
Kini giliran Niko yang menatap Luki dengan dingin. “Laura tidak bahagia. Apakah kau tahu Laura tidak menyukai kopi? Kopi membuat perutnya mual. Dia tidak bisa menolerirnya. Tapi kemarin kau memintanya untuk meminum kopi yang kau pesan. Kau tidak bisa menjaganya. Itulah sebabnya aku tidak akan menyerah mengejar Laura”.
Luki syok mendengar penyataan Niko. Laura tidak pernah memberitahunya bahwa dia tidak bisa minum kopi. Luki ingat ketika dia menyerahkan kopi buatannya di rumah sakit dan Laura meminumnya tanpa ragu. Luki berhenti bernapas. Saat itu Laura berusaha menahan rasa tidak sukanya hanya untuk membuat Luki senang. Luki jadi mikirkan hal apa lagi yang tidak dikatakan Laura padanya. Selama ini dia berusaha membuat Laura bahagia, tapi apa yamg terjadi malah sebaliknya. Laura yang berusaha membuat Luki bahagia. Luki tidak tahu adiknya tengah menderita dibalik kebahagiaanya. Luki tidak pernah menyadari perasaan Laura sesudah kecelakaan. Tentang bekas luka mengErikan di kakinya. Dan mengapa Laura tidak mau membiarkan seorang pria pun mendekat.
“Aku rasa aku sudah mengutarakan maksudku dengan jelas.” Niko berdiri, lalu pergi meninggalkan Luki yang tampak di merana sendirian. Setelah Niko pergi, rasa bersalah Luki kembali merayap ke hatinya. Luki menggenggam cangkir kopi di depannya erat-erat, sampai tangannya gemetar sehingga cangkir tersebut jatuh dan pecah.
Pelayan di belakangnya terlihat khawatir dan menanyakan keadaan Luki. Tapi Luki tidak menyadari apapun. Para pelayan lain membersihkan pecahan cangkir dan mengompres tangan Luki dengan air dingin. Luki baru sadar ketika rasa dingin menyentuh telapak tangannya. Tangannya tidak terasa sakit, padahal terdapat beberapa luka goresan. Dia membayangkan rasa sakit yang dialami Laura. Rasa sakit di tangannya tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang dirasakan Laura di kakinya. Adiknya memendam rasa sakit tanpa seorang pun tahu, termasuk dirinya. Di kamar apartemennya, Luki memandangi Laura pada foto mejanya. Luki sudah bisa menguasai rasa bersalahnya. Kini dia sungguh2 ingin membuat Laura bahagia. Sebuah pesan masuk ke handphone nya. Luki melihat isinya. Dari Laura.
Aku membuat makan siang untukmu.
Aku sudah menaruhnya di meja kerjamu.
Jangan lupa makan, ya.
Setelah membaca pesan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Luki meneteskan air mata.
__ADS_1
Laura memutuskan untuk kembali bekerja setelah mengantar makan siang Luki. Ia sadar ia tidak bisa berpisah dari pekerjaan nya terlalu lama. Walaupun cutinya masih tersisa beberapa hari, Laura merindukan dapur restorannya. Jadi, sepulangnya dari kantor Luki, ia menuju Restoran Antonio. Teman-temannya sedikit terkejut melihat kedatangannya. Mereka tahu seharusnya Laura cuti.
“Aku harus bilang apa...?” desah Laura. “Aku merindukan kalian. Aku tidak bisa berlama-lama berpisah dengan kalian.
Laura tersenyum melihat dapurnya. Masih bersih tanpa noda makanan. Hanya dia seorang diri ditemani peralatan masaknya. Laura menutup mata dan membukanya kembali. Ia selalu bahagia di dapur ini. Di tempat ini, ia bisa menjadi seorang chef yang membuat makanan lezat. Ia bisa menjadi dirinya sendiri. Bukan wanita rapuh di hadapan Niko, atau adim yang menyembunyikan kesengsaraan di hadapan Luki, ataupun putri yang merasa sedikit iri dengan kebahagiaan dan kebersamaaan mama dan papa.
Laura berjalan mengelilingi dapur dengan perlahan. Saat ia hendak mengambil peralatan masaknya, kaki kanannya tersandung kursi besi. Laura mengernyit kesakitan. Napasnya terengah-engah. Ia bersandar pada meja sampat rasa sakit di kakinya mereda. Ia mencoba mengatur napasnya. Laura mengambil obat dari tasnya dan langsung menelannya. Perlahan rasa sakit di kakinya menghilang.
Laura berdiri perlahan, lalu mengambil celemek putih dari atas lemari dan mengenakannya. Perasaan sedikit lega. Saat ia memasak makanan pertama hari itu, hatinya sudah kembali normal. Aroma masakan di dapur menentramkan perasaannya.
Laura menelpon tukang bangunan untuk memperbaiki atap yang bocor. Setelah tukang datang, Laura malah harus kecewa. Tukang tersebut menjelaskan perlu waktu beberapa minggu untuk memperbaiki atap dan mengecat kamar tidurnya. Laura tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin khawatir terus menerus setiap kali hujan deras turun. Ia menyuruh tukang tersebut memperbaiki kamar tidur sekaligus ruangan lain yang terkena rembesan air.
Karena pasti tidak nyaman berada di rumah selama perbaikan belum selesai, Laura menelpon Luki dan meminta izin untuk tinggal di apartemennya. Laura membuat keputusan tersebut karena apartemen Luki lebih dekat ke tempat kerjanya dibandingkan rumah kedua orang tua nya.
Luki langsung menyetujuinya, dan menyuruh Laura mengepak pakaiannya. Dia akan datang menjemput Laura sepulang kerja nanti malam. Saat akan menjemput Laura di restoran, Luki bertemu Niko di lobi depan apartemen. Mereka tidak bertemu selama beberapa hari setelah pembicaraan terakhir mereka. Luki sibuk dengan pekerjaaannya dan Niko sibuk dengan tokonya. Ketika mereka bertemu kembali, ada perseteruan tersembunyi diantara keduanya.
__ADS_1
“Niko,” sapa Luki. “Aku belum mendengar masukan atas proposal kerja sama kita”.
Niko sedikit heran. “Aku rasa kau tidak akan mau bekerja sama denganku setelah pertemuan kita beberapa hari yang lalu”. Luki tersenyum tipis. “Aku tidak akan mencampur urusan bisnis dan pribadi. Kenapa aku melepaskan peluang bisnis bagus? Kecuali... Kau tidak sanggup menjadi rekan bisnisku”.
“Tentu saja tidak,” kata Niko percaya diri. “Aku tidak takut padamu. Aku akan mengkaji proposal bisnis yang kau ajukan”. “Oke”. Luki berjalan melewati Niko, tapi lalu berbalik lagi. “Tadi masalah bisnis. Untuk masalah pribadi, aku tidak akan membiarkan Laura bersedih. Kau bilang Laura tidak bahagia bersamaku. Apakah Laura akan bahagia bersamamu? Aku meragukannya”.
“Kenapa kau tidak biarkan Laura yang memilih sendiri nanti?” Niko tidak terpancing perkataan Luki. Luki merasa kesal. “Laura sudah memilihku”. Dia sengaja menyulut kemarahan Niko. Dia tersenyum puas. “Aku akan menjemputnya malam ini. Mulai hari ini, dia tinggal bersamaku”.
“Apa?” Niko tidak bisa menahan rasa terkejutnya. “Laura akan tinggal bersamamu?”.
Luki sangat puas melihat tampang Niko saat ini. Wajahnya pucat pasi. “Kau kalah Niko. Aku menang.” Luki merasa Niko berhak menerima hal tersebut darinya. Dia sudah membuat Laura patah hati. Mama bilang Laura menangis selama berjam-jam untuk Niko. Luki tidak tahu apa yang Niko lakukan sampai Laura patah hati, tapi Laura pasti merasa hancur saat itu. Luki hanya ingin Niko merasakan hal yang sama. Biar dia merasakan sakitnya patah hati.
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1