
Niko menggeleng. “Bukan itu saja alasanku ingin berbicara denganmu. Aku juga ingin minta maaf karena tidak memercayai perkataanmu. Erika mengatakan yang sebenarnya di hari wisuda.”
Laura menatap Niko lurus-lurus. “Semua itu sudah menjadi bagian masa lalu, Niko. Aku menerima permintaan maafmu. Apakah ada yang lain lagi?”
“Kenapa kau berpura-pura tidak mengenalku?” Tanya Niko langsung.
Laura memutuskan untuk tidak menjawabnya. “Bagaimana kabar Erika?”
Niko tersenyum. “Dia baik-baik saja. Sedang berbulan madu dengan suaminya ke Eropa.” “Erika sudah menikah?” Tanya Laura sedikit terkejut.
“Ya,” kata Niko. “Dia seorang dokter sekarang. Suaminya juga dokter. Sekarang aku menyadari bahwa aku tidak pernah mencintai Erika. Dan saat reuni, Erika berkata dia juga menyadari hal yang sama.”
Berita yang disampaikan Niko membuat Laura terkejut.
“Di hari wisuda,aku mencarimu ke mana-mana, tapi kau sudah pergi. Aku mencoba menyusulmu ke bandara tapi tidak bisa menemukanmu. Aku menelepon HP mu, tapi tidak aktif. Hari itu aku menyadari bahwa aku menyukaimu, Laura. Sampai sekarang pun aku masih menyukaimu.”
Napas Laura terhenti. Kedua tangannya gemetar di bawah meja. Tangan kanannya menyentuh kaki kanan tempat lukanya berada. Delapan tahun yang lalu, betapa ingin Laura mendengar Niko berkata bahwa dia menyukainya. Kini, delapan tahun kemudian, Laura mendengarnya. Hanya saja sekarang sudah terlambat.
“Maaf. Aku rasa kau lebih baik pulang sekarang,” kata Laura. Benaknya dengan cepat memikirkan solusi agar Niko tidak menemuinya lagi. Akhirnya Laura berbohong. “Aku sudah punya seseorang yang kusukai.” Laura berharap Niko memercayainya.
Jawaban Niko mengejutkan. “Aku tahu,” katanya perlahan. “Luki rafael. Tapi aku tidak akan menyerah, Laura.”
Laura diam sejenak. Niko berasumsi Luki adalah pacarnya.
Tiba-tiba Niko mengeluarkan sebuah kotak cincin dan membukanya. Dia menyodorkan cincin bintang yang dibuatnya ke hadapan Laura.
“Aku membuatnya enam tahun yang lalu. Aku membuatnya untukmu.” Niko menatap mata Laura sunguh-sungguh.
Rasa sakit tak terpErikan merasuki hati Laura. Ia melihat cincin bintang di hadapannya,lalu menatap Niko. Niko memandang Laura penuh harap. Dan Laura harus mematikan harapan tersebut. Niko berhak mendapatkan seorang wanita yang lebih baik darinya. Walaupun hatinya sakit, Laura menatap Niko dengan berani.
__ADS_1
“Niko....,” katanya perlahan, “apakah kau ingat perkataan pertama yang kauucapkan padaku saat kita sekolah dulu?”
“Tentu saja.” Niko balas menatap Laura. “Bagaimana mungkin aku melupakannya? Saat itu kau mengembalikan gambar cincin bintang buatanku dan aku bilang ‘terima kasih’.”
Laura menggeleng. “Kita bertemu satu tahun setengah sebelum itu. Kau menabrakku di taman sekolah dan kau bilang ‘ini bukumu’.” Laura menyodorkan kembali kotak cincin bintang ke hadapan Niko. “Aku tidak bisa menerima cincinmu, Niko.”
Niko menatap Laura dengan bingung. Dia tidak bisa mengingat kejadian yang Laura utarakan. Tapi dia tahu Laura mengatakan yang sebenarnya. “Kau tidak adil, Laura,” protes Niko. “Aku belum mengenalmu saat itu.”
Laura berdiri dari kursinya. “Kau tidak pernah mengenalku,Niko.”
Niko mengambil kotak cincin di depannya dan memasukkannya kembali ke saku bajunya. “Baiklah, kali ini aku mengalah. Aku akan pergi. Tapi aku akan kembali lagi. Walaupun aku tidak bisa mengingat pertemuan pertama kita, aku tahu kau menyukaiku. Kau menuliskannya di buku tahunan sekolahku.” Laura terperangah.
Melihat reaksi Laura, Niko tersenyum. “Apakah menurutmu selamanya aku tidak akan tahu perasaanmu?”
“Aku memang menyukaimu, tapi dulu,” ujar Laura perlahan. “Sekarang pergilah.”
“Kau bilang kau memaafkanku.” Niko memandang Laura dengan sedih. “Setidaknya, biarkan aku menjadi temanmu.”
“Baiklah.” Niko berbalik pergi. Suara denting lonceng terdengar, lalu di ikuti oleh bunyi pintu tertutup.
Laura jatuh terduduk. Maya menghampirinya dan menyentuh pundaknya.
“Kau mengenalnya,bukan?” Tanya Maya. “Pria yang selalu meneleponmu belakangan ini?” Laura mengangguk. “Dia bagian dari masa lalu yang ingin ku lupakan.”
“Kenapa kau tidak memulai hubungan baru dengannya?” Saran Maya. “Kelihatannya dia benarbenar menyukaimu.”
Laura menatap Maya dengan sedih. “Bagaimana mungkin aku memulai hubungan dengannya, kalau setiap aku melihatnya aku merasakan kesedihan yang mendalam? Lagi pula, dia berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.”
“Kau tidak menyukainya?” Maya meraih tangan Laura.
__ADS_1
“Bagaimana perasaanku padanya tidaklah penting,” Laura mengelak. “Aku hanya tahu bahwa dia tidak akan bahagia bersamaku. Kaki berpisah tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Kami tidak pernah mendapatkan sebuah penyelesaian. Sekarang dia sudah mendapatkannya.”
“Aku akan ada di sampingmu selalu kalau kau membutuhkanku.” Maya menggenggam tangan
Laura. “Kau bisa menangis,kalau kau mau.”
“Tidak.” Laura menggeleng, lalu berdiri. “Aku sudah menangisi dirinya delapan tahun yang lalu. Hubunganku dengannya sudah berakhir saat itu.”
Beberapa jam kemudian, Laura sudah berada di kamar tidurnya.Ia tidak bisa tidur. Sejak kecelakaan yang menimpanya dua tahun lalu, dan pertama kali ia melihat luka di kakinya, sesuatu dalam diri Laura ikut mati hari itu. Mungkin kemampuannya untuk mencintai seorang pria.
Laura berusaha memejamkan mata. Tapi kenangan-kenangan bersama Niko malah bermunculan. Ia bangun dan berusaha menyibukkan diri memasak resep baru di dapurnya. Setelah kelelahan memasak selama dua jam,hati Laura masih juga belum tenang. Kaki kanannya terasa sedikit lelah. Ia duduk dan akhirnya tertidur di kursi ruang tamu. Pikiran terakhirnya sebelum tidur adalah seorang pria dengan sepasang mata cokelat yang indah.
“Dia datang lagi.” Maya masuk ke dapur dan berbisik pada Laura.
Laura menghela napas panjang. Sudah seminggu berturut-turut Niko datang ke restorannya. Kali ini sebagai salah satu pelanggan restoran, dan memesan menu yang lain dari waktu-ke waktu. Laura tidak ingin menemuinya, jadi dia sama sekali tidak keluar dari dapur restoran. Bahkan sampai Niko menjadi pengunjung terakhir pun Laura tidak keluar menemuinya.
Seharusnya Niko mengerti maksud Laura dan tidak menganggunya lagi. Tapi Niko seakan tidak peduli dengan usaha Laura menghindar darinya. Para pelayan mulai menggosipkan hubungan Niko dan Laura tanpa sepengetahuan Laura.
“Apakah mbak tidak bisa mengusirnya saja?” tanya Laura pada Maya pasrah.
“Aku tidak bisa mengusir pelanggan, kan?”
“Aku tahu,” kata Laura cepat. “Aku hanya asal bicara. Dia benar-benar keras kepala.”
“Aku mengagumi kegigihannya,” kata Maya. “Dia sangat tampan juga. Kau yakin kau tidak mau memilikinya?” Maya tersenyum pada Laura.
“Aku yakin. Sudah berakhir di antara aku dan dia.” Mungkin Laura bisa mengajukan cuti beberapa hari ke depan. Menghabiskan waktunya bersama mama dan papa, jauh dari Niko. Kalau perlu,ia bisa berlibur lebih lama dan pergi ke kota lain, atau ke luar negeri, untuk menghindari Niko. Ia tidak tahu bagaimana lagi menghadapi Niko yang terus mengejarnya.
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123