Z World

Z World
Episode 15: Masa lalu


__ADS_3

Aku terlahir di keluarga yang pas-pasan, Ayah dan Ibuku bekerja sebagai petani dan setiap hari bekerja di ladang, adik laki-lakiku yang masih berumur 5 tahun kuasuh setiap harinya bersama Kakek, walau pas-pasan kami selalu bersama senang dan duka, karena hati kita memegang teguh 2 kata"Semua sama". Tapi, apa yang terjadi jika aku tidak menyelamatkan wanita itu, yang tak kuketahui dia Putri kerajaan tertinggi, mungkin aku akan bahagia bersama penyihir yang bertujuan membunuhku.


Pagi hari, 07:23, hari Rabu, tahun tak diketahui.


"Kak, lihat aku berhasil membuat boneka" menunjukkan karyanya.


"Wah, adikku sudah pintar membuat kerajinan ya. Jadi sainganku nih" mengelus rambut adiknya.


"Iya Kak, aku pasti akan melebihi Kakak" mata membara-bara.


"(Ahahaha, baru umur 5 tahun ambisinya sudah seperti orang dewasa)" senyum heran.


Dia adikku, Venus. Kami selalu bersama tak terpisahkan. Pelajaran hari ini, membuat kerajinan dari tanah liat, Kakek selalu terlihat sabar mengajari Venus, walau bajunya harus kotor. Tanganku memangku kepalaku, melihat adikku yang asyik belajar. Tak lama Kakek menuju ke gudang mengambil sesuatu yang seketika teringat. Guci berwarna merah muda, dengan ukiran yang begitu sulit. Kakek membawanya dengan wajah khawatir, saat berada di depan pintu, aku berdiri menarik baju Kakek.


"Ada apa Cucuku?" tanya Kakek melihat wajah Yohan.


"Biarkan aku saja Kakek, akan aku kirimkan" mengambil guci dari tangan Kakek.


"Wahhh, hati-hati Yohan. Ini Kakek buat dengan susah-susah, kalau begitu. Kakek percaya padamu, ini alamatnya" memberi kertas.


"Ohh, baik" mencangklong tas.


"Dada, Kakek, Venus" melambaikan tangan.


Aku berjalan, bunga-bunga taman mencerminkan keceriaanku. Senyumku tidak bisa dipatahkan, baru pertama kali aku mengirimkan barang mahal ini. Kurogoh kantung celanaku, kulihat kembali alamatnya, gawat!! Dipiranku hanya ada kata itu. Alamatnya tertulis, kota Doman. Padahal, butuh beberapa hari untuk sampai dengan berjalan kaki. Aku hanya membalasnya dengan senyuman, segera aku melanjutkan perjalananku.


Tak jauh dari rumahku ada hutan, disana penuh dengan tumbuhan berbuah. Kuambil tasku satunya lagi, mengisinya dengan beragam buah. Dirasa cukup, aku kembali ke jalanku. Sejauh ini masih baik-baik saja, kulihat kesekitar hutan masih bersahabat. Tapi, seketika jalan setapak didepanku hilang, ditutupi oleh lebatnya hutan. Apa boleh buat, aku terus melanjutkan perjalananku.


Sudah tengah hari, kakiku mulai terasa pegal. Kuputuskan berisitirahat sebentar lagi, setelah sampai sungai di depan. Sesampainya di sungai, kulepas lelahku. Merendam diri di air dingin sebentar, seusai berendam, kududuk bersila. Menutup mataku, menyatukan kedua tanganku, diam-diam aku belajar sihir. Walau sihir dilarang di negeri ini, tapi aku tetap nekat mempelajari sihir untuk memuaskan rasa penasaranku. Mungkin, suatu saat nanti sihir bisa dilegalkan.


Sudah 2 jam aku melakukan penyempurnaan sihir, kubuka mataku, mengambil buah-buahan di dalam tasku dan berleha-leha sebentar sambil merasakan indahnya hutan dengan kicauan burung.


Setelah matahari berada di pertengahan hari, kuambil sekantung air dan melanjutkan perjalanan. Beberapa waktu setelahnya, aku kembali menemukan jalan setapak. Sekarang, hatiku sedikit lebih tenang, tidak perlu khawatir jika tersesat, dan jika ada bandit di hutan aku juga tak perlu takut, aku mempunyai sihir, sekali pukul hancur 2 tengkorak manusia.


Kulihat ke langit, awan sudah berwarna jingga. Kuletakkan tasku di pohon, segera mencari ranting-ranting yang berjatuhan. Malam hari pun tiba, kuhangatkan diriku di dekat api unggun, sengaja kubsngun perapian di pinggir jalan supaya orang yang lewat bisa bergabung. Tapi, tidak ada orang yang lewat. Rasa mengsntukku sudah mulai, kupadamkan api, mencangklong tasku kembali. Memanjat pohon, semakin tinggi semakin bagus, karena predator suka keluar pada waktu seperti ini. Kututup mataku, berdoa didalam hati semoga esok perjalananku lancar tanpa hambatan, tapi dunia tak semudah memegang bola kecil. Kudengar suara langkah kaki di balik semak-semak.


Aku duduk bersiap, jika dia menerjangku aku sudah siap dengan sihir penghembusku, menjatuhkannya ke tanah segera membunuhnya atau lari. Perasaanku dag-dig-dug, hidup ini hanya sekali jika aku mati percuma saja pencapaianku selama ini. Bayangannya sudah muncul, warna putih? Aku hanya melihat warna putih kecil, semakin lama dia mulai terlihat, tanpa aba-aba dia melompat begitu tinggi, matanya merah menyala, siap menerjang mangsanya, ternyata hanya seekor kelinci.


"Dasar, makin lama hutan ini semakin aneh saja" kembali tidur.

__ADS_1


Ciiitttt....Ciiiitttt....


Tidurku terganggu oleh suara teriakan burung-burung payah itu. Aku terbangun di dahan pohon dengan keadaan sedikit mengantuk. Kulempari mereka rranting, tapi yang kulempar bukan burung, burung-burung itu lari menerobosku begitu saja. Burung kok lari? Masa bodoh, hidupku sudah terancam, bulu coklat kehitamannya menggeram, beruang ganas itu mulai memanjat pohon. Tekadnya sangat kuat, walau sudah terhempas berkali-kali dan jatuh mengrnaskan dia tetap saja menggaruk-garuk pohon ini.


"Beruang konyol, aku bisa lompat ke pohon lainnya payah!!" mengejek beruang dan segera melompat dari dahan ke dahan.


Tak kusangka, hewan begitu mudah untuk dibohongi, hewan-hewan besar hanya mengandalkan kekuatan, tak habis ketawa aku, mungkin otak mereka hanya hiasan semata. Kukembali berjalan ke jalan setapak. Pagi hari yang cerah, hatiku mulai sedikit berani, melawan bandit sudah tentu bisa, setelah mengetes kepintaran beruang tadi, para bandit tidak jauh beda darinya, hanya kekuatan tanpa pikir panjang seperti apa yang terjadi padaku hari ini. 5 orang sedang mencegatku mengancamku dengan belati berkarat mereka.


"Hai bocah, berikan barang-barangmu" mengacungkan belati.


"Hah, beneran? Kucoba saja kepada mereka" mengundurkan kaki kiri beberapa langkah siap menyerang.


"Serang!!!" teriak pemimpin mereka.


Beberapa detik kemudian...


Hari ini aku sungguh beruntung, bukan hanya emas yang kudapatkan, tapi belati yang masih bagus, kulihati belati itu, terlihat masih bagus. Benar kan kataku, orang-orang bodoh ini tak jauh bedanya dengan beruang tadi, kakiku kuinjakkan ke kepala pemimpin mereka. Kulihat wajahnya hanya meringis kesakitan, tak kupedulikan, salah mereka kan bertujuan mengambil sumber daya milik orang lain. Kurogoh berbagai kantong, tas kecil mereka, mungkin sudah habis kujarah. Sudahlah, aku hanya bisa terus berjalan, apa yang bisa diharapkan kelompok bandit kecil mereka.


Karena merasa kasihan, kulempar sekoin perak ke masing-masing wajah mereka.


"Tch-tch-tch, kasihan sekali nasib kalian. Melawan orang yang salah, lain kali gunakan barang bagus saat menjarah. Niat ngirit, tapi runtuh semua. Ngutang deh tetangga" sedikit tertawa.


"Ohh, bagus, polisi hutan sudah datang. Polisi, mereka mencoba meram..ihiiihi" menghindari anak panah yang mengarah ke kaki kanannya.


Sepertinya mereka salah sangka, kalau dipikir-pikir lagi. Hahhh, aku menghela nafas panjang, menadangi wajah bandit-bandit itu dengan wajah menyesal. Walau aku mencoba menjelaskannya kepada polisi wanita itu, tapi dia malah memborgol tanganku dan membiarkan bandit-bandit itu begitu saja. Tak apalah, anggap saja ini tumpangan gratis.


"Haii, kami bagaimana?" rengek para bandit.


Polisi itu mengendarai kuda dengan aku di kursi depan, bukan rasa menyesal yang kurasakan, rejeki anak sholeh memang. Kurasakan kelembutan di punggungku, aku mencoba tidak terlalu keenakan, jika tidak polisi ini akan marah dan meninggalkanku di hutan dengan tangan terborgol. Sudah beberapa detik berlalu, tapi dia tak kunjung sadar. Mungkin polisi ini terlalu fokus dengan pekerjaannya. Kumerasa kasihan jika aku terlalu lama, dengan heran aku mengungkapkan yang sebenarnya.


"Hai Kakak, dadamu terlalu menempel" mencoba bersikap dingin.


"Apa?!!! Mesum!!" menarik kencang pelana.


"Sial" selipku.


Kuda terjatuh menghantam tanah, aku jatuh terpental beberapa meter, kulihat wanita itu pingsan, aku tak habis keheranan dengan polisi amatir ini. Kumencoba berdiri walau agak kepayahan, menuju ke tubuh polisi itu, kuberlutut menggoroh-goroh kantung celananya mencari kunci, kumencoba menahan godaan. Tapi, ku tak bisa, tubuhnya yang seksi, dan tempat yang begitu mendukung untuk melancarkan serangan. Kutepuk pipiku beberapa kali begitu keras, kuterkejut. Suara rauman makhluk-makhluk buas menemukanku. Kuda yang berhasil berdiri lagi berteriak ketakutan. Segera kubuka borgolku. Kuangkat tubuhnya, aku kepayahan memopoh polisi amatir ini. Saat aku berhasil mendudukkannya di kuda, tak lama sambutan hangat diberikan raja hutan. Dia menerkamku, untungnya aku berhasil menghindar. Kuambil busur silang di punggung polisi amatir. Secepat kilat kuarahkan ke wajah singa yang tergeletak.


Cleeppp...

__ADS_1


Segera kududuk mengendarai kuda ini.


"Bawa kami ke rumahmu" memukul belakang kuda.


Secepat kilat kuda ini menancap gas. Tak kusangka polisi amatir diberi kuda dan busur silang sebagus ini, mulai terpikirkan dibenakku, sebenarnya dari keluarga mana polisi ini. Selama ini hanya tentara yang boleh memakai busur silang dan itu hanya untuk mengancam saja, tanpa amunisi.


Beberapa perjalanan yang melelahkan dan membosankan. Aku berhasil masuk kedalam rumahnya, meletakkan tubuhnya ke kasur. Sebenarnya dia memang bisa menghibur, saat mengendarai kuda tadi, wanita ini menggeliat di dadaku, bahkan di mimpi dia mampu menggoda laki-laki, jika bukan aku korbannya mungkin sekarang dia sudah berteriak di hutan dan menangis karena masa depannya hancur.


"Cih, wanita yang sungguh menggoda, mari kita lihat dimana dapurmu. Tapi, sebelum itu, kutitip guciku dulu, hati-hati harganya mahal, lebih mahal dari tubuhmu tentunya" menjinjing lengan baju dan segera pergi dari kamar.


Kulihat sekitar rumahnya, rumahnya begitu mewah untuk seorang polisi amatir. Dilihat-lihat lagi, rumah ini cukup mewah, sudah seperti villa saja, rumah bertingkat dua di tengah hutan dengan lapangan luas ditambah kandang kuda, kudanya bukan hanya satu, tapi ada 3 kuda. Sungguh aneh, bahkan untuk polisi elita belum tentu bisa mendapatkan seperti ini. Akhirnya aku menemukan dapurnya, peralatan dan bahan masaknya cukup lengkap, sudah lama ku tidak menggeluti dapur selama ini.


"Baiklah, hari ini makan bubur jamur" aura penuh semangat.


Bahan-bahannya sudah ada semua, tidak perlu lagi aku mencari jamur Rincip di hutan lagi.


Beberapa menit penuh semangat...


"Ehehe, bubur sudah jadi. Mungkin dia sudah menunggu lama" berjalan menuju kamar perempuan itu.


"Uhhh, dimana aku? Loh, bukankah aku tadi*mengingat kembali*kenapa, tubuhku tidak suci lagi" menangis.


"Tenanglah, aku tidak mengotori tubuhmu. Kubuatkan bubur untukmu" membuka pintu.


Kuletakkan semangkuk bubur di meja sebelah kasur yang ditempatinya, kucoba tidak menanggapi wajahnya yang terlihat marah. Kuambil kursi, membawanya dekat dirinya, agar mudah untuk menyuapinya. Terburu-buru dia beranjak dari kasur, baru beberapa langkah kakinya bergetar, kutahan tubuhnya yang hampir terjatuh. Menuntun pelan-pelan kembali ke kasur. Akhirnya, tinggal satu tugas, menyuapinya. Tapi, saat sendok sudah penuh bubur siap di depan mulutnya, dia malah memukul sendok. Sendok terpental jauh, bubur berceceran kemana-mana. Aku sedikit terkejut, pasti sakit itu tangan.


"Mesum!" kesal wanita itu.


"Oh ayolah Kakak. Aku sudah menyelamatkanmu dari singa, membawamu ke rumah dengan selamat, merawat luka kepala, kaki, tanganmu, membuatkanmu bubur agar kau lekas sembuh, dan juga. Jika tidak segera aku menyelamatkanmu dari jatuhmu tadi, mungkin sekarang nyawamu sudah melayang. Kurang apalagi aku? Melompat dari pohon dan mati agar kau senang. Jelas-jelas itu salah, polisi apanya yang menangkap warga sipil yang mencoba melindungi dirinya dari penjahat. Aku sudah muak dengan hari ini, aku tidak tertarik dengan tubuhmu yang sok seksi, sekarang makan buburmu atau aku pergi!!" marahku berlebihan.


Sekejap dia hanya terdiam tak berkata, dia memakan suapanku begitu saja. Hanya dibentak sedikit saja kelakuannya begitu saja, pandangannya hanya menunduk. Setelah selesai makan bubur, dia bersiap untuk tidur kembali. Pertama mungkin bagus, tapi entah kenapa lama-lama aku merasa salah telah mengatainya. Dengan wajah bersalah aku meminta maaf kepadanya, tapi dia hanya tidur memalingkan pandangan dariku.


"Kak, maaf telah memarahimu. A-Aku tidak bermaksud memarahimu, tapi hanya.. hahhh. Kak, kau masih bangun?" maafku penuh rasa bersalah.


"......"


"Sudah tidur, hahh hari ini begitu sial. Tenagaku bahkan hampir hanya untuk sihir penyembuhan untuk Kakak ini. Hahh, mungkin makan akan mengembalikan tenagaku" beranjak pergi dari kamar menuju ke dapur lagi.


Mungkin ada benarnya kataku tadi, jika aku tidak memaksakan diriku untuk menyembuhkan Kakak tadi, sudah pasti dia sudah menjadi mayat. Tapi, konsekuensi dari sihir penyembuhan terlalu berlebihan, sekarang tubuhku sangat pegal-pegal.

__ADS_1


"Kakak, kenapa kau meninggalkanku*menangis*(kata dia memang ada benarnya, kenapa aku sangat payah. Bahkan Kakakku satu-satunya meninggalkanku di rumah ini sendirian, demi melindungi bocah bodoh ini. Kenapa? Kenapa kau begitu mirip Kakakku). Lebih baik aku mati" memeluk erat guling, air matanya membasahi kasur.


__ADS_2