
NIKO bertemu kembali dengan Luki di lift apartemen seminggu kemudian. Dia menyerahkan undangan pameran perhiasannya. Luki mengatakan dia akan datang. Lalu Niko menambahkan, "ajaklah Laura." Luki menyetujui usul Niko. Dia tidak tahu alasan utama Niko mengundangnya adalah untuk bertemu Laura lagi.
Minggu depannya, Luki membawa Laura ke pameran perhiasan Niko. Laura tidak menyangka dia akan diajak ke pameran perhiasan itu, karena kalau tahu, sudah tentu dia menolaknya. Jadi,ketika melihat poster pameran perhiasan NF Jewelry di depan pintu masuk ballroom hotel, Laura kembali merasa gugup. Sudah seminggu dia berusaha untuk tidak pergi ke apartemen Luki. Dia tidak ingin bertemu secara sengaja maupun tidak dengan Niko.
Laura menghentikan langkahnya di pintu depan. Luki berbalik menatap Laura dengan bingung. "Kau tidak mau masuk?"
"Kau tidak pernah bilang kau mengajakku ke pameran perhiasan," keluh Laura. Terutama pameran perhiasan Niko.
"Aku kira kau akan menyukainya. Ayolah, kau boleh memilih perhiasan yang kau inginkan. Aku pasti akan membelikannya untukmu," Luki berusaha menghibur Laura. "Lagi pula, aku sudah janji pada Niko akan menghadiri pamerannya."
Laura menyerah. "Baiklah. Aku melakukan ini untukmu."
Di dalam ruangan pameran sudah terdapat kerumunan orang. Sebagian berasal dari kalangan atas. Kebanyakan dari mereka sedang mengagumi karya Niko yang terpampang di kotak-kotak kaca. Laura melihat Niko kewalahan berbicara dengan beberapa orang sekaligus. Laura tersenyum kecil. Sejak zaman sekolah dulu sampai sekarang,Niko tidak pernah luput dari perhatian.
Seorang wartawan memotret Niko bersama dengan salah satu koleksi perhiasannya. Luki mendekat ke arah Niko. Laura mengenggam tas tangannya kuat-kuat. Ia harus berpura-pura tidak mengenal Niko lagi hari ini.
Tepat saat Niko melihat Laura, seorang wartawan bertanya padanya, "apa yang membuat anda ingin menjadi perancang perhiasan?"
Niko tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari Laura, ia berkata dengan pasti, "saya sudah menyukai perhiasan sejak kecil. Awalnya hanya hobi, tapi lama-kelamaan saya serius ingin menekuninya. Kesempatan itu datang karena seorang gadis membantu saya meraih mimpi saya."
Tatapan Niko melembut. Dia masih menatap Laura. Mendengar komentar dari mulut Niko, Laura memalingkan wajah. Ia tidak bisa menata perasaannya. Guncangan demi guncangan menerpa hatinya. Kaget, syok, sedih, marah, haru, semuanya menjadi satu.
Sang wartawan tersenyum mendengar jawaban Niko. "Dan dimana wanita itu sekarang?" Tanyanya penasaran.
*("aku sedang memandangnya.")* kata Niko dalam hati. Dia melihat Laura menunduk. Niko mengerti. Laura tidak ingin seorang pun mengenalnya. *("baiklah, untuk sementara aku akan mengikuti kemauanmu, Laura.")*
"Rahasia," kata Niko tersenyum penuh misteri. "Dan kalau anda tidak keberatan, saya ingin berkeliling menyapa para tamu dulu."
Sang wartawan tertawa. Niko berjalan ke arah Luki. "Senang kau bisa datang, Luki. Kau juga, Laura."
"Pameran yang hebat," kata Luki.
Akhirnya menatap Niko lagi. Sepasang mata cokelat itu menatapnya dengan lembut. Ia mengingat kembali pertemuan pertama mereka. "Selamat, Niko" kata Laura tulus.
"Terima kasih....Laura." Niko meremas tangannya sendiri di dalam saku. Dia sangat ingin memeluk Laura saat itu juga. Wajah Laura masih sama seperti yang di ingatnya. Niko tidak ingat sudah berapa lama dia ingin mendengar suara Laura. Seminggu lalu ketika bertemu pertama kali,Niko terlalu syok untuk mendengarnya. Kini dia benar-benar bahagia bisa mendengar suara Laura kembali.
"Kalian berdua silahkan mengobrol," Laura berusaha menghindar. "Aku mau ke tempat makanan dulu." Tanpa persetujuan keduanya, Laura melenggang pergi.
Luki tersenyum pendek. "Begitulah Laura. Yang ada di pikirannya cuma makanan."
Niko penasaran. "Laura sangat suka makanan?"
Luki mendesah. "Laura seorang chef pasta. Kemanapun kami pergi, dia selalu mencoba makanan terlebih dahulu."
*("seharusnya aku sudah bisa menduganya,")* pikir Niko. "Aku ingin mencoba masakannya."
"Kau harus datang ke restoran Antonio kapan-kapan. Laura bekerja sebagai chef kepala disana," usul Luki.
("Terima kasih, Luki".)Niko tersenyum. "Aku pasti akan mencobanya."
__ADS_1
*********************************
Laura berusaha menenangkan diri sambil mengambil beberapa makanan ke piringnya.
Tangannya masih gemetar. Saat mulai menyantap makanan, dia tidak bisa merasakan apa pun. Matanys menatap kerumunan orang yang sedang melihat-lihat koleksi perhiasan Niko. Aneh, pikirnya, dia tidak melihat Erika di mana-mana. Mungkin Erika tidak hadir hari ini. Seharusnya Niko tidak mengatakan tentang gadis lain yang membantu mimpinya kepada wartawan. Kalau Erika tahu, tentu Erika akan cemburu. Walaupun delapan tahun sudah berlalu, Laura masih merasa bersalah karena tidak sengaja telah mendorong Erika dari tangga,sehingga Erika tidak bisa jalan. Laura tahu perasaan itu. Ia mengalaminya juga dua tahun yang lalu. Benar-benar menyakitkan. Laura tidak berencana untuk berada di pameran ini terlalu lama. Ia tidak ingin mengambil risiko di kenali oleh orang lain. Terutama Erika.
Laura berkeliling dari satu perhiasan ke perhiasan yang lain. Ada beberapa yang dia kenali dari karya Niko terdahulu. Matanya terpana saat melihat seuntai kalung yang memenangi perlombaan bergengsi di luar negeri. Niko sudah menjadi perancang perhiasan yang sukses. Laura tidak pernah meraagukan bahwa Niko akan sukses di bidang apa pun yang di gelutinya.
Tiba-tiba mata Laura terpaku pada sebentuk cincin di dalam lemari kaca. Laura mendekatinya. Tangannya berusaha menyentuh lapisan kaca yang menutupi cincin tersebut.
Cincin bintang buatan Niko.
Delapan tahun lalu,Laura melihat rancangannya,kini ia bisa melihat karya nyatanya. Telapak tangan Laura mendekati bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia terdiam tidak bergerak.
Begitulah Luki menemukan Laura. Terpana pada sebentuk cincin. Niko menyusul di belakangnya.
Luki mendekati Laura dan menyentuh pundaknya. Laura terperangah dan memandang Luki dengan sedikit terperanjat. "Kau menyukai cincinnya?" Tanya Luki.
Laura tidak bisa menjawab.
"Niko," Luki beralih pada pria di belakangnya, "kelihatannya cincinmu ini membuat Laura terpana. Aku ingin membelinya. Berapa harganya?"
Niko menggeleng. "Maaf cincin ini tidak dijual. Termasuk dalam koleksi pribadiku."
Luki sedikit kecewa. "Aku akan membayar berapapun harganya."
memandangi cincin bintang buatan Niko lagi. Ia hanya mendengar samar-samar percakapan Niko dan Luki. Laura melihat tujuh bintang yang mengelilingi cincin tersebut. Di salah satu bintang tersebut terdapat beberapa huruf. Laura menyipitkan matanya. Di tiga sudut paling atas terdapat tiga huruf. A.L.A.
Laura tidak tahu arti inisial itu. Lalu tanpa sengaja dia melihat dua huruf lainnya di dua sudut bawah. Ia tidak bisa menahan rasa kagetnya. Kalau di baca searah jarum jam dari sudut teratas, huruf-huruf tersebut menjadi L.A.U.R.A. Namanya. Tanpa sadar Laura menjatuhkan tasnya.
Luki berbalik menghadap Laura. Laura tersadar. "Maaf," katanya. Ia bergegas mengambil semua barang yang jatuh berserakan dari tasnya. Luki ikut membungkuk dan membantunya. Setelah semua barangnya kembali ke tasnya, Laura memandang Luki. "Aku merasa tidak enak badan, Luki. Aku ingin pulang sekarang."
Luki melihat wajah pucat Laura dan langsung menyetujui permintaannya. "Baiklah. Maaf, Niko. Kami pulang dulu."
Niko hendak menyentuh Laura,tapi Luki sudah menggandengnya pergi. Niko memandang keduanya yang lenyap dari balik pintu. Niko melihat cincin bintangnya,senyumnya mengembang perlahan. Laura sudah melihat cincinnya.
Saat hendak bergabung dengan tamu yang lain, Niko melihat selembar kertas yang tercecer di lantai. Dia memungut kertas kecil tersebut. Mungkin tadi terjatuh dari tas Laura, pikirnya. Dia membuka lipatannya. Dua kata tertulis disana. Ada beberapa huruf yang sedikit hilang, tapi Niko masih bisa membaca dan mengenalinya. 'JANGAN MENYERAH'. Tulisannya sendiri.
Niko tersenyum tipis. Sudah selama ini,tapi Laura masih membawanya. Sama seperti dia masih membawa buku sketsa pemberian Laura ke manapun dia berada. Laura masih menyukainya. Pikiran itu membuat Niko gembira.
"Kau terlihat senang sekali," kata seseorang di belakangnya. Niko tersenyum melihat kedua orang tuanya. Tangannya memasukkan kertas yang di pegangnya ke saku baju kemudian memeluk papa dan mama.
"Aku senang kalian datang," seru Niko gembira.
"Kami tidak akan melewatkannya." Mama menatap putranya dengan bangga. "Mama bangga padamu."
Niko melihat mama mengenakan kalung karya terbarunya.
"Teman-teman mama tidak henti-hentinya memuji perhiasan yang mama pakai. Mereka semua cemburu karena mama punya perancang perhiasan sendiri."
__ADS_1
Papa tertawa mendengar perkataan mama.
"Selamat, Niko," kata papa sambil menyalaminya.
"Terima kasih, pa." Semua pertentangan di antara Niko dan papa berakhir setelah Niko memenangkan kontes Tiffany. Sejak saat itu, papa tidak lagi menyesalkan keputusan Niko memilih karier di bidang perhiasan. Kini dia bangga putranya malah lebih tenar di bandingkan dengan dirinya.
********************************
"Laura, telepon untukmu!" Teriak Maya kearah dapur restoran.
Hari masih pagi. Sebentar lagi restoran akan buka. Laura berjalan menuju ruang makan restoran. "Dari siapa?" Tanya Laura pada Maya.
"Katanya dari Niko," kata Maya.
Hati Laura tersentak sekali. *("bagaimana Niko tahu aku bekerja di sini?")*
memohon pada Maya untuk tidak menerima telepon selanjutnya dari orang yang sama. Maya mengernyitkan dahi karena bingung. "Kenapa?" Tanyanya.
"Dia seseorang dari masa laluku yang tidak ingin aku ingat kembali," kata Laura. "Tolong bantu aku ya,mbak."
Lagi pula, Laura tidak mengerti mengapa Niko meneleponnya. Ia kira aksi pura-pura tidak mengenalnya sudah cukup untuk membuat Niko tidak mendekatinya lagi. Bukankah dia sudah punya Erika? Mengapa dia masih harus mengganggunya?
Maya melihat kegalauan sikap Laura dan mengangguk. "Aku akan mengatakan bahwa kau sibuk."
"Thanks, mbak." Laura kembali ke dapur.
Maya mengangkat telepon dan memberitahu Niko bahwa Laura sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu. Di ujung telepon, Niko sedikit kecewa. "Baiklah kalau begitu,nanti saya telepon lagi. Terima kasih."
Niko melihat situs Restoran Antonio dari komputernya. Sebuah restoran Italia di pinggiran kota. Sudah berdiri selama lebih dari sepuluh tahun. Di kenal sebagai salah satu restoran Italia yang di rekomendasi oleh para kritikus makanan. Niko melihat galeri foto di situs utama restoran. Pandangannya jatuh pada gambar dapur restoran. Dia membayangkan Laura sedang bekerja di sana dan tersenyum.
Sore harinya, Niko menelepon lagi. Dia ditolak kembali. Kali ini dengan alasan Laura sudah pulang.
Esok harinya, Niko mencoba menelepon lebih awal. Jawabannya masih tetap sama. Laura sibuk. Laura sudah pulang. Laura tidak berada di restoran. Atau Laura sedang rapat.
Pada hari ke empat Niko mengambil kesimpulan Laura tidak ingin menerima telepon darinya. "Apakah Laura sibuk?" Tanyanya di telepon pada hari kelima. Dia ingin memastikan sekali lagi.
Suara di ujung telepon terdengar mendesah. "Saya tidak mau berbohong lagi." Katanya. "Maaf. Tapi bisakah anda tidak menelepon ke sini lagi? Laura tidak ingin berbicara dengan anda."
Dugaan Niko benar. Laura tidak mau berbicara padanya. Laura ingin menghindarinya. "Baiklah. Terima kasih atas perhatian anda selama ini," kata Niko sambil menutup teleponnya.
Niko menatap cincin bintang di mejanya. *("kalau Laura tidak mau menemuiku,aku yang akan menemuinya")* tekadnya. *("masa penantian sudah berakhir. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi")*.
Niko menelepon David. Tak berapa lama kemudian David datang ke kantornya.
"Kau memanggilku, Niko?" Tanyanya. Niko mengangguk. "Aku butuh bantuanmu." "Tentu," kata David.
Niko tersenyum lalu memjelaskan seperti apa bantuan yang di perlukannya.
__ADS_1