
“Aku harap dia menyukai cincinnya,” kata Luki perlahan. “Aku tidak pernah membErikan sesuatu padanya sebelum ini.”
“Aku rasa, jika orang yang mau kau beri cincin ini menyukaimu, dia akan menyukai pemberianmu juga,” kata Niko.
Luki tertawa mendengar perkataan diplomatis Niko. “Ya. Kau benar. Dia akan menyukainya.” “Siapapun wanita itu, dia benar-benar beruntung,” komentar Niko.
Luki menggeleng. “Tidak. Aku yang beruntung. Dia wanita yang spesial.”
Sesaat, Niko merasa cemburu pada Luki karena memiliki wanita istimewa dalam hidupnya. Niko sudah melihat ratusan pria tersenyum senang saat wanita disampingnya mengenakan perhiasan Niko. Tapi dia sendiri belum pernah membErikan karyanya pada wanita yang dia sukai.
Setelah pertemuannya dengan Luki, Niko berkonsentrasi merancang cincin bintang kepunyaan Luki di komputernya. Sejam kemudian, Niko selesai mengerjakan sketsa terakhir dan mengirimkan gambar tersebut ke alamat e-maik Luki. Niko baru saja hendak membuat kopi ketika pintu kantornya dibuka.
“Kejutan!” Sapa orang yang membuka pintu kantornya.
Niko tertawa senang. “Julien! Kau datang.”
Julien duduk di bangku tamu dengan santai. “Aku suka toko barumu.” “Terima kasih. Kau mau minum kopi?” Tawar Niko.
“Tentu.” Julien membuka jaketnya. “Ku dengar kau mau mengadakan pameran dua minggu lagi.”
“Kau bisa datang?” Tanya Niko berharap.
Julien menggeleng. “Maaf. Aku tidak bisa. Itulah sebabnya aku datang sekarang. Oh iya,” Julien membErikan sebuah kotak perhiasan pada Niko, “berlian mentah pesananmu.”
Niko menaruh dua kopi buatannya di meja, kemudian mengambil kotak perhiasan pemberian Julien. “Thanks,Julien.” Niko meneliti berlian mentah itu dengan seksama.
“Aku mendapatkannya dengan susah payah.” Julien tersenyum. “Sangat cocok untuk kepingan berlian terakhir cincin bintangmu, bukan?”
Selama enam tahun sejak pertama kali dibuat, cincin bintang rancangan Niko kini sudah mempunyai 34 berlian. Tinggal tersisa satu sudut utama. Niko ingin sebuah berlian sempurna yang mengisinya. Saat Julien mengatakan mau ke afrika untuk membeli berlian mentah, Niko memintanya mencari berlian yang sangat indah untuk kepingan terakhir cincin bintangnya.
“Aku tidak bisa berlama-lama,” lanjut Julien lagi sesudah meminum kopinya. “Nanti malam aku harus kembali ke paris.”
__ADS_1
“Semoga berhasil dengan koleksimu selanjutnya.” Niko menjabat tangan Julien yang sudah hendak keluar dari pintu. Niko menatap pria yang telah menjadi pembimbingnya selama delapan tahun itu. “Aku akan main ke paris mengunjungimu kalau toko ini sudah stabil. Kalau kau butuh bantuanku,jangan segan-segan hubungi aku.”
Julien memeluk Niko singkat. “Kau murid terbaik yang pernah kumiliki. Jaga dirimu, Niko. Sampai jumpa lagi.”
Niko mengubah lantai tiga tokonya menjadi ruang kerjanya. Sesudah kepergian Julien, dengan tidak sabar Niko mulai menggunakan kacamata pembesarnya dan menandai berlian mentah yang tadi diterimanya untuk dipotong.
Pekerjaan memotong berlian membutuhkan konsentrasi dan ketelitian yang tinggi. Niko menyukai tiap detiknya. Walaupun proses tersebut bisa dikerjakan oleh orang lain, tapi sering kali Niko mengerjakannya sendiri. Dia tidak keberatan duduk selama berjam-jam dan meneliti berlian yang sudah dipotongnya sampai menjadi bentuk yang sempurna.
Proses pemotongan tersebut dimulai dengan menandai berlian mentah yang akan dipotong. Lalu menggunakan gergaji khusus,berlian tersebut dipotong. Setelah itu berlian dibentuk dan diasah. Tidak boleh ada kesalahan dalam setiap proses. Karena satu kesalahan akan berujung pada sebongkah batu berlian yang tidak berharga.
“Kau masih disini,bos?” David menengok ke ruang kerja bos nya.
“Karyawan lain sudah pulang?”
David mengangguk. “Kau tidak turun sejak Julien datang.”
“Kau pulanglah dulu,” Niko mengusulkan.
David tersenyum simpul dan keluar dari ruangan. Bos nya memang tidak mengenal waktu kalau sudah bekerja di ruang kerjanya. Tapi David tahu, bosnya menyukai apa yang dikerjakannya.
Ketika meletakkan berlian terakhir ke cincin bintang miliknya, Niko merasa puas. Selama beberapa waktu dia memandangi cincin tersebut. Butuh waktu enam tahun untuk melengkapi semua berlian di cincin itu. Kini cincin nya sudah sempurna.
Niko meletakkan foto Laura yang diambilnya sewaktu reuni sekolah dulu di samping cincin bintangnya. Dia menautkan kedua telapak tangannya di depan dagu dan berlama lama memandangi kreasinya malam itu. (“Bagaimana aku mencari sebuah bintang di antara jutaan bintang lainnya?”) Pikirnya. (“Satu-satunya cara adalah dengan membuat bintang tersebut bercahaya lebih terang dibandingkan bintang lainnya. Itulah masalahnya. Laura bukan tipe wanita yang menonjolkan diri. Dia lebih suka bersembunyi di balik kerumunan”).
Ketika jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam,Niko berhenti menatap cincin bintangnya.
(“Mungkin kini sudah waktunya aku melepaskanmu,)” katanya dalam hati.
Niko menaruh foto Laura di dalam laci meja kerjanya, lalu menutup kotak tempat cincin bintangnya berada.
TAKSI Laura berhenti di sebuah restoran tepi pantai. Luki meneleponnya tadi siang dan memintanya datang ke restoran ini. Katanya ada hal penting yang ingin di bicarakan. Hari sudah malam. Suasana restoran benar-benar romantis. Lilin-lilin di meja menyala untuk menghangatkan suasana.
__ADS_1
“Reservasi atas nama Luki Rafael,” kata Laura pada pelayan di balik meja.
Sang pelayan menyuruh Laura mengikutinya.
Laura sedikit bingung ketika sang pelayan memintanya duduk di meja yang sudah berpenghuni. “Maaf, tapi mungkin ini bukan meja saya.”
“Laura?” Tanya pria yang menghuni mejanya.
Laura memandang pria di mejanya dan tersenyum. “Oh, hai, Sam. Lama tidak melihatmu.” Laura pertama kali bertemu Sam saat Luki memintanya melakukan tes DNA dua tahun yang lalu.
“Duduklah.” Sam berdiri lalu menggeser kursi di sebelahnya untuk Laura.
“Aku tidak tahu Luki mengundangmu ke sini,” tanya Laura sedikit heran.
Sam tertawa. “Aku juga tidak tahu Luki menyuruhmu kemari. Tadi siang dia bilang dia mau membicarakan hal penting denganku, dan memintaku kemari.”
Tiba-tiba HP Laura berbunyi. Sebuah pesan masuk muncul disana.
SILAHKAN NIKMATI MAKAN MALAMNYA BERSAMA SAM. ANGGAP SAJA HADIAH ULANG TAHUN PENDAHULUAN DARIKU. SEMOGA BERHASIL ADIK KECIL.
Diseberangnya ,HP Dan juga berbunyi. Sam menatap pesan masuknya dengan bingung. Laura kini mengerti maksud Luki.
“Luki tidak akan datang, bukan?” Tanya Sam pada Laura.
Laura menggeleng. “Aku rasa dia mau menjodohkan kita.”
Sam mendesah. “Ya. Aku rasa begitu. Sejak dulu Luki selalu berbuat semaunya.”
Laura meletakkan HP nya di meja. “Aku akan memarahinya habis-habisan.”
“Maaf, Laura.” Wajah Sam terlihat tidak enak. “Hanya saja, minggu lalu aku bertemu dengan wanita yang aku sukai. Luki belum tahu soal ini. Mungkin itu sebabnya dia mau menjodohkan kita. Kau wanita yang menawan. Kalau aku belum punya pacar, aku tidak keberatan di jodohkan denganmu. Maaf.”
__ADS_1
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123