
Seseorang menyelamatkan kami, menyeretku ke dalam dimensi yang tak ku kenali. Kulihat wajah Tee-chan, dia begitu bingung, dia keliling menyusuri hutan. Aku segera menghampiri Tee-chan, dirinya mengambil beberapa helai daun.
"Dunia ini, persis seperti Bumi" kata Tee-chan kembali ke tempat mereka berada semula.
"(Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu Yohan di Bumi? Aku merindukanmu)" kata Yuna dalam hati menahan sakit.
Bunga yang kupeluk terasa jauh dihati.
Terbang menjauh tak pernah kembali.
Hatiku sakit tertusuk bermacam duri.
Bagaikan kasih yang tak sampai di muka.
Perasaanku terpendam di dalam lautan gelap.
Menunggu untuk dimulai.
Memulai hari baru.
Hari yang menewaskan kalian para umat manusia.
Seseorang seperti berkata-kata dalam diriku. Tak lama, gempa dahsyat terjadi. Sontak aku terjatuh ke tanah. Bumi bergetar bagaikan hari akhir sudah di ambang mata, tubuhku terguncang begitu keras. Pakaian sihirku berantakan tak karuan, kepalaku terasa begitu pusing.
__ADS_1
"Me-Medan Gra-Gravitasi" kataku sekuat tenaga menancapkan tongkat sihir ke tanah.
Akhirnya gempa tidak begitu terasa, aku terbangun dari tengkurapku, kurapikan baju sihirku yang hampir saja lepas. Kulihat yang lainnya juga sama sepertiku, kudekati pojokan medan gravitasi. Kutarik tangan Tee-chan sekuat tenaga. Aku tersengal-sengal hanya menarik perawan tua ini. Sempat juga aku terjatuh ke tanah hanya untuk mendirikan Tee-chan.
"Ini aneh, Yuna. Ehh, gempanya berhenti?" terkejut, menghentakkan kaki ke tanah beberapa kali.
"Kak cepat, kita tolong Gandasvara dan Bonnie. Keadaan ini lebih penting sekarang!!" menatap wajah Tee-chan serius.
Tee-chan hanya memantukkan kepala dan berlari menuju tempat kemunculan kita, aku segera mengambil tongkatku dari tanah berlari mengikuti langkah Tee-chan. Sesampainya di padang rumput dimana kami muncul pertama kali di dunia ini, mereka sudah tidak ada. Padahal aku yakin mereka ada di sini tadi, Tee-chan juga sibuk mencari mereka berdua dengan penglihatan elangnya. Karena terlalu lelah, aku terduduk sebentar mengambil napas, tiba-tiba Tee-chan menepuk pundakku.
"Mereka ada di atas bukit" menunjuk ke bukit yang berkelok-kelok.
Tee-chan langsung berlari. Aku yang begitu kelelahan bahkan tak sanggup berkata-kata, kucoba meraih dirinya yang berjalan begitu jauh, Yohan, kenapa kau meninggalkanku begitu saja? Benar, banyak sekali wanita yang mengkerumunimu sedangkan aku apa? Hanya anak kecil yang setengah iblis, bagaimana seorang yang diidam-idamkan mencintai iblis cilik ini. Bahkan aku hanya bisa berlindung di belakangmu, aku hanya terciprat kebaikan yang kau timbulkan. Jika saja Sena sudah aku selamatkan dari dulu, apakah kejadian seperti ini tidak akan terjadi?
"Apa kau mau kembali ke masa lalu?" seseorang bertanya kepada Yuna.
Tiba-tiba saja aku terbangun di ruang hampa. Anehnya dirinya tak kutampaki, hanya kegelapan sejati yang menyelimuti diriku.
"Apa kau mau kembali ke masa lalu?" tanya nya lagi.
"Jika saja kau bisa, tapi tidak ada kekuatan seperti itu. Jika saja aku tuhan, aku pasti sudah membalikkan waktu sejak dulu" kataku penuh keputus asaan.
"Aku bisa mewujudkannya. Kau beda dari orang yang pernah aku lihat sebelumnya".
__ADS_1
"Siapa? Siapa dia?" tanyaku sedikit bersemangat.
"Entahlah, tapi dia seorang pemuda yang penuh penderitaan".
"Apakah Yohan? Eh, tunggu! Dunia apa ini?" tanyaku lagi.
"Dunia ini, kamu bisa menyebutnya sebagai alam kematian. Tapi, anehnya entah kenapa dia memiliki banyak bonus reinkarnasi".
"Benarkah? Apakah itu benar Yohan? Coba jelaskan seperti apa dia!" kataku mulai bersemangat.
"Maaf, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya, karena disini tidak ada cahaya untuk melihat. Aku hanya bertugas menanyai dan menyiksa, tapi anehnya kamu juga berada disini, tapi dirimu masih hidup".
"Apakah ini ada sangkut pautnya dengan 7 pedang pelangi" berpikir keras.
"Maaf, tapi waktumu tinggal sedikit. Mau kembali ke masa lalu?"
"Apa kau sedang mengujiku, kembali ke masa lalu artinya menabrakkan masa sekarang dengan masa yang lalu, jika hal ini terjadi, ruang dan waktu tidak akan berfungsi normal, dan dengan begitu seluruh alam semesta ini akan terhenti, resikonya juga begitu besar" tolakku sedikit marah.
"Darimana kau tahu itu? Pernyataanmu tidak benar, tapi bukan juga salah. Ehh, waktumu habis. Dahh"
"Hei tunggu!!"
Tangan kananku mencoba meraihnya, tapi tiba-tiba saja aku memegang sesuatu. Cahayaku tadi sempat melahapku, tapi tiba-tiba seorang perempuan berdiri sangat dekat dengan diriku. Kurasakan kelembutan di tanganku, serasa kenyal-kenyal gimana gitu. Eh..
__ADS_1
"Ahhh MESUM!!!".
Entah kenapa sejak saat itu aku mengalami kehidupan yang menakjubkan.