1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 21


__ADS_3

KEESOKAN harinya, Luki keluar dari kamar Laura dan bertemu dengan ibu tirinya. "Bagaimana keadaan Laura?" Tanya Helen.


"Sudah baikan. Dia masih tidur sekarang. Bisakah kita bicara sebentar?" Luki tidak sempat berbicara dengan ibu tirinya secara pribadi sejak kecelakaan yang menimpa Laura.


Helen mengangguk.


Di kantin rumah sakit, Luki membelikan secangkir teh untuk ibu tirinya.


"Kau terlihat lelah," kata Helen khawatir. "Sebaiknya kau pulang beristirahat. Selama seminggu ini kau menunggui Laura terus."


Luki menggeleng. "Aku tidak lelah. Ehm...... aku sudah membaca kartu ucapan ulang tahun yang ditulis olehmu. Laura membErikannya padaku di hari dia mengalami kecelakaan. Maaf, aku tidak tahu selama ini kau memikirkanku juga."


Helen menarik napas panjang dan memandang Luki, anak asuhnya yang kini sudah dewasa. "Aku tidak punya keberanian untuk mengirimkannya padamu."


"Kau benar-benar pergi." Luki menatap Helen dengan sedih. "Ketika aku menyuruhmu pergi waktu itu, kau benar-benar pergi. Aku tidak menyangka kau akan mengikuti keinginanku."


Helen meletakkan cangkir tehnya. Menatap Luki dengan lembut. "Aku tahu aku takkan pernah bisa menggantikan ibumu. Tapi, aku menyayangimu seperti anakku sendiri."


"Waktu itu...," pikiran Luki melayang ke masa 25 tahun yang lalu. "Sebenarnya aku tidak membencimu. Aku benar-benar takut. Kalau aku mulai menyukaimu,aku takut aku akan melupakan ibuku."


"Kenangan ibumu tidak akan hilang selamanya, Luki."


"Aku tahu itu sekarang. Kau bisa saja tinggal waktu itu. Aku hanya seorang anak kecil. Papa tentu akan membelamu. Mengapa....mengapa kau menuruti keinginanku untuk pergi?"


Helen menatap putra tirinya dengan lembut. "Karena....sebelum aku mencintai papamu, aku menyayangimu lebih dulu. Aku ingat ketika pertama kali kita bertemu. Kau berada di taman dengan mamamu. Kau berumur tiga tahun. Kau tersenyum padaku dan memberiku setangkai mawar. Saat itu aku menyadari kau telah mengambil hatiku. Mengasuhmu bukan sekedar pekerjaan lagi bagiku, melainkan hidupku. Aku menyayangimu, Luki. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa papamu menyukaiku dan memutuskan untuk menikahiku. Dia berpikir aku bisa menjadi ibu yang baik untukmu."


Luki tertegun mendengar penuturan Helen. Hatinya merasakan keharuan yang mendalam. "Maaf. Aku menyebabkan putrimu mengalami kecelakaan." Lalu Luki menceritakan bagaimana dia bertemu dengan orang yang menabrak Laura.


Helen hanya menggeleng. "Tidak. Bukan salahmu."


"Aku menyakiti putrimu. Dan kau tidak marah?" Tanya Luki bingung.


"Aku rasa kau sudah cukup menghukum dirimu sendiri." Helen menyentuh tangan Luki perlahan. "Aku tidak menyalahkanmu. Aku yakin Laura juga tidak menyalahkanmu. Satusatunya orang yang merasa bersalah hanya dirimu sendiri. Kau harus melepaskan rasa bersalahmu, Luki."


"Aku tidak bisa." Luki mengepalkan tangannya. "Aku terlalu marah untuk bisa melepaskannya. Sama seperti ketika papa tidak berada disamping mama saat mama meninggal. Aku masih marah pada papa karena hal itu."


"Oh...kau salah sangka." Helen menggenggam jemari Luki erat-erat. "Papamu berada di luar negeri karena dia ingin mencari dokter terbaik untuk mengobati penyakit mamamu. Dia memohon dokter terbaik itu untuk pulang bersamanya. Tapi papamu tidak menyangka penyakit mamamu sudah parah. Dan ketika pulang, papamu sudah terlambat. Mamamu sudah tidak bisa diselamatkan."


"Apa?" Tanya Luki tidak percaya. "Papa tidak pernah memberitahuku soal ini. Mengapa?"


"Aku rasa papamu merasa terlalu bersalah dan berduka dengan kepergian mamamu. Dia tahu kau tidak akan menerima penjelasannya. Papamu benar-benar mencintai mamamu, Luki. Dia benarbenar kehilangan semangat hidup ketika mamamu meninggal. Berbaikanlah dengannya. Jangan biarkan papamu kehilanganmu juga."


Luki tidak kuasa menahan kesedihan dihatinya. Kini, setelah 25 tahun, kebenaran masa lalu terungkap.


"Aku harus kembali ke kamar Laura. "Helen berdiri dari kursinya. "Luki, sebaiknya hari ini kau tidak usah menjaganya, biar aku saja. Kau istirahatlah. Aku tidak mau kau jatuh sakit."


Saat Helen berbalik pergi, Luki tersenyum. "Terima kasih... ma..."


Helen berbalik kembali kehadapan Luki. "Apa...katamu?:


Luki berdiri dan mengahampiri Helen. "Aku bilang...terima kasih,mama. Kau adalah mamaku sekarang."


Helen menangis mendengar pengakuan Luki.


Luki memeluk Helen untuk pertama kalinya. "Aku senang kau yang menjadi ibu keduaku. Papa tidak salah pilih."


Helen memeluk putra tirinya sambil terisak-isak. "Terima kasih. Terima kasih karena telah menerimaku."


"Sekarang kita satu keluarga." Luki melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Helen, mamanya sekarang. "Aku akan pulang dan istirahat. Hari ini mama yang jaga. Tapi besok aku yang jaga, oke?"


"Baiklah." Helen tersenyum.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Sesampainya di apartemen, Luki bergegas mandi. Kelelahan selama satu minggu akhirnya memaksa tubuhnya untuk beristirahat. Lima jam kemudian, Luki bangun dengan tubuh segar. Ada satu panggilan tak terjawab di HP nya. Dari inspektur Rahmat, petugas polisi yang menangani kasus kecelakaan Laura. Luki menelepon balik. Ternyata ada kabar baik. Keberadaan Dragon sudah terlacak. Polisi sudah menemukan tempat tinggal Dragon.


Sebelum sambungan telepon berakhir, Luki meminta sesuatu hal pada pak Rahmat. Dan setelah berbicara panjang lebar, akhirnya pak Rahmat menyetujui keinginan Luki.

__ADS_1


 


************************


Dragon membuka pintu rumahnya pelan-pelan. Dia baru saja pulang dari pertemuan geng premannya. Minggu depan dia berencana mencuri mobil mewah di kawasan elite.


Ruang depan di rumahnya gelap. Dragon menyalakan lampu. Dan betapa kagetnya ia melihat Luki Rafael duduk dikursinya.


"Halo, Dragon. Kita bertemu lagi."


Mata Dragon mulai mengawasi sekelilingnya. "Bagaimana kau bisa ada disini?"


Luki berdiri. "Itu tidak penting. Kau telah sengaja menabrak adikku dan membiarkannya terkapar tak berdaya di jalan."


Dragon melipat kedua tangannya di dada. "Aku tidak tahu apa maksudmu."


Luki memperlihatkan salinan surat ancaman Dragon. "Kau menulis ini. Yang kau tabrak bukan pacarku. Tapi adikku. Seorang gadis yang sangat istimewa."


"Semua orang bisa menulis surat ancaman," Dragon berkelit. "Kau pasti punya banyak musuh.


Bisa saja orang itu menulisnya dengan memakai namaku."


Luki berusaha menahan amarahnya dengan mengepalkan tangan. "Ketika kau menbrak adikku, dia sempat melihatmu. Saat aku memberi fotomu, dia mengenalimu sebagai orang yang menabraknya. Kau akan berada di penjara untuk waktu yang sangat lama."


Dragon tersenyum lebar. "Kalaupun aku menabrak adikmu,seperti yang kau tuduhkan, kau tidak punya bukti. Adikmu bisa saja mengenaliku,tapi kalau memang dia terkapar dijalan seperti katamu, bukankah kondisi tubuhnya pasti lemah? Mana mungkin dia bisa melihat secara jelas siapa yang menabraknya? Walaupun kau punya seribu pengacara, argumenmu tidak akan bertahan di pengadilan."


Luki memandang wajah Dragon dengan tatapan mematikan. "Aku tahu. Selama melakukan aksimu kau tidak pernah meninggalkan jejak. Sampai sekarang."


"Apa maksudmu?" Tanya Dragon lantang.


"Kau membuat satu kesalahan," Luki balas menantang Dragon.


"Kesalahan apa?" Dragon mengerutkan kening, tangannya bergerak tidak mau diam.


"Kau menabrak adikku di depan gedung apartemen Rafael. Apartemenku." Luki manatap Dragon sambil berjalan mendekatinya. "Ada banyak kamera pengawas di apartemenku. Ada beberapa kamera yang merekam kejadian saat kau menabrak adikku. Mukamu terpampang jelas disana. Kalau itu belum cukup, kau melakukan kesalahan lagi. Kau membuat surat ancaman dan menaruhnya di mobilku di dalam gedung parkir. Ada kamera pengawas juga disana. Kau boleh menutupi tubuhmu dengan jas hitam dan kacamata, tapi itu tetap dirimu. Semuanya sudah berakhir. Kau akan mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama. Aku akan memastikan hal itu sendiri."


Muka Dragon menjadi pucat. Dia mencoba berlari keluar pintu masuk rumahnya. Tetapi beberapa petugas polisi sudah mengacungkan senjata dan menyuruh Dragon diam di tempat.


Dua polisi menggiring Dragon dan memborgolnya. Mereka memasukkan Dragon ke mobil polisi. Sebelum mobil tersebut pergi, Luki membungkuk dan berbisik pada Dragon, " kau melakukan kesalahan di hari kau bertemu denganku." Tatapan Luki menusuk tajam tanpa perasaan kedalam mata Dragon. "Tidak ada yang boleh menyakiti keluargaku. Ingat itu!


Dragon beringsut menjauh dari tatapan Luki. Tatapan Luki terlihat sangat mengErikan di matanya. Tak lama kemudian mobil tersebut pergi. Membawa Dragon kekantor polisi.


"Terima kasih atas bantuan bapak." Luki berjalan ke arah inspektur Rahmat.


"Ini sudah menjadi tugas saya," kata inspektur Rahmat. "Lagi pula, saya juga harus berterima kasih pada anda. Akhirnya penjahat kelas kakap seperti Dragon bisa tertangkap. Saya yakin, dengan bukti yang kuat, Dragon akan mendekam di penjara cukup lama."


Luki mengangguk perlahan.


"Jangan sungkan menelepon saya kalau anda butuh bantuan," kata inspektur Rahmat. Selama beberapa hari ini Luki sudah mengumpulkan barang bukti untuk membantu polisi menyelidiki kecelakaan Laura. Inspektur Rahmat belum pernah melihat orang segigih Luki untuk mendapatkan keadilan. Diam-diam dia menghormatinya.


"Tentu." Luki mengangguk lagi, lalu menjabat tangan inspektur Rahmat, pria yang patut dihormatinya.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


"Tinggal satu langkah lagi. Ayolah,Laura! Kau bisa melakukannya!" Luki memberi semangat.


Laura mengangakat tangannya dan menyuruh Luki menurunkan suaranya. "Jangan kencangkencang. Malu dong dilihat orang-orang. Pergi sana. Kau malah mengganggu terapiku."


Luki menggeleng. "Aku sudah berjanji akan mengikuti terapimu sampai kau sembuh dan bisa berjalan normal lagi."


Laura memandangi wajah Luki. Ia tahu Luki masih merasa bersalah atas dirinya. Selama tiga bulan Laura tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali. Lalu setelah tiga bulan, dokter Riswan memberi sinyal positif atas pemeriksaan kaki Laura,dan menyarankan Laura untuk menjalani terapi fisik.


Laura berpegangan pada dua tiang dan mencoba berjalan satu langkah lagi. Dalam waktu satu bulan berikutnya, Laura sudah mengalami kemajuan. Ia bertekad untuk sembuh. Luki selalu menemaninya setiap terapi. Mama sudah pindah dan tinggal kerumah papa. Selama masa penyembuhan,Laura juga pindah kerumah orangtuanya, tapi ia bersikeras kembali kerumah lamanya setelah sembuh. Ia tidak ingin berada terlalu jauh dari tempat kerjanya.


Selama berada dirumah sakit, Antonio, Maya, dan semua karyawan restoran bergantian menengoknya tiada henti. Antonio berharap Laura cepat sembuh dan bisa kembali ke dapurnya lagi. Antonio untuk sementara menjabat kembali menjadi chef kepala dibantu oleh Robi, koki senior yang sudah bekerja lebih dulu dari Laura. Untuk mengisi kekosongan waktunya selama masa tidak kerjanya, Laura sering menulis resep-resep baru untuk restoran Antonio,dan meminta Antonio untuk mempraktikkannya.


setelah selesai terapi, Laura membujuk Luki untuk mengantarnya ke restoran. Sudah lama ia tidak berkunjung ke sana. Luki mengalah dengan syarat Laura tidak boleh bekerja sama sekali. Hanya boleh melihat dan bertemu teman-temannya.

__ADS_1


"Laura!" Seru maya terkejut melihat kedatangan Laura. "Aku akan bilang Antonio kau ada disini.


Para pelayan lain mengerubungi Laura dan menanyakan kabarnya. Mereka menempatkan Laura dan Luki di tempat duduk dekat dapur. Antonio keluar dari dapur sambil tersenyum. "Bagaimana kabar chef favoritku?"


Laura tertawa lebar dan memeluk Antonio. "Aku baru saja selesai terapi. Kau tidak akan menjadi chef kepala terlalu lama. Aku akan kembali dalam waktu dekat."


"Bagus." Antonio ikut senang dengan ke optimisan Laura. "Tapi, kau tidak boleh bekerja terlalu lama. Lima masakan perhari saja. Tidak lebih."


Laura cemberut. "Masa cuma lima? Dua puluh masakan perhari."


Antonio menggeleng. "Tidak. Tidak ada tawar-menawar."


"Sepuluh saja,oke?" Kata Laura ngotot. "Sepuluh masakan perhari. Dan setelah sembuh total,aku mau bekerja penuh."


Antonio tampak berpikir panjang. "Hm..... tujuh saja. Dan setelah sembuh kau boleh bekerja penuh, tapi hanya empat hari dalam seminggu. Tiga hari lainnya kau libur."


"Oke," Laura menyetujui dengan cepat. "Aku juga ingin menghabiskan waktu libur bersama keluargaku. Sekarang aku ingin makan masakan buatanmu, Antonio. Selama empat bulan ini aku makan masakan rumah sakit yang benar-benar hambar. Sekarang aku ingin makan enak," katanya sambil tersenyum lebar.


"Aku akan menyiapkan makanan yang enak untukmu," Antonio tersenyum lalu masuk ke dapur.


Melihat Laura tersenyum senang, Luki merasa lega. Dia tahu betapa sulit terapi yang dijalani Laura. Tapi Laura tidak pernah sekalipun mengeluh kesakitan padanya. Dalam waktu empat bulan, hati Luki dipenuhi dua wanita istimewa. Helen dan Laura. Luki berbaikan kembali dengan papa. Dan untuk pertama kalinya, Luki merasakan kekuatan kasih sayang keluarga.


 


******************


Bulan demi bulan berlalu. Terapi fisik yang dijalani Laura berjalan lancar. Pada akhir bulan ketujuh, Laura sudah bisa berjalan perlahan-lahan tanpa bantuan besi penyangga. Dokter Riswan ingin Laura menginap selama dua hari untuk menjalani pemeriksaan tubuh secara keseluruhan sebagai tahap akhir dari proses terapi fisiknya. Kalau hasil pemeriksaan Laura bagus, bisa dipastikan Laura bisa kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa.


"Laura." Luki masuk membawa termos panas. "Aku membawakan sesuatu untukmu."


Laura mendesah. Luki menemaninya hampir setiap hari. Bukannya Laura tidak senang, tapi dia tahu ada alasan penting mengapa Luki melakukannya. Rasa bersalah Luki belum juga hilang, padahal sudah berulang kali Laura bilang ia tidak pernah menyalahkannya bahkan, tertangkapnya Dragon, orang yang menabraknya, dan hukuman penjara selama lima belas tahun pun masih belum membuat Luki berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


Luki membuka termos di tangannya. "Aku membuatnya sendiri."


Laura menatap kakaknya dengan sedikit kesal. "Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain mengujungiku terus? Aku yakin kerjaanmu menumpuk di perusahaan."


"Tidak ada hal yang lebih penting dari pada merawatmu," kata Luki sungguh-sungguh. "Lagi pula, aku kan punya banyak asisten. Biarkan saja mereka yang mengerjakan tugasku."


"Aku dengar dari papa, kau berjanji untuk bekerja padanya selama satu tahun." Laura memegang tangan Luki. "Tolong pikirkan ulang. Papa membutuhkanmu di perusahaan. Papa benar-benar bangga padamu. Selama satu tahun ini, papa bilang kau punya banyak ide bagus untuk kemajuan perusahaan."


"Baiklah. Kalau kau ingin aku tetap bekerja di perusahaan papa, aku akan melakukannya," Luki berjanji.


Laura menggeleng. "Tidak. Aku tidak mau kau melakukannya karena aku. Aku mau kau melakukannya karena dirimu sendiri. Tidakkah kau ingin memajukan usaha yang dirintis papa?"


"Kau benar." Luki duduk disamping tempat tidur Laura. "Aku akan mempertimbangkannya baikbaik. Sekarang, ayo minum kopi buatanku. Aku benar-benar membuatnya khusus untukmu." "Kopi?" Laura menelan ludah. Luki tidak tahu bahwa Laura tidak suka kopi. Laura tidak bisa memberitahu Luki soal ketidaksukaannya. Laura tidak tega membuat Luki kecewa. Apalagi Luki membuat kopi itu khusus untuknya. Itu hanya akan membuat rasa bersalahnya bertambah lagi.


"Baiklah. Aku akan meminum kopi, tapi...." Laura menatap Luki serius, "berjanjilah padaku untuk melepas semua rasa bersalah itu dari hatimu. Setiap kali kau merasa demikian, hatiku merasa tidak enak. Mulai sekarang aku tidak ingin melihat kau memandangku dengan tatapan seperti itu lagi. Gantikan rasa bersalahmu dengan kasih sayang. Dan aku akan menerimanya dengan senang hati."


Luki menunduk, lalu menatap Laura. "Kau benar-benar wanita yang hebat, Laura. Aku berjanji tidak akan merasa bersalah lagi setelah hari ini." "Bagus." Laura tersenyum senang.


"Aku tidak pernah dikalahkan oleh seorang wanita sebelumnya." Luki memandang Laura sambil mengingat pertemuan pertama mereka. "Kau mengalahkanku dengan telak saat membuatku terkejut dengan membawa semua jenis menu makanan ke hadapanku. Tapi aku tidak heran. Hanya seorang Rafael yang bisa mengalahkan Rafael lainnya, bukan?"


Laura tersenyum. "Ya, kau benar. Aku bahkan menyebutmu si pria menyebalkan berulang kali dalam hati. Kini kau sudah berubah menjadi kakak yang hebat."


Laura menarik napas panjang dan bersiap-siap meminum kopi buatan Luki. Mungkin kalau menahan napasnya sambil meminum kopi, ia tidak akan menghirup baunya dan tidak akan memuntahkannya. Laura mengambil gelas di hadapannya dan meminumnya perlahan-lahan. Laura berpikir untunglah dia berada dirumah sakit. Ia bisa meminta obat anti mual sesudahnya.


Luki menatap Laura yang meminum kopi buatannya. Perlahan-lahan perasaan bersalah pada adiknya mulai berkurang.


"Aku sudah meminum kopimu." Laura barharap perutnya bisa bertahan sesaat. "Sekarang aku mau istirahat dulu. Kau pulanglah."


Luki mengangguk. "Aku akan kembali lagi besok. Kau istirahatlah."


Setelah Luki keluar dari kamarnya, Laura segera menekan tombol untuk memanggil suster dan meminta obat anti mual. Beberapa saat kemudian setelah perutnya merasa baikan, Laura perlahan-lahan mengangkat baju rumah sakitnya. Ia melihat parutan luka mengErikan sepanjang paha hingga lututnya. Tanpa terasa air matanya mengalir turun. Laura menangis terisak-isak. Ia merasa ada satu bagian dalam dirinya yang tidak bisa kembali lagi. Ia telah cacat. Dan bekas luka itu akan menjadi sebuah tanda yang tidak akan hilang selamanya.


("Hanya untuk satu hari ini saja"), janjinya dalam hati. ("Biarkan aku menangisi lukaku hari ini").


 


*******************************

__ADS_1


Pada hari ketika Laura bisa berjalan dengan normal, orangtuanya menikah ulang. Luki dan Laura menjadi saksi mereka dalam perayaan pernikahan sederhana orang tua mereka. Laura memandang mama yang tampak cantik dengan gaun putih. Ia tersenyum senang. Mama berhak mendapatkan kebahagiaannya. Sedangkan untuk dirinya, keluarga barunya dan pekerjaan memasaknya sudah membuatnya senang. Itu saja sudah cukup.


__ADS_2