Z World

Z World
Episode 25: Blaster- Massive Conflict.


__ADS_3

Dahulu kala, berdirilah 2 kerajaan besar di sebuah negara bernama Blaster. Karena salah satu raja dari kerajaan Conflict terlalu buta akan harta, ratu dari kerajaan Massive tidak tinggal diam, sebagai dewi kebahagiaan dia bertindak. Desa demi desa dia taklukkan, Conflict hanya terdiam, sampai suatu saat Massive berhasil mengepung seluruh kerajaan Conflict. Saat diteliti lagi, ini hanyalaj umpan, sebagian pasukan Massive yang berada di garis depan hanya menemui kerajaan tanpa pasukan maupun raja. Sementara itu, di kerajaan Massive, raja dari Conflict membumi hanguskan Massive, karena tergoda dengan paras cantik ratu. Raja menikahi paksa ratu. Saat menemui kerajaan Conflict, sang raja hanya termenung, seluruh kerajaan yang dibangun 27 generasi hancur dalam satu malam, hanya reruntuhan yang tersisa. Kerajaan-kerajaan kecil pun bertindak, mereka dulunya yang pernah ditindas kerajaan Conflict membalas balik, raja dari Conflict dipenggal kepalanya di tempat itu juga. Sampai suatu hari, kedua kerajaan itu tidak pernah ditemukan bahkan hilang dari peradaban. Blaster, begitulah yang mereka panggil sebagai perang dunia sihir pertama dan terdahsyat sepanjang masa. Setelah kedua kerajaan itu tidak ditemukan, tapi perang masih berlanjut ke berbagai penjuru negara, kerajaan-kerajaan yang menganut ajaran Conflict maupun Massive mulai berperang demi kepercayaan mereka masing-masing. Beberapa bulan kemudian, perang berhenti, krisis pangan maupun ekonomi, bahkan manusia sudah di ambang kepunahan. Saat itu, cahaya dewa turun dari langit, memberikan satu ajaran penuh, menyatukan seluruh manusia. Dan kejadian itu terulang, bukan di Bumi, tapi lihatlah Ender disana.


Kulihat raja hanya termenung sedih, setelah memeluk diriku dia duduk di takhtanya, dirinya yang juga sudah tua membuatnya tak bisa banyak bicara, memakai perawakan serba putih bagaikan malaikat penjemput malam. Seluruh keluarga kerajaan berkumpul, membentuk lingkaran besar mengelilingi raja, mereka terdiam, menundukkan kepala. Seketika seluruh ruangan sunyi, hanya terdengar suara angin berhembus keras di luar. Detik-detik yang menyedihkan ini, seorang pemimpin bijak meninggalkan jasanya, seperti buku hancur meninggalkan ilmu.


Aku berjalan keluar, menatapi wajah Naganya yang menampakkan wajah sedih kearahku. Ku menghampirinya, memeluk lembut. Ayah pernah berpesan,"Nak, jika Endra sudah besar, jagalah dia seperti kamu menyayangi Ayah". Kupeluk dia, memeluknya sangat erat, air mataku menetes deras, hatiku sesak tidak terima nyawanya terenggut. Jika sekali saja, bahkan sekali saja Ayahku hidup, akan aku bahagiakan dia, kusentuh tanduk kecilnya, yang biasa ku elus waktu kecil. Hati kami masih belum bisa, masih belum bisa menerima sadisnya kehidupan. Pelan-pelan ku lepas pelukanku, kupegang pipi Endra. Kami saling menangis, aku selalu membayangkan Endra adalah laki-laki rupawan, mungkin dengan begitu ada yang mencintaiku untuk terakhir kalinya. Tanpa diduga, Endra menghembuskan api ungunya ke arahku, tubuhku yang cantik mulai berubah menjadi hitam.


"Kenapa? Kenapa Endra?" menangis kecewa.


"*Tersenyum*"


"(Ter-Terima kasih Endra, aku akan menunggunya)" tersenyum.


Aku mengerti Endra mengubahku demikian karena dia tahu, dia tahu suatu hari laki-laki itu akan menyelamatkanku. Tapi, sudah kutunggu puluhan tahun, aku tidak mendengar ataupun merasakan lagi, aku bukan diriku lagi. Lama-kelamaan Endra meninggalkanku sendiri, di kerajaan yang sudah lama mati tanpa penghuni. Diriku berubah, kegilaan mulai merasuki diriku, kucoba melawan dan melawan, tapi dia tetap kembali. Kesadaranku mulai menghilang, terdiam terduduk menunggu waktu itu datang. Tapi, sampai kapan? Aku sudah menunggu selama puluhan tahun lamanya, kenapa pria idamanku tidak pernah muncul menemuiku, kenapa Endra hanya memberi harapan palsu, naga yang sudah besar bersamaku sejak kecil, dibesarkan dengan kasih sayangku, kenapa? Kenapa Endra membohongiku, kenapa kalian juga. Kakak! Ibu! Ayah! Semua meninggalkanku sendiri menerima pedihnya dunia.


Sudah lama sekali aku terdiam tak bergerak, hidupku sudah tak berguna lagi, hanya Endermite yang menemaniku, selalu setia berdiri disebelahku. Serangga hitam kecil ini mempunyai nasib sama sepertiku. Rasa manusiawi hilang dari diriku, hanya kegelapan Ender sejati yang menyelimutiku dalam tanpa ujung. Diriku tenggelam di lautan tanpa batas, terus tenggelam dan termakan kegelapan. Tapi, tiba-tiba tangan itu datang menjemputku. Endra dan dia menjemputku, hanya untuk aku saja dia rela mengarungi dimensi yang mematikan.


Kupeluk dirinya yang gelap, walau agak merasa jijik, tapi ini perintah raja sok bijak itu. Waktu berlalu, kulit kasar hitam yang kusentuh seketika berubah menjadi halus, rambut hitam kasar yang kuelus berubah ungu harum wanginya bunga mawar. Aku sungguh terkejut, kulihat dirinya, dia yang lebih tinggi dariku tiba-tiba hanya beberapa senti meter dibawahku. Dia melihatiku sambil meneteskan air mata, wajahnya terlihat bahagia. Mata ungunya menatapku penuh cinta, aku hanya bisa terdiam melihatnya menciumku. Aku bahagia, aku merasa bahagia, selama ini aku belum pernah merasa bahagia dicium wanita.


"Dik Yohan, jika sudah reunian lebih baik cepat. Cacing Angkasa mulai kembali menyerang" memperingatkan.


"Elmina, bergabunglah denganku. Tolong" menatap tajam wajah Elmina.


"Hemm" balasnya tersenyum.


Tubuh Elmina menghilang berubah menjadi debu ungu, debu itu menuju ke punggungku. Kurasakan sesuatu tumbuh di punggungku, rasanya bisa kukepakkan. Saat ku melirik ke punggungku, tak disangka sepasang satap hitam legam tumbuh. Kekuatanku juga bertambah kuat, dengan penuh keberanian kutantang Cacing Angkasa. Dengan gagah, kukepakkan sayapku, adanya Endra, raja sok bijak dan Ainyu, aku yakin akan menang.


"Keluarlah 10 Ksatria Naga Ender" mata kanan berubah warna menjadi ungu.


Dari belakangku muncul 10 Ksatria Naga Ender menunggangi Naga mereka. Endra yang terbang disebelahku ber-evolusi, tulang punggunya tumbuh sampai keluar, ekor hitamnya berubah warna menjadj ungu, mengeluarkan api ungu ber-petir dari mulutnya dan tanduk yang mengendalikan itu semua. Walau bahaya ada di depan, semua orang lari kebelakang, aku akan tetap menerjangnya. Kukeluarkan pedang kebanggaanku. 10 Ksatria Naga Ender melaju lebih dulu, entah apa yang mereka, rapi aku mengukainya. Mereka memancing Cacing Angkasa menyerangku dengan begitu aku bisa masuk lewat mulutnya. Tidak seperti pertarungan yang dulu, jika Cacing Angkasa diserang di satu sisi tubuhnya malah menguat dan sekarang pasti saat diserang dari dalam dan luar dirinya dia akan melemah, dan akhirnya mati.

__ADS_1


Tanpa diduga, semburan api biru dia semburkan. Endra tiba-tiba terbang di depanku, mengeluarkan serangannya, saat api ungunya bersentuh dengan api bitu Cacing Angkasa, apinya meledak menimbulkan suara yang mencekam. Senyum kemenangan terpancar dari wajahku, ku arahkan tangan kiriku ke Endra. Tubuh Naganya hangus berubah menjadi tameng yang sangat kuat. Setelah penyelarasan Elmina dan Endra, mereka mampu berubah menjadi senjata yang saat ini aku pakai.


Diriku masuk di dalam perut Cacing Angkasa, terasa panas dan lembab. Tubuhku mulai terasa meleleh, jika aku berlama-lama di dalam tubuhnya aku pasti menjadi santapan utamanya. Kulihat tubuh raja sok bijak itu melayang di udara, segera aku menangkap tangannya. Dengan cepat, aku terbang kembali keluar dari tubuh Cacing Angkasa. Kuarahkan tameng ke depan untuk membelokkan angin panas yang berhembus ke diriku.


Akhirnya aku bisa menghirup udara Ender yang segar, pemandangan dulu yang hitam sekarang dipenuhi warna birunya langit. Tanah yang tandus ditumbuhi bunga-bunga dan tumbuhan subur seperti masa jayanya dulu. Aku dan Elmina hanya saling kejar-kejaran dihamparan bunga-bunga yang menari bahagia. Matahari menyinarkan senyumnya. Kukejar dirinya, dia berbalik badan, berlari mundur.


"Ahahaha, Yohan. Kejar aku" kata Elmina senang.


"Elmina tunggu, aku lelah" terengah-engah.


"Lah, kok lelah? Apa demammu belum sembuh?" menghampiri Yohan dengan wajah khawatir.


"Tertangkap!" menarik erat tangan Elmina.


"Ehh, Yohan aku jatuh!!" menimpa tubuh Yohan.


Kutahan tubuhnya yang jatuh ke pelukanku. Kami saling menatap tak berbicara sepatah kata pun, Elmina mendekatkan dirinya. Kurasakan hembusan nafasnya, bibir kita sangat dekat. Elmina menutup matanya, mrnghentika geraknya. Sepertinya ini kesempatan bagiku untuk menciumnya.


Dengan cepat kutarik wajahku menjauh dsri Elmina, padahak sedikit lagi aku bisa merasakan bibirnya. Yah, raja sok bijak itu menghampiriku sambil memegangi kitab kebanggannya. Pelan-pelan kudorong Elmina dari pelukanku, kuberjalan menuju raja sok bijak itu.


"Ada apa raja sok bijak?" tanyaku.


"Sudah kubilang dik Yohan panggil aku Tetua Ender" menahan kesal.


"Tetua Ender, memang ada apa?" tanyaku kesal.


"Dik Yohan, apa kamu lupa akan janjimu dengan Yuna?" menatap serius Yohan.


"Eh?!! Benar!" terkejut.

__ADS_1


"Kalau begitu dik Yohan ayo kita lanjutkan rencana kita, setelah dik Yohan membantuku tentu aku akan membantu dik Yohan sampai rampung masalah dik Yohan" kata Tetua Ender.


"Kita harus cepat, Tetua Ender. Apa kau bisa membuatkan portal?" tanyaku menatap serius.


"Apa kau meremehkanku dik Yohan?" melemparkan sesuatu ke tanah.


Tiba-tiba tempat dimana Tetua Ender melempar, keluarlah portal menuju Bumi. Akhirnya waktuku datang untuk mengalahkanmu Sena. Ku panggil Endra untuk ikut bersamaku, saat berada di depan gerbang. Tiba-tiba Elmina menarik bajuku erat-erat. Kulihat dirinya, dia menunduk bersedih.


"Elmina, aku pasti akan kembali ke sini lagi" berkata manis.


"Bohong! Kamu bohong! Hik-hik...Sudah lama aku menunggumu, tapi hanya beberapa waktu kamu meninggallanku sendiri lagi" menangis.


(Tanpa aba-aba, kupeluk erat Elmina. Tangisnya sedikit reda).


"Elmina, jadilah sayapku. Ya?" bujukku.


"Yohan, aku mencintaimu" mencium pipi Yohan.


"Ehehem" sengaja Tetua Ender.


"Rencana kita hanya memastikan Yuna dan lainnya aman, dengan membawa mereka ke Ender. Pasukan Serentina maupun Zastan harus melewati untuk menuju Ender. Yohan, peluk erat Elmina. Perjalanannya akan menyakitkan" lanjut Tetua Ender.


"Baiklah, Elmina" menatap wajah Elmina.


"Hemm" senyum Elmina.


Ku bopong tubuh Elmina, dengan penuh gaya ku melompat menembus portal.


"Endra" menatap wajah Naga itu.

__ADS_1


Endra pun masuk ke dalam portal, tidak lupa juga Tetua Ender masuk ke dalam portal menunggangi Endra. Perjalanan kali ini akan penuh kesunyian dan penderitaan yang lebih dalam dan pedih.


__ADS_2