
Aku berdiri, mataku tak bisa berhenti bergerak-gerak. Kucari dia dimanapun, tapi tidak ketemu.
"Rika, dimana kamu?!!" teriakku.
Orang-orang hanya sibuk dengan masalah mereka sendiri, kuberlari ke seluruh sudut Bioskop, tapi tak kunjung kutemui dirinya. Rika dimana kamu? Hatiku mulai berantakan, keringat dingin mulai keluar perlahan-lahan. Sudah lama kucari, dirinya menghilang begitu saja. Aku terduduk di kursi kosong. Nafasku terengah-engah, yang kubisa hanya membayangkan Rika bisa kutemukan.
"Hah, Rika, dimana dirimu?"
Pikiranku terbang kemana-mana. Kurasakan pusing yang begitu mendalam, rasanya sangat mengantuk, ingin sekali walaupun singkat diriku ingin lepas dari derita dunia. Kumencoba tenang, kupejamkan mataku sebentar. Hatiku sedikit terasa tenang, kebisingan para manusia menghilang dari diriku. Saat kubuka mataku kembali, tidak siapapun lagi, segera ku bangun dari kursiku, kuhantamkan kepalaku ke tembok.
Duagghh...
"I-Ini, mimpikan? Akkhh" meringis kesakitan.
Aku tak percaya, tak percaya semua manusia menghilang begitu saja dalam sekejap. Kulihat keluar Bioskop, hanya ada suara angin dingin dan tarian dedaunan yang kesepian. Kuberjalan menuju rumah, hatiku hancur tak karuan, tak mungkin seluruh manusia hilang. Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku, bisa-bisa diriku gila. Tak lama dari tempatku, terdengar rentetan suara senjata. Hatiku senang masih ada manusia, segera ku menuju sumber suara. Aku teringat, berhenti di tengah jalan, mencoba berpikir lebih jernih lagi, jika masih ada orang yang selamat, kemungkinan besar Seraphine masih ada. Tanpa pikir lagi, kutancap gas menuju rumah, walau badai salju ini menghantam tubuhku, mengubur tubuhku yang sudah dari dulu membeku, akan kutancapkan janjiku, janji kepafa Ibu untuk terus melindungi Sera, adikku tercinta.
"(Sera, Sera, Sera, bertahanlah!! Kakak datang!!)"
Mulai terdengar jeritan seorang wanita, hatiku mulai terusik, perasaanku tidak tenang. Posisiku berada di pintu masuk desa yang tidak jauh dari rumahku. Apakah ini, Sera? Aku tidak percaya, tangisku mengalir kemana-mana. Kupeluk dirinya yang sekarat, kumenangis layaknya bayi, tanpa dirinya, apa jadinya diriku sekarang.
"Sera, tolong, bertahanlah!! Bertahanlah Sera!!" menangis tersedu-sedu.
"Ka..Kakak, aku mencintaimu. Ji...Jika aku bukan adikmu, a..aku ingin men..menikahimu" senyum Sera sekarat.
"Se-Sera, tidak Sera!! Bertahanlah!! Akan kunikahi dirimu!!! Ma..Maka bertahanlah!!" menutup mata erat-erat.
"Kakak, aku men..cinta..imu" menghembuskan nafas terakhir.
"Sera, hei Sera, jangan tidur Sera. Hik, AAAAAAA(akan kusiksa semua orang yang pernah kau kenal, akan kuperkosa anak-anak dan istrimu sampai mereka gila, akan kubuat seluruh manusia memusuhimu, menyiksamu, sampai dirimu tidak mengenal wajah orang lagi!)"
Sejak saat itu, hatiku sudah terkunci sepenuhnya, hanya janji yang terakhir ku ucapkan yang membuatku masih hidup sampai sekarang.
10 tahun kemudian.
"Alpha-1 berhasil masuk, menyuruh Alpha-3 memindai tempat"
__ADS_1
"Ini Alpha-3, terdapat 2 Blood Driver tingkat 1, 1 Blood Driver tingkat 2, kesulitan mudah"
"Alpha-4, 5, 6, menyuruh untuk membersihkan tempat"
"Peringatan Alpha-1!! Alpha-6 melepaskan diri, peringatan!!"
"Hei Alpha-6!! Jangan gegabah, Blood Driver tingkat 2 tidak mampu kau hadapi!!"
"Ini Alpha-6, meminta seluruh Alpha untuk mundur. Target berhasil dibawa"
(Terdiam...).
"Cih, bocah itu!!"
"Alpha-1, kita harus segera keluar. Target berhasil diselamatkan, tapi banyak sekali Blood Driver mengikuti Alpha-6"
"Apa?!! Seluruh Alpha formasi Benteng!! Jangan ada yang mundur sebelum target melewati kita!!"
Dari balik kegelapan, seorang laki-laki tanpa perlengkapan menggendong wanita, langkahnya sangat cepat dan berat. Wajah wanita itu begitu ketakutan, wajahnya menghadap ke belakang, dia begitu terkejut, saat Blood Driver hampir menyentuh sehelai rambutnya.
"Rekomendasi menggunakan peluruh FB-1" kata Alpha-2 berlari keluar.
"Tahan, tahan, masih ditahan, tembak!!" perintah Alpha-1 melepaskan tembakan.
Hanya beberapa langkah Blood Driver menyentuh Alpha yang membentuk formasi benteng, Alpha-6 yang terengah-engah segera keluar menuju mobil. Dia melemparkan perempuan yang dia gendong, dirinya berlari menuju ke kursi depan. Dia mengambil sebuah granat es dan segera menuju ke dalam. Di dalam Alpha mundur perlahan-lahan, tiba-tiba Alpha-6 berteriak memerintahkan seluruh Alpha untuk mundur. Tanpa banyak pikir, seluruh Alpha langsung melaksanakan perintah Alpha-6 dan naik ke mobil. Alpha-6 menarik pemicu, dia melemparkan granat tepat di tengah-tengah kerumunan Blood Driver. Terdengar suara es meledak yang menyeruak, walau tidak bisa membunuh Blood Driver, yang penting semua berhasil pulang dengan selamat. Alpha-6 segera berlari menuju mobil, Blood Driver masih mengejar dirinya walau kalah cepat.
"Melepaskan gas" kata Alpha-2, memencet tombol merah.
Mobil mengeluarkan gas berwarna hitam untuk mengelabui Blood Driver, saat gas itu terlihat oleh Blood Driver, diri mereka akan kebingungan, gas ini hanya asap biasa. Gas hitam ini hanya bertujuan untuk menghilangkan jejak, cara ini sangat efektif untuk melawan Blood Driver yang hanya mengandalkan kekuatan mereka sendiri.
"Alpha-6 apa yang kau lakukan?!! Kau memisahkan diri lagi!!" marah Alpha-1 memojokkan Alpha-6.
"Apa kau pikir aku memisahkan diri hanya untuk kesenanganku, di sana target hampir saja mati. Jika aku mengikuti perintahmu tadi, kita tidak akan dapat uang nantinya" jelas Alpha-6 terduduk di kursi.
Alpha-1 terdiam, dia terlihat merenungi perkataan Alpha-6. Mungkin dirinya terlalu memaksakan kelompok Alpha.
__ADS_1
"Lain kali, jangan memisahkan diri lagi" kata Alpha-1 menundukkan kepala, berjalan menuju kursi depan.
Aku juga terpasa, sudah berusaha sekeras mungkin untuk mencari dirinya. Demi apapun, akan kujalankan misi berbahaya sekalipun untuk menunaikan janjiku pada adikku sendiri. Aku tertunduk, tatapanku dingin sambil menyantap makananku.
"Dia, Alpha-6" kata wanita itu yang terus melihati wajah Alpha-6.
"Ehh, baru ketemu sudah kepincut ya" goda Alpha-3 dengan wajah mesum.
"Ahh, tidak! Aku hanya kagum dengan dirinya. Dirinya melawan bahaya besar" wajah memerah.
"Ahaha, dia memang begitu saat pertama kali masuk ke Persatuan Foxy. Saat itu, pada seleksi Driver, dirinyalah yang mendapatkan peringkat pertama dari seluruh Driver, tapi entah kenapa dia tidak memilih tim Delta yang terbaik, tapi malah memilih tim Alpha terbelakang. Yah, walau dia sering memisahkan diri saat misi, bersikap dingin, tapi dia sangat peduli dengan Alpha lainnya. Saat itu, misi pertama kami..." panjang cerita Alpha-3.
"Hee, jadi Alpha-3 pernah diselamatkan Alpha-6 dan seketika tercipta judul. Cinta pada pandangan pertama" balik goda wanita itu.
"Ahh, jangan bilang begitu!!Ah(Alpha-6 melihat kemari)" Alpha-3 salah tingkah.
Kulihat ke arah mereka, Alpha-3 mencoba menghilangkan trauma target, kuberjalan menuju ke arah mereka. Entah apa salahku, tiba-tiba Alpha-3 berbalik badan. Ku berdiri tepat di belakangnya, wanita itu juga membalikkan badan searah dengan Alpha-3. Dia memang bodoh atau kurang peka, Alpha-3 hanya mengetuk-ngetuk alat pemindai Blood Driver.
"Alpha-3, coba pindai keadaan sekitar" perintahku.
"Ahh, o-oke" Alpha-3 terkejut.
"Mungkin tidak usah, tidak ada Blood Driver di sekitar. Lain kali jangan rusak alatmu sendiri" saranku menuju ke ruang amunisi.
"Di-Dia bicara denganku?" kata Alpha-3 tidak mampu menahan perasaannya.
Aku menuju ke belakang, di mana ruang amunisi berada. Kulihat Alpha-4 dan 5 ada di sana. Entah apa yang mereka diskusikan, aku tidak peduli walau kata-kata itu menyakitkan bagiku. Ku cek senjataku, ohh lupa, baru saja aku membuang semua barangku di pabrik bekas tadi.
"Persatuan Foxy ini Warve Alpha, meminta ijin untuk masuk" kata Alpha-2.
"Konfirmasi, Warve Alpha. Gerbang terbuka" respon penjaga Persatuan.
Akhirnya aku kembali, segera aku menuju ke toko senjata. Di toko senjata, aku bisa membeli senjata dengan uang. Ku dorong pintu kaca, terlihat begitu sepi, hanya seorang wanita yang berdiri di depan kasir, dia terlihat kebingungan. Aku hanya melewatinya begitu saja, kulihat-lihat sudut senjata jarak dekat.
"Pedang cahaya, terlihat menjanjikan(senjata ini pas untuk misi dalam bangunan, dan juga bisa memancarkan cahaya)" mengambil pedang.
__ADS_1
Kubeli juga senjata Driver lainnya. Pedang cahaya yang ringan dan kuat cocok untuk jarak dekat, X1 senjata jarak menengah yang ringan, berisikan amunisi 51, dan tingkat tembakan yang tinggi cocok untuk jarak menengah, untuk saat ini hanya ini yang kubutuhkan. Kumenuju ke kasir untuk membayar senjataku, wanita yang tadi belum juga selesai.