1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 62


__ADS_3

“Beri aku kesempatan,” katanya sambil menggenggam tangan Laura. “Untuk mencintaimu. Menjagamu. Kalau kau tidak bisa mengatakan apa pun sekarang, tidak apa-apa. Aku akan menunggumu. Sampai kau siap. Tapi aku ingin kau tahu, aku tidak akan meninggalkanmu, Laura. Aku tidak akan menyerah untuk mengejarmu. Sampai kapan pun.”


Laura membalas genggaman tangan Niko. “ Kau bisa berhenti mengejarku mulai sekarang.”


Niko tersenyum bahagia. Dia memeluk Laura spontan. Dari balik pintu kamar, Luki mendengar seluruh percakapan mereka. Akhirnya dia bisa membErikan kebahagiaan untuk adiknya.


Niko melepaskan pelukannya. Tubuhnya tetap condong ke arah Laura. Dia menatap wajah Laura lekat-lekat dan mulai menanyakan apa yang Laura inginkan.


“Ceritakan padaku tentang kehidupanmu setelah lulus MA. Dimana saja kau selama itu. Aku ingin mengetahui semuanya.” Pinta Laura.


Saat Niko menceritakan masa-masa kuliahnya di New York, kemudian masa kerjanya di Paris, Laura tersenyum. Ia menatap pria yang dicintainya dengan lembut. Tidak ada lagi dinding tebal yang memagari hatinya. Yang ada kini hanyalah cinta.


Laura Rafael memasuki ruang kerjanya dengan perasaan ringan. Ruangan itu bukan ruang kerja biasa. Tidak ada meja kayu ataupun sekat-sekat disana. Tidak ada komputer. Tidak ada kertaskertas berserakan. Yang ada hanyalah beberapa meja besi panjang dan berbagai peralatan masak. Mejanya bersih dari debu karena Laura memastikan hal itu setiap hari. Terdengar alunan lembut dari permainan cello karya Bach dari earphone di telinganya. Lagu yang sesuai untuk mengawali harinya. Sudah setahun sejak dirinya keluar dari rumah sakit, Niko selalu mendampinginya selama terapi fisik yang melelahkan. Cinta Laura padanya tumbuh semakin kuat. Niko sama sekali tidak keberatan dengan cara berjalan Laura yang timpang. Niko bilang, Laura terlihat sempurna di matanya. Dan Laura mempercayai perkataannya. Niko membawa Laura mengunjungi orangtuanya, kemudian giliran Laura yang mengenalkan Niko secara resmi pada orangtuanya.


Niko membawa Laura ke sekolah mereka dulu. Pergi ke pantai tempat mereka piknik semasa remaja. Laura juga diajak menemui Erika yang sudah menikah dan menjadi dokter spesialis kandungan. Keduanya memutuskan untuk melupakan masa lalu yang tidak mengenakkan diantara mereka, dan memulai awal yang baru. Saat mau berpisah, Erika mengatakan pada Laura bahwa ia senang sekali akhirnya Niko menemukan Laura.


Luki juga mengakui apa yang telah dia lakukan dengan cincin bintang pemberiannya. Dia telah mengambilnya dengan sengaja dan membuat Laura menemui Niko untuk membuat yang baru. Luki bilang saat itulah dia memutuskan untuk mendukung Niko. Ketika Luki ingin mengembalikan cincin bintang tersebut, Laura menggeleng. Ia bilang ia sudah punya cincin yang sama. Ia ingin Luki membErikan cincin tersebut pada wanita yang dicintainya suatu hari nanti.


Seperti biasa, Laura sangat menyukai suasana hening di dapurnya saat belum ada siapapun kecuali dirinya. Mulutnya bersiul perlahan mengikuti alunan lembut lagunya. Malam ini Niko akan mengajaknya makan malam. Laura sudah tidak sabar menantikan makan malam tersebut.


Tangan Laura meraih buku resep masakannya. Ia selalu memulai harinya dengan mencoba membuat resep baru ataupun melihat resep-resep lama. Bukunya sudah hampir penuh dengan tulisan resepnya. Saat membuka bukunya, sehelai kertas kecil jatuh dari sana. Laura meletakkan buku resepnya dan membungkuk mengambil kertas tersebut.

__ADS_1


Kertas berlipat empat. Laura membukanya.


Lihat ke belakang.


Laura terpaku, lalu berbalik. Ia melihat Niko bersandar di depan pintu dapurnya. Laura tertawa dan melepaskan earphone dari telinganya.


“Kau tidak bilang kau akan datang kesini,” katanya mendekati Niko.


“Aku ingin mengejutkanmu,” jawab Niko.


“Apakah ada masalah?” tanya Laura. “Kau mau membatalkan janji makan malam kita?”


“Tidak,” jawab Niko cepat. “Aku datang kesini untuk hal yang lain.” “Apa itu?” tanya Laura sedikit bingung.


Laura tertegun. Ia melihat cincin itu, lalu menatap Niko. Laura tahu Niko serius dengan perkataannya.


Karena tidak mendengar jawaban Laura, Niko berkata lagi, “Tolong jangan membuatku menunggu seribu musim sampai kau mengatakan ya.”


Perlahan-lahan senyum Laura mengembang. “Bagaimana kalau menunggu satu musim saja?” “Apakah kau...” Niko terlihat senang.


Laura mengangguk. “Ya. Aku mau menikah denganmu.”

__ADS_1


Niko langsung memeluknya. “Oh, Laura... kau baru saja membuatku menjadi pria paling bahagia di dunia ini.”


Laura melepaskan pelukan Niko. “Aku juga bahagia. Aku mencintaimu, Niko.”


Niko menatap Laura lekat-lekat. “Itu pertama kalinya kau mengatakan kau mencintaiku. Aku senang kau mengatakannya padaku sekarang.”


Laura sungguh tak sanggup berkata saat tangan kirinya diraih oleh Niko dan cincin bintang itu disematkan di jari manisnya.


Laura memandangi tangan kirinya. Dua cincin bintang berada di sana. Keduanya karya Niko. “Kau juga membuatku menjadi wanita paling bahagia hari ini...”


Selama beberapa saat keduanya saling tatap. Tanpa Laura sadari, tangan kiri Niko telah meraih pinggangnya, dan tangan kanan pria itu membelai pipinya. Tangan Niko bergerak dengan lembut, dan merengkuh kepala Laura hingga ujung hidung mereka bersentuhan.


Laura menutup mata. Dirasakannya bibir Niko mengecup keningnya, kedua alisnya, puncak hidungnya. Dan sebelum Laura sempat berfikir, bibir Niko telah berlabuh di bibirnya. (aku rada teu enak didieu -_-). Menciumnya dengan hangat dan lembut.


Setelah beberapa saat yang mereka sendiri tak tahu sudah berlangsung lama, bibir mereka berpisah. (emang gak ada staf restoran yang ngintip gitu? Kan di dapur restoran. Arsh, maafmaaf).


“Laura, terima kasih karena kau bersedia berada di sisiku selamanya.”


Laura tersenyum manis. “Aku akan selalu bersamamu sepanjang musim, Niko....”


-The End-

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2