
Katakanlah sesuatu maka akan kukabulkan.
Minta keinginanmu untuk menggapainya.
Semua itu bisa kukabulkan.
Asalkan kamu memberikan nyawamu.
Satu-satunya nyawa yang kau punya.
Mudah sekali membodohi kalian.
Aku hanya meminta satu nyawa, tapi semua nyawa manusia Bumi kalian berikan.
Tak apa, walaupun kekuatannya tidak menyamai Guardian terakhir, tapi ini setara dengannya.
Aku terbangun, kurasakan dadaku terendam air. Air ombak membawaku entah kemana, yang kubisa hanya melihat langit di atas air yang mengganas. Ini hanya mimpi kan? Tapi, rasanya begitu sakit, kurasakan dadaku terkikis, sangat perih sampai-sampai mati pun menolak untuk menjemputku. Diriku terdampar di bibir pantai, rasanya sakit, melebihi sakit yang kubayangkan. Kenapa aku harus mati semudah ini? Baru menjadi awak kapal pelayaran, tapi diserang bajak laut. Sepertinya aku beruntung, beruntung merasakan sakitnya hidup. Kututup mataku yang mulai kehilangan kesadaran, tak akan ku lupakan sakit hidup ini.
"Apakah aku sudah berada di surga? Ahh, kenapa dadaku masih sakit?" memegang dadanya.
Aku belum mati, mataku tertutup kain. Rasa sakit dadaku kian menyengat, yang hanya bisa aku lakukan hanya berbaring sambil meringis kesakitan. Aku samar-samar mendengar suara hujan turun, karena air laut, hampir seluruh indra milikku melemah. Tiba-tiba seseorang memegang daguku, dia mencoba membuka mulutku. Saat kubuka mulutku, sesendok cairan manis masuk ke dalam mulutku, madu. Yang kupikirkan sekarang hanya bertahan hidup, tidak ada pikiran lainnya, selama aku di urus dan tidak membantahnya aku bisa bertahan hidup.
__ADS_1
"Tunggu, dimana aku sekarang?" tanyaku mengelus tenggorokan sakitku.
Tak sepatah kata pun dia katakan, aku putuskan untuk diam. Dia menyuapiku dengan sesuatu yang baru, seperti bubur. Suara hujan juga semakin menderu-deru, petir terkadang-kadang menyambar sampai terdengar bunyi pohon tumbang. Aku merasa mengantuk, kucoba untuk tidur dan melewati malam mengerikan ini. Keesokan paginya, aku terbangun, aku merasakan seseorang tidur di sebelahku, derap nafasnya yang halus. Aku mengetahui ternyata yang menyelamatkanku adalah seorang wanita. Tanganku mencoba meraih kain yang menutupi mataku, hanya tinggal melepas ikatannya, tapi tangan seseorang menahan tanganku. Dengan lembut dia menarik kembali tanganku ke posisi semula. Aku hanya bisa menduga-duga, yang dia lakukan memang benar, jika aku membuka mataku yang baru terkena air laut malahan rasa sakitnya bertambah dan kemungkinan besar menyebabkan kebutaan. Dia membantuku berdiri, melangkah demi langkah, menuntunku menuju dunia baru.
Kurasakan udara segar menghembus ke wajahku, perlahan-lahan ku bernafas cukup dalam. Dia memegangi dadaku, membantuku sembuh dari sakit ini. Dia menurunkanku, bersila di tempat aku berdiri, setelah dia menepuk bahuku, dirinya pergi entah kemana. Seketika rasa sakitnya sedikit memarah saat dia pergi, mungkin pergi mencari makanan atau sesuatu. Yang kutahu aku terdampar di bibir pantai, dan kemungkinan besar wanita ini adalah penyelamatkanku dan tinggal di pesisir pantai, tapi kenapa udaranya lebih terasa saat di hutan. Sudah beberapa tahun sejak aku pertama kali masuk kuliah, yang kuhirup saat itu hanyalah asap kendaraan, berbeda saat aku tinggal di desa, desa! Benar, bagaimana nasib kedua orang tuaku, semoga saja kedua adikku menjaga kebahagiaan mereka yang sudah tidak muda lagi.
Nyanyian burung menyambut pagi, tiba-tiba titik-titik air mengenai wajahku berkali-kali, spontan aku langsung menutupi wajahku. Ternyata dia sudah kembali, membawa ikan yang baru saja dia tangkap, tak bisa kusimpulkan lebih ikan apa yang dia bawa, tapi rasanya pasti enak. Tak lama, bau harum datang menyambutku, tak sengaja aku menyentuh tangan halusnya saat dia memberikan ikan matang kepadaku.
"Ahh, maaf. Aku tidak sengaja" gugupku.
Pelan-pelan kumakan masakannya, rasanya yang nikmat dan gurih mengembalikan indra perasaku sedikit demi sedikit. Lidahku sedikit terasa hambar, tapi rasa nikmatnya masih bisa terasakan begitu dahsyat. Mungkin aku terlalu melebih-lebihkannya saja. Aku bersender di dinding, kurasakan dinding kayu yang begitu halus. Dia beranjak dari duduknya, terdengar langkahnya yang semakin menjauh. Ini kesempatanku, karena rasa ingin tahuku yang besar, kubuka kain yang menutupi mata kananku. Aku masih melihat kabur-kabur, karena belum sembuh total, ku utungkan keinginanku dan bersabar untuk buta selama beberapa jam atau hari.
Sudah beberapa hari berlalu, aku sudah terbiasa dengannya. Akhirnya hal yang kutunggu-tunggu, melihat wajah penyelamatkanku. Selama kami bersama, dia tidak pernah berbicara sepatah katapun, aku pikir dia bisu. Kain yang menutupiku dia buka perlahan-lahan, yang kulihat hanya kabut asap, dengan pelan tangannya memejamkan mataku. Dia mencium keningku dan pergi ke luar. Kubuka mataku, aku takjub memandangi rumahnya. Rumah yang berada di dalam gua, walau di dalam gua, tapi tempat tinggalnya terlihat rapi dan serasa berada di rumah pada umumnya, dia menghilangkan batu-batuan di atap gua sampai halus, melapisi pinggir-pinggir gua dengan kayu. Aku berdiri melihat-lihat barangnya. Ada kursi kayu, tak kusangka dia mempunyai sofa juga, tapi aku tidak pernah mengenal ini. Aku berdiri di depan meja kayu kecil, banyak sekali kertas di atas meja. Ku lihat satu persatu, ternyata sebuah peta, pulau yang sangat luas berbentuk seperti bintang, aku terkejut selama ini aku terdampar di pulau yang belum di petakan sebelumnya.
"Tidak! Hentikan, tolong jangan bunuh dia!" bersujud dihadapannya sambil menangis tersedu-sedu.
"Jadi kamu bisa bicara ya, Putri Felicia" menghampirinya.
Tiba-tiba aku berdiri, badanku membeku tertutupi balok-balok es. Aku melihatnya, dua orang wanita yang saling bertarung. Aku mencoba untuk keluar dari perangkap es ini, tapi apa daya, menggerakkan lidah saja aku tidak bisa apa lagi bebas dari ini. Yang bisa kulakukan hanyalah terdiam, melihat sakitnya hatiku.
"Tolong jangan bunuh dia, dia hanya milikku satu-satunya. Dia, hik... maafkan dia, akan aku patuhi semua perintahmu Ratu" menangis histeris sambil menciun telapak kakinya.
__ADS_1
"Ahahaha, kau dengar Yohan, siapa lebih memilih siapa? Aku harap kau tahu batasanmu, aku sang kegelapan akan melahapmu sampai generasi terakhirmu. Yohan ke-8" menyeringai.
Perempuan yang bersujud itu langsung mengikuti langkah perempuan satunya, melewati portal hitam, mereka menghilang. Seketika hatiku merasa sakit, apakah dia penting bagiku? Tapi, aku harus mendapatkannya, walau aku hanya seekor semut dan dia manusia yang keji, akan tetap aku lawan.
Tyarrr.....
Tiba-tiba es ayang menyelimutiku hancur menjadi kepingan, anehnya satupun kepingan tidak terjatuh ke tanah, kepingan-kepingan itu bergerak di atas kepalaku. Lama-kelamaan kepingan es itu memadat membentuk mahkota bersinar terang benderang. Sinarnya tak lama sirna tenggelam menjadi biru gelap, aku merasakan seperti kekuatan besar menyelimutiku. Entah darimana angin yang muncul di depanku, sebuah portal seketika muncul menarik tubuhku ke dalamnya. Aku melewati waktu, tubuhku serasa melaju sangat cepat. Dalam perjalanan aku hanya melihat banyak sekali jam berputar-putar tak berhenti. Semakin cepat dan cepat, sampai aku terjun kembali ke Bumi.
Aku terjatuh dari atas langit, dalam waktu singkat aku melihat banyak sekali serpihan foto diriku, melawan perempuan yang dia sebut "Ratu". Tanpa kusadari aku sudah menghantam tanah, tubuhku hancur berkeping-keping. Aku sekarang ingat siapa dia, kegelapan palsu yang disebut sang "Ratu", dipuja seluruh makhluk alam semesta, mereka takut, dibawah pemerintahannya, kekuatannya tak terbatas. Bangsaku, Guardian, habis dia bunuh sampai reinkarnasi terakhir mereka. Sekarang mereka hanya sekitar 5 Guatdian dan itu termasuk diriku, aku sudah pernah bertemu dengan Guardian, Guardian yang menyelamatkan diriku, jika saja saat itu reinkarnasi ke-sembilanku, kami sudah pasti akan meenang melawan sang "Ratu".
2 tahun kemudian, matinya Yohan ke-8.
"Jika ini bukan salahku, Bumi pasti akan hancur. Lebih baik seperti ini sampai Ratu terlahir kembali" kata seseorang sedang bersemedi.
"Mau sampai kapan kamu begini? Yohan, Guardian terlemah yang menanggung beban alam semesta, apa kau sudah buta, Kakak tertua?" berdiri di balik bayang-bayang.
"Tunggu sajalah Aslan, dia pasti bisa melakukannya. Lagi pula, Ratu hanya memiliki 1 kali kesempatan reinkarnasi dan Yohan? Hem, 5 kali. Dia pasti bisa, tonton saja" kata seseorang di belakangnya, menepuk pundaknya.
"Itu benar, tapi seseorang mengkhianati kita, Salamandana. Kakak tertua, apakah kau sudah bersemedi? Apa aku harus memukul pengkhianat itu" mengepalkan tangan.
"Lakukan sajalah, lagipula bangsa kita tidak bisa bertahan lama, aku juga ingin melihat pertarungan Guardian. Apakah bisa menghancurkan alam semesta?" menyeringai.
__ADS_1
3 tetua Guardian yang merupakan 3 Guardian terkuat akan melawan 2 Guardian paling lemah, akankah Yohan bisa mendapatkan hati sang "Ratu" dan mendapatkan 7 inti elemen. Saksikan saja.
Akhir G1.