1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 25


__ADS_3

 


Maya memastikan segala sesuatunya sudah sempurna. Meja untuk dua orang. Cahaya lilin di sekeliling meja. Sekuntum mawar merah di tengah meja. Hari ini restorannya mendapat pesanan pribadi. Ada seseorang yang menyewa seluruh restoran untuk jam makan malam. Maya sudah sering melakukan hal yang serupa. Beberapa kali restorannya di sewa untuk acara pribadi ataupun untuk acara lamaran.


Karena sang penyewa memesan untuk dua orang, Maya menyimpulkan malam ini akan ada acara lamaran. Matanya menerawang.


"Apa yang mbak pikirkan?" Tanya Laura ketika memasuki restoran dan mendapati Maya sedang tersenyum sendiri.


"Aku memikirkan setiap lamaran pernikahan yang terjadi di restoran ini. Sangat romantis rasanya jika seorang pria menyewa seluruh restoran dan meminta seorang wanita menikahinya. Seandainya saja suamiku orang yang romantis." Maya mendesah.


Laura tersenyum. Ia sudah sering di undang makan malam bersama Maya dan keluarganya. Roni,suami Maya,seorang pialang saham. Walaupun sudah menikah lama, mereka belum dikaruniai keturunan. Itulah sebabnya Maya sudah menganggap Laura sebagai putrinya. Setelah beberapa kali bertemu dengan Roni, Laura tahu pria itu bukan pria romantis. Tetapi tatapan mereka,cara mereka menyentuh tangan satu sama lain, Laura melihat cinta yang besar di sana.


"Suami mbak memang bukan orang yang romantis," komentar Laura. "Tapi dia benar-benar mencintai mbak. Kalau mbak mau,aku bisa memasak untuk mbak dan mas Roni besok malam. Mbak tidak perlu menyewa restoran. Kapanpun mbak mau,restoran ini akan selalu tersedia untuk mbak."


Maya tersenyum. "Thanks, Laura. Kau tidak perlu melakaukannya. Tapi usulmu boleh juga.


Kapan-kapan aku akan berbicara pada Roni."


"Dan aku selalu siap memasak untuk kalian berdua." Laura melihat muka seniornya tersenyum cerah.


"Apakah menurutmu pengaturannya sudah sempurna?" Tanya Maya.


Laura melihat hasil kerja Maya. "Ya. Sangat sempurna. Aku yakin sang wanita pasti tidak akan bisa menolak lamaran sang pria. Aku harus ke dapur untuk mempersiapkan bahan makanan."


Sejam berikutnya, Lauta sudah siap menerima pesanan. Maya masuk dengan wajah murung. "Ada apa?" Tanya Laura bingung.


"Aku rasa sang pria sudah tercampakkan. Sang wanita tidak datang ke restoran." Maya mendesah. "Dasar pria malang."


Laura ikut sedih. "Oh. Menyedihkan sekali."


Maya mengangguk setuju. "Tapi dia tetap memesan makanan."


"Aku akan memasak seenak mungkin. Semoga saja masakanku bisa menghiburnya. Apa pesanannya?" Tanya Laura.


"Chicken spaghetti."


"Cuma itu?" Tanya Laura bingung.


"Iya. Aku juga sudah menyarankan menu lain,tapi pria itu cuma ingin chicken spaghetti."


"Tidak apa-apa. Aku akan tetap memasak chicken spaghetti yang enak." Setengah jam kemudian Maya kembali ke dapur.


"Apakah ada masalah dengan spaghetinya?" Tanya Laura.


"Pria itu ingin menemui orang yang memasak makanannya."


Laura melepaskan celemeknya dan melangkah keluar dapur. "Oke. Aku akan menemuinya."


Laura mendorong pintu dapur. Langkahnya berhenti saat melihat pria yang duduk di meja tengah. Pria itu berdiri lalu berjalan ke kursi di seberangnya. Dia menggeser kursi tersebut. "Silahkan duduk,Laura," ujarnya.


Laura memandang sepasang mata cokelat yang memintanya untuk duduk. Niko. Dia yang telah menyewa restoran Antonio. Laura menarik napas panjang. Cepat atau lambat ia harus menghadapi Niko. Laura melangkah maju dan duduk di kursi.


Niko duduk di hadapannya.


"Rasa chicken spaghetti mu semakin lezat," komentar Niko.


"Menyewa restoran tempatku bekerja rasanya terlalu berlebihan,bukan?" Tanya Laura sedikit kesal.


Niko menghadapi Laura dengan tenang. "Aku sudah mencoba meneleponmu,tapi kau tidak pernah menerimanya. Aku tidak tahu nomor telepon pribadimu. Ini satu-satunya cara agar aku bisa bertemu denganmu tanpa gangguan." Laura terdiam.


"Jadi, kau sudah jadi seorang chef pasta sekarang." Kata Niko lagi sambil tersenyum.


"Dan kau sudah menjadi perancang perhiasan," balas Laura.


"Terima kasih,Laura. Terima kasih karena kau telah menyerahkan gambar rancangan perhiasanku pada Julien. Kau telah membantuku mengejar impianku."


"Apakah itu alasanmu ingin berbicara denganku? Kalau begitu aku menerima ucapan terima kasihmu," tegas Laura.


Niko menggeleng. "Bukan itu saja alasanku ingin berbicara denganmu. Aku juga ingin minta maaf karena tidak memercayai perkataanmu. Erika mengatakan yang sebenarnya di hari wisuda."


Laura menatap Niko lurus-lurus. "Semua itu sudah menjadi bagian masa lalu, Niko. Aku menerima permintaan maafmu. Apakah ada yang lain lagi?"


"Kenapa kau berpura-pura tidak mengenalku?" Tanya Niko langsung.

__ADS_1


Laura memutuskan untuk tidak menjawabnya. "Bagaimana kabar Erika?"


Niko tersenyum. "Dia baik-baik saja. Sedang berbulan madu dengan suaminya ke Eropa." "Erika sudah menikah?" Tanya Laura sedikit terkejut.


"Ya," kata Niko. "Dia seorang dokter sekarang. Suaminya juga dokter. Sekarang aku menyadari bahwa aku tidak pernah mencintai Erika. Dan saat reuni, Erika berkata dia juga menyadari hal yang sama."


Berita yang disampaikan Niko membuat Laura terkejut.


"Di hari wisuda,aku mencarimu ke mana-mana, tapi kau sudah pergi. Aku mencoba menyusulmu ke bandara tapi tidak bisa menemukanmu. Aku menelepon HP mu, tapi tidak aktif. Hari itu aku menyadari bahwa aku menyukaimu, Laura. Sampai sekarang pun aku masih menyukaimu."


Napas Laura terhenti. Kedua tangannya gemetar di bawah meja. Tangan kanannya menyentuh kaki kanan tempat lukanya berada. Delapan tahun yang lalu, betapa ingin Laura mendengar Niko berkata bahwa dia menyukainya. Kini, delapan tahun kemudian, Laura mendengarnya. Hanya saja sekarang sudah terlambat.


"Maaf. Aku rasa kau lebih baik pulang sekarang," kata Laura. Benaknya dengan cepat memikirkan solusi agar Niko tidak menemuinya lagi. Akhirnya Laura berbohong. "Aku sudah punya seseorang yang kusukai." Laura berharap Niko memercayainya.


Jawaban Niko mengejutkan. "Aku tahu," katanya perlahan. "Luki rafael. Tapi aku tidak akan menyerah, Laura."


Laura diam sejenak. Niko berasumsi Luki adalah pacarnya.


Tiba-tiba Niko mengeluarkan sebuah kotak cincin dan membukanya. Dia menyodorkan cincin bintang yang dibuatnya ke hadapan Laura.


"Aku membuatnya enam tahun yang lalu. Aku membuatnya untukmu." Niko menatap mata Laura sunguh-sungguh.


Rasa sakit tak terpErikan merasuki hati Laura. Ia melihat cincin bintang di hadapannya,lalu menatap Niko. Niko memandang Laura penuh harap. Dan Laura harus mematikan harapan tersebut. Niko berhak mendapatkan seorang wanita yang lebih baik darinya. Walaupun hatinya sakit, Laura menatap Niko dengan berani.


"Niko....," katanya perlahan, "apakah kau ingat perkataan pertama yang kauucapkan padaku saat kita sekolah dulu?"


"Tentu saja." Niko balas menatap Laura. "Bagaimana mungkin aku melupakannya? Saat itu kau mengembalikan gambar cincin bintang buatanku dan aku bilang 'terima kasih'."


Laura menggeleng. "Kita bertemu satu tahun setengah sebelum itu. Kau menabrakku di taman sekolah dan kau bilang 'ini bukumu'." Laura menyodorkan kembali kotak cincin bintang ke hadapan Niko. "Aku tidak bisa menerima cincinmu, Niko."


Niko menatap Laura dengan bingung. Dia tidak bisa mengingat kejadian yang Laura utarakan. Tapi dia tahu Laura mengatakan yang sebenarnya. "Kau tidak adil, Laura," protes Niko. "Aku belum mengenalmu saat itu."


Laura berdiri dari kursinya. "Kau tidak pernah mengenalku,Niko."


Niko mengambil kotak cincin di depannya dan memasukkannya kembali ke saku bajunya. "Baiklah, kali ini aku mengalah. Aku akan pergi. Tapi aku akan kembali lagi. Walaupun aku tidak bisa mengingat pertemuan pertama kita, aku tahu kau menyukaiku. Kau menuliskannya di buku tahunan sekolahku." Laura terperangah.


Melihat reaksi Laura, Niko tersenyum. "Apakah menurutmu selamanya aku tidak akan tahu perasaanmu?"


"Kau bilang kau memaafkanku." Niko memandang Laura dengan sedih. "Setidaknya, biarkan aku menjadi temanmu."


Laura menggeleng perlahan. "Kita tidak akan menjadi teman, Niko. Maaf. Ku mohon, pergilah." *("aku harus kejam.")* kata Laura dalam hati. *("aku tidak punya pilihan lain ")*.


"Baiklah." Niko berbalik pergi. Suara denting lonceng terdengar, lalu di ikuti oleh bunyi pintu tertutup.


Laura jatuh terduduk. Maya menghampirinya dan menyentuh pundaknya.


"Kau mengenalnya,bukan?" Tanya Maya. "Pria yang selalu meneleponmu belakangan ini?" Laura mengangguk. "Dia bagian dari masa lalu yang ingin ku lupakan."


"Kenapa kau tidak memulai hubungan baru dengannya?" Saran Maya. "Kelihatannya dia benarbenar menyukaimu."


Laura menatap Maya dengan sedih. "Bagaimana mungkin aku memulai hubungan dengannya, kalau setiap aku melihatnya aku merasakan kesedihan yang mendalam? Lagi pula, dia berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku."


"Kau tidak menyukainya?" Maya meraih tangan Laura.


"Bagaimana perasaanku padanya tidaklah penting," Laura mengelak. "Aku hanya tahu bahwa dia tidak akan bahagia bersamaku. Kaki berpisah tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Kami tidak pernah mendapatkan sebuah penyelesaian. Sekarang dia sudah mendapatkannya."


"Aku akan ada di sampingmu selalu kalau kau membutuhkanku." Maya menggenggam tangan


Laura. "Kau bisa menangis,kalau kau mau."


"Tidak." Laura menggeleng, lalu berdiri. "Aku sudah menangisi dirinya delapan tahun yang lalu. Hubunganku dengannya sudah berakhir saat itu."


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Beberapa jam kemudian, Laura sudah berada di kamar tidurnya.Ia tidak bisa tidur. Sejak kecelakaan yang menimpanya dua tahun lalu, dan pertama kali ia melihat luka di kakinya, sesuatu dalam diri Laura ikut mati hari itu. Mungkin kemampuannya untuk mencintai seorang pria.


Laura berusaha memejamkan mata. Tapi kenangan-kenangan bersama Niko malah bermunculan. Ia bangun dan berusaha menyibukkan diri memasak resep baru di dapurnya. Setelah kelelahan memasak selama dua jam,hati Laura masih juga belum tenang. Kaki kanannya terasa sedikit lelah. Ia duduk dan akhirnya tertidur di kursi ruang tamu. Pikiran terakhirnya sebelum tidur adalah seorang pria dengan sepasang mata cokelat yang indah.


 


*********************************

__ADS_1


"Dia datang lagi." Maya masuk ke dapur dan berbisik pada Laura.


Laura menghela napas panjang. Sudah seminggu berturut-turut Niko datang ke restorannya. Kali ini sebagai salah satu pelanggan restoran, dan memesan menu yang lain dari waktu-ke waktu. Laura tidak ingin menemuinya, jadi dia sama sekali tidak keluar dari dapur restoran. Bahkan sampai Niko menjadi pengunjung terakhir pun Laura tidak keluar menemuinya.


Seharusnya Niko mengerti maksud Laura dan tidak menganggunya lagi. Tapi Niko seakan tidak peduli dengan usaha Laura menghindar darinya. Para pelayan mulai menggosipkan hubungan Niko dan Laura tanpa sepengetahuan Laura.


"Apakah mbak tidak bisa mengusirnya saja?" tanya Laura pada Maya pasrah.


"Aku tidak bisa mengusir pelanggan, kan?"


"Aku tahu," kata Laura cepat. "Aku hanya asal bicara. Dia benar-benar keras kepala."


"Aku mengagumi kegigihannya," kata Maya. "Dia sangat tampan juga. Kau yakin kau tidak mau memilikinya?" Maya tersenyum pada Laura.


"Aku yakin. Sudah berakhir di antara aku dan dia." Mungkin Laura bisa mengajukan cuti beberapa hari ke depan. Menghabiskan waktunya bersama mama dan papa, jauh dari Niko. Kalau perlu,ia bisa berlibur lebih lama dan pergi ke kota lain, atau ke luar negeri, untuk menghindari Niko. Ia tidak tahu bagaimana lagi menghadapi Niko yang terus mengejarnya.


Laura pulang paling akhir. Ia mengunci pintu restoran dan hendak berjalan pulang ketika ia melihat Niko di depan restoran sedang berdiri bersandar di pintu mobilnya.


"Mau aku antar pulang?" tawar Niko sambil tersenyum.


"Tidak perlu," jawab Laura ketus. "Rumahku dekat."


Laura melangkah pergi melewati Niko. Dari belakangnya ia mendengar mesin mobil di nyalakan. Mobil Niko melaju berdampingan dengan langkahnya. Laura melihat ke arah Niko dengan kesal. Ketika ia berhenti melangkah, Niko juga menghentikan mobilnya. Laura tidak bisa menyembunyikan kekesalannya dan menatap Niko dengan cemberut. Niko hanya tertawa melihat tampang Laura.


Sampai di depan rumahnya, Laura mengambil kunci pintu pagar dari tasnya. Mobil di belakangnya berhenti. Suara langkah kaki mendekatinya. Kekesalan Laura sudah sampai puncaknya."Sampai kapan kau mau mengikutiku terus?"


"Sampai kau bersedia menerimaku," jawab Niko sederhana.


"Aku sudah bilang aku punya pria yang kusukai."


"Kau belum menikah dengannya. Jadi aku masih punya kesempatan." Niko tersenyum penuh rahasia. Dia mengantongi kertas bertuliskan "JANGAN MENYERAH" di saku bajunya. Setelah tahu Laura selalu membawanya selama delapan tahun ini,Niko yakin Laura masih menyukainya.


"Aku tidak bisa menerimamu, Niko. Sampai kapan pun," katanya serius. " Hubungan di antara kita sudah berakhir. Kenapa kau tidak bisa menerimanya?"


Niko hendak mengeluarkan kertas di sakunya, tapi Laura berkata lagi.


"Aku tidak mau menyakitimu, Niko. Tapi,bertemu denganmu benar-benar membuatku sedih. Tidakkah kau ingin melihatku bahagia? Aku benar-benar menyukaimu delapan tahun yang lalu. Ketika kita berpisah sebelum acara wisuda, aku benar-benar patah hati. Aku tidak bisa menjalani hal itu lagi. Aku sudah mencoba melupakanmu selama delapan tahun ini. Sekarang aku memiliki kehidupan baru, akhirnya aku mendapatkan kedamaian. Dan tiba-tiba kau muncul lagi. Aku benar-benar memohon padamu. Tolong, jangan ganggu aku lagi!"


Niko berjalan mendekat. Matanya memandang Laura lurus-lurus. "Apakah kau sakit hati sekarang? ketika melihatku?" Laura mengangguk.


"Apakah aku membuat hidupmu merana?" tanya Niko lagi.


Laura mengangguk lagi.


Hati Niko dipenuhi kepedihan. "Ada satu hal yang paling ku sesali selama delapan tahun ini. Aku tidak memercayaimu delapan tahun yang lalu. Aku berharap aku bisa memutarbalikkan waktu dan memilih untuk memercayaimu, tapi tentu saja aku tidak bisa melakukannya. Aku menghabiskan delapan tahun hidupku menyesalinya. Tapi aku juga menyadari selama delapan tahun itu bahwa aku menyukaimu. Terus-menerus tanpa henti. Walaupun kau tidak di sisiku."


Laura menahan perasaan di hatinya. "Itu semua tidak mengubah apa pun, Niko. Aku bukanlah Laura yabg kau kenal delapan tahun yang lalu. Tolong lepaskan aku. Jangan temui aku lagi."


"Apakah itu yang benar-benar kau inginkan?" tanya Niko dengan tatapan merana.


Laura menguatkan hatinya. "ya".


Niko menatap wajah Laura. Dia mengingat musim-musim yang sudah di laluinya di New York dan Paris. Melihat dedaunan berubah warna setiap tahunnya. Bayangan Laura selalu menghantuinya.


Laura memasuki pagar rumahnya. "Jadi, kau akan melepaskanku,bukan?"


Niko mendekati Laura. "Aku akan melepaskanmu pergi..." Laura merasa lega. Tapi kelegaan itu hanya sesaat.


"Hanya jika seribu musim sudah berlalu," lanjut Niko.


("Jangan lakukan ini padaku,Niko"), kata Laura dalam hati. Niko memandangnya tanpa berkedip. ("dia tidak akan menyerah")."Kalau begitu,"ucap Laura, " aku akan menghabiskan seribu musim berikutnya menolakmu dan mengusirmu pergi. Selamat tinggal, Niko."


Laura berlari memasuki rumahnya. Setelah merasa aman di balik pintu,ia menangis. Kakinya terasa lemas. Ia terjatuh ke lantai.


Sementara itu,di luar rumah,Niko memandangi pintu rumah Laura lama sekali. Hatinya sangat sakit. Laura berusaha sekuat mungkin untuk menjauhinya. Semakin dia mendekatinya, semakin Laura menjauhinya.


Niko memasuki mobilnya. Dia menyalakan mesin mobil dan pergi dari rumah Laura. Sepanjang perjalanan,tatapan sedih Laura terbayang di benaknya. Niko tidak ingin Laura bersedih. Laura belum melupakannya, dia yakin tentang yang satu ini. Dan walaupun Laura tidak mengatakannya, Niko yakin Laura masih menyukainya. Pasti ada hal lain yang menyebabkan Laura selalu memintanya pergi. Laura mengatakan dia menyukai seseorang. Luki Rafael. Niko tidak mau menyerah darinya.


Niko tahu tidak sepantasnya di merebut kekasih pria lain. Tapi dia tidak bisa menipu perasaanya sendiri. Lagi pula, Luki pernah mengatakan sewaktu Niko merancang cincin bintang pesanannya, bahwa Laura yang meminta agar cincin tersebut berbentuk bintang. Kenapa Laura meminta cincin bintang kalau bukan untuk mengingatkan Laura akan dirinya? Niko tahu Laura benarbenar terpesona dengan karya cincin bintangnya. Luki Rafael tidak tahu kenapa Laura meminta cincin bintang darinya.Luki pasti tidak akan senang kalau tahu Laura memikirkan pria lain saat meminta cincin tersebut darinya.


Niko tersenyum. ("Bagaimana mungkin aku melupakan Laura kalau Laura sendiri belum melupakanku?")


 

__ADS_1


__ADS_2