Z World

Z World
Episode Z: Kenyataan


__ADS_3

"Permainan sudah selesai Sena" tersenyum, berjalan keluar di balik bayang-bayang.


"Ba-Ba-Bagaimana bisa kau disini?" tubuh Sena bergetar, tangannya tak kuat menunjuk ke arahnya.


"Basa-basi basa-basi lagi? Dirimu yang lain, yang kau panggil Yggyist adalah pengkhianat, meniru diriku untuk mendapatkan kuasa atas 6 elemen" kataku melempar bola merah menyala ke Sena.


"Ini, elemen api?" menangkap bola itu, menatapnya begitu serius.


"Dan lagi, yang lainnya" mengeluarkan 5 bola lainnya.


"Apa ini? Apa semua ini? Padahal aku hanya ingin menjadi Putri?" ketakutan setengah mati sambil memandangi bola merah itu.


"Putri? Kau bilang Putri?!!! Setelah menjebak orang yang percaya padamu, menjagamu selayak adiknya sendiri, kamu masih saja menganggap dirimu Putri. Lihat dulu hidup Yuna!!" berteriak keras, langkahnya pelan-pelan menghampiri Sena.


"Tidak! Jangan mendekat" wajah Sena semakin ketakutan, keringat dingin mengalir deras.

__ADS_1


"Lihatlah!! Lihatlah diriku ini!! Karena dirimu, diriku terpecah menjadi tiga!! Satu di masa lalu, satunya diriku, dan satunya entah kemana!!" berdiri tepat di hadapan Sena dengan tatapan kejam.


"Tidak, aku hanya ingin menjadi Putri. Aku hanya ingin menjadi Putri!!".


Seketika gambaran masa depan terlintas di benakku, aku langsung melompat jauh ke belakang. Tak lama setelah aku melompat, sambaran petir bertubi-tubi menghantam Sena. Langit seketika menghitam, istana yang megah seketika runtuh menjadi abu. Ku keluarkan sayap hitamku, terbang ke belakang menjauhi diri Sena.


"(Padahal sedikit lagi aku berhasil menyentuh hatinya, semoga diriku yang lain berhasil mengalahkan Yggyist)" melempar seluruh bola yang ada ke atas kepala.


Bola itu berputar-putar di atasku, mengeluarkan kekuatannya. Warna-warni, menyelimuti diriku, serasa kekuatan ini merubah diriku, kekuatan palsu ini. Sedikit demi sedikit bola-bola itu berubah menjadi debu yang menyatu dalam diriku.


"Mari kita lihat, seperti apa kekuatan palsu ini?" mengarahkan tangan kanan ke atas.


"Sena, kita bisa bicarakan ini. Lihatlah, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, ha?!! Apa sudah belum juga puas membunuh Tee-chan, kehidupan bagusku, membunuh nyawa tidak bersalah, mempermainkan Yuna entah kemana sekarang dirinya, apa tidak puas mempermainkan perasaanku?!! Perasaan yang rapuh ini, kau ombang-ambingkan di tengah laut diterjang ribuan badai dan ombak" kataku mencoba membuat hatinya luluh.


"Tidak!! Tidak!! Aku, kenapa aku?!!" Sena menjambak rambutnya, rambut hitamnya rontok tak terhitung jumlahnya.

__ADS_1


"Sena, jangan lakukan itu!! Ekkhhh" meringis kesakitan, melepaskan kekuatannya ke langit.


Seketika langit menjadi terang benderang terlewati kekuatanku, cahaya itu pergi jauh entah sampai kemana, aku tidak menyadari kekuatan yang kuluncurkan begitu dahsyat, sampai-sampai tanah Serentina berguncang keras. Sena masih saja menjambak rambutnya, ingin kuhentikan dirinya, tapi seperti ada sesuatu yang menahanku. Aku tak mampu bergerak, aku hanya terpaku melihat Sena menyiksa dirinya sendiri, rambutnya habis dia tarik, dia meraung-raung keras menghadap langit.


"AAKKKKHHH, TIDAK!! AAAKKKHHH" teriak Sena.


"(Cepatlah kekuatan kegelapan, kenapa begitu lama melepaskan cangkang?)" menggeliat-liat.


Tyarrr...


Suara pecahan kaca di sekelilingku, jatuh ke tanah dan kembali lagi ke atas berbentukkan abu. Aura berwarna hitam menyelimuti diriku, sayap besar hitam malam bersatukan dengan sayap terang malaikat, akhirnya kekuatan ini bisa aku kendalikan. Tapi, sudah terlambat beraksi, tubuh Sena tergeletak lemas, beralaskan rambut hitam yang kian memutih. Kulihat dirinya tengkurai lemas, bahkan menggerakkan satu jari pun memerlukan usaha besar, dirinya sudah lumpuh sepenuhnya.


"Tidak, Sena!!(Kenapa begini? Kenapa semua harus mati? Kenapa orang yang dekat denganku semuanya mati?)" memeluk tubuh Sena, air matanya mengalir deras, deritanya tak terhingga.


Kudengar suara puluhan portal terbuka, pasukan Ender yang melewati dimensi Zastan untuk menuju Serentina datang terlambat, keinginan mereka untuk membalaskan dendam Yohan terhenti, bahkan terbalik sebagai penyesalan. Kugendong dirinya, kuterbang menuju Elmina yang menunggangi naga berwarna ungu, wajahnya terlihat sedih, tak lain siapa lagi, Endra. Kubisikkan kata-kata di telinganya.

__ADS_1


"Pergilah!" kataku datar dan dingin.


Jika kalian mampu melihat derita dan pedih yang kami tanggung, bayangkan saja, seperti punggung seorang Kakek tua yang berpegangkan tongkat, dirinya bahkan tak mampu berjalan selangkah dan hanya bisa berbicara sepatah kata,"sakit". Tapi, tidak ada seorang yang mendengar, punggungnya tertanam bongkahan es besar, sebesar gunung yang tak terbayangkan berat dan dinginnya, dia tetap teguh berdiri, hanya tongkatnya yang setia menemani membantunya berdiri. Tapi, suatu hari, tongkat itu patah, apa yang akan terjadi? Bayangkan saja, seperti itu derita kami, para Guardian.


__ADS_2