
"Sena, bagaimana perasaanmu?" tanyaku terduduk di pinggir kasur.
"Hemm, masih merasa pusing. Yohan?" terduduk di kasur dengan wajah lesu.
"Ada apa Sena?" tanyaku memandangi wajahnya.
"Biasakah kamu menemaniku sebentar, itu, akhir-akhir ini dia selalu menghantuiku" kata Sena.
"Baiklah, tidurlah. Aku akan memelukmu(untuk merubah pendiriannya aku perlu pendekatan yang lembut, aku tidak mau orang yang matang-matang menjadi penerua Mana berpihak ke tangan musuh)" posisi tidur di pinggir Sena.
Wajahnya yang manis melihatiku, senyumnya sekali lagi menghangatkan diriku lagi, senyuman yang murni. Kubalas senyuman manis, tiba-tiba tangannya pelan-pelan memegang tangan kananku dengan lembut. Hatiku sempat berdegup kencang.
"Kumohon" menarik tangan Yohan, menyemtuh pipinya.
"Sena, tenanglah. Dia tidak akan bisa menghantuimu lagi" mengelus-elus pipi Sena.
"Tapi, aku masih takut Yohan. Setiap kali dirinya berdiri di depanku, dirinya mirip denganmu, tapi sifatnya berbanding terbalik. Dia menyiksaku, menyuruhku melakukan hal-hal memalukan dan menyakitkan, awalnya aku tidak mau, tapi dia mengancam ingin membunuh Yuna, keluargamu, teman-temanmu. Aku takut Yohan, aku tidak mau menyakiti siapapun, tapi. Hik.." meneteskan air mata.
"Tidak apa, tidak apa. Keluarkan semua bebanmu" memeluk erat Sena.
Dirinya menangis tak henti-hentinya. Aku tahu penderitaannya begitu besar, dia menerima mimpi buruk belakangan ini, sejak dirinya memihak diriku, keadaannya juga begitu lemah. Kuringankan penderitaannya dengan sihir pembagi, tapi saat aku mencoba mimpinya, sungguh sangat sadis, begitu sadis sampai air mataku berlinang. Pelan-pelan dirinya menutup mata, tak lama Sena tertidur lelap. Aku mencoba menutup mataku, ingin aku mengalahkan diriku di mimpinya.
3...
2..
1.
"Sudah masuk" membuka mata lebar-lebar.
Entah mengapa mimpi kali ini berbeda, kulihat Sena berada di depanku, terduduk di kursi roda sambil menatapkan senyum kepadaku.
__ADS_1
"Sena, bagaimana mungkin?" tanyaku terkejut.
"Akhirnya, mimpi bagus. Ahh, sudah lama aku tidak mengalami ini. Ehh, bukankah ini di depan rumahmu?" menunjuk rumah di depannya.
"Benar" menatap rumah di depannya.
Ini memang eumahku dulu, pemandangan sekitar juga sama saat dulu aku kecil. Aku kembali ke masa saat Ainyu kutemukan. Seorang perempuan berlari ke arahku, dia berulang-ulang memanggilku dengan kata"Kakak", air mata kebahagiaan ternampak di wajahnya. Dia memelukku erat, seorang perempuan sekitar 19 tahun memelukku, padahal terakhir kali aku menemui dirinya masih berusia 11 tahun dan masih bau kencur.
"Kakak, kenapa kamu baru pulang? Laur kangen banget tahu" kata wanita itu sambil meneteskan air mata kebahagiaannya di pundak Yohan.
"Eh, Laur? Sejak kapan kamu tumbuh cepat sekali" balasku memeluk dirinya.
"Kakak sih lama sekali kuliah, padahal aku juga mau melihat Kak Sena juga" cemberut berdiri di hadapan Yohan.
"Kak Sena kan sudah disini. Apa Laur lupa? Laur, Kakak mempunyai hadiah untukmu" kata Sena tersenyum ke arah Laur.
"Apa itu Kak Sena, wahhh gak sabar banget" mata berbinar-binar.
Entah apa yang Sena katakamn, mereka malah meringis memahan tawa sambil melirik ke arahku, rasanya diriku tersindir. Laur melambaikan tangan ke diriku, wajahnya seketika tidak senang melihatku. Dengan hati sedikit risih, aku menuju ke dalam rumah.
"Hehe, Kakak Yohan sudah pergi. Mau Laur temani Kak Sena?" bujuk Laur memegang kursi roda.
"Baik Laur, tapi kita temui orang tuamu dulu ya. Setelah ini kita pergi ke tempat rahasia kita, ingat! Hanya kita berdua" kata Sena mengingatkan Laur.
"Baik Kak Sena, Laur berjanji akan menjaga Kak Sena dan peninggalannya dengan..Eh?" menghadap ke pintu depan rumah.
Ayah memanggil mereka yang masih asik bercakap-cakap di depan rumah. Segera Laur mendorong kursi roda Sena masuk ke dalam rumah, aku keluar dari kamarku menuju teras. Kupandangi langit yang sudah mulai menghitam, pagi dan malam begitu berbeda, walau mereka berbeda, tapi saling melengkapi dan saling membutuhkan, seperti sepasang kekasih, saat pagi menghilang, malam semakin kelam dan dingin. Seperti diriku.
"Kak Yohan, kenapa di luar?" tanya Laur mendatangi Yohan yang berdiri menghadap bulan.
"Dunia ini, semuanya terasa nyata. Laur, kenapa kau bisa disini? Bukankah Bumi sudah hancur?" tanyaku dengan nada serius.
__ADS_1
"Maaf Kak, tapi ini rahasia. Aku tidak bisa membicarakannya kecuali atas izin Kak Sena" jawab Laur merasa bersalah.
"Terima kasih, terima kasih telah hidup untuk Kakakmu. Terima kasih Laur" langsung memeluk adinya dengan langkah air mata.
"Aku juga Kakak, Laur cinta Kakak" membalas peluk.
Hatiku begitu senang, tak bisa kuucapkan terima kasihku pada Sena, dirinya yang telah menyelamatkan keluargaku. Kulepaskan pelukanku, kutuntun adikku masuk ke dalam rumah, Ayah dan Ibu juga sudah menanti kami, kubalas mereka dengan senyum malam hari. Semua bercanda ria, makan malam yang tidak pernah kurasakan lagi, aku menunduk tersenyum. Sena yang duduk di pinggirku, tangannya memegang erat tanganku. Aku sontak melihat dirinya. Mulutnya bergerak tanpa mengeluarkan separah katapun.
"Terima kasih" balasku.
Makan malam akhirnya berakhir, kudorong Sena menuju ke kamarku. Aku terduduk di meja belajarku, mengelus-elus debu yang berada di atas buku, serasa seperti masa kecilku dulu. Sena yang terduduk di belakangku mulai berkata.
"Yohan, maaf sudah menghancurkan keluargamu. Sebenarnya aku melakukan ini semua demi kita semua, aku akan membunuh dia, dasa pengkhianat" mengerutkan dahi.
"Sena, tenanglah. Aku seharusnya yang berterima kasih padamu, demi invasi besar-besaran, bisakah kau menceritakan kelemahan dan kelebihan dari tentara Yggyist maupun dirinya. Ini cukup penting" berbalik badan menghadap Sena.
"Dia, memiliki rahasia. Aku belum pernah melihatnya karena selalu bermalas-malasan, tapi dia pernah berkata kepadaku, aku memiliki 6 elemennya, dia bergumam dalam mimpinya" kata Sena.
"Hmm, mungkin maksudnya seperti ini. Setiap elemen mempunyai jiwa baik maupun jahat, aku sekarang adalah perwujudan jiwa baik elemen kegelapan sedangkan keparat itu perwujudan jiwa jahat, yang berarti seperti yang dikatakannya, dia sudah menemukan jiwa jahat elemen murni lainnya. Dan juga, diriku sudah mati sepertiga, jika aku duel dengannya, masih terbilang seimbang"
"Aku pernah menyuruhnya untuk mengamati dirimu lainnya karena kurasa dirimu sudah mati, mungkin masih bisa. Huhhh..." menutup mata.
Setelah beberapa detik Sena menutup mata, dirinya akhirnya membuka matanya kembali dengan wajah senang.
"Dia sudah menghadapi dirimu, kulihat dirimu dibantu oleh sesuatu yang begitu besar dan Yggyist kabur bersama tangan kanannnya. Untuk sekarang kita bisa tenang sebentar" menutup mata.
"Aku tidur sebentar.." lanjut Sena.
"Okelah, aku tinggalkan kamu sebentar. Semoga saja Ainyu masih ada...Kenapa aku begitu pusing?" terkajut ke lantai.
Diriku terbangun di kasur, kulihat Sena tertidur lelap. Tak kusangka diriku bangun begitu cepat, kuelus-elus rambutnya, semoga cepat sembuh.
__ADS_1
"Hahh, kenapa begitu cepat. Padahal mau lama" berdiri dari kasur dengan perasaan tak enak.