1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 33


__ADS_3

 


Laura menarik napas perlahan. Ia mencoba mengenang setiap sudut dapur restorannya. Pelanggan terakhir untuk sore hari itu telah pergi. Restoran telah tutup. Laura akan memberitahu Antonio bahwa ia tidak bisa bekerja malam nanti. Ia akan memberitahukan soal operasi kakinya pada keluarganya. Kakinya mulai terasa sakit lagi. Laura mengusapnya perlahan. Sebentar lagi, katanya pada kakinya, bertahanlah sebentar lagi.


Laura keluar dari dapur. Ia melihat restorannya yang sepi. Di sana hanya tersisa beberapa pelayan dan Maya. Laura akan memberitahu Maya setelah ia memberitahu orangtuanya. Maya sudah seperti keluarganya. Ketika Laura akan memasuki kantor Antonio, pintu restorannya terbuka. Laura berbalik dan melihat Niko terengah-engah menatapnya.


Hati Laura terasa sangat sakit. Aku tidak bisa menghadapinya sekarang, katanya dalam hati.


Niko langsung mendatangi Laura dan berdiri satu langkah di depannya. “ uki kakakmu. Bukan pacarmu.”


Para pelayan lain dan Maya langsung menyingkir, meninggalkan keduanya. Mereka pasti menyadari apa pun yang hendak dibicarakan oleh Laura dan Niko, pasti bersifat pribadi.


“Aku tidak pernah mengatakan bahwa  uki pacarku,” jawab Laura tenang, berlawanan dengan perasaanya yang tak karuan. “Kau berasumsi sendiri. Dari mana kau tahu tentang hal ini?”


“ uki memberitahukannya sendiri padaku,” kata Niko.


Laura seharusnya sudah bisa menebaknya. Kakaknya selalu melakukan apapun yang dia inginkan. Tapi Laura tidak yakin kenapa Luki memutuskan untuk berterus terang pada Niko.


“Aku tidak bisa mengahadapimu sekarang, Niko,” kata Laura sedih. “Tolong, pergilah.” Niko menggeleng. “Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku sudah menyukaimu sejak lama. Delapan tahun di negeri berbeda. Tapi perasaanku tidak pernah berubah. Wajahmu selalu membayangiku dimana pun aku berada.”


Laura terharu mendengar pengakuan Niko. Tapi rasa sakit di kakinya menyadarkannya. Ia tidak bisa berada di samping Niko. “Aku sudah melupakanmu, Niko. Kau hanya bagian dari masa laluku.” Laura berusaha mengatakannya sekejam mungkin.


Niko menggeleng tidak percaya. Dia mengambil selembar kertas dari sakunya dan menunjukannya pada Laura. “Kau tidak pernah melupakanku. Aku menemukan kertas ini di pameranku saat kau menjatuhkan tasmu. Kau selalu membawa kertas yang kubErikan padamu. Sama seperti aku selalu membawa sketsa pemberianmu.”


Dengan tangan satunya lagi Niko memperlihatkan buku sketsa pemberian Laura. Niko menunjukkan halaman demi halaman gambar rancangannya pada Laura. Dimulai dari cincin bintang yang pertama kali membuat Laura terkesan. “Aku selalu menggambar rancangan terbaikku di buku sketsamu.” 

__ADS_1


Laura menggenggam kedua tangannya sendiri sampai memerah. Ia berusaha menahan perasaanya. “Berhenti, Niko,” ucapnya meminta Niko berhenti memperlihatkan gambar rancangannya.


Niko berhenti dan menaruh buku sketsanya di meja makan terdekat. “Kenapa kau masih saja menyangkal perasaanmu?”


Laura menggeleng. Walapun hatinya sakit mengatakan hal selanjutnya pada Niko, ia harus mengatakannya. “ Aku tidak menyukaimu, Niko.” Aku mencintaimu, katanya dalam hati.


“Kau berbohong,” sanggah Niko.


“Aku tidak berbohong.” Laura menatap lurus ke bola mata Niko. Ia mengambil kertas kecil yang sudah menemaninya selama delapan tahun dari tangan Niko dan merobeknya menjadi serpihan kecil. “Hubungan kita sudah berakhir.”


Niko menatap Laura dengan kesedihan mendalam di matanya. “Kenapa kau melakukannya?”


“Aku kan sudah bilang, aku tidak menyukaimu lagi,” kata Laura dingin.


“Aku tidak peduli apakah kau mempercayainya atau tidak.” Laura berpura-pura tidak peduli perasaan Niko.  ebih baik sakit sekarang daripada nanti. “Aku tidak menyukaimu. Aku ingin kau pergi dan tidak menggangguku lagi.”


“Bukankah kemarin kau setuju bila kita berteman? Kenapa sekarang sikapmu berubah drastis?” Niko masih tidak mau menyerah.


Laura tertawa sinis. “Teman? Niko, kita tidak akan pernah bisa berteman. Akuilah, kau juga tidak mengharapkanku sekadar menjadi temanmu, kan?” Niko terdiam.


“Kau bilang kau menyukaiku, bukan?” tanya Laura sambil menarik napas perlahan.


“Amat sangat,” jawab Niko langsung.


Laura mencoba menenangkan hatinya dan berkata, “Kalau kau begitu menyukaiku, kau seharusnya menghormati keinginanku.”

__ADS_1


“Itu satu-satunya keinginanmu yang tidak bisa kupenuhi,” ucap Niko jujur.


“ ihatlah aku. Tatap mataku.” Laura memaksa dirinya menghilangkan semua perasaanya terhadap Niko. “Aku memang pernah menyukaimu dulu. Amat sangat, seperti katamu. Tapi sekarang, saat ini, aku tidak menyukaimu. Apakah menurutmu aku berbohong?”


Niko menatap Laura lama. Tatapan Laura tidak berubah, tetap dingin terhadapnya. Niko menggeleng. “Tidak. Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku.” Niko tahu Laura bukanlah seorang pembohong ulung. Tatapannya padanya saat ini benar-benar membuatnya patah hati.


“Pergilah, Niko,” kata Laura perlahan. “Kau bisa menyukai wanita lain yang lebih baik dariku.  upakanlah aku. Karena aku sudah melupakanmu.” Niko tidak tahu harus mengatakan apa.


Laura membalikan badan. Ia tidak ingin Niko melihat air matanya.


Tiba-tiba Niko melingkarkan kedua tangannya di pinggang Laura. Memeluknya erat dengan sepenuh hati.


Laura terkejut dan berusaha melepaskan pelukan itu. “Niko...”


“Hanya satu menit,” bisik Biko lembut. Pelukannya di tubuh Laura semakin erat. Bibirnya menyentuh pelan telinga kanan Laura. “Berikan aku satu menit untuk memelukmu seperti ini, lalu aku akan melepaskanmu.”


Laura memejamkan mata. Dibiarkannya Niko memeluknya dari belakang. Ia bisa merasakan hangat napas Niko di telinganya. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan. Untunglah Niko tidak bisa melihat wajahnya saat ini. Kalau tidak, Niko pasti tahu bahwa ia sudah membohonginya.


Perlahan-lahan pelukan Niko mengendur. “ elamat tinggal, Laura,” katanya.


Laura mendengar langkah Niko menjauh darinya. Suara pintu restoran terbuka lalu tertutup. Laura berbalik. Ia melihat punggung Niko. Tidak, bisiknya dalam hati, aku tidak bisa membiarkannya pergi.


Kakinya mulai melangkah, tangannya berusaha meraih punggung Niko dari balik pIntu. Rasa sakit itu datang lagi, tapi kali ini Laura tidak bisa menahannya lagi. Punggung Niko semakin lama semakin pudar. Seluruh tubuh Laura mulai terasa lemas. Ia jatuh ke lantai. Dan kegelapan menyelimutinya.


 

__ADS_1


__ADS_2