1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 32


__ADS_3

Luki Rafael sedang berfikir keras di ruang kerjanya. Jam sudah menunjukan pukul 12.00. Waktunya makan siang. Hatinya gelisah. Pikirannya dipenuhi wajah Laura. Dia masih belum bisa memutuskan soal hubungan adiknya dengan Niko.


Luki tidak suka menunggu. Jarum panjang di kantornya menunjuk angka satu, lima menit sudah berlalu. Luki berdiri dan berjalan keluar kantor. Dia memberitahu sekertarisnya bahawa dia akan keluar kantor sampai sore untuk urusan pribadi.


Dalam perjalanan menuju apartemen, Luki mengirim SMS pada Niko.


Temui aku di lapangan tenis apartemen.


Bawa raket tenismu. SEKARANG.


Sejam kemudian, Niko melihat Luki sedang memukul bola dari mesin pelempar. Niko tidak tahu mengapa Luki menyruhnya datang ke lapangan tenis tiba-tiba. Tapi dilihat dari pesannya, sepertinya penting sekali.


“Kau datang.”  uki berhenti memukul bola dan mematikan mesin pelempar bola.


“Kau memintaku datang.” Niko berjalan mendekati Luki.


“Kau bermain tenis, Niko?”  uki memandang Niko dengan dingin.

__ADS_1


“Kadang-kadang,” jawab Niko. Dia masih belum mengerti kenapa Luki menyuruhnya datang kemari.


“Ayo lawan aku.”  uki tidak membiarkan Niko merespon dan mulai melakukan servis bola ke arahnya. Niko secara refleks mengembalikan bola tenis yang dipukul Luki.


Keduanya terlibat permainan tenis selama beberapa waktu. Mereka tidak menghitung angka. Makin lama pukulan Luki semakin keras. Niko semakin kewalahan mengembalikan bola Luki. Ia merasakan sepertinya Luki marah padanya. Tapi tidak tahu tentang apa.


Bola  uki mengenai lengan kirinya. “Argh!” teriak Niko.  uki berteriak dari seberang lapangan. “Apakah pukulanku menyakiti tanganmu?” “Ya!” Niko balas berteriak.


“Bagus!”  uki menyeringai. “Aku tidak menyesal melakukannya, karena aku melakukannya untuk Laura. Pukulan itu karena kau telah membuatnya patah hati bertahun-tahun lalu.”


Luki kehilangan konsentrasinya akibat perkataan Niko. Bola pukulan Biko meleayang satu meter di sebelah kirinya.


“Laura mewujudkan impianku,” lanjut Niko lagi sambil terengah-engah.


Luki memungut bola yang jatuh di belakangnya dan mulai membErikan pukulan balik pada Niko. Kali ini Niko membalasnya sekuat tenaga dan mengenai perut Luki.


“Arrgh!”  uki mengerang kesakitan memegangi perutnya.

__ADS_1


Niko melempar raketnya dan mendekati  uki. “Aku mencintainya,” katanya keras. “Aku sudah menyukainya selama delapan tahun walapun Laura tidak di sisiku. Dan ketika aku bertemu kembali dengannya, perasaanku tidak berubah. Malah bertambah kuat. Aku mencintai Laura, Luki.”


Luki juga melempar raketnya dan berdiri. Dia mendekati Niko. “Aku hanya perlu tahu seberapa besar kau mencintainya.  ekarang aku tahu.”


Niko mengernyit keheranan. “Apa maksudmu?”


“Ada sesuatu yang perlu kau ketahui juga.”  uki menelan ludah. “Laura adalah adikku.” “Apa?” Niko tersentak kaget.


Luki mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Laura sampai akhirnya mengetahui Laura adalah adik tirinya. Di sebelahnya, Niko mendengar penjelasan Luki tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Apakah kau mengerti sekarang?” tanya  uki mengakhiri penjelasannya. “ ebagai kakaknya, aku menyerahkan Laura padamu. Aku ingin kau menjaganya seumur hidupmu. Tapi, kalau kau menyakiti Laura sedikit saja, aku akan melakukan hal yang lebih parah dari sekedar luka lebam di tangan kirimu.”


Tanpa menatap Luki, Niko langsung berbalik dan berlari keluar dari lapangan tenis.


Luki tersenyum. Dia yakin Niko pasti menemui Laura sekarang. Hatinya lega. Laura berhak mendapatkan kebahagiaan.


Tangan Luki merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebentuk cincin. Cincin bintang yang sengaja dia ambil dari tangan Laura beberapa hari yang lalu ketika Laura tertidur. Dia tahu Laura pasti akan mencari Niko untuk membuatkan cincin yang baru. Kalau Niko benar-benar mencintai Laura, dia tidak akan keberatan dengan bekas luka di kaki Laura. Luki memutuskan untuk tidak memberitahu Niko tentang itu. Laura harus memberitahukannya sendiri pada Niko. “Raihlah kebahagianmu, adik kecil,” bisik  uki sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2