Z World

Z World
Episode 5:Pemburu dan Mangsa(2)


__ADS_3

Serentina sudah dikuasai penuh penyihir jahat itu, Sena. Hanya saja, Sena dibesarkan dengan kekerasan dan kebencian manusia Serentina. Mudah untuk membuat sulit untuk mempertahankannya.


"Kenapa harus begini? Hik, apa aku harus selalu lemah" tangis Yuna.


Yuna hanya menyendiri dikamar, memeluk guling dengan perasaan bersalah. Air matanya membanjiri bantal, hatinya sangat terpukul. Rantai yang menghubungkan mereka hampir terputus.


Sementara itu, Zastan Kesatuan Zastan.


Pemimpin kesatuan Zastan, Zanis. Dia berdiri memandang kearah kota, tekadnya kuat hanya demi kelangsungan hidup manusia Zastan. Wajahnya selalu serius, baginya tidak ada waktu bersenang-senang sebelum seluruh warga merasa aman dan tentram. Seseorang masuk keruang kerjanya, wajahnya berbalik menengok, ternyata hanya seorang pahlawan. Zanis menghela napas, berjalan santai dan duduk dikursinya. Tangannya menahan kepalanya, wajahnya terlihat tidak senang.


"Tuan Zanis, aku tahu Tuan bermaksud baik. Tapi, ada saran bagi saya" kata pahlawan.


"Ada apa? akan kupertimbangkan saranmu nanti" menatap serius.


"Tuan Zanis, untuk tugas berat ini. Lebih baik kita tidak mengirimkan Shadow dalam misi, walau dia tingkat Emas dan selalu cepat dalam menyelesaikan misi, tapi dia tidak memahami perasaan manusia" jelas pahlawan.


"Aku mengerti. Terbuat dari kegelapan malam, dan dilatih tanpa mengenal perasaan, aku mungkin sudah salah menugaskannya. Kalau begitu, kenapa tidak kau saja?" Zanis mulai tersenyum.


"Tapi, pangkat pahlawanku masih Perak. Lagi pula saya tidak jago pertarungan jarak dekat, saya hanya tipe Support. Apa yang bisa dilakukan Support dalam pertarungan 1 lawan 1?" mulai cemas.

__ADS_1


"Kau tahu apa yang dikatakan orang adikku. Penampilan yang utama, dia pasti akan tertarik padamu" senyum Zanis.


Pahlawan itu hanya mengangguk dan segera pergi. Berjalan dengan perasaan kebingungan tidak tahu apa yang akan dilakukannya.


"Oh, apa aku harus mencoba membeli perlengkapan dulu ya? Tapi, uangku sedikit. Hah, sekarang misi yang pantas bagiku hanya sedikit" kecewanya.


Wanita itu melijat papan misi. Guild untuk para pahlawan yang baru saja dibangun banyak mendapat toleransi dari kalangan pahlawan dan warga."Hemmm... Pilih misi apa ya?" bingungnya. Tak lama datanglah wanita satunya lagi, dia selalu memegang tongkat sihirnya dengan dua tangan, wajah imut yang selalu malu. Dia berdiri disamping wanita yang kebingungan memilih misi. Dia menatap wajahnya dengan wajah penasaran.


"Hai, Gandasvara. Aku harus memilih misi apa ya? Membunuh goblin atau menangkap kucing tetangga sebelah?" tanya wanita itu.


"Uhhh, ituu. Aku ada misi spesial, aku malu jika mengatakannya" malu Gandasvara.


"Misi? Spesial?!! Cepat katakan Gandasvara, aku akan menjadi rekanmu" penasaran wanita itu.


"(Ehehe, semoga saja ada laki-laki ganteng) Aku generasi ke-tiga keluarga Sen. Namaku Bonnie, akan menjadi rekan Gandasvara. Bagaimana bagus kan?" pamer Bonnie.


"Yeee, aku tahu kau akan ikut" senang Gandasvara.


Bonnie yang menerima penawaran Gandasvara mengajaknya membeli beberapa perlengkapan. Hari ini keberuntungan Gandasvara, mendapat teman yang kaya dan baik hati. Walaupun Gandasvara harus membawakan perlengkapan yang dibeli mereka berdua, dia tetap senang. Di dunia tidak ada yang gratis.

__ADS_1


"Jadi, perlengkapan komplit. Sekarang apa?" memandang Gandasvara.


"Ummm, mari kembali ke Tuan Zanis. Dia tahu caranya membuka portal" berjalan santai.


"Wehhh, tidak bisa membuat portal ya kamu? Kan kamu penyihir" goda Bonnie.


"Pangkatku masih perak, membuat portal itu tidak segampang menepuk lalat" kesal Gandasvara.


Gandasvara semakin gugup dan malu, lain halnya dengan Bonnie yang riang sambil melompat-lompat kesenangan. Wajah Bonnie memerah melihat ketampanan Zanis.


"Wahhh, Kakakmu ganteng juga ya" bisik Bonnie.


"A-Apa-Apaan sih?" malu Gandasvara.


"Kalian sudah siap?" Tanya Zanis.


Gandasvara dan Bonnie memasang muka serius. Tangan kanan Zanis naik sejajar bahunya. Titik portal mulai keluar, pelan-pelan titik itu membesar menarik Gandasvara dan Bonnie. Portal itu menghilang, Zanis menghelas napas berat, keringat mengalir deras di ubun-ubunnya.


Brukkk....

__ADS_1


Zanis langsung terjatuh dikursinya, butuh banyak tenaga untuk membuat portal antar dunia. Dia meringis sambil berkata.


"Hah-hah, semoga berhasil adikku" gumam Zanis.


__ADS_2