Z World

Z World
Episode 18: Perjalanan pulang


__ADS_3

"Maaf saja, tapi kalian tidak boleh ikut. Untuk sementara waktu saja, kembalilah ke Base" kataku berdiri di depan portal.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik.... Yohan" kata Tee-chan berbalik arah.


Tujuan kami memang sama, untuk menyelamatkan Bumi. Tapi, karena kekuatan baruku yang disebabkan kesalahan reinkarnasi, jiwaku terbagi menjadi dua. Jiwaku sendiri dan jiwa raja Ender pertama, layaknya manusia, kami bisa saling berkomunikasi. Kumasuki portal di depan mataku, tubuhku serasa tertimpa, aku tak bisa bergerak. Aku terlempar dari langit, masih kurasakan dadaku sakit. Aneh, yang kulihat hanya malam, tanpa cahaya apapun.


"Yohan, biarkan aku menangani ini" kata raja Ender.


"Baiklah, aku serahkan padamu" menutup mata.


GGGGRRAAAHHH....


Dari kejauhan naga hitam besar menyambar diriku, raja Ender berhasil menunggangi naga. Dia memberikan kendali padaku lagi, angin dingin menebas tubuhku, kulit naga yang kasar kugenggam erat. Merangkak menuju lehernya, tiba-tiba tanpa peringatan, seseorang berdiri di belakangku.


"Penyusup, penyusup, penyusup"


"Gawat, hai raja, bisa tangani" merasa takut.


"Maaf, orang bijak berkata. Percayalah pada dirimu sendiri daripada percaya orang lain" kata raja Ender.


Masa bodoh dengan nasihat-nasihatnya, kutengok kebelakangku. Tiba-tiba raja Ender menarik kepalaku ke depan, dia menyuruhku untuk tidak menatap matanya atau dia akan tahu bahwa aku bukan manusia Ender. Kucoba tak memikirkan dan merangkak kembali menuju ke leher naga ini, akhirnya aku bisa duduk. Kupeluk erat lehernya, ketakutanku mulai merasuk ke dalam, mataku tak dapat kubuka.


"Cepatlah kendalikan diriku raja bodoh!! Aku takut ketinggian" teriakku ketakutan.


"Orang bijak berkata, lawanlah takutmu maka kau akan tahu apa yang sebenarnya kau takutkan" kata raja Ender.

__ADS_1


"Hahh!!! Aku tidak membutuhkanmu, aku bisa. Huh, aku bisa" pelan-pelan membuka mata.


Mulai kulihat daratan yang gersang, rasa takutku mulai kulawan. Aku melompat dari lehernya, sekitar 50 meter di atas tanah. Kakiku menyentuh pasir, rasanya pasir yang kuinjak berbeda, teksturnya lebih padat, hampir seperti tanah. Kulihat ke atas, naga itu masih mengikutiku bersama orang aneh yang duduk di badannya. Kuambil kompsku, kuberhenti sebentar. Jarumnya hanya berputar-putar, kubanting kompas tidak berguna ini, amarahku sudah mencapai puncak. Nasih-nasihat bodohnya, barang payahnya, aku sudah muak dengan dirinya, mungkin kesan pertamanya sangat kuat, hampir menang melawan Sena dan misiku juga hampir selesai begitu saja, tapi ternyata dia orang yang menyebalkan.


Kuberjalan tak tahu arah, aku hanya mengikuti naluri raja yang sok bijak ini. Perasaanku, seperti ada yang menunjukkan arah.


"Itu adalah aku" nada bijak.


"Aku tahu!!! Diamlah sebentar" bentakku marah.


Walau kami baru kenal, seperti ada suatu perasaan aneh, seperti kami pernah bersatu. Hah, sudahlah. Kulanjutkan langkahku mengarungi samudera pasir gelap. Sesekali naga itu turun ke tanah memberiku tulang. Hatiku sedikit tersentuh, kusimpan tulang-tulang itu. Hari demi hari, aku sudah mengarungi ini.


Ngantuk, lapar, bahagia, cinta, semua perasaan manusiawi seperti itu tidak kurasakan lagi. Sedikit demi sedikit diriku mulai terkikis, kakiku merasakan lelah, tapi entah kenapa rasanya selalu ingin berjalan. Akhirnya, jalanku terhenti, didepanku terpampang kegelapan yang luas, tanpa adanya daratan lagi. Akhir-akhir ini orang bijak itu tidak berkata atau menjawabku. Naga itu turun tepat di depanku, kunaiki sayapnya, duduk di lehernya.


Selama ini, orang Ender itu terus-terusan mengikutiku. Aku tidak tahu siapa dia, mungkin hanya orang tersesat yang butuh pertolongan. Orang Ender itu mendekatiku, aku mencoba tidak mempedulikannya, tapi tiba-tiba dia mengelus-elus kepalaku.


"(Apa, barusan dia bicara. Kitty? Siapa dia sebenarnya? Mungkin saja dia menganggapku sebagai Kitty-nya)" terkejut dalam hati.


Aku hanya mondar-mandir di tubuh naga ini. Sudah beberapa jam kami terbang, tapi tak kunjung juga melihat daratan. Kadang-kadang aku hibur diriku dengan menenangkan diri, meningkatkan kekuatan sihir dengan berdiam diri. Tiba-tiba, raja sok bijak itu memanggilku.


"Hai adik Yohan, kita akan memasuki 8 menara gelap permata. Akan kupinjamkan mataku untuk menutupi dirimu, mungkin rasanya agak aneh, tapi kau bisa gunakan mataku sesukanya" kata raja Ender agak khawatir.


"(Apa?!! Apa itu 8 menara gelap permata? Dan warna ungu apa ini?)" kebingungan.


"...."

__ADS_1


"Dia tidak menjawab, mata ini memberikan warna ungu yang berlebihan" mengucek-ucek mata.


Langit hitam ini bercampur warna ungu, kulijat samar-samar sebuah menara hitam. Semakin lama semakin jelas, naga ini terbang memutarinya. Seperti ada sesuatu yang menakutkan dari 8 menara itu, kurasakan juga aura orang Ender ini, dia juga merasakan takut. Sebenarnya apa menara itu? Keadaan sudah kembali normal, kugunakan mataku kembali, rasanya gatal jika melihat warna ungu berlebihan.


"(Hai raja Ender, apa itu tadi?)" tanyaku curiga.


"Itulah yang dinamakan 8 menara gelap permata, dulunya menara itu dijadikan sebagai pusat 8 kerajaan Ender. 8 kerajaan yang mempunyai kata Der dibelakang namanya, suatu ketika terjadi invasi dari cacing angkasa. Bentuknya sangat menakutkan, memakan planet kami sedikit demi sedikit. Para raja yang mulai pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa, aku bertekad kuat atas nama kerajaan Neder, tak butuh waktu lama begiku untuk menyatukan 8 kerajaan dan juga faktor lain seperti sekaratnya rakyat Ender. Kami membangun 8 menara gelap permata, tapi cacing itu selalu bangun dari bangunnya dan datang mendekat hanya untuk mendekati menara kami, menghancurkannya sampai berkeping-keping. Maaf, adik Yohan, aku tidak bisa bercerita lagi. Tugasmu kesini untuk mengambil tubuhku yang berada di reruntuhan 8 menara gelap permata" panjang raja Ender.


"(Baiklah, aku mengerti. Jadi bisa dikatakan, reruntuhan itu sebagai tempatmu mati dan juga sebagai trauma mendalam Ender) Hai naga, bisa bawa kami ke kerajaan terdekat" bersemangat kembali.


Aku tidak perlu khawatir lagi dengan orang Ender ini, sudah berpuluh-puluh hari kami bersama, pasti dia tidak mencurigaiku lagi. Mulai kulihat daratan lagi, beberapa orang Ender menyambutku, tidak tedlihat seperti sambutan yang hangat. Mereka terlihat berusaha menyerangku.


"Adik Yohan, kenapa kau melepas mataku?!!" terkejut.


"Ahh, bahaya!!" mengganti mata.


Segera kuganti mataku. Walaupun aku benci mengakui ini, tapi demi keberhasilanku aku harus memakai mata ungu pekat yang membuatku gatal ini. Kulihat mereka mulai tenang, kembali berjalan seperti biasa. Sepertinya aku bisa tenang, mungkin untuk sekarang.


"Tuan, Ksatria Ender datang dari Selatan" memberi hormat.


"Apa?!! Mustahil, bukankah dia sudah mati 1.000 tahun yang lalu?" terkejut bukan ampun.


"Mohon raja melihat dengan mata kepala anda sendiri" berdiri memegang tangan raja.


Dia menarik raja, menuju keluar membuka pintu. Wajahnya sangat terkejut, dia memangis menitikkan air mata.

__ADS_1


Be lika and favorit.


__ADS_2