Z World

Z World
Episode 1:Kehidupan Baru.


__ADS_3

"Dik Yohan.. Dia, berubah menjadi batu" menunduk sedih.


"Tidak! Yohan, bangun Yohan!! Kau sudah berjanji kepada kami untuk selalu bersama" memeluk Yohan, bercucuran air mata.


Tiba-tiba, dari balik portal, muncul seorang Iblis merah memegang kendali seluruh pasukannya, sekejap Bumi tertutupi sayap merah. Suasana seketika menjadi mencekam, Tetua Ender langsung berdiri di depan Elmina yang ketakutan setengah mati. Pemimpin seluruh Iblis itu mengangkat tangannya, dengan cepat menghembuskan tangannya ke arah Tetua Ender. Tak lama, duri merah yang begitu besar menerjang mereka. Tetua Ender hanya diam membeku, dengan senyum bahagia, dia menghakhiri hidupnya.


"Terima kasih dik Yohan, walau hanya hidup sebentar, aku sudah bahagia bersamamu" mengarahkan tangan kanannya ke duri.


"Elmina, larilah ke Ender, beritahukan semuanya bahwa bangsa Iblis sudah memulai perang" kata Tetua Ender.


"Tunggu, bagaimana dengan Yohan?" tanya Elmina.


Belum juga dijawab, Endra langsung menyambar Elmina, membawanya pergi melewati portal, menuju ke Ender. Tetua Ender yang berhasil selamat dari serangan Iblis merah, langsung diserang habis-habisan tanpa belas kasihan.


"Hoi, bangun hoi" menduduki tubuh Yohan.


"Si-Siapa kamu? Dan dimana aku?" tanyaku pasrah.


"Apa itu responmu, membosankan. Semua orang yang bangun juga menanyakan hal yang sama. Dimana aku, siapa kamu, bosan tahu" katanya sedikit merasa bosan.


"Ha?"


"Ha Ho Ha Ho, cepat ikuti aku. Kau mau terus hidup atau mrngunci reinkarnasimu" beranjak dari tubuh Yohan.


Entah siapa dia, tapi aku tidak bisa melihat wujudnya, hanya sebuah kata, tapi aku bisa merasakan tangannya. Kupegang erat tangannya, dia berjalan entah kemana, aku hanya bisa mengikuti dirinya. Tak lama, dia berhenti, menarikku ke sebelahnya.


"Cepat pilih, mau reinkarnasi atau kunci reinkarnasi?" katanya kesal.


"Pilih mana? Aku tidak tahu. Beritahukanlah" maju ke depan sambil melambai-lambaikan tangan.

__ADS_1


"Aku anggap iya, cepat pergi sana!!" menendang punggung Yohan.


Tiba-tiba aku terjun ke bawah sangat cepat, yang kulihat hanya latar belakang yang putih. Mataku sedikit demi sedikit mulai tertutup, semua yang kutahu terkuras habis begitu saja. Yuna, siapa dia? Apa itu sihir? Aku bersamamu, siapa dia? Semua itu hilang.


"Selamat, anak anda laki-laki"


"Wahh, matanya ungu, bagus juga ya"


"Loh, mata ungu? Padahal di dunia ini tidak ada orang se-spesial dia, apakah ini evolusi?"


"Ahaha, dokter memang suka bercanda ya"


"Tidak, aku tidak bercanda. Memang ada manusia bermata ungu, tapi itu hanya dirinya"


"Ha, anakku memang spesial"


Sekerumunan orang berkerumun di depan rumah seorang wanita paruh baya, dengan membawa orang-orang berbadan kekar, dia mendobrak pintu dengan begitu kerasnya. Dari dalam, wanita patuh baya itu segera bertekuk lutut di hadapan pria dengan banyak perhiasan di badannya. Dengan tatapan jijik, dia menarik rambut wanita itu, berbisik di telinga wanita yang menahan rasa sakitnya itu.


Dengan segera mereka angkat kaki, wanita paruh baya itu hanya terduduk menangis. Dari balik tirai, seorang anak kecil bermata ungu menghampirinya. Dengan halus, dia mengelus rambut Ibunya.


"Nak, jaga adikmu ya. Ibu mau bekerja terlebih dulu" kata wanita itu kepada anaknya.


"Tapi, Ibu mau kemana? Aku akan temani" kata anaknya yang baru berumur 3 tahun.


"(Anakku memang pintar, akan kujaga dirimu walau nyawa Ibu taruhannya) Tidak perlu Yohan, Ibu akan kembali kok" memeluk hangat anaknya.


Setelah beberapa saat, Ibu pergi melambaikan tangannya. Ibu berusaha menahan penderitaannya sendiri, mengelap air matanya sendiri, sejak kepergian orang bodoh itu yang hanya meninggalkan utang kepada kita, aku yang baru berumur 3 tahun berusaha keras mencari cara untuk melunasi hutang, tapi Ibu selalu menghalangiku. Aku menunggu, terduduk di lantai yang dingin depan teras, selalu menunggu kedatangannya pulang. Tapi, pelukan hangatnya tak pernah pulang ke rumah, tetangga yang menjadi adik kandungnya, mengadopsi aku dan adikku. Sampai saat aku sudah beranjak 7 tahun.


Berita hari ini,"Anak ajaib bermata biru". Aku sedang menghitung uang di kamarku, aku terduduk di kursi belajar. Kamarku banyak sekali penghargaan yang tak terhingga jumlahnya, banyak orang mengatakan diriku anak terpintar di dunia, dan apalah itu, tapi itu semua hanya kehampaan di mataku. Ini hari ke-2 aku menjual piala-pialaku, barang-barang tak berguna ini memenuhi kamarku. Tak lama, seseorang mengetuk pintu kamarku, aku sudah tahu itu adik kandungku.

__ADS_1


"Masuklah adikku, ceritakan ada apa?" kataku bereibawa.


Dengan cemberut, dirinya membuka pintu dan langsung melemparkan amarahnya ke kasur Kakaknya. Sambil tengkurap, dirinya memegang erat bantal Kakaknya, dirinya menangis histeris. Kuhentikan pekerjaanku, kuberjalan menghampirinya, terduduk di samping kasur, kuelus rambutnya mencoba menenangkannya.


"Ceritakan ada apa Sayangku?" berkata-kata manis.


"Hik, Kakak. Kenapa Seraphine selalu di bully Kak? Kan Seraphine tidak salah apa-apa dan hanya berjalan di depan mereka, tiba-tiba mereka menyeretku ke pojokan kelas. Dengan olok-olokan mereka, mereka mengataiku kalau aku hanya numpang nama di keluarga Kakak. Kakak! Apakah aku begitu menyedihkan?" mengelap air mata, perasannya hancur lebur.


"Tidak, Sera bukan perempuan yang menyedihkan. Sera kan adikku" memeluk erat adiknya.


Tangisnya sedikit demi sedikit memelan, masih kupeluk erat dirinya sampai dirinya tertidur. Sudah biasa Sera tertindas seperti ini, karena lukanya tidak begitu berarti, aku hanya memakaikannya obat luka saja. Kurasa dirinya sudah tertidur, pelan-pelan kubuka bajunya, seketika aku terkejut mendapati punggungnya penuh luka lebam. Dengan marah, aku bersumpah akan membunuh siapa yang menyakiti adikku.


"Seraphine, jangan bersedih lagi. Kakak akan menangani semua ini, akan kuangkat kata-kata Ibu untuk terus menjagamu, walau nyawa taruhannya" menggertakkan gigi.


Aku terbilang sudah dewasa terlalu dini, pemikiranku bahkan melebihi teman-teman sekelasku, sejak dulu sampai sekarang nilaiku tidak pernah kurang dari seratus, guru-guru bahkan memuji-muji diriku begitu berlebihan, bahkan aku jago dalam hal olahraga, pernah kukalahkan anak kelas 4 dalam pencak silat, Ibunya marah-marah kepadaku karena aku mematahkan kaki tangan anaknya, aku mengatakan kepadanya dengan wajah dingin nan kejam,"kenapa anakmu kau ikutkan jika kamu sudah tahu konsekuansinya?", sekejap dirinya terdiam, dengan marah orang tua mereka pergi dari hadapan guru-guru yang mencoba membelaku. Dalam berbagai hal, sekolahku sudah bagaikan istanaku, aku meminta uang kepada guru bahkan dia mengasihku lebih, selama aku mengagungkan nama sekolahku itu semua akan kudapatkan. Memang tidak ada yang bersih di dunia ini, dan aku, hanya mengikutinya.


Kuambil dompetku, kuberjalan santai menuju ke teras, hanya beberapa langkah lagi mencicipi dunia orang dewasa. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, menggenggamnya begitu kuat. Aku menengok ke arah belakang, ternyata itu Kakak laki-lakiku, yang berasal dari keluarga ini. Dengan tatapan ingin tahu, dia mencoba mengorek-ngorek apa yang ingin kulakukan. Apa boleh buat, aku tidak bisa menang berdebat darinya.


"Aku ingin memberi pelajaran mereka yang membully adikku" kataku dengan nada marah.


"Tenang dulu Yohan, aku tidak mau ikut-ikut denganmu, tapi jangan sampai ayah sama ibu tahu, begini saja sebagai saudara, akan aku jaga rahasiamu dari ayaj dan ibu, tapi ada biayanya" menyeringai.


"Sudah kuduga, berapa?" mengeluarkan dompet.


"200 ribu rupiah jika harga normal, jika harga bonus untuk saudara hanya 199 ribu rupiah saja" tersenyum senang.


"Hueekkk, aku hampir muntah dibuatmu. Apa hanya berkurang seribu rupiah saja? Sudahlah, aku tidak mau membuat masalah denganmu. Ini uangnya" memberikan dua lembar uang merah.


Dengan cepat, uangku langsung disedot olehnya. Dia mengeluarkan selembar uang seribu rupiah dari kantonganya, kuterima saja kembaliannya kalau tidak debatnya akan panjang, bagi dia selama ada uang maka ada barang. Kakakku memang mata duitan, tapi dibalik sifatnya itu, dia masih menyayangi adiknya sendiri, dengan diskon pastinya. Aku berjalan menuju pasar gelap, aku berhenti di depan kerumunan orang-orang, aku memandang ke atas, hanya untuk memastikan aku sudah sampai ditujuan. Ternyata benar, di atas tertulis,"Pasar Gelap Meng". Namanya memang pasar gelap, tapi didalamnya sama seperti pasar tradisional pada umumnya. Ku goroh saku kantungku, ku keluarkan daftar belanjaan yang harus kubeli. Hanya harus membeli topeng polos dan satu buah pisau tajam.

__ADS_1


"Siapa buat berani macam-macam dengan adikku?" bisikku tersenyum kejam.


__ADS_2