
“Itu satu-satunya keinginanmu yang tidak bisa kupenuhi,” ucap Niko jujur.
“ ihatlah aku. Tatap mataku.” Laura memaksa dirinya menghilangkan semua perasan nya terhadap Niko. “Aku memang pernah menyukaimu dulu. Amat sangat, seperti katamu. Tapi sekarang, saat ini, aku tidak menyukai mu. Apakah menurut mu aku berbohong?”
Niko menatap Laura lama. Tatapan Laura tidak berubah, tetap dingin terhadapnya. Niko menggeleng. “Tidak. Kau tidak bisa melakukan hal ini pada ku.” Niko tahu Laura bukanlah seorang pembohong ulung. Tatapannya padanya saat ini benar-benar membuatnya patah hati.
“Pergilah, Niko,” kata Laura perlahan. “Kau bisa menyukai wanita lain yang lebih baik dariku. Upakan lah aku. Karena aku sudah melupakanmu.” Niko tidak tahu harus mengatakan apa.
Laura membalikan badan. Ia tidak ingin Niko melihat air matanya.
Tiba-tiba Niko melingkarkan kedua tangannya di pinggang Laura. Memeluknya erat dengan sepenuh hati.
Laura terkejut dan berusaha melepaskan pelukan itu. “Niko...”
“Hanya satu menit,” bisik Biko lembut. Pelukannya di tubuh Laura semakin erat. Bibirnya menyentuh pelan telinga kanan Laura. “Berikan aku satu menit untuk memelukmu seperti ini, lalu aku akan melepaskanmu.”
Laura memejamkan mata. Dibiarkannya Niko memeluknya dari belakang. Ia bisa merasakan hangat napas Niko di telinganya. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan. Untunglah Niko tidak bisa melihat wajahnya saat ini. Kalau tidak, Niko pasti tahu bahwa ia sudah membohonginya.
Perlahan-lahan pelukan Niko mengendur. “ elamat tinggal, Laura,” katanya.
Laura mendengar langkah Niko menjauh darinya. Suara pintu restoran terbuka lalu tertutup. Laura berbalik. Ia melihat punggung Niko. Tidak, bisiknya dalam hati, aku tidak bisa membiarkannya pergi.
Kakinya mulai melangkah, tangannya berusaha meraih punggung Niko dari balik pIntu. Rasa sakit itu datang lagi, tapi kali ini Laura tidak bisa menahannya lagi. Punggung Niko semakin lama semakin pudar. Seluruh tubuh Laura mulai terasa lemas. Ia jatuh ke lantai. Dan kegelapan menyelimutinya.
Niko tidak pernah merasakan rasa sakit seperti yang dia alami sekarang. Tangannya mencoba membuka pintu mobilnya. Kenangan-kenangan bersama Laura bermunculan di benaknya. Niko memandang dirinya sendiri di kaca jendela mobilnya. Lalu dia menyadari sesuatu. Dia bisa meninggalkan mimpinya sebagagai perancang perhiasan walaupun dia akan menderita kalau sampai melakukannya. Tapi dia tidak bisa meninggalkan Laura. Dia tidak akan mampu bertahan. Kalau Laura tidak menyukainya, Niko akan membuat Laura menyukainya lagi.
Niko menyadari satu hal penting. Kalau harus memilih antara mimpinya dan Laura, dia tidak akan ragu memilih Laura. Dengan tekad baru, Niko bergegas kembali ke restoran.
Niko kaget melihat kerumunan orang di tempat dia meninggalkan Laura sebelumnya. Lalu dia melihat Laura tergeletak di lantai. “Minggir!” teriaknya pada seseorang di sebelah Laura.
Niko mengecek denyut nadi di leher Laura. Maih berdenyut, tapi sangat lemah. “Telepon ambulans!” teriaknya pada Maya.
__ADS_1
Maya langsung berlari menuju telepon.
“Laura, bangunlah,” kata Niko panik sambil berusaha menepuk-nepuk kedua pipi gadis itu perlahan untuk menyadarkannya. “Jangan lakukan ini padaku, Laura.... Bangunlah!”
“Ambulans sedang dalam perjalanan,” kata Maya yang juga khawatir.
Niko sedikit lega mendengar pemberitahuan dari Maya. Tiba-tiba pandangannya terpaku pada rembesan darah di bagian kaki kanan gaun Laura. Dengan cepat Niko menyibakkan gaun Laura dan melihat luka panjang disana. Dari luka tersebut darah mengalir keluar. Niko mencari-cari sesuatu. Dia bangkit berdiri dan mengambil serbet putih di meja makan, kemudian mengikatkanya ke bagian kaki Laura yang berdarah untuk menghentikan pendarahan sementara.
Niko syok melihat kaki Laura yang berdarah dan bekas lukanya. Tatapannya menelusuri wajah
Laura. Ia bertanya-tanya dalam hati, sudah berapa lama Laura memiliki luka tersebut. Apakah Laura pernah mengalami kecelakaan? Apa pun itu tampaknya luka itu cukup parah. Cukup parah sampai Laura tidak berani mengatakannya.
Ketika mobil ambulans datang, Niko membiarkan petugas paramedis merawat Laura. Niko ikut di mobil ambulans yang akan membawanya ke rumah sakit. Dia menelpon Luki dalam perjalanan dan memberitahukan keadaan Laura.
Luki benar-benar kaget dan mengatakan akan ke rumah sakit secepatnya. Niko menggenggam tangan Laura dengan khawatir. “Tolong, jangan tinggalkan aku, Laura...,” bisiknya perlahan.
Kedua tangan Niko gemetar tak terkendali. Segera setelah Laura masuk rumah sakit, seorang dokter langsung membawanya ke ruang operasi. Tak lama kemudian, staf Restoran Antonio dan keluarga Laura datang dengan muka yang sama pucatnya dengan Niko.
“Dokter sedang mempersiapkan operasi,” jelas Niko. “Laura pingsan di restoran. Kakinya berdarah. Dokter bilang padaku kakinya harus dioperasi.” Luki melihat bekas darah di pergelangan tangan Niko.
“Dokter Riswan melakukan operasi?” tanya uki lagi.
Niko mengangguk. Tadi seorang dokter ortopedi yang menangani kasus Laura mengenalkan dirinya pada Niko.
Mama dan papa Laura berpelukan menahan tangis di belakang Luki. Saat Dokter Riswan akan memasuki ruang operasi, Charles Rafael menghentikannya.
“Apa yang terjadi pada putriku?” tanya Charles bingung. “Bukankah lukanya sudah sembuh?”
Dokter Riswan berkata terus terang, “Laura belum mengatakan padamu tentang luka infeksi barunya?”
Charles menggeleng. “Dia tidak mengatakannya.”
__ADS_1
“Ah, dia memang bilang mau mengatakannya besok,” kata Dokter Riswan. “Tapi aku harus mengoperasi kakinya lagi sekarang, Charles.”
Charles menggengam tangan Dokter Riswan. “Apakah kaki putriku baik-baik saja?”
“Aku tidak tahu,” sahut Dokter Riswan. “Aku harus mengoperasinya dulu, baru bisa tahu sampai dimana infeksinya menyebar. Aku akan mencoba untuk menyelamatkan kakinya. Tapi kalau sudah terlalu parah, aku tidak punya pilihan lain selain mengamputasi kakinya.”
Tubuh Helen langsung lemas. “Apa maksudnya, Dokter? Mengamputasi kakinya?”
Niko jatuh terduduk. “Laura akan kehilangan kakinya,” dia yang menjawab pertanyaan Helen.
Dokter Riswan mengangguk.
“Tidak!” teriak Helen. “Laura tidak bisa kehilangan kakinya. Tolonglah, Dokter, selamatkan kakinya.”
“Aku akan berusaha semampuku, Helen,” Dokter Riswan berjanji. Dia benci harus membErikan kabar buruk kepada keduanya. Tapi saat ini dia harus berkonsentrasi menyelamatkan kaki Laura. “Aku akan menyelamatkan Laura.”
Dokter Riswan setengah berlari menuju ruang operasi. Setelah Dokter Riswan masuk, lampu kamar operasi menyala.
Luki duduk di sebelah Niko.
“Kau mau menceritakan padaku, bagaimana kaki Laura bisa mendapatkan luka separah itu?” tanya Niko pada Luki tanpa memandangnya.
Luki menghela napas panjang dan mulai menceritakan semuanya. Akhirnya Niko mengerti mengapa Laura berusaha menjauhinya selama ini.
“Kau akan menjaga Laura, walau apa pun yang terjadi, kan?” tanya uki perlahan.
“Kau masih harus menanyakan hal itu padaku?” Niko memandang Luki dengan tajam. Luki melihat kesungguhan di mata Niko. “Aku akan menjaga Laura, apa pun yang terjadi.”
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1