1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 40


__ADS_3

Laura menyipitkan mata untuk melihat foto yang dibErikan Luki. “Aku rasa iya. Aku ingat ada gambar tato naga di tangannya.”


“Bagus.” Luki tersenyum puas. “Aku akan membuatnya membayar perbuatannya padamu. Maaf, Laura.”


“Aku tidak mengerti.” Laura menatap Luki dengan bingung. “Kenapa kau harus berurusan dengan orang yang menabrakku? Biarkan polisi saja yang mengurusnya.”


Luki menggeleng. “Aku harus memastikan Dragon tidak akan mencelakai siapa-siapa lagi. Dia menabrakmu untuk memberiku peringatan. Maaf, Laura. Aku benar-benar merasa bersalah padamu. Gara-gara aku kau jadi seperti ini.”


Laura menekan tombol untuk menaikkan bagian kepala ranjang. “Aku mengalami kecelakaan, Luki. Kenapa kau harus merasa bersalah?”


Luki duduk di ranjang Laura dan mulai menceritakan kejadian dua minggu yang lalu, ketika Dragon menabrak mobilnya di luar pub, Luki menghajarnya, kemudian menabrak mobil Dragon lagi.


Laura mendengar penuturan Luki tanpa menyela. Setelah Luki selesai menjelaskan, Laura mengangkat tangan untuk menyentuh wajah Luki. “Kau tidak tahu,” katanya dengan pandangan lembut. “Kau tidak tahu bahwa preman itu akan datang membalas dendam padamu. Itu bukan kesalahanmu, Luki. Aku yakin orang yang berbuat jahat akan mendapat balasannya.”


“Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak akan bisa memaafkan orang itu, Laura,” Luki bersikukuh.


“Kebencian tidak akan membuatmu merasa lebih baik, Luki.” Laura menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Baik. Kalau kau tidak bisa memaafkannya, itu urusanmu. Tapi, jangan melakukan apa pun padanya. Biarkan pihak berwenang yang melakukannya. Tolonglah, Luki. Untukku. Maukah kau lakukan ini untukku?”


“Saat ini,aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena telah mencelakaimu,” kata Luki sedih.


“Aku memaafkanmu,” kata Laura tulus.


“Kenapa?” Tanya Luki. “Kenapa sebegitu mudahnya kau memaafkanku?”


“Jawabannya sederhana.” Laura menatap Luki dengan lembut. “Karena kau keluargaku.


Keluarga saling memaafkan. Tanpa syarat.”


Luki tersenyum. “Tetap saja masih belum bisa membuat rasa berasalahku berkurang.”


Laura mendesah. “Jadi menurutmu, mengejar orang yang menbrakku dan menghajarnya akan membuat rasa bersalahmu berkurang?”


“Mungkin.” Luki mengangkat bahu.

__ADS_1


Laura terdiam. Matanya menutup kembali. “Kalau kau menghajar preman itu,” katanya perlahan sebelum beristirahat. “Kau sma saja dengannya. Sebagai kakakku, seharusnya kau lebih baik dari itu.”


Luki memandang Laura yang tertidur pulas tidak berapa lama kemudian. Dia menyelimuti adiknya dan duduk termenung memikirkan perkataan tersebut.


KEESOKAN harinya, Luki keluar dari kamar Laura dan bertemu dengan ibu tirinya. “Bagaimana keadaan Laura?” Tanya Helen.


“Sudah baikan. Dia masih tidur sekarang. Bisakah kita bicara sebentar?” Luki tidak sempat berbicara dengan ibu tirinya secara pribadi sejak kecelakaan yang menimpa Laura.


Helen mengangguk.


Di kantin rumah sakit, Luki membelikan secangkir teh untuk ibu tirinya.


“Kau terlihat lelah,” kata Helen khawatir. “Sebaiknya kau pulang beristirahat. Selama seminggu ini kau menunggui Laura terus.”


Luki menggeleng. “Aku tidak lelah. Ehm...... aku sudah membaca kartu ucapan ulang tahun yang ditulis olehmu. Laura membErikannya padaku di hari dia mengalami kecelakaan. Maaf, aku tidak tahu selama ini kau memikirkanku juga.”


Helen menarik napas panjang dan memandang Luki, anak asuhnya yang kini sudah dewasa. “Aku tidak punya keberanian untuk mengirimkannya padamu.”


Helen meletakkan cangkir tehnya. Menatap Luki dengan lembut. “Aku tahu aku takkan pernah bisa menggantikan ibumu. Tapi, aku menyayangimu seperti anakku sendiri.”


“Waktu itu...,” pikiran Luki melayang ke masa 25 tahun yang lalu. “Sebenarnya aku tidak membencimu. Aku benar-benar takut. Kalau aku mulai menyukaimu,aku takut aku akan melupakan ibuku.”


“Kenangan ibumu tidak akan hilang selamanya, Luki.”


“Aku tahu itu sekarang. Kau bisa saja tinggal waktu itu. Aku hanya seorang anak kecil. Papa tentu akan membelamu. Mengapa....mengapa kau menuruti keinginanku untuk pergi?”


Helen menatap putra tirinya dengan lembut. “Karena....sebelum aku mencintai papamu, aku menyayangimu lebih dulu. Aku ingat ketika pertama kali kita bertemu. Kau berada di taman dengan mamamu. Kau berumur tiga tahun. Kau tersenyum padaku dan memberiku setangkai mawar. Saat itu aku menyadari kau telah mengambil hatiku. Mengasuhmu bukan sekedar pekerjaan lagi bagiku, melainkan hidupku. Aku menyayangimu, Luki. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa papamu menyukaiku dan memutuskan untuk menikahiku. Dia berpikir aku bisa menjadi ibu yang baik untukmu.”


Luki tertegun mendengar penuturan Helen. Hatinya merasakan keharuan yang mendalam. “Maaf. Aku menyebabkan putrimu mengalami kecelakaan.” Lalu Luki menceritakan bagaimana dia bertemu dengan orang yang menabrak Laura.


Helen hanya menggeleng. “Tidak. Bukan salahmu.”


“Aku menyakiti putrimu. Dan kau tidak marah?” Tanya Luki bingung.

__ADS_1


“Aku rasa kau sudah cukup menghukum dirimu sendiri.” Helen menyentuh tangan Luki perlahan. “Aku tidak menyalahkanmu. Aku yakin Laura juga tidak menyalahkanmu. Satusatunya orang yang merasa bersalah hanya dirimu sendiri. Kau harus melepaskan rasa bersalahmu, Luki.”


“Aku tidak bisa.” Luki mengepalkan tangannya. “Aku terlalu marah untuk bisa melepaskannya. Sama seperti ketika papa tidak berada disamping mama saat mama meninggal. Aku masih marah pada papa karena hal itu.”


“Oh...kau salah sangka.” Helen menggenggam jemari Luki erat-erat. “Papamu berada di luar negeri karena dia ingin mencari dokter terbaik untuk mengobati penyakit mamamu. Dia memohon dokter terbaik itu untuk pulang bersamanya. Tapi papamu tidak menyangka penyakit mamamu sudah parah. Dan ketika pulang, papamu sudah terlambat. Mamamu sudah tidak bisa diselamatkan.”


“Apa?” Tanya Luki tidak percaya. “Papa tidak pernah memberitahuku soal ini. Mengapa?”


“Aku rasa papamu merasa terlalu bersalah dan berduka dengan kepergian mamamu. Dia tahu kau tidak akan menerima penjelasannya. Papamu benar-benar mencintai mamamu, Luki. Dia benarbenar kehilangan semangat hidup ketika mamamu meninggal. Berbaikanlah dengannya. Jangan biarkan papamu kehilanganmu juga.”


Luki tidak kuasa menahan kesedihan dihatinya. Kini, setelah 25 tahun, kebenaran masa lalu terungkap.


“Aku harus kembali ke kamar Laura. “Helen berdiri dari kursinya. “Luki, sebaiknya hari ini kau tidak usah menjaganya, biar aku saja. Kau istirahatlah. Aku tidak mau kau jatuh sakit.”


Saat Helen berbalik pergi, Luki tersenyum. “Terima kasih... ma...”


Helen berbalik kembali kehadapan Luki. “Apa...katamu?:


Luki berdiri dan mengahampiri Helen. “Aku bilang...terima kasih,mama. Kau adalah mamaku sekarang.”


Helen menangis mendengar pengakuan Luki.


Luki memeluk Helen untuk pertama kalinya. “Aku senang kau yang menjadi ibu keduaku. Papa tidak salah pilih.”


Helen memeluk putra tirinya sambil terisak-isak. “Terima kasih. Terima kasih karena telah menerimaku.”


“Sekarang kita satu keluarga.” Luki melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Helen, mamanya sekarang. “Aku akan pulang dan istirahat. Hari ini mama yang jaga. Tapi besok aku yang jaga, oke?”


“Baiklah.” Helen tersenyum.


FB@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2