
Bagaikan Bumi yang tak marah walau diinjak.
Sabar menghidupi mereka.
Bagaikan langit yang dipandang sebelah mata.
Melindungi mereka demi Bumi.
Melindungi dan menyayangi.
Perasaan tak terpatahkan oleh keduanya.
Aku menghadap Grimoire yang siap menyerangku dengan tangan kosong. Dia bersiap dengan kuda-kuda, aku ingat dia mengatakan kalau aku boleh mengeluarkan sihir sesukanya. Dentingan kaca pecah memulai pertarungan kami, dengan cepat Grimoire berlari zig-zag. Sudah kuduga serangannya, kuarahkan tanganku ke tanah. Menghempaskan tubuhku sangat kuat, sampai-sampai aku terhempas sangat tinggi.
Ku kumpulkan energi Mana ke telapak tanganku, konsentrasi memfokuskan bola api. Akhirnya aku berhasil menguasai elemen api. Secercak api melayang di atas tangan kiriku, sangking senangnya aku lupa bahwa aku terjatuh begitu cepat. Sudah terlambat untuk membalik badan, tapi untungnya Grimoire dengan sigapnya menangkap tubuhku. Mendirikanku pelan-pelan, matanya tertuju ke api yang melayang di tangan kiriku. Wajahnya tersenyum karrna selama 3 tahun terakhir ini latihannya tidak sia-sia, dia mengelus-elus rambutku dan segera melanjutkan perjalanan.
Aku berdiri memandangi api kecil, rasanya tidak tega mematikannya. Aku berjalan menuju Grimoire yang sedang menyiapkan barang-barang untuk melanjutkan perjalanan menuju ke desa Flame, aku hanya diajak olehnya, katanya ada seseorang yang ingin bertemu denganku.
"Ayo Yohan, kemasi barang-barangmu!" sibuk Grimoire mengasah pedang.
"Bisa tunggu sebentar Kak, bukankah ini keajaiban. Aku yang menguasai elemen angin sekarang bisa menguasai elemen api, elemen apa selanjutnya yang akan kau ajarkan Kak? Tanah kah?" tanyaku kegirangan.
"Mungkin, tapi yang kau pelajari sebenarnya bukan dariku, aku tidak bisa menguasai elemen apapun. Aku masih manusia biasa, kekuatan itu muncul karena ingin" jawab Grimoire sibuk mengasah pedang.
Hatiku agak kecewa Grimoire menjawab begitu, tapi karena dia guruku, aku harus melindunginya. Kupandangi api kecilku sambil membayangkan seperti apa Venom saat ini, sudah 3 tahun berpisah kami tidak bertemu. Charlotte, mungkin dia sedang menungguku selama ini, tapi yang penting kerajaan Doman aman. Hatiku bisa merasa tenang selama bersama Grimoire, tidak lucu seorang wadah kegelapan mati sebelum ritual.
Sringgg...
__ADS_1
Grimoire mengemasi barangnya, mencangklong tasnya. Dia melirik ke arahku yang masih sibuk bermain api, dengan kesal dia menyiramkan air ke tanganku. Aku terkejut sekali, dengan berat hati kuberdiri mencangklong tasku dan segera melanjutkan perjalanan.
Perjalanan di hutan sangat tidak seru, banyak nyamuk dan setiap malamnya kaki dan tanganku harus diolesi minyak yang lengket untuk menghilangkan bau. Hari masih pagi, tidak ada monster yang keluar pagi hari dan aku aktif saat pagi hari, padahal aku juga ingin membunuh monster.
Sudah beberapa jam kami berjalan, akhirnya hutan sudah berakhir, di depanku terhampar padang gandum, petani-petani gandum sedang memanen gandum mereka. Kulihat rumah-rumah kecil, teriakan anak kecil yang sedang bermain-main. Kuhela nafas panjang, akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Kami berjalan di jalan berbatu, rumah-rumah yang masih kuno dengan asap mengepul diatasnya, serasa seperti hidup di jaman lalu.
Di depan rumah yang penuh bahan-bahan dapur di pagarnya, Grimoire menyuruhku menunggu di depan gerbang. Dia masuk ke dalam pintu yang terbuat dari rumput-rumput panjang.
"Grimoire, ada perihal apa kau kemari?" kata orang tua paruh baya yang duduk di kursi decitnya.
"Hormatku, aku sudah membawanya. Tapi, kekuatannya masih kecil" hormat Grimoire.
"Kegelapan murni, kurasakan kekuatannya walau masih kecil. Bawa dia masuk, Grimoire" perintah orang tua itu.
Grimoire keluar, di belakangku dia menyuruhku untuk masuk. Dengan perasaan aneh kumasuk, sedikit terkejut kulihat Kakek yang sudah sangat tua, rambut putih, berjubah putih dan memegang tongkat. Dia berbalik, menampakkan wajah yang tertutupi rambut putih. Tanpa berkata apa-apa dia memberikanku buku hitam penuh debu. Kuterima begitu saja, ku tiup, debu berhamburan kemana-mana.
"Ehhmm, bisakah aku membacanya nanti Kak? Aku pikir tempat ini terlalu gelap" menyipitkan mata, menutup buku.
"Kemarikan tanganmu Nak".
Kujulurkan tanganku, Kakek itu menyentuh telapak tanganku. Matanya tertutup, seperti sedang meramal sesuatu.
"Masa depanmu, kau akan bertemu Bumi dan Langit. Mereka membantumu untuk menyegel kegelapan, tapi seseorang menjadi tumbal, dirimu pasti mengenalnya. Untuk sementara waktu tingallah disini anak muda, Grimoire ajari dia" berdiri terbungkuk.
Grimoire melihat ke arahku, matanya menatap ku cukup lama. Kami saling berkontak mata, dia seperti mencoba membaca pikiranku. Tanpa berkata, Grimoire berdiri meninggalkan rumah Kakek ini. Aku masih terduduk, merenungi apa yang Kakek tua itu katakan. Akhirnya kuberdiri menuju ke luar, dalam benakku kata Kakek itu masih terngiang-ngiang. Kulihat Grimoire duduk di pagar batu yang tebal, dia menatap anak kecil yang sedang bermain. Pelan-pelan aku berjalan mendekatinya. Tiba-tiba dia menceritakan kejadian kecilnya.
"Dulu, dulu saat aku berumur 6 tahun. Aku bermain seperti mereka, bersenang-senang bersama menikmati masa kecil. Entah darimana asalnya, Goblin menginvasi desa kami, segera orang tuaku menarikku ke dalam rumah. Ibuku menyembunyikanku di balik baju-baju, dia menangis mengatakan tak apa-apa sayangku. Menutup lemari, belum juga Ibuku berdiri, dari belakang seorang Goblin menusuk kepalanya. Kumencoba sekuat mungkin untuk tetap diam dan itulah dimana hari aku terakhir kali melihat desaku. Dan Kakek tua yang kau temui tadi, dia menyelamatkanku dan melatihku menjadi Assassin dan direkrut kerajaan Doman" cerita Grimoire meneteskan air mata.
__ADS_1
Aku hanya terdiam, merenungi derita kecilnya. Kududuk di sampin dirinya, memegang tangan yang halus itu. Kepalanya pelan-pelan bersender di bahuku, kulihat anak-anak kecil itu. Polos, tidak tahu apa-apa yang ada di luar sana, tapi tiba-tiba nyawa mereka menjadi taruhan di tengah-tengah perang. Naas sekali, bahkan hatiku tidak mampu menerima derita teriakan mereka.
"Maka sejak saat itu, aku bersumpah untuk melindungi desa ini. Yohan?" tanya Grimoire lembut.
"Hmmm..." dengungku.
"Apakah kau akan membantuku?" tanya Grimoire lagi.
"Pasti, Kak. Aku akan melindungi kalian semua, pasti akan kumusnahkan kegelapan" jawabku optimis.
Tak kusangka Grimoire yang biasa menampakkan perilaku garang, keras kepala dan tomboi tak kusangka dia bisa selembut ini. Wajahnya terlihat cantik saat diam, rambut hitam yang wangi. Secara tak sadar tangan kami saling berpegangan. Masih kulirik wajah merah meronanya, mata hitamnya menambah aura kecantikannya. Bagaikan mawar yang penuh duri.
"Yohan, jika Dunia ini damai apa yang akan kau lakukan?" tanya Grimoire.
"Ehhmm, mungkin menjalani kehidupan biasa bersama keluargaku. Melihat Venus tumbuh dewasa dan menjalani hari tua yang indah bersama" jawabku.
"Begitu ya, menurutmu siapa yang lebih cantik? Aku atau Charlotte?" tanya Grimoire mulai tertidur.
Beberapa kejadian yang tidak bisa dijelaskan.
Untungnya ada warga desa yang mau menerima kami selama beberap hari, aku sungguh terkejut Grimoire akan bertanya seperti itu. Hatiku menjadi was-was, cintaku kepada Charlotte serasa memudar. Grimoire sudah tidur lelap, aku duduk di pinggirnya. Kepalaku serasa pusing memikirkan perasaan mereka berdua, aku bertanya-tanya di dalam diriku, apakah Grimoire benar-benar mencintaiku? Tapi, kata dokter tadi dia hanya kurang tidur. Dadaku merasa agak sakit mendengar kata dokter tadi, jika benar Grimoire yang mengatakannya langsung dan masih sadar mungkin aku bisa lebih dekat dengannya. Jika saja bisa.
"Kak, aku akan pergi ke hutan sebentar, hanya untuk mengumpulkan keinginan buku hitam ini" mengelus-elus rambut Grimoire.
Aku merasa bahagia dan juga pula merasa bimbang, kehidupan dunia berada di pundakku begitu pula Grimoire. Aku sudah berjanji, akan kuhancurkan kegelapan dan mengembalikan kedamaian ke dunia.
Be like and favorit
__ADS_1