Z World

Z World
Episode 23: Invasi Goblin.


__ADS_3

Hari itu hari dimana kami bertemu.


Api membara yang selalu memburuku.


Tak henti-hetinya menerkamku.


Kumencoba naik dari jurang tanpa dasar ini.


Dan akhirnya, mulai kulihat cahaya disebelah kegelapan.


Akankah dia menyelamatkanku?


Tolong selamatkan aku!!!


Kusilangkan kakiku di atas batu besar. Menutup kedua mataku, mulai kupusatkan kekuatan di dada dan sekitarnya. Mulai kurasakan, seperti pusaran air yang tidak berhenti, berputar-putar dengan teratur. Kucoba merasakan perasaan sedih, gembira, maupun marah. Pusarannya terpengaruh oleh perasaan, seperti jika aku sedih pusarannya akan memudar dan melemah, jika aku bahagia pusarannya deras, tapi tetap tenang dan jika aku marah pusarannya menerjang-terjang dan menggila. Inilah inti Mana dalam diri manusia.


Di buku, pengeluaran Mana manusia tergantung perasaan manusia itu sendiri. Mana seperti air yang mengalir, bisa tenang bisa ganas. Itulah mengapa setiap aku merasa marah aku merasakan sihir yang kukeluarkan sangat merusak, tapi sulit untuk dikendalikan. Kubuka kembali mataku, aku terkejut menyadari tubuhku basah kuyup terkena keringat, kulepas bajuku. Kumunculkan api kecilku, mencoba berlatih dengan elemen api baruku.


Hampir saja api mengenai rumput, ku pikir-pikir lagi tempat yang kugunakan tidak cocok untuk berlatih elemen api, daun-daun bisa terbakar dan paling parahnya kebakaran hutan. Tidak ada salahnya mencoba kan?


Beberapa tragedi kemudian.

__ADS_1


"Hoi, hutan Utara terbakar hebat!!" berlari menggendong seember penuh air.


"Cepat bunyikan loncengnya!! Cepat padamkan apinya!!"


(Tragedi yang akan terjadi, dalam pikiran Yohan).


Tak ada jalan lain, kulatih sajalah elemen angin-ku ini. Ku kembali melakukan posisi seperti semula, menutup mataku dan memusatkan energi di dada. Perlahan-lahan angin berhembua dari belakangku, memutar arah mengelilingiku. Mendekat perlahan dan merenggang kembali, perasaanku sedang tidak enak sekarang. Kuputuskan untuk berhenti sejenak untuk membaca buku, sudah kudapatkan sihir baru dari elemen angin, tapi belum ada perkembangan pada elemen lain. Kupandangi langit-langit, berpikir seperti apa masa depanku dari sekarang. Tiba-tiba seseorang melempariku batu.


Segera kubangun, melihat kesekitar, tapi tidak ada siapapun. Untung terkena perutku dan batunya masih tergolong kerikil.


Srakkk...Srakkk...


Kudengar seseorang bersembunyi di balik rumput. Jangan pikir dia bisa lolos dariku, sudah 3 tahun aku bertahan hidup di hutan dan sekarang aku tergolong raja hutan, pendengaranku seperti pendengaran burung hantu. Kumelompat, menerjangnya dan kupegang kedua tangannya, apa?!! Ternyata hanya rumput, kuberdiri penuh kebingungan, kulihat kesekitar, melihat dengan saksama, tapi tidak ada siapapun. Perasaanku mulai merasakan hal-hal aneh.


Kami berjalan di belantara hutan kembali, di depan kulihat cahaya, tempat yang sangat indah. Mataku tak bisa berkedip sangking terkagumnya diriku, kulihat di depan sebuah altar seperti altar pahlawan yang sudah di tumbuhi tumbuhan merambat, batu-batu pembangunnya sudah roboh tergerogoti lumut. Kulihat ke atas, tempat ini terselubungi oleh pohon-pohon besar, tapi cahaya tetap bisa masuk. Itulah mengapa trmpat ini tidak mudah ditemui. Kuhampiri Grimoire yang menatapi simbol yang berada di tengah altar, 6 simbol elemen yang mengelilingi gambar seseorang. Kutanya Grimoire, tapi dia hanya diam saja.


"Hahhh, kau bukan Grimoire!!" melompat jauh kebelakang.


Baru kusadari dirinya bukan Grimoire, baru sekarang aku merasa padahal aliran Mana dalam dirinya sama seperti Grimoire, tapi saat kudekati seperti ada perasaan aneh, benci yang berlebihan. Dia mengeluarkan pedang yang ada di tas, pedang milik Grimoire yang dia ambil. Tangannya menghempaskan pedang ke udara berkali-kali, menatapku tajam, menghela nafas panjang dan mulai berkata.


"Grimoire, Grimoire, Grimoire lagi!! Dia mungkin sudah mati melawan minionku" katanya yakin.

__ADS_1


"(Payah, aku harus melihat seperti apa dia menyerang setelah itu akan kuperkirakan bagaimana caraku lari dari altar ini)Hai payah, Ayah Ibumu orang bodoh ya?!!" ejekku.


Tangannya memegang erat pedang, siap menyerangku kapan saja. Tiba-tiba seperti kilat, dia menyambarku begitu cepat, untung aku berhasil menghindar, tangan kananku sempat tergores. Aku terjatuh ke tanah, dengan cepat kuhempaskan tubuhku ke langit, berdiri di dahan pohon yang tinggi. Saat aku mencoba menyembuhkan lukaku, aku sangat terkejut, lukanya tidak bisa kusembuhkan, sekuat usaha aku sembuhkan malah menimbulkan rasa sakit yanf setara kesembuhan yang kukeluarkan. Aku mencoba tidak membuat kesalahan, saling berbicara untuk mengulur waktu.


"Tenang Kak, dimana Kak Grimoire?" tanyaku mencoba tenang.


"Hah, kau menyenangkan juga ya. Bercanda sebelum ajal menjemput" duduk di kayu rapuh.


"Akan kulakukan apapun agar tetap bisa bertahan hidup, mungkin Kakak bisa mengajarkan beberapa sihir sebelum ajalku menjemput?" duduk di dahan.


"Baiklah, aku juga bukan pengecut yang membunuh mangsa yang tidak berdaya. Akan kuajarkan kau, jika kurasa kau setara denganku. Maka kita akan bertarung" tersenyum.


"Baiklah, tapi biar aku melihat wujud aslimu" kataku menggoda.


"Baiklah, aku tidak mau Grimoire terkejut melihat dirinya ada dua" melepas pakaian.


Aku tak berpikir dia begitu mudah diperdaya, ada dua kemungkinan dia mau menyetujui perkataanku, pertama dia tidak mau melawan musuh yang lemah, kedua dia mencoba menjebakku. Semua tergantung keberuntungan, kulihat wujud aslinya. Rambut putih bersih, wajah cantik bermata kuning cerah kental, kulitnya putih membuatku kehilangan kesadaran. Sebisaku aku mencoba tidak melakukan kontak mata dengannya, tubuhnya mampu membuatku hilang kendali. Aku turun dari dahan, berjalan mendekatinya sambil menundukkan kepala.


"Maaf merepotkanmu" kataku sedikit merona.


"Ehehehe, akan kulatih kau murid baruku" mengajukan tangan.

__ADS_1


Kusalami dirinya, kami berjalan kembali menuju desa. Tak kusangka aku pintar dalam berbohong, atau takaran kepintarannya sama dengan Charlotte yang hanya secuil biji kacang.


__ADS_2