
Tee-chan mengajakku jalan-jalan ke ruang senjata. Katanya, Tee-chan mempunyai rahasia yang ingin dikatakannya. Sesampainya pintu besar itu terbuka, mataku tak bisa berkedip sekalipun, aku terkagum-kagum, kilauan banyaknya senjata bawah tanah perkumpulan. Aku bergabung ke perkumpulan perlindungan pelayan karena terpaksa menolongnYuna.
"Ini adalah ruang senjata, mungkin kau harus mempunyai senjata nyata" menggoda Yohan.
"Kenapa? Bukankah aku sudah mempunyai pedang jiwa? Aku sayang pedang ini" mencoba tidak memikirkan.
"Hahh, imanmu kuat juga ya Yohan. Itu kenapa aku menyukaimu" menghela napas.
"Ya, sejak saat itu, aku akan membalas dendamku" mencoba mengingat kembali.
Yuna terbangun, menggeliat-menggeliat sebentar dan duduk mengumpulkan nyawa. Wajah lucu dan imutnya kembali segar, dia beranjak dari kasur sedikit terhuyung-huyung saat menuju ke kamar mandi.
Cyurrrr.....
"Aku tipe Marksman, menimbulkan serangan besar nan cepat, tapi pertahananku lemah. Kau bisa memilih tipe-mu sendiri Yohan" jelas Tee-chan mengamati senjata api miliknya.
"Hemmm, baiklah. Aku tipe Tank atau Warior, (tank berguna untuk melindungi Tee-chan sehingga dia menimbulkan damage besar pada musuh. Kalau Warior hampir sama denfan Tank, tapi serangan dan pertahanannya imbang)" mengamati senjata.
"Ohh, ketemu!!" teriak Yohan.
Tee-chan segera menghampiri diriku, dia sedikit terkesima dengan pemilihanku. Aku mengambil pedang besar dua tangan dan tameng. Wajah Tee-chan terlihat khawatir saat melihatnya, dia tidak percaya aku bisa mengangkat pedang besar dengan satu tangan.
Setelah selesai memilih senjata, kami kembali ke pemimpin perkumpulan untuk memberikan informasi. Pemimpin perkumpulan adalah orang absolut yang menjalankan perkumpulan dan menerima anggota baru. Kubawa perisai dan pedangku di belakang punggung, tapi ini juga termasuk pelatihan.
Saat Tee-chan membuka pintu, wajahnya mengerut jijik melijat pria yang ada di hadapannya. Aku terkejut, hatiku senang melihat teman masa kecilku. Andi, dia mendekat diriku, kami saling berpelukan.
"Yohan, kamu disini untuk mendaftar ya?" tanya Andi gembira.
"Ehehe, sebenarnya aku sudah mendaftar" sedikit tidak enak.
"Oh, begitu" kejut Andi.
__ADS_1
"Andi, keluarlah dulu. Aku ingin berbicara dengan Tee-chan dan Yohan" serius.
Andi melangkah keluar ruangan. Aku melihatinya sampai depan pintu. Pemimpin, melijati kami beberapa detik dengan wajah menakutkan. Aku tidak berani bicara, jika salah tingkah bisa-bisa pemimpin benci padaku. Pemimpin memulai pembicaraan.
"Yohan. Hahhh... sebenarnya ini tidak mengenakkan" kecewa.
"Ada apa pemimpin? Aku tidak melakukan kesalahan kan?" Yohan mulai khawatir.
"Ini demi kebaikanmu. Maukah kau melepas kontrak dengan Yuna?" melihat Yohan dengan tatapan dingin.
"Apa kau bercanda?!! Kau pikir siapa dirimu?!!" Marahku.
Tee-chan berdiri dihadapanku, menenangkan kemarahanku dan mencoba menceritakan dengan pelan-pelan. Tapi, kemarahanku sudah memakanku, aku menatap sadis Tee-chan. Tee-chan terlihat takut, dia berjalan keluar.
Brakk...
Hanya ada kami berdua, pembicaraan mulai tegang.
"Tidak akan, aku sudah berjanji kepada Yuna untuk mewujudkan impiannya!!!" memegang pedangnya.
"Maaf Yohan. Ini demi kebaikanmu" menghadap ke bawah.
"Apa mangsud..mu" terjatuh pingsan.
Kulihat seseorang memukul tepat di leherku, dia tersenyum jahat melihatku. Dia mengeluarkan pistol dari sakunya, mengarahkan ke kepala pemimpin.
Dorrrr....
Aku terbangun terduduk di kursi. Tangan dan kakiku terikat kuat. Tiba-tiba lampu-lampu menyoroti mataku. Kepalaku masih terasa sakit, penglihatanku terhalangi cahaya. Kulihat dia, menyekap Yuna dikursi sepertiku. Dari kegelapan pria bertopeng itu keluar, topeng polos dengan corak salib, dia membawa pistol dan langsung mengarahkan ke kepala Yuna. Yuna melihatku dengan tatapan ketakutan, air matanya mengalir.
"Cepat lepaskan kontrakmu" kata pria bertopeng.
__ADS_1
"Keparat!!! Sebenarnya apa yang kau inginkan?!!" membentak.
"Putri Serentina, dia tidak pantas ditanganmu. Coba, lihat dirimu, melepaskan tali saja tidak mampu..." mengejek Yohan.
"Diammm!!!" menunduk ke bawah.
"Diam, AHAHAHAHA. Kemungkinannya 87%, bagusnya aku membunuhmu" mengacungkan pistol ke kepala Yohan.
Aku hanya terdiam, entah mengapa aku merasa sangat bersalah. Selama ini aku tidak bisa memberi Yuna sesuatu, selalu mengandalkan kekuatannya, selalu mencari masalah, bertarung dengan bayangan hitam lemah saja tidak bisa. Aku payah, aku menangis memendam rasa marahku dan cintaku jauh-jauh di dalam lubuk hati.
"Apa kau akan menyerah?" gema.
"Ha?"
Aku melihat kesekitar, gerakan seperti tidak bergerak. Waktu serasa terhenti, aku merasakan seseorang berada di belakangku, dia mengelus-elus wajahku.
"Siapa kau?" tanyaku.
"Bangkitlah, pangeranku" Tersenyum.
Dia seketika berad di depanku, memegang kedua pipiku. Aku hanya terdiam, wajahnya semakin mendekat. Bibir kita sangat dekat, sampai-sampai berciuman. Dia menciumku, entah siapa dia, tapi mengenal kelembutan ini
"Ibu.." kataku dalam hati.
"Lepaskan saja Yohan, lepaskan kekuatanmu" melepaskan ciuman.
"Ainyu?!" kejutku.
"Lepaskan saja"
Dirinya menghilang dengan senyuman, kegelapan yang selalu melindungiku dan menyayangiku seperti anaknya, memelukku saat kesepian. Air mataku menetes, tersenyum melihat wajah Yuna.
__ADS_1
"Mengapa. Mengapa kalian begitu mirip?" tangisku.