1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 41


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Luki bergegas mandi. Kelelahan selama satu minggu akhirnya memaksa tubuhnya untuk beristirahat. Lima jam kemudian, Luki bangun dengan tubuh segar. Ada satu panggilan tak terjawab di HP nya. Dari inspektur Rahmat, petugas polisi yang menangani kasus kecelakaan Laura. Luki menelepon balik. Ternyata ada kabar baik. Keberadaan Dragon sudah terlacak. Polisi sudah menemukan tempat tinggal Dragon.


Sebelum sambungan telepon berakhir, Luki meminta sesuatu hal pada pak Rahmat. Dan setelah berbicara panjang lebar, akhirnya pak Rahmat menyetujui keinginan Luki.


Dragon membuka pintu rumahnya pelan-pelan. Dia baru saja pulang dari pertemuan geng premannya. Minggu depan dia berencana mencuri mobil mewah di kawasan elite.


Ruang depan di rumahnya gelap. Dragon menyalakan lampu. Dan betapa kagetnya ia melihat Luki Rafael duduk dikursinya.


“Halo, Dragon. Kita bertemu lagi.”


Mata Dragon mulai mengawasi sekelilingnya. “Bagaimana kau bisa ada disini?”


Luki berdiri. “Itu tidak penting. Kau telah sengaja menabrak adikku dan membiarkannya terkapar tak berdaya di jalan.”


Dragon melipat kedua tangannya di dada. “Aku tidak tahu apa maksudmu.”


Luki memperlihatkan salinan surat ancaman Dragon. “Kau menulis ini. Yang kau tabrak bukan pacarku. Tapi adikku. Seorang gadis yang sangat istimewa.”


“Semua orang bisa menulis surat ancaman,” Dragon berkelit. “Kau pasti punya banyak musuh.


Bisa saja orang itu menulisnya dengan memakai namaku.”


Luki berusaha menahan amarahnya dengan mengepalkan tangan. “Ketika kau menbrak adikku, dia sempat melihatmu. Saat aku memberi fotomu, dia mengenalimu sebagai orang yang menabraknya. Kau akan berada di penjara untuk waktu yang sangat lama.”


Dragon tersenyum lebar. “Kalaupun aku menabrak adikmu,seperti yang kau tuduhkan, kau tidak punya bukti. Adikmu bisa saja mengenaliku,tapi kalau memang dia terkapar dijalan seperti katamu, bukankah kondisi tubuhnya pasti lemah? Mana mungkin dia bisa melihat secara jelas siapa yang menabraknya? Walaupun kau punya seribu pengacara, argumenmu tidak akan bertahan di pengadilan.”

__ADS_1


Luki memandang wajah Dragon dengan tatapan mematikan. “Aku tahu. Selama melakukan aksimu kau tidak pernah meninggalkan jejak. Sampai sekarang.”


“Apa maksudmu?” Tanya Dragon lantang.


“Kau membuat satu kesalahan,” Luki balas menantang Dragon.


“Kesalahan apa?” Dragon mengerutkan kening, tangannya bergerak tidak mau diam.


“Kau menabrak adikku di depan gedung apartemen Rafael. Apartemenku.” Luki manatap Dragon sambil berjalan mendekatinya. “Ada banyak kamera pengawas di apartemenku. Ada beberapa kamera yang merekam kejadian saat kau menabrak adikku. Mukamu terpampang jelas disana. Kalau itu belum cukup, kau melakukan kesalahan lagi. Kau membuat surat ancaman dan menaruhnya di mobilku di dalam gedung parkir. Ada kamera pengawas juga disana. Kau boleh menutupi tubuhmu dengan jas hitam dan kacamata, tapi itu tetap dirimu. Semuanya sudah berakhir. Kau akan mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama. Aku akan memastikan hal itu sendiri.”


Muka Dragon menjadi pucat. Dia mencoba berlari keluar pintu masuk rumahnya. Tetapi beberapa petugas polisi sudah mengacungkan senjata dan menyuruh Dragon diam di tempat.


Luki mendekati Dragon lagi. “Aku benar-benar ingin menghajarmu sampai kau tidak bisa bangkit berdiri lagi. Kau harus berterima kasih pada adikku. Dia membuatku menyadari, kalau aku melakukannya, maka aku sama rendahnya denganmu.”


Dragon beringsut menjauh dari tatapan Luki. Tatapan Luki terlihat sangat mengErikan di matanya. Tak lama kemudian mobil tersebut pergi. Membawa Dragon kekantor polisi.


“Terima kasih atas bantuan bapak.” Luki berjalan ke arah inspektur Rahmat.


“Ini sudah menjadi tugas saya,” kata inspektur Rahmat. “Lagi pula, saya juga harus berterima kasih pada anda. Akhirnya penjahat kelas kakap seperti Dragon bisa tertangkap. Saya yakin, dengan bukti yang kuat, Dragon akan mendekam di penjara cukup lama.”


Luki mengangguk perlahan.


“Jangan sungkan menelepon saya kalau anda butuh bantuan,” kata inspektur Rahmat. Selama beberapa hari ini Luki sudah mengumpulkan barang bukti untuk membantu polisi menyelidiki kecelakaan Laura. Inspektur Rahmat belum pernah melihat orang segigih Luki untuk mendapatkan keadilan. Diam-diam dia menghormatinya.


“Tentu.” Luki mengangguk lagi, lalu menjabat tangan inspektur Rahmat, pria yang patut dihormatinya.

__ADS_1


“Tinggal satu langkah lagi. Ayolah,Laura! Kau bisa melakukannya!” Luki memberi semangat.


Laura mengangakat tangannya dan menyuruh Luki menurunkan suaranya. “Jangan kencangkencang. Malu dong dilihat orang-orang. Pergi sana. Kau malah mengganggu terapiku.”


Luki menggeleng. “Aku sudah berjanji akan mengikuti terapimu sampai kau sembuh dan bisa berjalan normal lagi.”


Laura memandangi wajah Luki. Ia tahu Luki masih merasa bersalah atas dirinya. Selama tiga bulan Laura tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali. Lalu setelah tiga bulan, dokter Riswan memberi sinyal positif atas pemeriksaan kaki Laura,dan menyarankan Laura untuk menjalani terapi fisik.


Laura berpegangan pada dua tiang dan mencoba berjalan satu langkah lagi. Dalam waktu satu bulan berikutnya, Laura sudah mengalami kemajuan. Ia bertekad untuk sembuh. Luki selalu menemaninya setiap terapi. Mama sudah pindah dan tinggal kerumah papa. Selama masa penyembuhan,Laura juga pindah kerumah orangtuanya, tapi ia bersikeras kembali kerumah lamanya setelah sembuh. Ia tidak ingin berada terlalu jauh dari tempat kerjanya.


Selama berada dirumah sakit, Antonio, Maya, dan semua karyawan restoran bergantian menengoknya tiada henti. Antonio berharap Laura cepat sembuh dan bisa kembali ke dapurnya lagi. Antonio untuk sementara menjabat kembali menjadi chef kepala dibantu oleh Robi, koki senior yang sudah bekerja lebih dulu dari Laura. Untuk mengisi kekosongan waktunya selama masa tidak kerjanya, Laura sering menulis resep-resep baru untuk restoran Antonio,dan meminta Antonio untuk mempraktikkannya.


Setelah selesai terapi, Laura membujuk Luki untuk mengantarnya ke restoran. Sudah lama ia tidak berkunjung ke sana. Luki mengalah dengan syarat Laura tidak boleh bekerja sama sekali. Hanya boleh melihat dan bertemu teman-temannya.


“Laura!” Seru maya terkejut melihat kedatangan Laura. “Aku akan bilang Antonio kau ada disini.


Para pelayan lain mengerubungi Laura dan menanyakan kabarnya. Mereka menempatkan Laura dan Luki di tempat duduk dekat dapur. Antonio keluar dari dapur sambil tersenyum. “Bagaimana kabar chef favoritku?”


Laura tertawa lebar dan memeluk Antonio. “Aku baru saja selesai terapi. Kau tidak akan menjadi chef kepala terlalu lama. Aku akan kembali dalam waktu dekat.”


“Bagus.” Antonio ikut senang dengan ke optimisan Laura. “Tapi, kau tidak boleh bekerja terlalu lama. Lima masakan perhari saja. Tidak lebih.”


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2