
"SERANGAN DATANG!!" teriak menara penjaga.
Tiba-tiba serangan laser dari langit membelah pasukan menjadi dua. Segera aku keluar dari tenda, kulihat peperangan yang dulu pernah melahap kami, teriakan dan tangisan begitu kencang mengarungi selingan pedang-pedang para pejuang.
"Nak Yohan, cepat bawa tubuhmh dan serang Yggyist. Dia tepat di belakang barisan pasukan, belakangnya terlihat begitu lemah" melompat, berubah menjadi naga putih agung .
"Hem! Liliana!!" berlari ke depan.
Aku melompat tinggi tepat di punggung Liliana, Liliana terbang dengan gagah menerjang pasukan menuju ke garis depan. Di garis depan, aku melihat Yohan berjuang bersama pasukan darat menggunakan pedang dan senjata apinya. Liliana segera tebang rendah, aku berpegangan pada sayap kiri Liliana, tangan kiriku siap menangkap Yohan.
"Yohan, cepat pegang tanganku!!!" menangkap tangan kanan Yohan.
Kulempar Yohan ke belakang, aku naik kembali ke punggung Liliana. Liliana mengeluarkan nafas apinya sepanjang jalan dan terbang naik ke atas. Yohan menepuk pundakku.
"Ada apa Yohan?" tanyaku.
"Aku melihatnya, Kakak, dia sedang berusaha membuat portal" kata Yohan serius.
"Benarkah? Jangan-jangan, dirinya masih bisa merasakan istrinya yang dulu, Sena. Cih, Yohan pegang kendali Liliana dan kalahkan Yggyist" berdiri mengeluarkan pedangnya.
"Kau mau ke mana?" berbalik badan melihatku.
"Kau tahu, jika dia berhasil mencium Sena, habis sudah alam semesta" mengarahkan pedang ke depan.
"Semoga berhasil"
"Tentu saja" masuk ke dalam portal.
Aku muncul tepat di depan istana, tanganku sudah gatal dari tadi. Dirinya tepat berdiri di hadapanku, masih dengan dialog yang dulu, dia terus-terusan mengatakan"Dimana istriku?", tampangnya begitu mengerikan selayaknya zombie. Tiba-tiba saja seseorang memanggilku dari arah belakang, Elmina tepat berhenti di sampingku. Dia bertanya kepadaku, menunjuk ke arah pengkhianat itu.
"Siapa dia Yohan?" tanya Elmina.
__ADS_1
"Prngkhianat yang membuat perang ini, kau jaga Sena, cepat!!" mengeluarkan kedua pedangnya.
"ISTRIKU!!!" teriak pengkhianat ktu yang seketika menerjang menyerang Yohan.
Kutahan serangan tangannya dengan pedangku, wajahnya terlihat begitu marah. Tanganku merasa sangat sakit saat menahan tangannya, tiba-tiba dirinya berteriak begitu kerasnya. Tanah-tanah bergetar kehilangan gaya gravitasinya. Aku meloncat mundur, tanah-tanah yang melayang itu dengan cepat menyerangku. Sangking cepatnya, diriku tak mampu menghindari serangannya sedikitpun. Darah mengalir di mana-mana, akhir yang mudah bagiku. Aku berusaha berdiri, tapi semangatku terpatahkan, tepat patahan kayu yang runcing menusuk mata kananku.
"Huh, dasar!!!"
Brukk..
Tubuhku tumbang begitu mudahnya, kesadaranku hampir hilang. Aku terus berusaha tetap berdiri, tapi dirinya berhasil melewatiku. Terus melangkah sampai ke dalam istana, aku yang tergeletak tak mampu lagi. Habis sudah usaha yang aku lakukan selama ini, usaha yang begitu besar untuk melindungi penerus Mana.
"Istriku!!!" teriaknya.
"Langkahi dulu mayatku!" Elmina menerjang pengkhianat.
Serangannya tepat membelah tubuhnya, tapi serasa tidak ada apa-apa. Pengkhianat itu berbalik badan, hanya dengan jentikan tangan, Elmina ditumbangkan. Tanpa ampun dirinya ditusuk ribuan pedang yang datang dari segala penjuru.
Tubuh iblis merah itu dipenuhi rantai yang mengikat, Yohan hanya mampu bertahan menahan segel yang keluar dari punggungnya.
"Liliana cepat, segel kami berdua!!" perintah Yohan, darah mulai mengalir dari kepala sampai kaki.
"Grahhhh!!!!".
Segera Liliana melepaskan bentuk perisainya, dia terbang begitu cepat ke langit. Berbalik arah, menerjang begitu cepatnya, Phoenix yang dulu hanya legenda terlahir kembali. Pasir berhamburan kemana-mana, dentumannya terdengar ke segala penjuru, saat itu Bumi terguncang begitu hebatnya. Yohan dan Yggyist tersegel, berubah menjadi batu keras.
Pasukan Ender bersorak-sorai, mereka merasakan kemenangan di ujung pedang mereka. Pasukan iblis yang mereka lawan seketika berubah menjadi abu, terhembuskan angin abu itu terbawa ke langit yang tak berujung. Naga-naga itu mengaum tak henti-hentinya, mrnyampaikan penghormatan atas pengorbanan para pahlawan besar.
"Apa kau akan menyerah?".
"Apa lagi, aku tidak bisa melawannya" kataku penuh putus asa.
__ADS_1
"Apa kau lupa akan kami, Guardian yang selalu bersamamu. Segellah dia dan kembali ke pelukan kami".
"Diamlah!! Aku sudah tidak bisa, kalian pergi memberikan beban alam semesta ini kepadaku!!" teriakku menyangkal perkataan mereka.
Tiba-tiba tanah bergetar, pengkhianar yang hampir membuka pintu Putri terseret keluar. Terdengar suara cahaya datang menyeretku berdiri. Aku mulai bergerak, berdiri dengan bantuan mereka. Masih dengan kesadaranku, aku mengeluarkan 5 bola elemen yang masih tersimpan di kantungku. Bola itu melayang memutari pengkhianat yang tersegel oleh rantai cahaya. Terhuyung-huyung aku berjalan menuju dirinya, tepat dihadapannya aku menangis, menangis memeluk dirinya.
"Kakak, apa kau lupa aku?" tangisku.
"Istriku!!!"
"Jika itu yang Kakak inginkan, baiklah".
Kedua pedang yang tergeletak di tanah melayang, dengan mata pedang yang mengarah ke diriku, secepat angin pedang itu menusuk kami berdua. Bola-bola yang mengitari kami mengeluarkan rantai sesuai elemen mereka, membalut kami seperti bola dan mengkristal.
Hatiku merasa senang, akhirnya pengorbananku tidak sia-sia. Guardian sudah punah pada akhirnya, para tetua yang terperangkap di pengasingan? Aku tidak menganggap mereka sebagai Guardian, mereka hanya pengecut yang bersembunyi di balik batu. Hidupku sudah tenang di alam sana, tapi yang sebenarnya terjadi.
"Hai, kenapa aku masih di dunia gelap ini?" tanyaku ke suara yang datang dari mana-mana.
"Aku tidak tahu, kok tanya. Seharusnya kamu itu sudah bisa aku antar ke akhirat, tapi mungkin Tuhan masih ingin kau hidup" jawab suara itu.
"Hah, bodoh lah, menunggu satu hari di sini serasa ribuan tahun. Hoi, bisakah ada TV atau apa biar aku bisa nonton?" tanyaku mulai kesal.
"....."
"Hoi, HOI, HOI!!!!" teriak.
"...."
"Ahh bodohlah... Ahhh, siapapun tolong aku!!!" teriakku putus asa.
Ya begitulah akhir dari diriku, terjebak di dunia entah apa, melayang-layang di langit yang gelap tanpa cahaya apapun. Tiap hari aku berharap ada orang yang menyelamatkanku, tapi yang ada diriku sedikit demi sedikit menjadi gila.
__ADS_1
End.