
KEESOKAN harinya, Niko mengunjungi Restoran Antonio lagi. Maya yang menemuinya.
"Laura tidak masuk hari ini. Dia mengambil cuti," katanya. "Pulanglah." "Sampai kapan?" tanya Niko penasaran.
Maya sedikit kasihan melihat Niko yang terus-menerus memperhatikan pintu dapur. Berharap Laura keluar dari sana. Niko sudah menunggu selama berjam-jam.Akhirnya Maya bersimpati dan mendekatinya untuk memberitahukan bahwa Laura tidak masuk. "Mungkin sampai minggu depan." Maya menatap pria di depannya dengan simpati. "Pulanglah. Kembalilah minggu depan."
Niko membayar pesanannya dan keluar dari restorannya. Laura benar-benar menjauhinya. Niko mengambil handphone nya.
"Luki Rafael," kata suara diujung telepon.
"Luki,ini Niko," Niko menelepon dari balik kemudi. "kau ingat tentang tawaran kerja sama yang pernah kau utarakan sewaktu kita pertama kali bertemu?"
"Ya.Tentu saja," jawab Luki.
Niko menatap kegelapan malam. "Aku menyetujui tawaranmu."
Luki terdengar senang. "Aku senang kau menyetujuinya."
"Kapan kita akan bertemu untuk membahas soal kerja sama ini?" tanya Niko.
"Aku ada acara keluarga besok malam," kata Luki. "Bagaimana kalau sorenya saja? Di restoran apartemen?"
"Baiklah," kata Niko. "Sampai jumpa besok sore."
*************************
Keesokan sorenya, Luki bertemu Niko di restoran apartemen. "Jadi, apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Luki penasaran.
*(Laura)* Niko tersenyum. "Aku suka hotelmu. Aku sudah melihatnya. Aku bisa membuat rancangan perhiasan khusus hotelmu. Aku juga ingin membuka cabang tokoku di hotelmu." Luki menatap Niko tajam. "Kau benar-benar sudah memikirkannya."
"Tentu saja."
__ADS_1
"Kau punya dua toko di paris, satu di New York, dan sekarang di sini." Luki menjabarkan apa yang diketahuinya tentang bisnis Niko. "Keuntunganmu tahun lalu meningkat sangat tajam,bukan?" Luki tidak pernah berbisinis tanpa mengenal calon rekan bisnisnya.
Niko tersenyum. "Tapi tidak sampai setengah dari keuntungan yang di dapat Rafael Group bulan ini."
Luki tersenyum balik. Dia tahu dia berhadapan dengan orang yang tidak bisa di remehkan. Seandainya Niko Fareli menjadi lawan bisnisnya, Luki pasti akan mendapatkan tantangan baru yang menarik. Hal yang sudah lama tidak dia rasakan.Tapi bekerja sama dengan Niko pun merupakan tantangan tersendiri. Luki merasa masih ada alasan lain kenapa Niko mau bekerja sama dengannya. Rasanya tidak semudah itu Niko bisa berubah sikap. Bergabung dengan Rafael Group ataupun tidak, Niko sudah sukses. Dia tidak perlu ketenaran lagi. Luki memutuskan untuk tidak mengetahui alasan tersebut hari ini. Masih ada lain waktu.
"Aku akan mengajukan proposal kerja samanya minggu depan," kata Luki.
*********************
Laura turun dari mobil pribadi papa di depan apartemen Luki. Hari ini hari ulang tahun pernikahan orangtuanya. Ia datang untuk menjemput Luki makan malam bersama di rumah orangtua mereka. Laura baru saja berbelanja. Sopir pribadi papa akan menjemput papa di kantornya lalu kembali untuk menjemput Laura dan Luki di apartemen.
Laura masuk ke restoran apartemen,tempat Luki berjanji menunggunya. Laura melihat Luki. Tapi ia juga melihat Niko bersamanya. Setelah berusaha mati-matian menghindari Niko, ia malah bertemu lagi dengannya. Laura sudah mau pergi dari restoran, tapi Luki keburu melihatnya.
"Laura!" Luki memanggilnya.
Niko membalikkan badan dan melihat Laura. Dia tersenyum. Laura pasti tidak menyangka Luki sedang bersamanya. Seperti biasa, melihat Laura dapat meredakan rasa rindunya setelah kemarin tidak bertemu dengannya.
"Duduklah." Luki menunjuk tempat duduk di sampingnya.
Laura duduk perlahan. "Tentu saja tidak."
"Aku sudah memesan kopi untukmu," kata Luki sambil melambaikan tangan pada salah seorang pelayan di depan mereka.
Niko menatap Laura dengan tajam. Laura menghindari tatapan Niko. Laura lupa bahwa Luki tidak tahu tentang ketidaksukaannya terhadap kopi. Setelah kejadian di rumah sakit ketika Luki membuatkan kopi untuknya. Luki memang tidak pernah membuatkan kopi lagi untuknya. Dan Laura selalu memesan minuman terlebih dulu sebelum Luki memesankan untuknya.
Secangkir kopi tiba di depan Laura. Tangannya ragu untuk meraih cangkir tersebut. Ia tidak mungkin berterus terang pada Luki sekarang. Terutama di hadapan Niko
"Kau tidak meminum kopimu?" tanya Luki heran
Laura mencoba tersenyum. "Aku akan meminumnya kalau sudah lebih dingin."
Hp Luki berbunyi. Luki mengangkat teleponnya. Setelah meminta maaf pada Niko dan Laura, dia keluar dari restoran. Laura menunduk menatap kopinya.
__ADS_1
"Dia tidak tahu kau tidak suka minum kopi," kata Niko kemudian. "Kau berpura-pura tidak mengenalku. Apalagi yang kau sembunyikan darinya?"
Laura menatap Niko tajam. "Bukan urusanmu. Lagi pula, tidak penting apakah aku menyukai kopi atau tidak. Kalau orang yang aku sukai membErikannya padaku, rasa menjadi tidak penting, bukankah begitu?"
Niko tidak menjawab.
Laura mengangkat jemarinya dan mencoba menyentuh pegangan cangkirnya perlahan-lahan. Saat tangannya sudah hampir menyentuh cangkir, sebuah tangan lain sudah mengambilnya dari tangan Laura.
Laura melihat Niko meminum kopi yang ada di cangkirnya. Lalu setelah selesai. Niko mengembalikan cangkir tersebut ke depan Laura.
Dari belakang restoran,Luki memperhatikan hal itu dengan bingung.*(kenapa Laura membiarkan Niko meminum kopinya?)* Keheranannya makin menjadi-jadi ketika dia menutup teleponnya dan kembali ke kursinya. "Kau sudah meminum habis kopimu?" tanya Luki,memancing jawaban Laura. "Aku pesan satu cangkir lagi,ya?"
"Tidak usah," jawab Laura cepat. "Aku tidak haus lagi."
Jawaban Laura semakin membuat Luki kebingungan. Perlahan-lahan, tanpa sepengetahuan keduanya, dia menatap Niko,lalu kembali ke Laura. Luki melihat Niko menatap Laura dengan tatapan penuh kesedihan. *(Kenapa Niko menatap Laura seperti itu?) tanya Luki dalam hati. *(Laura juga seakan menghindari tatapan Niko. Aneh. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali.Atau...)*
"Niko," kata Luki mengalihkan perhatian, "kau tidak pernah bercerita padaku bagaimana kau bisa mengenal Julien Bardeux."
Niko melepaskan tatapannya dari Laura dan menatap Luki, senyumnya mengembang perlahan. "Seorang gadis menunggu berjam-jam untuk menyerahkan hasil rancanganku pada Julien."
"Oh, benarkah?" Luki terlihat tertarik dengan cerita Niko. "Dia pasti gadis yang istimewa."
Niko menatap Laura. "Ya. Dia memang gadis yang istimewa." Laura mendongak perlahan dan balas menatap Niko. "Cerita yang menarik." Ia memutuskan untuk memainkan peran purapuranya. "Mungkin suatu hari nanti aku bisa bertemu denganya."
Niko tertawa pendek. "Aku yakin kau bisa bertemu dengannya."
Telepon Luki berbunyi. Mobil pribadi papa sudah sampai di depan apartemen. Laura menarik napas lega. Ia tidak tahu harus berapa lama lagi berpura-pura tidak mengenal Niko.
"Papa sudah ada di depan apartemen," kata Luki pada Laura. "Maaf,kami harus pergi dulu. Lain kali kita ngobrol lagi."
Niko ikut berdiri mengantar kepergian Laura dan Luki. Dari dalam restoran dia melihat seorang pria setengah baya berjas hitam tersenyum pada Laura,dan memeluknya. Niko pernah melihat foto pria tersebut di koran bisnis beberapa hari yang lalu. Charles Rafael.Ayah Luki. Kelihatannya hubungan Laura dengan Charles Rafael sangat baik. Niko merasakan sedikit cemburu. Niko melihat Laura dan Luki serta Charles Rafael menaiki mobil hitam.
Niko menaiki lift apartemennya. Tampaknya makin hari Laura makin pandai menyembunyikan perasaanya. Niko mengganti bajunya dan mengambil raket tenisnya. Selama satu jam berikutnya dia tak henti-hentinya memukul bola tenis yang keluar dari mesin pelempar.
Napasnya terengah-engah. Tubuhnya penuh keringat. Rasa cemburu di hatinya mulai mereda. Dia kini menyadari bahwa dia tidak hanya menyukai Laura, tapi juga mencintainya.
__ADS_1
Niko memukul bola terakhir yang keluar dari mesin dengan sekuat tenaga. *(Saatnya berpurapura sudah berakhir)* Niko mengambil handuknya lalu berjalan keluar dari lapangan tenis apartemennya.