1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 38


__ADS_3

Dragon memperhatikan apartemen Luki Rafael dengan tajam. Sedah satu minggu dia mengawasi Luki keluar masuk apartemennya. Setelah menyuruh anak buahnya membuntuti orang yang menabrak mobilnya, keesokannya dia tahu segalanya tentang orang tersebut. Namanya Luki Rafael. Putra konglomerat Charles Rafael, pemilik Rafael Group. Hal itu tidak membuat Dragon takut. Hidupnya sudah keras sedari kecil. Hanya yang kuat yang bisa bertahan.


Tidak ada yang tahu siapa nama asli Dragon. Dia sudah dibuang sejak kecil, tanpa tahu siapa orangtuanya. Dia tumbuh menjadi pribadi yang keras dan kejam. Karena kekejamannya, dia berhasil menjadi ketua preman di tempatnya. Dia sangat menyukai gambar naga dan menato suluruh bagian tubuhnya dengan gambar tersebut. Saat itulah nama Dragon lahir. Hanya menyebut namanya saja, orang-orang di daerahnya sudah ketakutan. Tidak ada yang berani padanya. Sampai minggu kemarin, ketika dia dicundangi oleh seorang pria kaya yang menabraknya.


Seorang gadis keluar dari apartemen Luki. Dragon mengenal gadis itu. Setiap hari gadis itu menemui Luki Rafael di apartemennya. Dragon berasumsi gadis itu pacar Luki. Dragon melihat jalanan yang sepi. Kesempatan yang bagus. Sebentar lagi gadis tersebut akan menyeberang jalan. Dragon menyalakan mobilnya dan mulai menginjak pedal gas kuat-kuat.


Luki melempar kotak pemberian Laura tanpa antusiasme. Di dalamnya terdapat tumpukan kartu. Dia mengambil salah satu kartu tersebut dengan asal-asalan. Sebenarnya dia tidak ingin melihatnya, tapi air mata Laura sedikit membuatnya tergerak. Laura memiliki warna mata yang sama dengan papa. Tatapannya tadi seakan mengingatkan Luki pada tatapan papa yanh sedih. Jadi Luki memutuskan untuk melihat salah satu kartu tersebut.


Kartu bergambar kue ulang tahun. Luki membuka kartu tersebut. Elamat ulang tahun yang ketujuh. Luki, maaf tante tidak bisa bersamamu. Tante berharap kau baik-baik saja. Tahun ini seharusnya gigimu mulai tanggal, bukan? Kunjungan ke dokter gigi pasti sangat mengErikan. Pasti, sakit sakit sekali ketika gigi pertamamu dicabut. Tante berharap tangan tante bisa memberimu kekuatan untuk menghadapinya. Tante merindukanmu, Luki.


Luki tertegun. Ibu tirinya menulis kartu tersebut untuk dirinya 25 tahun yang lalu. Kartu tersebut sudah sedikit menguning. Penasaran, Luki membuka salah satu kartu yang lain.


#Selamat ulang tahun yang ketujuh belas, Luki. Sekarang kau sudah dewasa. Tinggimu pasti sudah melebihi tante.


Apakah ada gadis yang kau sukai? Tante harap gadis itu menyukaimu juga.


Papamu pasti membelikanmu mobil. Hati-hati menyetir jangan ngebut. Tante berharap, tante bisa menemanimu kursus menyetir mobil.


Luki membuka satu kartu ucapan lagi. Kali ini yang terbaru.


#Selamat ulang tahun yang ke 31, Luki.


Mungkin kau sudah punya istri dan anak sekarang. Tante berharap kau selalu menyayangi mereka. Keluarga merupakan hal terpenting di dunia.

__ADS_1


Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, luangkanlah waktu dengan keluarga. Kau tidak akan mau melewatkan kesempatan bersama dengan putra/putrimu.


Tante berharap bisa melihat wajah mereka saat ini. Tante akan memanjakan mereka dan tidak keberatan kalau kau menitipkan mereka pada tante.


Jantung Luki berdetak kencang. Dia telah salah mengira. Ibu tirinya benar-benar menyayanginya.


Di depan apartemen, Laura memperhatikan lampu lalu lintas di atas kepalanya. Ketika lampu bergambar orang menyeberang berubah menjadi hijau, Laura melangkah maju. Terdengar suara mobil dari sebelah kanan Laura. Lampu mobil tersebut menyorot wajah Laura, sesaat membutakannya. Lalu Laura merasa tubuhnya melayang kemudian jatuh terempas. Kaki kanannya terasa sakit sekali.


Sebelum menutup mata, Laura melihat pengemudi mobil yang menabraknya tersenyum puas. Mobil tersebut melaju meninggalkan Laura yang tergeletak sendirian.


Mata Laura berkedip perlahan. Hal terakhir yang dilihatnya adalah kerlipan bintang-bintang di langit malam, lalu segalanya menjadi gelap.


Dragon sangat puas. Dengan tenang diambilnya jas hitam dari belakang mobilnya, lalu dengan sengaja mengubah penampilannya. Dia mengenakan kacamata. Dengan berpura-pura hendak mengunjungi seseorang. Dragon memasuki kompleks apartemen Rafael. Dia memarkir mobilnya di sebelah mobil Luki lalu menulis sesuatu di selembar kertas besar dan menyelipkannya di depan kaca mobil Luki.


Dragon tersenyum lebar. Tugasnya sudah selesai. Luki Rafael akan berpikir dua kali untuk meremehkannya lagi.


“Korban tabrak lari. Wanita. Umur sekitar dua puluhan. Kaki kanan terluka parah.” Laura mendengar suara seorang wanita disampingnya. Pandangan Laura beralih pada suara tersebut. Wanita di sampingnya memakai jas putih. Melihat mata Laura yang terbuka, wanita tersebut mendekat.


“Kau ingat namamu?” Tanyanya dengan sabar.


“.....Lau...ra...” Laura berusaha berbicara dengan keras, tetapi kerongkongannya seakan tercekik.


Wanita tersebut mengangguk. “Oke, Laura. Kau baru saja mengalami kecelakaan. Kau akan baik-baik saja. Kau dengar?”

__ADS_1


Suara wanita tersebut makin lama makin perlahan. Laura berkata dengan lemah. “Ma...ma...” setelah itu Laura pingsan.


Tak berapa lama setelah itu, dokter wanita yang berada disamping Laura memeriksanya, lalu mulai memberi perintah pada salah satu suster. “Cedera kakinya terlalu parah. Panggil dokter Riswan sekarang juga. “Suster yang diperintahkan langsung keluar dari ruang periksa untuk menelepon dokter Riswan.


Sang dokter wanita kemudian keluar ruangan, ada seorang pria tua disana. “Pak, anda kenal dengan pasien?”


Sang pria tua menggeleng. “Saya tidak kenal, dokter. Saya melihatnya tergeletak di jalan raya. Jadi saya memanggil ambulans. Ini tas wanita tadi. Maaf, dok. Saya masih ada keperluan. Saya harus pergi.”


Sang dokter menyuruh suster jaga untuk meminta informasi dari bapak tersebut, lalu membuka tas sang pasien, mengeluarkan Hp yang ada di dalamnya dan melihat daftar nama kontak yang terakhir meneleponnya. Saat menemukan nama *mama* di daftar tersebut, sang dokter langsung meneleponnya.


“Halo, Laura. Ada apa?” Sapa suara seorang wanita.


“Maaf, bu. Saya dokter sandra. Saya dokter jaga dirumah sakit pusat. Putri anda baru saja mengalami kecelakaan. Sebaiknya anda datang ke rumah sakit.”


Terdengar teriakan histeris di ujung telepon. “Bagaimana keadaannya, dok? Apakah Laura, tidak apa-apa?”


“Saya belum tahu pasti. Untuk sementara ini putri anda masih dirawat.” Dokter Sandra menarik napas perlahan. Memberitahukan kabar buruk kepada pihak keluarga bukanlah salah satu kegiatan yang disukainya. “Anda perlu datang secepat mungkin kerumah sakit pusat.”


“Saya akan segera datang. Dokter....tolong... selamatkan putri saya,” pinta suara dari seberang telepon.


“Saya akan berusaha, bu.” Dokter Sandra menutup telepon, kemudian memerintah suster lain. “Tolong beritahu saya jika kerabat Laura, korban tabrak lari kita, datang kerumah sakit. Dan tolong nanti bErikan tas pasien pada mereka.”


“Baik, dokter,” kata sang suster sambil mengambil tas Laura dari tangan dokter Sandra.

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2