
Serentina tunduk penuh di pelukan Sena, bukannya menghancurkan Serentina, tapi Sena menyatukan Serentina menjadi satu layaknya Bumi. Kejayannya melonjak tinggi dengan matinya Zanis, sekarang, tidak ada yang bisa menggenggam Zastan maupun Serentina selain dirinya, di Bumi, perang masih berlangsung antara Serentina-Zastan dengan Ender. Ender yang tidak terima Bumi diambil alih juga oleh Sena, Ender mulai melawan dengan kekuatan tentara mereka ysng dahsyat. Walaupun dahsyat, keadaan mereka masih saja imbang dan semakin kritis. Apakah kejadiam yang dulu terjadi dengan dunia Blaster akan terulang kembali?
"Putri, Ender berhasil menghancurkan kamp kita di negara Asia tenggara, Asia tengah dan Australia. Sekarang mereka terkepung oleh kita, apakah kita akan menyerang?"
"Jangan, Ender adalah dunia gerbang pertama, mereka sudah berperang beratus-ratus kali dan menang beratus-ratus kali, kekuatan pasukan mereka jika dibandingkan Bumi-Zastan-Serentina, kita tidak ada apa-apanya"
"Jadi, apa yang harus kita lakukan? Apa kita menyerah saja"
"Menyerah saja, lagian tujuan mereka bukan untuk menjajah, tutup semua portal Zastan-Bumi. Sudah saatnya mencari dirinya"
Aku sangat gugup, bahkan bergerak saja beratnya minta ampun. Wajahnya begitu menggoda, kulihat dia menahan perasaanya selama ini. Tanganku masih saja memegang itunya, dengan wajah memerah, dirinya mulai angkat bicara.
"Ka-Kakak, tanganmu" menahan hawa nafsu.
"Ah, maaf!!" langsung menarik tangan.
Aku mundur beberapa langkah dari dirinya, dengan wajah sok suci kugaruk kepalaku. Tak tahu berbuat apa lagi, hanya bisa seperti ini.
"Ehehe, ma-maaf" kataku malu setengah mati.
"Kak, tidak apa, aku mencintaimu" kehilangan keasadaran.
"Ahh, menjauhlah!!" mendorong kuat-kuat.
Aku tidak sengaja mendorongnya dampai terjatuh, beberapa tetes air mata melihatiku. Penuh perasaan bersalah aku berlari keluar, kenapa bisa seperti ini? Aku berhenti di depan gerbang sekolah.
"Tunggu, dimana rumah tubuh yang aku tempati?" kebingungan.
Tiba-tiba seseorang berdiri di belakangku. Perasaanku mulai tidak enak, apa mungkin perempuan yang tadi aku tolak. Pelan-pelan kulihat kebelakang, ternyata benar dirinya. Tangan kanannya menyodorkan tas ke diriku, tatapannya kosong menghadap ke bawah. Pelan-pelan kuambil tas yang dia sodorkan ke diriku.
"Kak, maafkan aku. A-Aku hanya bercanda" wajah berkeringat, mencoba memberikan senyum palsu.
"Ahh, oke, tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan"
"Hem, apa itu?"
"Dimana rumahku?" tanyaku kebingungan.
Saat kutanyakan hal itu, tiba-tiba dirinya tertawa, wajahnya seketika tidak terlihat menyedihkan lagi. Aku tambah kebingungan dengan tingkah lakunya.
"Ahahaha, Kakak memang rajanya bercanda. Kan Kakak tinggal serumah denganku" jawabnya menahan tawa.
"Haa!! Be-Benarkah?" terkejut.
__ADS_1
"Benar, kita kan Kakak-Adik, apa Kakak lupa dengan adikmu sendiri?" tanyanya mulai curiga.
"Oh, iya-iya, aku hanya bercanda kok(jadi, tadi, aku hampir melakukan hal terlarang)"
Akhirnya masalah dengan dirinya terselesaikan, atau mulai sekarang aku bisa memanggilnya adik. Aku mengikuti lanfkahnya dari belakang, tidak sepatah kata pun terucap dari kami. Kami hanya sibuk dengan perasaan. Kulihat ke sekitar, sudah lama aku tidak melihat ocehan burung-burung, riangnya pohon yang menyambut malam, ataupun langit normal pada umunya, sudah lama sekali sampai-sampai aku hampir lupa dengan duniaku sendiri yang direbut oleh adikku sendiri. Tak lama, seorang wanita menggunakan celemek, memukul kepalaku, aku meringis kesakitan, aku terkejut saat melihat wajah cantiknya. Rambut hijau seperti diriku, wajahnya yang cemberut, dia terlihat begitu cantik.
"Hei, darimana saja kamu?!!" tanyanya agak kesal.
"Maaf Kakak, kami baru mengerjakan PR, habis Kakak yang ngajak" bohong adikku.
"Ha, iya-iya" jawabku gugup.
Tanpa pikir panjang lagi, adikku menyeret tanganku masuk ke dalam rumah. Kulihat di dalam rumah, mataku tak bisa berkedip, rumah ini penuh dengan perlengkapan sihir, tak kusangka aku bagian dari keluarga penyihir. Adikku melemparkan diriku ke sofa, bukannya merasa sakit, tapi tubuh ini malah merasa enak, dasar tubuh mesum. Wanita yang menyambut kita di depan rumah tadi menghampiri diriku, dengan wajah kesal yang daritadi ia tampakkan padaku, dia melemparkan celemeknya ke wajahku.
"Bagaimana sekolahnya?" tanyanya melihat-lihat rak penuh botol sihir.
"(Apakah dia Ibuku? Gawat kalau begini!!) Oh, biasa-biasa saja" jawabku gugup.
"(Apakah?)Ibu sedang pergi ke kota hantu untuk membeli beberapa bahan sihir, dia pulang 5 hari lagi. Katanya sih ada banyak pesanan di pasar gelap, jadi dia memanggilku kemari. Dasar, padahal aku murid terbaiknya, hanya diberi tugas untuk mengasuh bocah" katanya penuh gaya.
"Eee, oke(ini saatnya kutunjukan siapa diriku)Bukankah guru dan anaknya tingkatannya sama" kataku mulai berani.
"Hah, apa?" melihat wajah Sena, terduduk di lantai.
"Ha, kepalamu terbentur apa tadi? Cepat sana mandi!!!" marah besar.
"Ah, iya-iya-iya!!" lari terbirit-birit.
Tak kusangka dirinya akan marah sebesar itu. Padahal yang kukatakan benar, seharusnya dia hormat kepadaku. Perempuan memang susah ditebak, kadang mau ini, kadang juga maunya itu, kalau gak dipaksa mereka gak mau. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar mandi.
"Cepatlah, tubuhku sudah mulai lengket ini!" nada kesal.
"(Wanita itu tadi)Tunggulah!! Tadi siapa yang suruh aku mandi duluan?!!" jawabku marah.
"Hei, cepatlah bocah! Tubuhku mulai lengket!!" menggedor-gedor pintu.
"Hiiiihh, jika mau ya masuk. Mandi bersama kan gak apa-apa(Hehe, dirinya pasti tidak mau masuk)" menyeringai.
Dengan cepat pintu kamar mandi terbuka, mataku terbelalak, terkejut dirinya mau juga menuruti kata-kataku. Segera kututup mataku, suara langkah kaki yang menginjak air melewati diriku, terdengar suara air bak mandi yang berteriak. Dengan nada kesal, dia menceramahiku lagi, walau hanya bertemu sebentar, mungkin seterusnya tidak akan berhubungan baik dengan perempuan ini.
"Jika sudah selesai cepat pergi!! Dasar, jika bukan karena botol sihir mesummu itu aku tidak akan seperti ini. Lagian kenapa sih kamu terus saja membuat botol sihir pelengket?!!" tanyanya mencipratkan beberapa air ke tubuh Sena.
Saat dirinya sibuk menggangguku, tidak sengaja tangannya memegang sesuatu yang terlarang.
__ADS_1
"Ahhhh"
"Aaa, menyingkir dari tanganku!!".
"Menyingkir gundulmu!! Yang salah kan kamu kok aku yang kau marahi!! Kesucianku sudah diambil oleh murid mesummu Ibu".
"Mesum?!! Tanganku bahkan tidak bisa membuat ramuan lagi, ini gara-gara anu bodohmu, jika jalan lihat-lihat dong!!".
"Lihat apanya bodoh?!! Jika di hadapanku tubuh dengan landasan pesawat, bisa-bisa mataku buta!!".
"Kau bilang apa tadi?!! Landasan pesawat!! Biar kubuktikan sesuatu padamu!!".
Dirinya beranjak dari bak mandi, dengan marah yang meluap-luap, dirinya mendekap diriku, ahh, kenapa begitu enak?!!!
Uhh, beberapa menit yang lalu di tempat berbeda...
"Apaan sih mereka? Mandi bareng aja ribtunya minta ampunn".
Saat kejadian yang tidak kuinginkan terjadi, adikku melihat kami. Hancur deh masa depanku.
"Ha!! Ka-Kalian sudah beginian?!!".
"Bu-Bukan begitu!!!".
"Ahh, tanggung jawab yahh"
"KAKAK MESUM!!!".
"BUKAN!!!(Ibu, tolong anakmu ini)".
Setelah beberapa penjelasan, kedua perempuan yang marah kediriku berhasil dijinakkan. Jika bukan karena suara payah itu yang membawaku kemari, aku hidup damai di depan mataku.
Angin berhembus sedih, bau darah menyeruak dari korban yang baru saja dia bunuh, ke-tiga orang itu tergeletak tak bergerak di padang bunga berdarah, senyum kejamnya yang mengeringai dia tampakkan, menjilat pedang yang ternodai darah. Yuna yang ketakutan melihat orang yang dia cari-cari tepat di depannya membunuh teman yang sudah bagaikan saudaranya sendiri. Langkah laki-laki itu mendekati dirinya yang terduduk tak bergerak, tatapan matanya begitu kejam.
"Yu...Na, la..ri".
"Ehehehe, ketemu!!".
Craaattt...
"Putri, target berhasil dibunuh. Meminta perintah untuk membunuh target berikutnya".
"Lakukan, kali ini Yggyist akan membantumu, jangan sampai misi kali ini gagal".
__ADS_1