baju yang dilemparkannya.
"Apa Kakak lupa? Kakak ada kencan dengan Kak Rika" jawab Seraphine tergesa-gesa.
"Kan aku yang akan kencan, kenapa dirimu begitu khawatir?(Loh, kenapa diriku begitu tenang?)" wajah bingung.
"Hah sudahlah, pakai dan pergi kencan saja sana!!" keluar, menutup pintu sekencang-kencangnya.
Tak kusangka Seraphine begitu pedulinya dengan diriku ini, walau sempat takut melihat wajah marahnya yang memerah, dia tetap adikku yang imut. Seketika aku teringat ada kencan, dengan tergesa-gesa kupakai bajuku.
Beberapa menit kemudian...
"Hahhh, lama banget sih Yohan? Cuma dandan aja lama, harusnya itu aku yang ditunggu di rumah(apa boleh harap)" menarik napas panjang.
__ADS_1
Aku tersengal-sengal keluar dari rumah, aku lihat Rika sudah terduduk di kursi depan. Wajahnya marah saat menengok ke arahku, dengan kesal dia berdiri dan menarikku. Langkahnya yang cepat, membuatku kwalahan.
"Cepat!! Kita tidak punya waktu lagi" kata Rika kesal.
"Hei, tunggu lah tunggu! Aku kwalahan ini" jawabku tak berdaya.
"Sudah diamlah!! Jika kita terlambat ini salahmu, siapa suruh juga membawa kucing. Kucing hitam pula" melihat ke arah kucing yang mengikuti Yohan.
"Aku tidak tahu, biarkan saja dia ikut. Kamu bilang telat ya? Baiklah kalau begitu" menarik tangan.
"Apa?!! Hei turunkan aku!!" meronta-ronta.
Aku memaksa menggeondong Rika, aku tersenyum. Sudah kutunggu hari ini, membuktikan kecepatanku padanya, secepat kilat aku berlari. Dirinya yang marah-marah seketika berubah menjadi penakut, pegangan tangannya begitu erat, badannya menempel erat denganku. Aku tidak peduli kucing itu bisa mengikuti atau tidak, yang pasti kecepatan kucing melebihiku. Aku melihat ke arah kanan kaki bawahku, kucing itu masih berlari mengikutiku, tekad yang kuat.
"Yohan!! Yohan berhenti!!" teriak Rika menangis.
"Hei jangan menangis, tujuan kita bioskop kan? Katanya tidak mau terlambat?" tanyaku nada menggoda.
"Baiklah, tambah kecepatan!!" tersenyum senang.
"AAAA!!!" berteriak kencang.
Akhirnya kita sampai, walau kakiku sedikit pegal, bayatannya tidak sebanding. Ternyata hanya menonton anime, aku mempertaruhkan tenaga banyak hanya untuk mengantar anak kecil menonton kartun kesukannya. Ingin aku marah dengannya, tapi kupendam saja, kepalaku bersandar, tangan kananku menyangga. Kulihat wajahnya begitu senang, itulah mengapa aku tidak mau mengganggunya.
"Wahhh" takjub Rika.
"(Tidak buruk juga anime ini, eh, ngomong-ngomong judulnya Z World ya?)" kataku dalam hati.
"yaahhh, inilah yang aku tunggu-tunggu. Cium, cium" bisik Rika kesenangan.
"(Ehh, ada adegan dewasanya. Lebih baik aku tidur saja)" segera menutup mata.
__ADS_1
Tak kusangka dia menonton tontonan yang tidak pantas ditonton anak kecil, juga penjaga pintu dengan mudahnya membiarkan kami masuk. Aku terbangun, segera aku berdiri dari kursi. Kulihat sekitar, Rika yang tadinya berbisik-bisik seketika tak bergerak, kulihat kesekitar, orang lain tak bergerak sedikitpun. Tidak ada suara yang dikeluarkan sedikitpun. Wajahku begitu terkejut, jantungku berdegup kencang, kucing hitam yang terduduk di pinggir kiriku terduduk di kursiku. Kulihat dia hanya terdiam, tapi matanya berkedip. Saat kulihat mata hitamnya, sesuatu tergambar jelas. Berwarna merah dan tepat berdiri di belakangku, segera ku tarik pandanganku secepat mungkin melihat ke belakangku. Air yang menggumpal berwarna merah membara layaknya api menatapku, aku hanya terdiam. Tak bisa ku kedipkan mataku, dia mendekatiku pelan-pelan. Jantungku berdetak semakin kencang, tubuhku tak mampu kugerakkan. Air itu melahapku mulai dari kaki. Aku hanya bisa memikirkan yang tidak-tidak, percuma saja memberontak jika pada akhirnya aku mati. Rasanya dingin dan panas, tubuh bagian kiriku merasa begitu panas sedangkan tubuh kananku merasakan hal sebaliknya. Kulirik kucing hitam itu, dia menyeringai layaknya manusia. Aku hanya bisa mengumpati kucing itu di dalam hatiku. Saat kesadaranku hampir terenggut. Tiba-tiba Rika membangunkanku, napasku tersengal-sengal, jantungku berdegup kencang, aku melihat wajah Rika yang terkejut setengah mati.
"Hei, apa kamu baru mandi di mimpimu?" tanya Rika agak jijik, tangannya sedikit ia tarik.
"Hah-Hah-Hah, hanya mimpi" kupegang kepalaku sambil menutup mata.
"Hahh, apa kencannya sudah selesai?" tanyaku, bersender di kursi sambil menghela napas panjang.
"Kamu tidak seru, inginnya sih kencan lagi. Tapi, karena dirimu yang tidak mendukung, apa boleh buat, pulang saja lah" mengacuhkan Yohan dengan wajah tak peduli.
Pelan-pelan aku berdiri, kulihat kucing hitam itu lagi. Aku mengerutkan dahi, dia mungkin sekarang sedang menjilati tubuhnya, tapi bisa-bisa dirinnya menjebakku suatu hari. Saat aku menyadari Rika sudah keluar dari bioskop, segera aku berlari keluar menuju ke arahnya. Dia menggesek-gesekkan tangannya, langkahku seketika terhenti di sebelahnya. Aku melihat ke langit, salju turun. Aku merasa ini begitu aneh, padahal negara ini terletak di garis katulistiwa, kenapa bisa? Orang-orang keluar dari mobil mereka, tangan mereka mengingkup, menangkap salju dengan wajah bingung. Kulihat ke arah Rika yang kedinginan.
"Apakah ini kiamat?" bisik Rika mengerutkan dahi.
Mendengar kata-katanya, tatapanku langsung mengarah ke kucing hitam di sebelahku. Dia hanya sibuk menjilati badannya. Mungkin aku hanya merasa tertekan saja dengan tugas sekolah, tapi, kenapa bisa salju turun di negara tropis seperti ini?
"Bukan, ini bukan kiamat. Pasti ada penyebabnya" kataku tegas.
"Yohan.." menatap wajah Yohan.
"Ada apa Rika?" balasku menatap wajahnya.
Aku baru sadar Rika tidak tahan dingin, matany pelan-pelan tertutup. Dirinya terjatuh di pelukanku, napasnya tak beraturan. Ini gawat, aku menggendong dirinya menuju ke dalam bioskop lagi. Di dalam terlihat lebih banyak orang berkumpul, ini bagus menjaga suhu tetap hangat. Aku meletakkan tubuh Rika di kursi tunggu, bisik-bisik mereka terdengar begitu keras. Aku menggendong kucing hitam itu dan meletakkannya di pangkuan Rika.
"Jaga Rika kucing hitam" pergi ke suatu tempat.
Aku pergi ke pusat listrik bioskop ini. Kudorong pintu besi itu, aku berjalan menyusuri listrik bertekanan tinggi, tepat di hadapanku, ketarik tuas itu kebawah. Seketika seluruh bioskop kehilangan tenaganya.
"Ini lebih bagus, menjaga suhu lebih baik daripada mati kedinginan" berjalan kembali ke tempat Rika.
Tak kukira hari yang mengerikan ini datang kepadaku. Semua orang menghilang, hanya ada suara angin dan kesunyian yang akan menemaniku. Diriku tak sanggup menerima ini, hidup tanpa teman dan keluarga dan hanya diselimuti dinginya kesendirian. Hari itu akan tiba di hadapanku.
__ADS_1