1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 57


__ADS_3

Laura sampai ke apartemen Luki sekitar pukul satu dini hari. Ia lansung berlari menuju kamar nya dan menyalakan lampu. Ia mencari-cari di setiap sudut kamar. Tapi cincin tersebut tetap tidak ditemukan. Terakhir kali ia ingat masih mengenakannya saat berbelanja di supermarket kemarin. Hatinya langsung lemas. Cincinnya pasti hilang di supermarket. Laura tidak bisa menemukannya kembali. Ia benar-benar panik sekarang. Ia tidak tahu harus bilang apa pada Luki kalau kakak nya itu tidak melihat cincin pemberiannya di jemari Laura. Luki pasti kecewa.


Hanya ada satu solusi. Laura membulatkan tekad dan bergegas menuju apartemen Niko. Setelah satu dering tidak mendapat reaksi apa-apa, Laura menekan nya sekali lagi.


Niko terbangun dari tidur nya. Dia mendengar suara bel pintu. Dia mengambil HP-nya untuk melihat jam. Pukul dua pagi. Dia menguap lebar. Bel pintu berbunyi lagi. Niko cepat-cepat turun dari tempat tidur.


Saat membuka pintu apartemen, dia masih setengah mengantuk. Awalnya dia tidak mempercayai penglihatannya. Laura berdiri di depan pintu kamar nya.


“Laura?” bisiknya.


“Maaf.” Laura tidak bisa menyembunyi kan kepanikannya. “Aku tahu ini sudah malam sekali. Kau pasti sudah tidur. Aku tidak tahu harus bagaimana. Maaf membangunkanmu, Niko.”


Niko langsung tersadar penuh mendengar kepanikan dalam suara Laura. “Tidak apa-apa. Masuklah. Ada apa?” Niko benar-benar khawatir.


Kedua jemari tangan Laura gemetar. Keringat dingin mengalir di keningnya. “Cincinku hilang.” “Apa?” tanya Niko bingung.


Laura menunjukan tangan kirinya, tempat cincin pemberian uki seharusnya berada. “Aku sudah kehilangan cincin pemberian Luki. Aku sudah mencarinya di mana-mana. Di apartemen, di restoran, tapi tetap tidak ditemukan. Aku tidak bisa kehilangan cincin Luki, Niko.” Niko mengerti sekarang.


“Aku benar-benar minta maaf karena sudah mengganggu tidurmu. Aku tidak tahu harus kemana lagi,” kata Laura putus asa.


Niko meraih tangan Laura yang gemetaran. “Tenanglah, Laura. Aku akan membuat cincin yang sama persis dengan yang dibErikan Luki. Aku akan mengerjakannya secepat mungkin. Kau tidak usah khawatir.” Niko tidak tega melihat Laura dilanda kepanikan dan kekhawatiran. Dia akan melakukan apa pun untuk melenyapkan semua itu dari Laura.


Napas Laura mulai normal. “Aku akan membayarmu. Berapa pun yang kau inginkan.”


Senyum Niko mengembang perlahan. “Kau tidak perlu membayarku.” “Tapi...,” sanggah Laura.


Niko menggeleng. “Aku tidak mau kau membayarku. Aku akan membuat cincinnya secepat mungkin dan membErikannya kepadamu.”

__ADS_1


“Terima kasih,” bisik Laura perlahan. Ia menatap Niko. Keduanya terdiam sejenak. “Ehm... kalau begitu aku pergi dulu. Kau bisa meneleponku kalau cincinnya sudah jadi. Aku akan mengambilnya di tokomu.”


Laura pergi meninggalkan apartemen Niko dengan tergesa-gesa.


Setelah kepergian Laura, Niko langsung berganti baju dan mengambil kunci mobilnya. Tak berapa lama kemudian dia sampai di tokonya. Niko segera naik ke lantai tiga tempat ruang kerjanya. Dia mulai mengerjakan cincin bintang untuk Laura.


Ketika David naik ke lantai atas enam jam kemudian, dia sedikit bingung melihat bosnya sedang bekerja. “Kau datang pagi,” katanya pada Niko.


“Aku tidak tidur semalaman.” Niko meminum gelas kopi ketiganya hari itu untuk membuatnya tetap terjaga.


“Aku terlihat kelelahan,” komentar David, lalu mendekati bosnya. Dia melihat cincin yang sedang dikerjakan Niko. David mengenalinya. Dia membuat cincin yang sama beberapa waktu yang lalu. “Kau membuat cincin bintang yang sama dengan yang kubuat?” “Ya,” jawab Niko.


“Apakah ada masalah dengan cincin buatanku?” tanya David bingung.


Niko menatap asistennya dan tersenyum. “Tidak ada masalah dengan cincinmu. Aku membuatnya lagi karena wanita yang mengenakannya tidak sengaja menghilangkan cincinnya.”


Niko menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku akan mengerjakannya sendiri. Kau bisa mengerjakan tugasmu yang lain.”


“Baiklah.” David meninggalkan Niko sendirian di ruang kerjanya. Kening David berkerut. Akhir-akhir ini perilaku bosnya memang agak berbeda. Bosnya sering emmandangi cincin tujuh bintang buatannya lama sekali. Pernah sekali, Niko tersenyum seharian di ruang kerjanya saat tidak seorang pun memperhatikan. Tapi pernah juga bosnya itu murung seharian. David tidak pernah meliahat emosi yang berubah-ubah dari Niko sebelumnya.


Objek kekhawatiran David sedang mengerjakan tahap akhir menempelkan berlian di tengahtengah bintang. Setelah selesai, Niko meneliti cincin berliannya lagi dengan kaca pembesar. Memastikan berlian yanga da di cincin tersebut benar-benar sempurna. Lehernya kaku karena seharian bekerja tanpa henti. Tapi Niko tidak keberatan sama sekali. Ini pertama kalinya Laura meminta bantuannya. Niko akan melakukan apapun yang diminta Laura.


Niko melihat jam tangannya. Pukul 09.30. Dia memperkirakan jarak ke restoran Lura dapat ditempuh dalam waktu satu jam. Dia tahu Laura menyuruhnya untuk meneleponnya kalau cincinnya sudah selesai, tapi Niko memutuskan untuk membawanya sendiri.


Sekitar pukul sebelas, Niko tiba di restoran. Dia membuka pintu restoran. Seorang pelayan menyapanya dan hendak mengantarkan Niko ke meja makan. Niko menggeleng. “Tidak, terima kasih,” kata Niko sambil meminta maaf. “ aya kemari untuk menemui Laura.”


Si pelayan mengangguk mengerti. Dia tahu Niko sering datang ke restoran karena Laura. “ aya akan memberitahu Laura kalau begitu.”

__ADS_1


“Tidak usah,” sela Niko. “ aya akan menemuinya langsung.”


Niko berjalan ke arah dapur. Dari pintu kaca dapur dia melihat Laura sedang memasak spageti. Mata Laura terpejam sesaat dan hidungnya menghirup aroma saus spageti. Lalu ia tersenyum perlahan. Niko ikut tersenyum melihatnya. Tangannya menyentuh pintu kaca di depannya, seakan-akan sedang menyentuh wajah Laura. Niko yakin dia tidak akan pernah bosan melihat aura bekerja.


Niko menarik napas panjang, lalu membuka pintu dapur. Laura menoleh untuk melihat siapa yang datang ke dapurnya.


“Niko!” serunya kaget.


Niko berjalan mendekati Laura. Dia meletakkan cincin bintang yang telah dibuatnya semalaman di meja dapur. “Cincin bintangmu.”


Laura mengambil kotak cincin dari atas meja. Ia membukanya, lalu mengambil cincin tersebut dan mengenakannya di jari tengah tangan kirinya. Ia menelitinya sebentar. Tapi ia tahu, cincin itu sama persis dengan kepunyaannya dulu.


“Kau seharusnya meneleponku,” kata Laura.


“Tidak apa-apa,” Niko menatap Laura dengan sendu. “Aku senang melakukannya.”


“Niko....,” ucap Laura tiba-tiba. “Aku minta maaf telah berpura-pura tidak mengenalmu. Aku tidak bermaksud melakukannya. Maaf.”


Niko tersenyum. “Kau tidak perlu meminta maaf, Laura.”


“Kau sudah makan?” tanya Laura, sambil menahan degup jantungnya yang berpacu cepat. “Aku bisa memasakkan sesuatu untukmu. Aku ingin membalas bantuanmu.”


Niko belum makan seharian, tapi perutnya tidak terasa lapar setelah melihat Laura. “Bagaimana kalau kau berhenti menjauhiku sebagai balasannya?” Laura terdiam tidak bisa menjawab.


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2