
Laura menggeleng. ''Tidak apa-2, Erika. Kau tdk perlu membayar, anggap saja sebagai hadiah karena kau pelanggan pertama yg mengujungi kios kami.”
''Terima kasih,'' kata Erika tersenyum palsu. (''kau pasti berlagak di depan Niko. Ingin terlihat baik di matanya. Tapi aku tahu kau pasti sengaja merencanakan ini semua'')
Jam-2 pertama, Laura sampai kewalahan melayani konsumen yg datang membeli di kiosnya. Untung ada Niko yg membantunya melewati saat-2 sibuk tersebut.
''Kalau penjualannya seperti ini terus sampai sore, kelas kita bisa juara nih,'' kata Niko optimis di sela-2 waktu melayani konsumen.
Laura tersenyum. ''Semoga saja begitu.''
Saat jam istirahat siang, Laura & Niko bergantian menjaga kios dgn teman sekelas mereka yg lain. Kini, setelah bisa beristirahat, Laura menuju aula. Foto-2 pemandangan memenuhi dinding aula. Tapi di ujung foto-2 tersebut terdapat sepuluh gambar.
__ADS_1
Laura mendekati gambar-2 itu. Ia mengenali gambar cincin bintang yg pernah ia berikan pd Niko dulu. Sembilan gambar lain tdk kalah menariknya. Semua berisi rancangan perhiasan, mulai dr gelang, cincin, kalung, sampai anting-2.
''Jadi, bagaimana menurutmu?'' tanya suara di belakangnya.
Laura mengenali suara Niko. ''Membuatku ingin mengenakan semua yg ada digambarmu. Kau sangat berbakat. Kau bisa menjadi perancang perhiasan yg hebat.''
''Orangtuaku tdk akan menyetujuinya,'' kata Niko sedih. ''Mereka sudah mempersiapkan aku utk menjadi dokter, sama seperti mereka.''
Niko tersenyum sedih, ''puluhan kali. Tapi mereka tdk mau mendengarnya. Mereka hanya menganggap gambarku sebagai hobi.''
Laura memandang gambar Niko lagi. ''Aku pikir setiap orang bisa melakukan apapun yg diinginkan utk masa depan mereka.''
__ADS_1
''Aku harap bisa semudah itu,'' Niko memandang satu gambarnya dan mengelusnya perlahan. ''Bagaimanapun, mereka tetap orangtuaku.''
Mendengar itu Laura merasa beruntung. Mama tdk pernah memaksa utk memilih jalan hidupnya. (''kerjakan apa yg kau mau, Laura,'') kata mama dua tahun yg lalu ketika Laura dgn nekat mencoba masuk IPA. (''Pilih yg benar-2 kau inginkan dan jalani sungguh-2, karena dgn begitu, kau telah belajar menjadi dewasa.'')
Laura memandang Niko lagi, tatapan Niko masih terpaku pd gambarnya. Ia berharap orangtua Niko bisa berubah pikiran dan menyadari apa yg sebenarnya diinginkan anak mereka. Di sebelah Laura, Walaupun Niko merasa sedih, beban di hatinya seakan terangkat. Sangat lega rasanya menceritakan hal ini kepada orang lain. Selama ini orang tuanya selalu membuatnya menyadari betapa pentingnya menjadi dokter. Sedangkan Erika, ia senang mempunyai pacar calon dokter. Niko tdk bisa membicarakan tentang hasratnya menjadi seseorang yg berbeda, seorang perancang perhiasan.
Entah berapa lama Niko & Laura terdiam di aula sekolah, tp momen keduanya berakhir saat beberapa orang mendekati mereka.
''Niko,'' kata salah seorang dr mereka, ''disini kau rupanya.''
Laura menoleh ke arah datangnya suara. Ada 4 orang di depannya. Satu di antaranya Erika, dan tiga lainya orang dewasa. Pandangan seorang pria setengah baya langsung menuju gambar di belakang Niko. Sesaat kemudian tatapannya berubah marah, tapi dia berusaha menahannya.
__ADS_1
''Niko, kenalkan,'' kata pria itu kemudian sambil menahan emosinya, ''ini dekan fakultas kedoteran universitas yg akan kau masuki nanti. Dokter Eko wijaya.''