
Pagi hari, tanggal 29 Desember, 2019. Yuna nama putri dari dunia Serentina. Kami duduk berhadapan, karena masih belum puas dengan ceritanya.
"Terus, apa kelebihan yang kudapatkan jika aku memeliharamu" kataku.
"Sadis juga katamu, dari buku yang aku baca dulu, jika bangsa Serentina atau Zastan pergi ke Bumi mereka harus cepat-cepat mencari Tuan jika tidak, dalam kurun waktu 6 hari mereka akan mati. Oh hampir lupa, kekuatanku di dunia ini tidak mempan, jadi aku harus menyalurkannya kepadamu" terus terang Yuna.
"Gimana caranya?" tanyaku.
Yuna memegang tangan kananku. Tangan kirinya menggapai mataku, menutup mataku. Yuna berkata,"sekarang rasakan kekuatannya, rasakan rantai menembus dadamu". Kumerasakan energi besar mengalir dari telapak tangan dan mataku, terus menuju ke dada. Energi terasa menggumpal, dadaku semakin terasa berat.
"Uhhh, kenapa begini?" sakitku.
"Rasakanlah, proses perantaian tuan memang akan sakit" jawab Yuna.
Aku mencoba menahan sakitnya. Semakin kutahan semakin terasa sakit. Jlebbb.... serasa rantai dengan ujung tajam menusuk dadaku. Aku hanya meringis kesakitan, rasa sakitnya seketika hilang. Rantai ini mengalirkan energi, mataku terbuka. Kulihat rantai, darimana rantai ini berasal? Yuna juga, sumber rantai ini berasal dari dada Yuna. Walau sedikit bingung, terapi aku mengerti, inilah yang dimaksud hubungan antara Tuan dan pelayan.
Tangan kirinya turun, ia tarik. Kubuka mataku, dan dia hanya tersenyum melihatku."Sekarang kita sudah membuat kontrak" senyum Yuna.
"Eh, ehehehehe" tertawa paksa.
"Akan kuceritakan sedikit, dulu hubungan Bumi, Serentina, dan Zastan sudah ada sejak 1200 SM. Tapi, karena Zastan yang dikenal suci yang semakin muak karena manusia Bumi lebih suka kemaksiatan, akhirnya Zastan melepas kontrak dengan Bumi papa 1000 SM, mereka yang masih ingin berkontak dengan Bumi meminta bantuan Serentina. Karena Serentina juga tertarik dengan Bumi karena mereka, akhirnya pada 1 M Serentina membuat kontrak dengan Bumi. Tapi, tak berlangsung lama, pada 50 M Serentina lepas kontak dari Bumi, tapi kontraknya masih berlaku sampai sekarang" jelas Yuna.
__ADS_1
"Aku mengerti, tapi bagaimana dengan bangsa penyihir seperti Yuna?" tanyaku.
"Nanti kau akan tahu" beranjak dari kasur.
Aku tak tahu apa yang dilakukannya, tapi Yuna tak mempunyai rasa malu. Dia membuka bajunya tepat di depan wajahku, sontak aku menutup mataku. Kusuruh dia untuk melepas pakaiannya di kamar mandi, tapi dia malahan mengelus pipiku yang memerah.
"Sudah cepatlah ganti di kamar mandi!!" teriakku.
"Baiklah" kata Yuna dingin.
Brakkk.... pintu kamar mandi tertutup. Aku lega tidak terbawa nafsuku, aku baru ingat. Aku harus segera belanja karena pasokan makanan hampir habis. Aku beranjak dari kasur menuju ke jaketku yang terpajang di belakang pintu, sekalian kupakai jaketku dan segera membeli bahan makanan.
"Yuna, aku beli makanan dulu. Jika sudah mandi, pakaiannya ada di lemari" berdiri di depan pintu.
Brakkk... kuberjalan menuruni tangga, cukup sepi kos-kosan di sekitar sini. Kalau dipikir lagi, aku memilih kos disini karena harganya murah dan cukup luas dan bagus ruangannya. Kalau kata orang yang pernah menginap setiap malam mereka diganggu bayangan hitam setiap malam, banyak juga yang tidak betah dan pindah ke kos sebelah. Ya, aku tidak bisa menyangkal hal begituan juga, sejak kecil aku selalu diajak Kakekku pergi berburu hewan dihutan setiap malam, tak jarang juga ada mereka yang menggangguku.
"(Hah, kenapa juga aku mengungkit masa lalu. Ehh, bukankah itu Tee-chan). Hoi, Tee-chan" melambaikan tangan.
Perempuan di kejauhan itu berbalik badan melihatku, dia berlari menujuku dengan ekspresi senang. Aku senang bertemu kawan lamaku dari desa, sambil berjalan kami berbagi cerita.
"Oh, Tee-chan kenapa disini?" tanyaku.
__ADS_1
"Ohh, itu. Keinginanku sih, mau lanjut belajar di kota, didesa tidak ada sekolah tinggi sih" jawab Tee-chan.
"Gitu, ngomong-ngomong Tee-chan mau kemana?" tanyaku lagi.
"Ke Mall bersama teman, lahh, kamu mau ke mana?" melihat wajahku.
"Belanja kebutuhan sehari-hari" jawabku.
"Eh, kamu sekarang kuliah dimana?"
"Di Unuversitas Bawang. Ya, kebutuhan sehari-hari, kebutuhan kuliah, dan masalah ekonomi. Terpaksa deh, kerja part time" pasrahku.
"Ohh, eh. Jika mau bekerja disini mau? Eh, sudah ditunggu teman, aku duluan yah" memberi kartu.
"Dadah Tee-chan" melambaikan tangan.
Kulihat kartu yang diberikan Tee-chan, tertulis nama Tee-chan dan nomornya. Kusimpan kartu itu mungkin berguna suatu saat. Kulihat jamku lagi, sudah jam 10:05, sudah sangat terlambat. Segera aku membeli barang-barang yang dibutuhkan. Nafasku terengah-engah setelah sampai di depan pagar, kuberdiri sebentar sambil mengatur nafas. Dirasa tidak terlalu lelah, kuberjalan menuju kamarku. Jaraknya tidak jauh juga, kenapa lari? pikirku.
"Yuna, aku kembali" membuka pintu.
Kututup pintu, perasaanku aneh, Yuna tak segera menjawabku. Kupikir dia sedang keluar dan sebentar lagi kembali jadi kumasukkan bahan-bahan makanan ke kulkas terlebih dahulu. Sudah terlambat saat aku sadar, dimeja belajar secarik kertas bernodakan darah. Bertuliskan.
__ADS_1
"Jika mau dia kembali. Temui dia di pabrik tertinggal dekat terminal R".
"Dasar ****, main-main denganku ya. Jangan pikir bisa lari" tersenyum sadis.