
Rencana pertama, aku akan mengirimkan mereka surat,"Datanglah ke belakang sekolah, ada yang ingin aku bicarakan", tentu saja dengan tulisan wanita yang disukai pemimpin mereka. Dengan begitu, hanya pemimpin mereka yang datang ke belakang sekolah, dan saat itu aku akan ada di sana, memakai topeng dan mengancamnya dengan beberapa kata. Ketiga, setelah target berhasil di lumpuhkan, akan kupanggil teman-teman mereka, tentu saja oleh nomor tidak dikenal, nomor milik seseorang. Keempat, setelah mereka memakan umpan dan menyepakati perkataanku, akan kubiarkan mereka sampai Seraphine diserang mereka, tapi jika negosiasi gagal akan kujalankan rencana cadangan. Rencana cadangan, akan kubawa pemimpin mereka ke markas para penculik anak, aku harus berhati-hati, jika salah langkah aku malah yang kena batunya. Setelah negosiasi berhasil dan mendapatkan uang yang terpandang bagiku dari penculik, akan kutunggu beberapa hari, aku tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Setelah seminggu, akan kupanggil polisi dan memberikan nomor yang bersangkutan, yang pasti nomor yang kugunakan untuk memanggil anak buahnya, setelah itu, rencana berhasil, seterusnya mungkin hanya interogasi kecil, buku kematian, dan kenangan yang dipimpin sekolah. Rencana ini sangat sulit, target merupakan anak dari keluarga terpandang, mempunyai kekayaan, dan jangan tanya, sifat macam hewan.
"Hei Mata Ungu, mau kau apakan pisau dapur itu?" mengerutkan dahi.
"Bukan urusanmu, lagian kan, pisau dapur ibu sudah mulai berkarat. Jika aku berurusan panjang denganmu, nanti akhir-akhir aku terjebak dengan diskon saudaramu itu" pergi, mengabaikan Kakaknya.
"Hai, bukan itu yang ingin aku katakan" menepuk pundak Yohan.
"Hah, emangnya apa? Ngerjain PR untuk seratus ribu, maaf, aku lebih pintar darimu" mengabaikan Kakaknya lagi.
"Bukan itu bodoh, Seraphine belum pulang sampai sekarang. Katanya dia di ajak ke Kafe bersama temannya saat kamu pergi, cepat cari dia, aku kasihan padanya" berakting wajah menangis.
"Sudahlah!! Aku harus menyelamatkan adikku. Ambil pisau ini" berlari keluar, melemparkan pisau ke Kakaknya.
Aku segera berlari ke Kafe terdekat, kemungkinan besar aku menemukan jejaknya di sana. Sementara itu di rumah, Kakaknya menyeringai.
"Ehehe, terima kasih Yohan. Sudah mempermudah pekerjaanku, ahhh, sekarang memotong apa ya?" meregangkan badan.
Aku sudah berlari ke sekitar Kafe, tapi aku tidak menemukan petunjuk apapun. Perasaanku bercampur aduk, jika adikku tersakiti sedikit saja, sedikit saja walau tidak terlihat, akan kubunuh dalangnya walau harus melewati 1.000 benteng mematikan sekalipun. Aku berhenti di tengah langkahku, malam hari tak terasa sudah tiba, ternyata aku sudah ditipu si mata duitan itu. Dengan segenap tenaga yang kumiliki, aku kembali menuju rumahku.
"Weh, dia manusia apa bukan? Larinya cepet amat dah" kejut orang lain.
"Banyak cakap kau" balasku kesal.
"Hai anak kecil, tunggu!" kata orang lainnya lagi.
"Bacot dah kau" balasku kesal tingkat 2.
"Adik kecil, kenapa kau tidak mampir dulu?" bujuk wanita cantik sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku benci wanita, geblek" balasku kesal memuncak.
"Hai adik, mampir dulu ke klub 18+" bujuk seseorang berseragam hitam putih.
"Matamu dimana geblek, aku anak kecil(orang-orang bodoh ini, kenapa ada dimana-mana?)" kesal tingkat tinggi.
Aku mampir ke pohon beringin tinggi, besar, gelap nan mencekam. Kulampiaskan kemarahanku ke pohon keramat itu, kupukul sekali. Hanya mampir minum kopi sebentar, kulanjutkan lariku. Akhirnya aku sampai di depan rumah, aku berhenti, tertegun tak henti-hentinya. Lampu depan rumah mati, aku pergi ke tetangga untuk mencari bantuan.
"Anu, Pak. Tolong aku" terengah-engah.
"Ada apa dik Yohan. Minum dulu toh" menawarkan air putih.
"Tidak perlu, hah, rumahku. Butuh bantuan" jelasku masih terengah-engah.
"Hehe, Ini!!" mengangkat dengan gagah berani.
"Lam..Puhh" kataku takjub.
"Hai, jangan banyak akting bodoh. Kamu butuh ini kan?" tanya seseorang yang baru saja datang sambil tersenyum.
"Eh, Rika? Kenapa kamu di sini? Apa paman penculik" menatap dingin penjaga warung.
"Tidak lah, ini keponakanku, Rika. Kalian pasti juga sudah berkenalan" jelas penjaga warung.
"Oh, sudah-sudah. Berikan lampunya, lihat tuh, kegelapan sudah mulai melahap rumahku" sambil menunjuk ke arah rumahnya.
"Ettt, tidak semudah itu Ferguso. Ada syaratnya" aju Rika menyeringai.
"Ohh, aku tahu. Menjadi samsakmu selama sebulan, itu ez. Aku sudah mendapatkan sabuk bening" sambil memamerkan sabuk beningnya.
__ADS_1
"Bukan itu payah, besok. Kencanlah denganku besok. Ini bahkan mudah, tidak, bagi laki-laki ini sih rejeki anak soleh, menurut mereka" membalik badan, menuju ke kamarnya.
Aku terdiam di tempat, tanganku mulai bergetar, mataku melotot tak bisa kukendalikan, ini, ini bahkan lebih menyusahkan dibanding olimpiade matematika tingkat nasional dan meraih juara satu, tak bisa kubayangkan tugas berat yang kupanggul ini, hidupku yang aku baktikan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia, disiplin, dan cerdas sekarang akan ternodai dengan, cinta. Apakah aku harus bunuh diri? Tidak, itu bukan ide bagus. Aku mencoba menahan bebannya, tapi terlalu berat, lebih berat dari tugas skripsi yang menumpuk ditambah PR gandaan ditambah klipingan beberapa mapel, ini tak bisa kurasakan beratnya.
"Dik Yohan, kamu kenapa?" tanya penjaga warung heran.
"Bang, bang Satria. Bang Sat mau me-membantuku kan? Ini, tugas ini lebih berat dari tugas Ba-Bang Sat selama ini" kataku terbata-bata.
"Ya boleh sih, tapi jangan panggil aku setengah-setengah, risih didengarnya" gugup Bang Sat menggaruk-garuk kepala.
"Halah, pe-penulisnya juga manggil Bang Sat. Nanti akan kukerjakan skripsi Bang Sat, gimana?" tawarku dengan kaki bergetar tak henti-hentinya.
"Setuju!! Tak apa lah dik Yohan mau manggil aku apa(Yang penting dik Yohan menolongku mengerjakan skripsi, awas kau penulis, kubalas kau saat aku nyata)" seru Bang Sat menahan amarahnya yang meluap-luap.
Penulis:"Hei, tokoh pembantu ingin melawan penulis? Mau kurebut cewekmu sebagai koleksi ke-101 ku?" dipenuhi hawa kejam.
Bang Sat:"Mohon ampun hamba! Pa-panggil saja sesuka penulis, tapi jangan ambil pacarku. Sudah 30 episode aku menunggu jawabannya" mencium kaki penulis.
Yohan:"Hei, panggil dia Bang Satria!" menatap dingin penulis.
Penulis:"Maafkan diriku yang tidak bisa memberikan like dan favorit banyak" mencium kaki Yohan.
Yohan:"Makanya, kalau mau ngundang pemain itu yang bener. Sedikit-sedikit terbang, sedikit-sedikit makan, terusin lah broo"
Bang Sat:"Ahahahaha"
(Penulis dan Yohan menatap kejam Bang Sat).
Bang Sat:"(Matilah aku)".
__ADS_1