1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 59


__ADS_3

Keduanya terlibat permainan tenis selama beberapa waktu. Mereka tidak menghitung angka. Makin lama pukulan Luki semakin keras. Niko semakin kewalahan mengembalikan bola Luki. Ia merasakan sepertinya Luki marah padanya. Tapi tidak tahu tentang apa.


Bola uki mengenai lengan kirinya. “Argh!” teriak Niko. Uki berteriak dari seberang lapangan. “Apakah pukulanku menyakiti tanganmu?” “Ya!” Niko balas berteriak.


“Bagus!” uki menyeringai. “Aku tidak menyesal melakukannya, karena aku melakukannya untuk Laura. Pukulan itu karena kau telah membuatnya patah hati bertahun-tahun lalu.”


Napas Niko terengah-engah. Keningnya berkeringat. Dia mengambil bola dan mulai melakukan servis balik. “Kau perlu tahu sesuatu,” katanya di sela-sela mengembalikan bola. “Gadis yang membErikan karyaku pada Julien adalah Laura.”


Luki kehilangan konsentrasinya akibat perkataan Niko. Bola pukulan Biko meleayang satu meter di sebelah kirinya.


“Laura mewujudkan impianku,” lanjut Niko lagi sambil terengah-engah.


Luki memungut bola yang jatuh di belakangnya dan mulai membErikan pukulan balik pada Niko. Kali ini Niko membalasnya sekuat tenaga dan mengenai perut Luki.


“Arrgh!” uki mengerang kesakitan memegangi perutnya.


Niko melempar raketnya dan mendekati uki. “Aku mencintainya,” katanya keras. “Aku sudah menyukainya selama delapan tahun walapun Laura tidak di sisiku. Dan ketika aku bertemu kembali dengannya, perasaanku tidak berubah. Malah bertambah kuat. Aku mencintai Laura, Luki.”


Luki juga melempar raketnya dan berdiri. Dia mendekati Niko. “Aku hanya perlu tahu seberapa besar kau mencintainya. Ekarang aku tahu.”


Niko mengernyit keheranan. “Apa maksudmu?”


“Ada sesuatu yang perlu kau ketahui juga.” Uki menelan ludah. “Laura adalah adikku.” “Apa?” Niko tersentak kaget.


Luki mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Laura sampai akhirnya mengetahui Laura adalah adik tirinya. Di sebelahnya, Niko mendengar penjelasan Luki tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Apakah kau mengerti sekarang?” tanya uki mengakhiri penjelasannya. “ ebagai kakaknya, aku menyerahkan Laura padamu. Aku ingin kau menjaganya seumur hidupmu. Tapi, kalau kau menyakiti Laura sedikit saja, aku akan melakukan hal yang lebih parah dari sekedar luka lebam di tangan kirimu.”

__ADS_1


Tanpa menatap Luki, Niko langsung berbalik dan berlari keluar dari lapangan tenis.


Luki tersenyum. Dia yakin Niko pasti menemui Laura sekarang. Hatinya lega. Laura berhak mendapatkan kebahagiaan.


Tangan Luki merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebentuk cincin. Cincin bintang yang sengaja dia ambil dari tangan Laura beberapa hari yang lalu ketika Laura tertidur. Dia tahu Laura pasti akan mencari Niko untuk membuatkan cincin yang baru. Kalau Niko benar-benar mencintai Laura, dia tidak akan keberatan dengan bekas luka di kaki Laura. Luki memutuskan untuk tidak memberitahu Niko tentang itu. Laura harus memberitahukannya sendiri pada Niko. “Raihlah kebahagianmu, adik kecil,” bisik uki sambil tersenyum.


Laura menarik napas perlahan. Ia mencoba mengenang setiap sudut dapur restorannya. Pelanggan terakhir untuk sore hari itu telah pergi. Restoran telah tutup. Laura akan memberitahu Antonio bahwa ia tidak bisa bekerja malam nanti. Ia akan memberitahukan soal operasi kakinya pada keluarganya. Kakinya mulai terasa sakit lagi. Laura mengusapnya perlahan. Sebentar lagi, katanya pada kakinya, bertahanlah sebentar lagi.


Laura keluar dari dapur. Ia melihat restorannya yang sepi. Di sana hanya tersisa beberapa pelayan dan Maya. Laura akan memberitahu Maya setelah ia memberitahu orangtuanya. Maya sudah seperti keluarganya. Ketika Laura akan memasuki kantor Antonio, pintu restorannya terbuka. Laura berbalik dan melihat Niko terengah-engah menatapnya.


Hati Laura terasa sangat sakit. Aku tidak bisa menghadapinya sekarang, katanya dalam hati.


Niko langsung mendatangi Laura dan berdiri satu langkah di depannya. “ uki kakakmu. Bukan pacarmu.”


Para pelayan lain dan Maya langsung menyingkir, meninggalkan keduanya. Mereka pasti menyadari apa pun yang hendak dibicarakan oleh Laura dan Niko, pasti bersifat pribadi.


“Aku tidak pernah mengatakan bahwa uki pacarku,” jawab Laura tenang, berlawanan dengan perasaanya yang tak karuan. “Kau berasumsi sendiri. Dari mana kau tahu tentang hal ini?”


Laura seharusnya sudah bisa menebaknya. Kakaknya selalu melakukan apapun yang dia inginkan. Tapi Laura tidak yakin kenapa Luki memutuskan untuk berterus terang pada Niko.


“Aku tidak bisa mengahadapimu sekarang, Niko,” kata Laura sedih. “Tolong, pergilah.” Niko menggeleng. “Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku sudah menyukaimu sejak lama. Delapan tahun di negeri berbeda. Tapi perasaanku tidak pernah berubah. Wajahmu selalu membayangiku dimana pun aku berada.”


Laura terharu mendengar pengakuan Niko. Tapi rasa sakit di kakinya menyadarkannya. Ia tidak bisa berada di samping Niko. “Aku sudah melupakanmu, Niko. Kau hanya bagian dari masa laluku.” Laura berusaha mengatakannya sekejam mungkin.


Niko menggeleng tidak percaya. Dia mengambil selembar kertas dari sakunya dan menunjukannya pada Laura. “Kau tidak pernah melupakanku. Aku menemukan kertas ini di pameranku saat kau menjatuhkan tasmu. Kau selalu membawa kertas yang kubErikan padamu. Sama seperti aku selalu membawa sketsa pemberianmu.”


Dengan tangan satunya lagi Niko memperlihatkan buku sketsa pemberian Laura. Niko menunjukkan halaman demi halaman gambar rancangannya pada Laura. Dimulai dari cincin bintang yang pertama kali membuat Laura terkesan. “Aku selalu menggambar rancangan terbaikku di buku sketsamu.”

__ADS_1


Laura menggenggam kedua tangannya sendiri sampai memerah. Ia berusaha menahan perasaanya. “Berhenti, Niko,” ucapnya meminta Niko berhenti memperlihatkan gambar rancangannya.


Niko berhenti dan menaruh buku sketsanya di meja makan terdekat. “Kenapa kau masih saja menyangkal perasaanmu?”


Laura menggeleng. Walapun hatinya sakit mengatakan hal selanjutnya pada Niko, ia harus mengatakannya. “ Aku tidak menyukaimu, Niko.” Aku mencintaimu, katanya dalam hati.


“Kau berbohong,” sanggah Niko.


“Aku tidak berbohong.” Laura menatap lurus ke bola mata Niko. Ia mengambil kertas kecil yang sudah menemaninya selama delapan tahun dari tangan Niko dan merobeknya menjadi serpihan kecil. “Hubungan kita sudah berakhir.”


Niko menatap Laura dengan kesedihan mendalam di matanya. “Kenapa kau melakukannya?”


“Aku kan sudah bilang, aku tidak menyukaimu lagi,” kata Laura dingin.


“Aku tidak mempercayainya.” Niko menatap Laura sungguh-sungguh.


“Aku tidak peduli apakah kau mempercayainya atau tidak.” Laura berpura-pura tidak peduli perasaan Niko. Ebih baik sakit sekarang daripada nanti. “Aku tidak menyukaimu. Aku ingin kau pergi dan tidak menggangguku lagi.”


“Bukankah kemarin kau setuju bila kita berteman? Kenapa sekarang sikapmu berubah drastis?” Niko masih tidak mau menyerah.


Laura tertawa sinis. “Teman? Niko, kita tidak akan pernah bisa berteman. Akuilah, kau juga tidak mengharapkanku sekadar menjadi temanmu, kan?” Niko terdiam.


“Kau bilang kau menyukaiku, bukan?” tanya Laura sambil menarik napas perlahan.


“Amat sangat,” jawab Niko langsung.


Laura mencoba menenangkan hatinya dan berkata, “Kalau kau begitu menyukaiku, kau seharusnya menghormati keinginanku.”

__ADS_1


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123


__ADS_2