
Luki berjalan dengan santai ke pintu apartemen. “Aku tidak akan berhenti mengejarnya Luki” kata Niko keras. Luki berbalik. “Laura bukanlah permainan untuk di menangkannya. Dia wanita yang istimewa. Kau belum menikahinya. Jadi aku masih punya kesempatan untuk memenangkan hatinya”.
Pintu lift membuka, Niko masuk ke lift. Luki mau tidak mau sedikit terkesan dengan kegigihan Niko. Tidak aneh rasanya Laura menyukai Niko. Kalau Niko tidak membuat Laura patah hati, dia bisa menjadi temannya. Tapi saat ini Niko bukan temannya.
Satu setengah jam kemudian, Luki mengambil koper Laura dari tangan gadis itu. “Aku akan tinggal sekitar dua minggu,” kata Laura lagi sekeluarnya dari pintu mobil Luki. “aku tidak mengganggu mu kan? Kau tidak punya pacar yang tinggal denganmu, bukan?”. Luki tertawa pendek. ‘’ aku tidak punya pacar sekarang. Kau boleh tinggal di apartemenku se maumu.”
“Baguslah kalau begitu,” kata Laura. “Terima kasih, Luki, karena mengizinkanku tinggal di apartemenmu untuk beberapa minggu ini”. Luki tersenyum tulus. “Aku akan melakukan apa pun untuk mu, kau tahu kan? Lagi pula kapan lagi aku punya pembantu gratisan yang sukarela membersihkan apartemenku?”.
Laura memukul lengan Luki perlahan. “Oh, jadi itu sebabnya kau mengizinkanku tinggal? Buat jadi pembantu gratisan? Enak saja. Aku tidak mau membereskan barang-barangmu. Aku hanya akan membereskan kamarku sendiri”. “Hei” keluh Luki sambil cemberut. “Setidaknya bereskan ruang tamuku ya,” pintanya sambil memelas”. “Baiklah” kata Laura.
Keduanya masuk ke lift sambil tertawa. Luki menceritakan lelucon dan Luara tertawa terpingkalpingkal. Tawa Laura terhenti ketika di lantai dua lift berhenti dan Niko bertemu di hadapannya. Laura tahu ia mengambil risiko besar bertemu dengan Niko saat memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen Luki. Tetapi Laura tahu ia tidak bisa menghindari Niko selamanya. Ia harus menghadapinya. Mungkin dengan seringnya mereka bertemu, lama-kelamaan kesedihan di hati Laura bisa hilang, dan ia akan terbiasa melihat Niko tanpa harus teringat pada kenangan mereka.
Niko melihat Laura dan Luki sedang tertawa. Harinya benar-benar sakit. Dia mencoba mengusir rasa sakitnya dengan menenangkan diri di spa, tapi ketika melihat keduanya saat ini, hati Niko bergejolak lagi. Dia melihat Luki memegang koper Laura.
__ADS_1
“Kau mau masuk Niko?” tanya Luki sambil tersenyum. Niko memasuki lift. Dia mencoba menenangkan hatinya untuk yang kedua kalinya hari ini. Di dalam lift, ketiganya tidak berbicara. Niko melihat bayangan Laura dan Luki dari pantulan Pintu lift di depannya. Dia melihat tangan Laura menggenggam tangan Luki dengan erat.
Niko mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mencoba menahan emosi. Matanya menatap nomor lantai di panel atas untuk mengalihkan perhatian. Karena kalau tidak, dia sudah ingin menghajar Luki di dalam lift.
Pintu lift membuka di lantai empat belas. Niko keluar tanpa menoleh pada keduanya. Laura akhirnya menghela napas lega setelah manahannya sejak Niko masuk ke lift.
“Apakah kau sudah berhasil membuatnya cemburu?” tanya Luki kepada Laura. Laura tidak mengerti dengan pertanyaan Luki. “Apa maksudmu?”.
“Aku tahu siapa Niko sebenarnya, Laura.” Luki memutuskan untuk berterus terang pada Laura. “ kau pernah menyukainya sewaktu sekolah dulu.” Laura memasuki apartemen Luki. Mengikuti Luki yang sudah berjalan didepannya, “bagaimana kau tahu soal itu?”. “Aku menyimpulkannya sendiri.” Luki memegang tangan Laura dan menyuruhnya duduk di kursi ruang tamu. “Sikapmu benar-benar berbeda saat bersama Niko. Saat pertama kali kau bertemu dengannya di toko perhiasan, kau terlihat lain. Tidak terlihat seperti biasnya. Aku tahu kau berpura-pura tidak mengenalnya. Tapi, Laura, kau bukan seorang pembohong ulung semakin lama aku semakin curiga kau sudah mengenal Niko sebelumnya. Aku bertanya pada mama tentang pria yang pernah kau sukai. Lalu aku mengetahui semuanya.”
“Aku bisa membuat hidup Niko tidak nyaman,” Luki mengusulkan. Laura langsung menggeleng. “Jangan, Luki. Jangan lakukan apa-pun terhadapnya.” “kenapa tidak? Dia benar-benar menyakitimu bukan?” Luki menuntut penjelasan Laura. “Ya. Tapi itu semua sudah menjadi masa laluku,” jawab Laura.
“Jadi bagaimana perasaan mu padanya sekarang?” tanya Luki akhirnya. Laura tersenyum getir. “Sejujurmya aku tidak tahu. Aku tidak mau memikirkan perasaanku padanya saat ini.” Luki melihat adiknya tampak tidak berdaya. Dia duduk di sebelah Laura dan merangkul bahunya. “Kau bisa mengandalkanku Laura. Kau tidak harus menanggung perasaanmu sendiran lagi. Kau punya aku. Kau bisa bicara padaku.”
__ADS_1
Laura menjatuhkan kepalanya ke bahu Luki. “Terima kasih, Luki”. “Kau bisa datang padaku, kapan pun kau merasa lelah.” Luki tersenyum hangat. “Bahuku selalu bersedia untukmu. Hanya saja...’’ Luki membuat Laura tersenyum. “Jangan terlalu lama. Karena nanti bahuku kram”. Laura menarik kepalanya di bahu Luki dan menonjok perut Luki perlahan. Ia tertawa. Laura sungguhsungguh beruntung memiliki kakak yang bisa menghiburnya.
Laura bertemu lagi dengan Niko sepulang dari restoran tiga hari kemudian. Kali ini mereka bertemu saat sedang menunggu lift di apartemen. Keduanya masuk tanpa berkata-kata. Laura berusaha tidak melihat Niko dan melupakan keberadaan Niko di sampingnya.
“Buku yang kau jatuhkan saat kita pertama kali bertemu...” Niko mengakhiri keheningan diantara mereka, “buku fisikamu bukan?”. Laura terdiam. Niko berbalik menghadap Laura. “Aku baru saja mengingatnya lagu beberapa hari yang lalu.” Ditatapnya Laura tanpa berkedip. Laura memutuskan untuk tidak berkomentar. Tapi ucapan Niko menyentuh hatinya. Niko mengingat pertemuan pertama mereka di taman sekolah waktu itu.
Pintu lift membuka di lantai empat belas. Niko keluar dari lift sambil mendesah. Tiba-tiba tangannnya menahan pintu lift sebelum menutup. Dia menatap Laura dengan lembut, tidak ada kebencian di matanya.
“Maaf,” ucapnya perlahan. “Kau menyukaiku terlebih dahulu tanpa aku sadari. Tapi aku berjanji... aku akan menyukaimu lebih lama dari pada kau menyukaiku.” Niko melepaskan tangannya dari pintu lift. Sebelum pintu pift tertutup, ia memberi seulas senyuman untuk Laura. Ketika pintu lift terbuka di lantai berikutnya. Laura keluar dan terduduk di depan lift. Ia menangis perlahan. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Niko setelah apa yang di katakan pria itu tadi? Laura benar-benar takut dengan perasaannya. Berawal dari menyukainya, tidak bisa melupakannya, dan kini mencintainya.
Hari-hari berikutnya, Laura memaksa diri mengabaikan perasaannya. Ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ia bekerja tanpa kenal lelah. Perbaikan rumahnya akan segera selesai. Tak lama lagi ia sudah bisa kembali ke rumah.
Fb@ardhy ansyah
__ADS_1
Ig@ardhy_ansyah123