1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 48


__ADS_3

Niko tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari Laura, ia berkata dengan pasti, “saya sudah menyukai perhiasan sejak kecil. Awalnya hanya hobi, tapi lama-kelamaan saya serius ingin menekuninya. Kesempatan itu datang karena seorang gadis membantu saya meraih mimpi saya.”


Tatapan Niko melembut. Dia masih menatap Laura. Mendengar komentar dari mulut Niko, Laura memalingkan wajah. Ia tidak bisa menata perasaannya. Guncangan demi guncangan menerpa hatinya. Kaget, syok, sedih, marah, haru, semuanya menjadi satu.


Sang wartawan tersenyum mendengar jawaban Niko. “Dan dimana wanita itu sekarang?” Tanyanya penasaran.


*(“aku sedang memandangnya.”)* kata Niko dalam hati. Dia melihat Laura menunduk. Niko mengerti. Laura tidak ingin seorang pun mengenalnya. *(“baiklah, untuk sementara aku akan mengikuti kemauanmu, Laura.”)*


“Rahasia,” kata Niko tersenyum penuh misteri. “Dan kalau anda tidak keberatan, saya ingin berkeliling menyapa para tamu dulu.”


Sang wartawan tertawa. Niko berjalan ke arah Luki. “Senang kau bisa datang, Luki. Kau juga, Laura.”


“Pameran yang hebat,” kata Luki.


Akhirnya menatap Niko lagi. Sepasang mata cokelat itu menatapnya dengan lembut. Ia mengingat kembali pertemuan pertama mereka. “Selamat, Niko” kata Laura tulus.


“Terima kasih....Laura.” Niko meremas tangannya sendiri di dalam saku. Dia sangat ingin memeluk Laura saat itu juga. Wajah Laura masih sama seperti yang di ingatnya. Niko tidak ingat sudah berapa lama dia ingin mendengar suara Laura. Seminggu lalu ketika bertemu pertama kali,Niko terlalu syok untuk mendengarnya. Kini dia benar-benar bahagia bisa mendengar suara Laura kembali.


“Kalian berdua silahkan mengobrol,” Laura berusaha menghindar. “Aku mau ke tempat makanan dulu.” Tanpa persetujuan keduanya, Laura melenggang pergi.


Luki tersenyum pendek. “Begitulah Laura. Yang ada di pikirannya Cuma makanan.”


Niko penasaran. “Laura sangat suka makanan?”


Luki mendesah. “Laura seorang chef pasta. Kemanapun kami pergi, dia selalu mencoba makanan terlebih dahulu.”


*(“seharusnya aku sudah bisa menduganya,”)* pikir Niko. “Aku ingin mencoba masakannya.”


“Kau harus datang ke restoran Antonio kapan-kapan. Laura bekerja sebagai chef kepala disana,” usul Luki.

__ADS_1


(“Terima kasih, Luki”.)Niko tersenyum. “Aku pasti akan mencobanya.”


Laura berusaha menenangkan diri sambil mengambil beberapa makanan ke piringnya.


Tangannya masih gemetar. Saat mulai menyantap makanan, dia tidak bisa merasakan apa pun. Matanys menatap kerumunan orang yang sedang melihat-lihat koleksi perhiasan Niko. Aneh, pikirnya, dia tidak melihat Erika di mana-mana. Mungkin Erika tidak hadir hari ini. Seharusnya Niko tidak mengatakan tentang gadis lain yang membantu mimpinya kepada wartawan. Kalau Erika tahu, tentu Erika akan cemburu. Walaupun delapan tahun sudah berlalu, Laura masih merasa bersalah karena tidak sengaja telah mendorong Erika dari tangga,sehingga Erika tidak bisa jalan. Laura tahu perasaan itu. Ia mengalaminya juga dua tahun yang lalu. Benar-benar menyakitkan. Laura tidak berencana untuk berada di pameran ini terlalu lama. Ia tidak ingin mengambil risiko di kenali oleh orang lain. Terutama Erika.


Laura berkeliling dari satu perhiasan ke perhiasan yang lain. Ada beberapa yang dia kenali dari karya Niko terdahulu. Matanya terpana saat melihat seuntai kalung yang memenangi perlombaan bergengsi di luar negeri. Niko sudah menjadi perancang perhiasan yang sukses. Laura tidak pernah meraagukan bahwa Niko akan sukses di bidang apa pun yang di gelutinya.


Tiba-tiba mata Laura terpaku pada sebentuk cincin di dalam lemari kaca. Laura mendekatinya. Tangannya berusaha menyentuh lapisan kaca yang menutupi cincin tersebut.


Cincin bintang buatan Niko.


Delapan tahun lalu,Laura melihat rancangannya,kini ia bisa melihat karya nyatanya. Telapak tangan Laura mendekati bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia terdiam tidak bergerak.


Begitulah Luki menemukan Laura. Terpana pada sebentuk cincin. Niko menyusul di belakangnya.


Laura tidak bisa menjawab.


“Niko,” Luki beralih pada pria di belakangnya, “kelihatannya cincinmu ini membuat Laura terpana. Aku ingin membelinya. Berapa harganya?”


Niko menggeleng. “Maaf cincin ini tidak dijual. Termasuk dalam koleksi pribadiku.”


Luki sedikit kecewa. “Aku akan membayar berapapun harganya.”


“Aku tidak akan menjualnya,” Niko berkata perlahan. *(“sampai kapanpun”)*. “Ini perhiasan pertama yang ku buat. Cincin ini punya nilai sentimental bagiku. Maaf, Luki.”


Memandangi cincin bintang buatan Niko lagi. Ia hanya mendengar samar-samar percakapan Niko dan Luki. Laura melihat tujuh bintang yang mengelilingi cincin tersebut. Di salah satu bintang tersebut terdapat beberapa huruf. Laura menyipitkan matanya. Di tiga sudut paling atas terdapat tiga huruf. A.L.A.


Laura tidak tahu arti inisial itu. Lalu tanpa sengaja dia melihat dua huruf lainnya di dua sudut bawah. Ia tidak bisa menahan rasa kagetnya. Kalau di baca searah jarum jam dari sudut teratas, huruf-huruf tersebut menjadi L.A.U.R.A. Namanya. Tanpa sadar Laura menjatuhkan tasnya.

__ADS_1


Luki berbalik menghadap Laura. Laura tersadar. “Maaf,” katanya. Ia bergegas mengambil semua barang yang jatuh berserakan dari tasnya. Luki ikut membungkuk dan membantunya. Setelah semua barangnya kembali ke tasnya, Laura memandang Luki. “Aku merasa tidak enak badan, Luki. Aku ingin pulang sekarang.”


Luki melihat wajah pucat Laura dan langsung menyetujui permintaannya. “Baiklah. Maaf, Niko. Kami pulang dulu.”


Niko hendak menyentuh Laura,tapi Luki sudah menggandengnya pergi. Niko memandang keduanya yang lenyap dari balik pintu. Niko melihat cincin bintangnya,senyumnya mengembang perlahan. Laura sudah melihat cincinnya.


Saat hendak bergabung dengan tamu yang lain, Niko melihat selembar kertas yang tercecer di lantai. Dia memungut kertas kecil tersebut. Mungkin tadi terjatuh dari tas Laura, pikirnya. Dia membuka lipatannya. Dua kata tertulis disana. Ada beberapa huruf yang sedikit hilang, tapi Niko masih bisa membaca dan mengenalinya. ‘JANGAN MENYERAH’. Tulisannya sendiri.


Niko tersenyum tipis. Sudah selama ini,tapi Laura masih membawanya. Sama seperti dia masih membawa buku sketsa pemberian Laura ke manapun dia berada. Laura masih menyukainya. Pikiran itu membuat Niko gembira.


“Kau terlihat senang sekali,” kata seseorang di belakangnya. Niko tersenyum melihat kedua orang tuanya. Tangannya memasukkan kertas yang di pegangnya ke saku baju kemudian memeluk papa dan mama.


“Aku senang kalian datang,” seru Niko gembira.


“Kami tidak akan melewatkannya.” Mama menatap putranya dengan bangga. “Mama bangga padamu.”


Niko melihat mama mengenakan kalung karya terbarunya.


“Teman-teman mama tidak henti-hentinya memuji perhiasan yang mama pakai. Mereka semua cemburu karena mama punya perancang perhiasan sendiri.”


Papa tertawa mendengar perkataan mama.


“Selamat, Niko,” kata papa sambil menyalaminya.


“Terima kasih, pa.” Semua pertentangan di antara Niko dan papa berakhir setelah Niko memenangkan kontes Tiffany. Sejak saat itu, papa tidak lagi menyesalkan keputusan Niko memilih karier di bidang perhiasan. Kini dia bangga putranya malah lebih tenar di bandingkan dengan dirinya.


Fb@ardhy ansyah


Ig@ardhy_ansyah123

__ADS_1


__ADS_2