Z World

Z World
Episode 7: Masa lalu yang pahit.


__ADS_3

"Dasar bocah keparat!!"


Plakkk...


Saat itu, kejadian yang tidak diinginkan dirinya terjadi. Sena yang masih kecil mengetahui hal baru, manusia itu sampah. Dengan segera, tangannya mengepal, dari punggung tangannya itu keluar bola bewarna merah dan biru, mengeluarkan aura api dan air yang seimbang dan dahsyat. Mata kanannya entah kenapa menutup dengan sendirinya. Ayahnya yang ketakutan, bersujud ampun sambil mencium-cium kakinya.


"Anakku, mohon ampuni ayahmu ini, Ayah akan lakukan apapun"


"....Sam...Pah" membuka mata kanannya, memancarkan energi yang langsung menebas tebas tubuh Ayahnya.


Aku berlari menuju rumah Sena, walaupun pandangan mereka jahat, tapi mereka tidak mengetahui apapun. Sempatnya aku terjatuh karena gaunku tak sengaja terinjak.


"Gaun keparat!!" kesal, menyobek rok sampai lututnya.


Sudah kuduga, perasaanku begitu tidak enak. Sesampainya di gerbang rumah Sena, ada 2 penjaga gerbang, ada 2 kemungkinan jika aku lewat gerbang depan, pertama, mereka akan menangkapku dan membawaku ke istana, kedua, mereka menyuruhku kembali. Sudah tidak ada waktu lagi, tanpa pikir panjang, kuambil ancang-ancang. Sekuat tenaga aku berlari, dengan menggunakan elemen angin, kudorong lompatanku jauh ke atas, setipis helai rambut, lututku hampir saja terluka mengenai tembok.


Kedua penjaga itu mengejarku, aku terus berlari. Tepat setelah aku menendang pintu depan, aku juga harus menemukan dimana Sena berada. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ledakan besar mendorongku jauh ke belakang. Kepalaku terbentur keras beberapa kali, setelah itu entah apa yang terjadi.


"AAAAAAA" teriakan orang-orang.


"Amankan Putri, semuanya posisi benteng"


"Komandan, target menggila, meminta bantu...Huakk"


"Bawa Putri menjauh!!"

__ADS_1


Semua akan hancur, hanya ditaburi serbuk kegelapan murni, semua akan hancur. Semua akan hancur. Sena berdiri tak bergeming, anak panah yang melesat begitu cepat hangus dalam perjalanan.


"Kalian, menyerangku?"


"Apa?"


Kepala Sena membelah menjadi dua, darah merah langsung keluar neyerebak ke arah mereka. Dirinya sudah sepenuhnya menjadi monster, sobekan tubuhnya semakin ke bawah semakin menakutkan. Tubuhnya terbelah menjadi dua, dari bagian tubuh yang kosong tumbuh daging berwarna putih dan hitam. Bagian tubuh kanannya pencitraan dari kegelapan, dan bagian tubuh kirinya pencitraan dari cahaya. Bagian tubuh kanannya mengeluarkan tentakel-tentakel kegelapan yang langsung menusuk tepat di kepala mereka.


Remang-remang kudengar suara teriakan dan tangisan, kota yang terbakar hangus. Kepalaku begitu pusing, tubuhku bergoncang begitu hebat, seseorang memegang tubuhku.


"Ahh, dimana aku?" bangunku memgangi kepala yang kian berputar.


"Tuan Putri, peganganlah yang kuat!!" memegang erat tubuh Sena.


Tubuh bagian kiri Sena hanya terdiam, tiba-tiba sesuatu seperti memanggilnya, dari kejauhan dia melihat Yuna. Segera dirinya berlari secepat kilat menghindari serangan yang datang. Dirinya begitu cepat, tepat di atas kepala penunggang kuda itu, dia mengeluarkan tangan kiri cahayanya yang seketika berubah menjadi pedang. Penunggang kuda yang terkejut melihat dirinya, membantingkan kuda tajam ke kiri, namun naas, Yuna dan penunggang kuda itu jatuh ke jurang.


Jurang yang begitu dalam dan gelap, kulihat secercak cahaya menghampiri diriku. Saat kulihat jelas, ternyata Sena, tubuhnya seperti terpisah menjadi dua. Tangannya mencoba menggapaiku yang hanya menikmati jatuh kebawah. Semakin deras angin menerjang kepalaku, kesadaranku mulai hilang lagi. Sekuat tenaga tangan kananku menggapai dirinya.


"Se..na" kataku menutup mata.


"Yuna, Kakak!!!" teriak Sena.


Tak diduga, sepasang sayap malaikat tumbuh seketika. Kesempatan emas ini langsung dia gunakan, dengan cepat tubuhnya memelukku yang hanya terdiam membeku. Sena terbang kembali menuju ke atas, terbang kembali ke kerajaan. Dirinya terbang menuju ke kamar Yuna, sayapnya ia ingkupkan saat membuka jendela, dirinya masuk ke dalam, hanya dengan kibasan tangan, ruangan yang hancur itu berubah seperti semula. Dengan pelan, Sena meletakkan tubuh Yuna layaknya seorang Putri. Tak lama, dari balik jendela, muncul tubuh lainnya Sena yang sudah menunggunya. Terduduk di jendela, mereka berdua saling bicara.


"Bagaimana?" tanya bagian tubuh kanan Sena mengepakkan sayap di udara.

__ADS_1


"Bagaimana lagi, aku sudah menghilangkan ingatannya tentangku" jawab bagian tubuh kiri Sena membalas senyum.


"Raih tanganku, kita akan membuat ini semua seperti sedia kala" mengajukan tangan.


Kedua tangan itu saling tarik-menarik, dan seketika itu semua kembali terbangun layaknya tidak terjadi apa-apa. Kedua individu itu terbang ke Utara untuk mengasingkan diri.


"Ahhh, tidurku enak sekali. Hari ini menemui siapa? Loh, siapa yang harus kutemui?" menggeliat di kasur, bingung terduduk di kasur.


Tak lama seorang pelayan wanita membuka pintu, kulihat wajahnya yang cerianya yang membawakan gaun hijau kesukaanku. Tanpa pikir panjang, dengan perasaan gembira, kupersilahkan dirinya memakaikan gaun untukku. Saat memakaikan, tak sengaja kudengar suara gumam pelayan, ternyata dia sedang bernyanyi.


"Wah, Elidas pintar bernyanyi ya" pujiku dengan senyuman hangat.


"Ahh, Putri Yuna bisa saja. Apakah saat ini Putri sedang tidak enak badan?" khawatir dengan wajah Yuna yang seketika lesu.


"Tidak tahu, Elidas. Hari ini aku ingin menemui seseorang, tapi aku tidak tahu siapa dia" jawabku hampir meneteskan air mata.


"Oh, apakah Pangeran Freits? Hari ini ada kabar resmi dari raja bahwa Pangeran Freits ingin melamar anda" berkata begitu saja.


"Apa?!! Kenapa Ayah tidak memberitahuku sebelumnya. Elidas.." menatap mata Elidas.


"Ada apa Putri?" tanya Elidas yang mulai gugup.


"Apakah kau setia denganku?" tanyaku serius.


"Iya Putri, sebagai Valkyrie, aku akan selalu setia dengan tuanku" jawab Elidas berwibawa.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, aku memimpikan seorang pria, tapi bukan dia" menatap ke arah jendela, burung kecil yang sendirian.


__ADS_2