Z World

Z World
Episode 24: Flame Heart.


__ADS_3

"Huhhh..."


"Hihhhh..."


Mereka berdua saling bertatapan, Grimoire dan entah siapa namanya. Dari keduanya kurasakan hawa tidak enak, bahkan aku hanya bisa terpaku dengan wajah bingung. Keringat membanjiri kepalaku, kata-kata perempuan entah siapa ini tidak bisa aku percaya, padahal aku berharap ada Invasi Goblin, tapi malah tidak terjadi apa-apa.


"Ahh, aku lupa kalau aku harus ke Kakek tua untuk mendapatkan buku baru" alasan.


Tiba-tiba, kedua pundakku serasa berat. Mereka sengaja memberatkan tangan mereka, aku hanya bisa takut tak berdaya. Setelah beberapa kejadian mengenaskan, aku berhasil duduk di depan Kakek tua dengan beberapa luka biru keunguan di wajahku.


"Kenapa wajahmu dik Yohan?" kata Kakek tua mencari-cari sesuatu di rak buku.


"Apa Kakek tua akan memberiku buku lagi?" tanyaku mengintip.


"Tidak, aku hanya mencari obatku. Aku mempunyai informasi, altar yang barusan kamu temui adalah altar para wakil 6 elemen, mereka berusaha menyegel kegelapan, tapi 5 elemen itu terenggut bersama kegelapan palsu. Hanya ada satu yang lolos karena licik, elemen kegelapan terakhir yang lolos dari maut dan sekarang sedang tidur di dalam dirimu" berbalik, menunjuk dada Yohan.


"Aku? Mungkin, akhir-akhir ini aku mengalami mimpi buruk" jelasku.


"Cepatlah pulang, di sini bukan tempat aman" memberi kalung kepada Yohan.


Aku tidak tahu apa fungsinya, kalung dengan permata biru mengkilap, kupakai kalung yang Kakek tua berikan. Kulambaikan tangan perpisahan kepada desa Flame, kami melanjutkan perjalanan pulang. Aku berjalan di belakang mereka berdua, sejak kapan mereka mulai mengenal bahkan sekarang mereka berbicara layaknya teman. Aku juga sibuk melihati kalung yang Kakek tua tadi berikan, aku tersenyum memandangi permata yang ku elus-elus.


Perjalanan menuju kota Doman tidak begitu jauh, sekitar 5 hari berjalan kaki. Tak lama, perempuan berambut putih berbalik badan berjalan mundur melihatiku, dengan senyum manis dia mengajakku ke sungai yang dia tunjuk, ku tengok ternyata benar, ada sungai yang cukup besar dengan aliran air tidak begitu deras. Tanpa pikir panjang perempuan rambut putih itu langsung terjun ke sungai, berenang-renang kesana-kemari. Aku berjalan mendekati Grimoire yang terduduk manis memandangi perempuan berambut putih. Aku terduduk di sebelah Grimoire, mencoba menarik beberapa kata dari dalam benakku.


"Kak, siapa namanya?" menunjuk perempuan berambut putih.


"Kau tidak tahu, dasar laki-laki. Namanya ya tanya sendiri, kamu itu pengecut ya?!" ejek Grimoire.


"Sudahlah Kak, aku juga sudah tahu namanya" berpura-pura tahu.


"Terus siapa namanya" penasaran.


"Mau tahuuu? Katanya Kakak tahu namanya kok lupa lagi, dasar wanita" ejekku.


"Cih, pintar juga kamu. Aku mau mencari makanan kau siapkan kayu bakar, kita akan menginap di sini" perintah Grimoire beranjak dari batu.


Tanpa tunda-tunda lagi, aku bergegas mencari kayu bakar. Kulihat hari memang sudah hampir gelap, pencahayaan di dalam hutan agak kurang. Beberapa menit kemudian aku kembali ke batu yang ku duduki tadi, meletakkan setumpuk kayu bakar. Keringat menetes beberapa di dahiku, cukup melelahkan bagiku. Kulihat dari gelapnya hutan, Grimoire keluar membawa beberapa jagung dan beri hutan. Akhirnya waktu makan pun tiba.


"Hai Grim, aku bawakan ikan segar" muncul dari air.


"Hah!! Kau hampir membuatku mati!! Loh, ikan?" melihati ikan di tangan perempuan berambut putih.


"Bagus itu, ada jagung dan ada ikan ditambah pencuci mulut. Yohan, jatahmu kupotong, kan kamu hanya mengambil kayu bakar" kata Grimoire sedikit tertawa.


"Apa?!! Kalau begitu akan aku nyalakan apinya dan bakarnya. Kalian leha-leha sana!" kesalku.


Akhirnya juga aku yang termakan jebakan Grimoire. Aku tumpuk ranting-ranting, kupercikkan batu terus-menerus. Butuh usaha besar untuk menimbulkan percikan, kudengar dari belakangku, mereka hanya bercanda terus atau mereka menertawakanku?


"Hai bodoh, kenapa tidak pakai api busukmu itu?" ejek perempuan berambut putih.


Seketika aku marah, berdiri melempar kedua batu ke langit yang tinggi. Dengan marah kubakar ranting-ranting, apinya membakar sampai ke atas langit. Aku terkejut seketika kekuatanku bertambah pesat, kupandangi kalungku, apa mungkin berkat kalung ini? Mungkin saja.

__ADS_1


Mulai kubakar jagung dan ikan, sambil membakar kudengar suara-suara hewan malam. Suara mereka, seakan menandakan sesuatu akan datang, aku harus memastikannya, tapi jangan sampai mereka tahu bahwa bahaya akan datang, jika aku bisa menghalau bahaya itu sendiri mungkin mereka akan memujaku. Aku membayangkan sampai-sampai salah satu ikan gosong, Grimoire melemparku dengan kerikil. Aku hanya meringis kesakitan dan akhirnya aku juga yang mendapatkan ikan gosong itu.


"Yohan memang payah, untung ikanku tidak ikut gosong" kesal Grimoire memakan jagung.


"Halah Kak, kan yang gosong ikan ku kok aku yang dimarahi? Untuk permintaan maaf, malam ini aku yang berjaga" bujukku.


"Bagus-bagus, hahhh. Aku ngantuk, kalian berdua jangan terlambat tidur" kata perempuan berambut putih segera tidur.


Suara kayu terbakar, sunyinya malam yang hanya ada ribut burung hantu menambah suasana dingin. Aku duduk mengelus-elus tubuhku, menggesek kedua tanganku. Malam ini begitu dingin, bulan purnama menandakan bahwa kekuatanku pada puncaknya. Apa yang harus ditakutkan, aku kan kuat. Aku berdiri, berdiri penuh sombong,"Hai makhluk-makhluk malam, keluarlah dan hadapi mimpi burukmu!" teriak Yohan. Tiba-tiba aku merasakan air menyentuh kakiku, saat kulihat kakiku air yang berbentuk sepertj tetankel menangkap kakiku. Sekuat tenaga aku mencoba melepaskan ikatannya, tetap saja air itu menambah. Aku tertarik ke atas, dia membalik badanku melawan gravitasi. Kulihat lagi, tentakel-tentakel lain keluar dari air, mereka mendekati diriku. Memegang erat tangan dan kakiku, hidupku berakhir sudah.


Keluar lagi satu, tentakel itu mencekik leherku, membuatku tidak bisa bernafas. Masih kukatakan beberapa patah kata, semoga Grimoire dan perempuan berambut putih mendengarnya.


"T..Tunggu...Jika a..ku ma..ti ba..gai..mana na..sib no..vel i...ni?" kataku mulai kehilangan kesadaran.


Seketika cekikannya semakin kuat, aku kehilangan kesadaranku. Aku tersadar, melayang di tempat gelap yang abadi, kucoba mencari-cari cahaya, tapi itu hanya semu. Bahkan aku tidak bisa melihat tangan dan kakiku sendiri. Tiba-tiba seseorang berkata di balik kegelapan.


"Aku yang akan meneruskanmu dan setelah itu akan kubunuh mereka berdua dihadapanmu" katanya dingin.


"Tunggu, siapa? Apa maksudmu?" tanyaku menebas-nebaskan tangan ke sekitar.


Setelah itu, tidak ada balasan ataupun suara terucap. Ini benar-benar sunyi, tidak ada orang yang menolongku, aku sendiri. Siapapun tolong aku. Kulihat hanya kegelapan, aku termenung, memikirkan kembali kenapa kegelapan ini mengerumuniku. Tiba-tiba suara itu muncul kembali.


"Kau sudah menyadarinya?"


"Belum, tapi apa ada kata sudah di kamusmu jika aku sudah memahaminya?" tanyaku berbelit-belit.


"Mungkin dan bisa jadi ada, kau masih belum tahu ada aku dan tidak adanya aku karena dirimu, aku mungkin wujud dari dirimu yang lain atau wujud kegelapan ini, aku masih belum tahu" katanya agak sedih.


"Benar, ambillah hadiah ini"


Mataku bercahaya, tubuhku serasa tertidur sangat nyenyak, menyentuh tanah yang basah, air dingin menyentuh tangan kiriku. Kubuka mataku, aku kembali ke duniaku lagi, aku terduduk memikirkan sebenarnya siapa dia atau memang dia wujud dari elemen apiku. Dadaku serasa sejuk, setiap kali permata itu menyentuh dadaku, aku merasakan sejuk menyentuhku. Kuambil kalung dari balik kerah bajuku. Aku cukup terkejut, warnya permata yang tadinya biru sekarang bercampur dengan warna merah.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, kutengok ke arahnya ternyata Grimoire yang sudah mencangklong tasnya. Segera ku berbenah, tak disangka mereka meninggalkan aku duluan. Kuberlari mengejar mereka yang sudah masuk di rumpunan pohon. Aku hanya terdiam sambil mendengar percakapan mereka berdua, wanita memang tidak mudah ditebak, awalnya kasar, tapi akhirnya kalah juga.


"Hai!"


Aku merasa seseorang memanggilku di balik pohon-pohon. Kulihat kesekitar, meningkatkan kewaspadaanku jika saja itu bahaya yang mengintai, tapi kenapa aku harus takut, kan ada perempuan berambut putih itu. Aku mencoba merasa tenang, tapi kata itu kembali memanggilku, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Amarahku tidak bisa lagi kutahan, dahiku mengerut, dengan cepat kuarahkan pandangan ke asal suara itu.


"Hai!"


Aku melihatnya, tapi dengan cepat dia kembali bersembunyi. Kuhampiri asal suara tadi, terlihat sehelai rambut merah panjang tertinggal di ranting pohon. Aku menyeringai, kembali ke belakang Grimoire. Akhirnya aku tahu siapa sebenarnya dia, rencanaku hanya boleh aku yang mengetahuinya. Saat berada diperbatasan antara kerajaan Doman dan Flame aku menghentikan langkahku. Grimoire berbalik menatapku, menanyaiku kenapa aku berhenti.


"Yohan, kenapa kau berhenti?" tanya Grimoire.


"Tidak apa Kak, kalian duluan saja, aku tahu jalan kembali kok" membalas senyum.


"Ya sudah, aku tunggu di istana. Awas sampai tidak datang" mengancam Yohan.


"Baik-baik, sana!!(sudah berpetualangan selama 3 tahun bersama, tapi masih tetap saja seperti dulu)" pikirku.


Grimoire dan rambut putih sudah menghilang dari pandanganku. Aku hanya berdiri menunggu sesuatu datang, seperti dugaanku. Suara itu terdengar mendekat dan semakin mendekat, kutajamkan indra pendengaranku.

__ADS_1


"Keluarlah, aku tidak akan menyakitimu" menutup mata.


"Ahhh, kamu tidak berbohong kan?" lembut.


"(Seorang wanita yang lugu dan pemalu ya. Semoga saja wajahnya sama dengan sifatnya)Benar, aku tidak akan menyakitimu, lihat! Aku akan mengikat kedua tanganku dibelakang" sedikit tersenyum senang.


Kudengar, suara langkah kaki yang malu keluar dari balik semak-semak. Dia mendekati diriku, semakin dekat semakin langkahnya melambat. Kurasakan dia mencubit tanganku. Aku hanya terdiam, menunggu saat yang tepat.


"Beneran kamu gak akan menyakitiku?" tanyanya lagi.


"Beneran, demi tanganku. Aku tidak akan menyakitimu!"


Didengar dari langkah kakinya, dia mulai sedikit merasa berani dan menghampiri tepat di depanku. Seperti rencanaku, kuterjang tubuhnya sampai kita berdua terjatuh ke tanah. Saat kubuka mataku, aku sungguh terkejut, beberapa bulir air mata menetes dari matanya, wajah rupawan yang ketakutan, rambut merah seperti api yang wangi. Beberapa detik aku terbeku, terpana melihat wajah cantiknya. Tak kusangka, dia terlihat seperti anak kecil, lagipula dadanya juga kecil, seketika nafsu seksualku hilang seketika.


"Kenapa kau terus saja mengikutiku?!" tanyaku menatap dengan serius.


"Tolong!! Tolong!! Cepat lepaskan aku!!" meronta-ronta.


"Hoho, tidak ada orang di belantaran hutan ini, hanya ada kita berdua saja. Cepat katakan kenapa kau mengikuti aku atau tidak akan kucampuri tubuh kecilmu!" mengancam.


"Baik-baik!! Hu..Hik-hik" menangis.


"Eh, di-diam. Aku tidak bermaksud membentakmu, cukup jelaskan alasannya dan aku akan melepaskanmu" merasa bersalah.


"Apa yang kau lakukan?!! Cepat minggir!" berubah.


Tiba-tiba dirinya berubah, dia terlihat baru. Kekuatannya yang seketika berubah mendorongku cukup keras sampai aku terduduk di tanah. Dia berdiri dengan gagah, memegang pergelangan tangannya yang baru saja aku pegangi. Dengan tatapan menakutkan, dia balik mengancamku. Ini namanya mangsa memangsa pemangsa. Kaki kanannya berdiri tepat di sebelah wajahku, dia mendekatkan wajahnya. Aku mencoba menahan godaan, celana dalam yang dia pakai tidak sengaja terlihat olehku.


"Hai mesum, apa yang baru saja kau lakukan dengan tubuh ini?!" tanyanya dengan muka sinis.


"Ha?!! Apa kau bodoh, baru saja aku menanyaimu, kenapa kau mengikutiku dan sekarang malah menyaiku!" mencoba marah.


"Hoi-hoi, apa kau bilang? Haa, memang adikku tidak bisa diandalkan. Tanpa basa-basi lagi, aku sudah menemukan Tuanku yaitu kau. Sekarang bawa aku pulang" jawabnya menarik kaki kanannya.


"Oh, baiklah. Eh, Tuan?" terkejut.


"Apa kamu juga bodoh seperti adikku, apakah orang di dunia ini dihuni oleh makhluk dungu. Aku adalah wujud dari elemen apimu, sekarang kamu tidak bisa menggunakan elemen api selain aku. Jadi aku hanya menjadi alat bagimu" menyentuh dada Yohan dengan tatapan jijik.


"Jadi ini hadiah yang diberikan kegelapan bodoh itu ya? Sudahlah, menerima satu wanita lagi juga tidak apa" berdiri.


Aku kembali berdiri, kami saling bertatapan mata. Dengan cepat dia memalingkan wajah cemberut, aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Tanpa basa-basi lagi aku melanjutkan perjalanan pulang, sudah tak sabar ingin bertemu keluarga. Diam-diam ditengah perjalanan, aku menatap tajam telapak tangan kananku, mencoba keras mengeluarkan api. Dia yang menyadarinya hanya tertawa kecil.


"Ahihi, kau bodoh ya. Kau tidak bisa menggunakan kekuatan apimu. Lihat bagaimana aku memunculkan api 10 kali lebih hebat darimu" menjentikkan jari.


Tiba-tiba tangan kanan yang dia arahkan ke atas mengeluarkan bola api yang membara. Aku hanya bengong takjub melihat apinya. Dengan perasaan cemburu kupalingkan wajahku darinya dan berjalan meninggalkan dirinya. Dirinya yang mengetahui hal itu tidak tinggal diam, tiba-tiba bola api yang ada ditangannya dia lemparkan ke kakiku. Untung saja aku cepat tanggap, kutengok kebelakang. Ahh, tidak lagi, wajah kejam itu lagi.


"Kali ini akan kubakar dirimu karena mencampakkanku" mengeluarkan bola api yang lebih besar.


"(Ekkhh, mati aku. Oh, masih ada sihir langkah angin)" berlari secepat angin.


"Dasar bodoh!! Jangan tinggalkan aku!!" teriaknya ketakutan.

__ADS_1


Akhirnya aku sampai di kebun apel keluargaku, hanya beberapa langkah menuju rumah dan....dan.... rumahku?....keluargaku?....di mana mereka?.....apakah mereka.....mereka meninggalkanku?....dan....dan kenapa banyak.....reruntuhan?....darah!....darah itu....amis dan....manis....Venus mati...apakah?


__ADS_2