
Seperti biasa, aku terbangun dari tempat tidur, mandi beberapa menit sambil bernyanyi, makan sarapan yang kusiapkan sendiri, hanya tinggal sendiri karena 2 hari yang lalu...
"Yohan, aku, Yolanda, dan Yuna akan menggunakan hari libur kami untuk pergi ke pantai" sedikit kesal.
"Oh gitu. Eh, tapi Yuna bagaimana? Aku khawatir dia dalam bahaya" khawatirku.
"Tidak apa Tuan, aku tetap berada di hati Tuan" memeluk erat Yohan.
"Ehehem, oh iya..." Tee-chan menangkat telepon.
"Hai, ayo cepat. Pantai sudah menunggu, dan untukmu Yohan. Kerjakan pekerjaanmu dan pekerjaan Kakak yang menumpuk" berlari secepat kilat.
"Eh, TEE-CHAN!!!" marah Yohan.
2 hari berlalu kurang 5 hari mereka kembali, aku mencoba tidak merasakannya setelah apa yang menimpa Yuna minggu lalu. Perkumpulan berhasil menangkap pelaku yang mengancam kami, aku masih tidak percaya orang berada di balik topeng itu adalah Andi, teman baikku. Pemimpin perkumpulan tidak mengetahui apa-apa, dia mengalami hilang ingatan selama beberapa hari dan setelah itu ingatannya kembali lagi, kejadian hilang ingatan ini sama dengan apa yang terjadi padaku. Perkumpulan masih gencar-gencarnya dengan tokoh dibalik ancaman ini.
Kurapikan jas hitamku, mengambil kalung permata hijauku dan segera berangkat kerja. Hidupku berubah sejak bergabung dengan perkumpulan, setelah misi pertamaku, aku tinggal di villa Tee-chan, lumayan besar dan mewah. Saat aku membuka garasi, tak kusangka tidak ada mobil yang disisakan untukku, sudah kuduga. Tee-chan memang suka menjahiliku, bahkan saat tidur. Baru mau berangkat kerja rasa semangatku hilang, apa boleh buat, aku harus berjalan kaki.
Pagi yang cerah, dengan orang-orang sibuk yang lalu lalang. Aku sedang terduduk di bangku pinggir jalan, mengamati pejalan kaki dengan kesibukan mereka sendiri-sendiri. Handphone-ku berdering, kuambil dari sakuku, ternyata hanya panggilan dari pemimpin perkumpulan.
"Yohan, Anamel merasakan 2 manusia dari dimensi lain, yang pasti dari Zastan atau Serentina. Posisinya tidak jauh darimu, misimu temukan mereka dan bawa ke perkumpulan" kata pemimpin.
__ADS_1
"Oh, baik. Apakah ada ciri-ciri lain?" tanyaku.
"Tidak ada, semoga sukses"
Biiipp....Biiipp....Biiipp.
Telepon dimatikan olehnya, sekarang aku mempunyai misi baru. Rasa gelisah dihatiku mulai berkurang, kuamati sekitar masih belum ada tanda-tanda. Walau masih amatir, tapi aku sudah tingkat tengah kelas perunggu dalam 2 minggu, kata orang-orang perkumpulan aku hampir sama dengan legenda boneka. Entah apa itu, tapi tak ada dari satupun yang mau memberitahuku. Aku mulai merasakan sesuatu.
Misi dimulai, mata batinku kuhidupkan. Mata kananku berubah warna, korneaku berubah menjadi merah darah. Dari sekurumunan manusia dengan aura merah, atau aura biasa kulihat secercak cahaya kuning dan biru. Aura dengan cahaya kuning melambangkan kesucian dan biru melambangkan keingintahuan. Aku berdiri, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dan teriakan secara bersamaan. Sontak aku berlari ke sumber suara.
Sekurumunan orang menghalangi jalanku, tak disalah lagi, kulihat dihadapanku aura biru berada, tepat didepanku. Sementara itu, orang dengan aura kuning itu nasibnya tidak beruntung. Dia hanya terdiam melihat mobil melaju cepat kearahnya, tatapannya sangat ketakutan.
Sedikit saja aku terlambat, dia sudah menjadi adonan daging. Kakiku sakit sempat tertabrak mobil. Tangannya sangat kuat, merangkul leherku. Naas nasib mobil itu, tidak ada korban nyawa dari kecelakaan ini, tapi pengendara mobil kehilangan nyawa. Aura merah dari pengendaranya hilang saat mobilnya menghantam pembatas jalan.
"Gan.. Dasvara!!!" menangis.
Wanita dengan aura biru itu langsung menghampiriku, dia terlihat sangat khawatir dan sedih. Jadi, wanita yang kugendong ini Gandasvara. Wajahnya imut, seperti Yuna yang fisiknya seperti anak kecil. Tapi, perasaanku agak senang dia menempel padaku terus. Aku sempat berkata padanya, tapi karena sangking takutnya Gandasvara tetap memeluk erat leherku.
"Ahh, Gandasvara. Tolong lepaskan pelukannya yah?" bujukku.
"Tidak, aku takut, aku takut Kak!! Aku mau tetap begini" Takut Gandasvara sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Siapa kau? (Sepertinya orang ini bisa dipercaya, apalagi wajah gantengnya. Ahahaha, jadi pengen meluk)" pipi memerah.
"Oh, namaku Yohan. Kedatanganku kesini karena kalian, akan kujelaskan setelah sampai ke kantor. Tidak baik warga sipil mengetahui" Aku mulai berjalan.
"Namaku Bonnie, aku ada pertanyaan. Kita akan kemana?" tanya Bonnie.
"Kantor" jawabku pendek.
"Kantor itu apa?" tanya Bonnie lagi.
"Tempat dimana misi untuk petualang, seperti guild" mulai kesal.
Setelah beberapa ratus pertanyaan yang menyebalkan. Akhirnya aku sampai di ruang pemimpin dengan tubuh berakhir lemas di sofa. Aku tertidur seperti bayi. Butuh bujukan penuh untuk melepaskan pelukan imut yang mematikannya. Sedikit sadar aku mendengarkan pembicaraan mereka, karena terlalu lelah aku tertidur lelap. Tak sempat aku mendengarkan informasi yang diberikan pemimpin, dia sempat mengatakan dua kata, "Kontrak" dan "Duo". Sudah kuduga, mereka akan membuat kontrak dengan seseorang, tapi kata Duo terdengar asing bagiku. Mungkin informasi rahasia.
Entah kenapa dadaku serasa sakit sekali, tapi setelah itu rasa sakitnya hilang seketika. Aneh sekali, padahal aku sedang enak-enaknya mimpi gitu-gituan dengan Yuna.
"Hemmm?" kesal Yuna.
"Ada apa Yuna?" tanya Yolanda.
"Ada seseorang yang membuat kontrak dengan Yohan. Sepertinya ada saingan lagi selain Kak Nova" jawab Yuna dengan tatapan ambisius.
__ADS_1