1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 22


__ADS_3

Bagian lima (pertemuan kembali) Laura 26 tahun. Niko 26.5 tahun.


NIKO FARELI keluar dari pintu kedatangan bandara sambil menghela napas panjang. Sudah hampir empat tahun sejak terakhir kali dia pulang ke tanah air. Kali ini dia pulang untuk menetap.


Tangan Niko menarik koper. Dia mengenakan jas hitam dengan kemeja biru gelap dan kacamata hitam. Tapi begitu melihat matahari sore negerinya, dia melepaskan kacamata yang dipakainya. Setelah hampir delapan tahun berpindah-pindah negeri dan berganti-ganti musim, Niko merindukan hawa panas Indonesia.


Seorang pramugari yang lewat di sampingnya tersenyum padanya. Niko balas tersenyum. Ke mana pun Niko pergi, selalu ada wanita yang tersenyum dan mengaguminya. Niko mengagumi kecantikan paras pramugari tersebut, tetapi selalu ada sesuatu yang kurang. Hatinya tidak tergerak. Selama delapan tahun ini dia belum bertemu seorang wanita pun yang bisa membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat, kemudian berdegup kencang.


Walaupun sudah sukses dalam karirnya dengan dua toko perhiasan di paris dan satu di New York, Niko merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Niko mencari-cari seseorang ketika menemukannya, dia tersenyum.


"Niko," sapa orang yang menyambutnya. "Selamat  datang kembali. Bagaimana penerbanganmu."


"Nyaman. Terima kasih, David."


Niko bertemu Davit pertama kali tiga tahun yang lalu, ketika pemuda itu masih magang di Bardeux Jewelry. Niko menyukai karya-karya perhiasan yang dibuatnya. David pembuat perhiasan yang hebat. Karyanya tidak pernah mengecewakan Niko. Terutama model rancangannya. Mereka seakan mengerti satu sama lain. Jadi, ketika Niko membuka toko perhiasan di Paris, dia mengajak David. Dan kini, dua tahun kemudian, David sudah menjadi asisten pribadi sekaligus teman baiknya.


Sukses di tiga toko membuat Niko ingin membuka toko perhiasan di negerinya sendiri. Dan karena David juga sama-sama berasal dari indonesia, Niko mengajaknya serta.


"Semua perhiasan dari Paris sudah sampai di toko kita," David memberi laporan sambil berjalan melewati kerumunan orang. "Kalau tidak ada halangan, kau bisa membuka tokomu secara resmi minggu depan. Mungkin bulan depan kita bisa mengadakan pameran perhiasan untuk mempromosikan NF Jewelry."


Niko mengangguk setuju. "Usul yang bagus, David. Kau urus saja semua detailnya. Kalau sudah final, bErikan proposalnya padaku."


Niko Fareli Jewelry pertama kali berdiri di Paris. Setelah dua tahun bekerja untuk Julien, Niko memutuskan untuk membuka usahanya sendiri. Dan Julien mendukung penuh usulnya itu. Julien yakin Niko bisa sukses. Dalam waktu singkat, Niko berhasil mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Dan dia memutuskan untuk membuka toko keduanya di Paris, lalu di New York dengan bantuan George Finley, yang kini sudah menjadi pemain teater hebat. Niko duduk di kursi teater paling depan ketika George memainkan peran pertamanya. Dengan relasi George dan ayahnya, toko Niko di New York bisa berkembang pesat.


"Sudah lama kau tidak kembali ke sini, bukan?" Tanya David. "Ya. Terakhir kali aku pulang ke sini ketika ada pesta reuni sekolahku." Niko mengenang kesedihannya waktu itu karena Laura tidak datang.


David melanjutkan dengan rencana-rencana untuk meningkatkan penjualan toko baru Niko. Niko mendengarkan usul David dengan serius. Tiba-tiba pandangan mata Niko berhenti. Seorang gadis yang memakai gaun bermotif bunga membuatnya berhenti melangkah. Jantungnya berhenti sesaat. Niko menutup matanya, kemudian membukanya lagi. Wajah tersebut masih ada disana. Laura. Mungkin dia bermimpi, tapi dia ingin meraih wajah itu.


Niko melepaskan pegangan kopernya membuat David terkejut dan langsung berhenti berbicara lalu Niko berlari secepat mungkin di antara kerumunan orang banyak. "Laura!" Panggilnya pendek. Napasnya terengah-engah. Niko melihat gadis tersebut memasuki sebuah mobil hitam. Ketika Niko hendak mendekati mobil tersebut, bayangan gadis itu sudah menghilang di balik pintu mobil.


Mobil yang membawa gadis yang disangkanya Laura telah melesat pergi. Beberapa saat kemudian, David mendekatinya. "Niko, kau tidak apa-apa? Kenapa kau lari secepat itu?" David memandang Niko dengan bingung.


"Aku rasa...aku melihat orang yang ku kenal. Jadi aku mengejarnya," Niko menjelaskan terbatabata, masih kehabisan napas.


"Kau bertemu dengan orang itu?" Tanya David masih setengah bingung. Selama bekerja dengan Niko, tidak pernah sekalipun bosnya terlihat putus asa seperti saat ini.


Niko menggeleng. "Tidak."


"Kau mau kubelikan minuman?" Usul David.


"Tidak usah." Napas Niko sudah mulai teratur. "Mungkin aku salah melihat orang. Ayo kita pergi."


David hanya mengangguk.


 


*****************************


"Jadi, bagaimana bulan madu kedua kalian di Italia?" Beberapa kilometer dari bandara, dalam sebuah mobil hitam, Laura tersenyum pada papa dan mama.


"Kau benar. Makanannya sangat enak." Mama tersenyum. "Kami bertemu Alberto di sana. Dia masih berusaha menjodohkan cucu lelakinya denganmu."


Laura meringis. "Dia masih belum menyerah juga?" "Mama rasa tidak," ujar mama sambil tertawa.


"Bagaimana restoranmu?" Kini giliran papa yang bertanya. "Kau tidak mengerjakan sesuatu yang terlalu melelahkan?"


Laura cemberut. Papa dan Antonio selalu mengkhawatirkan kesehatannya. Seakan-akan dirinya rapuh sekali. Padahal sudah satu tahu Laura dapat berjalan normal tanpa ada masalah. Di restoran, Laura tidak di izinkan berdiri lebih dari satu jam. Di rumah orang tuanya, papa selalu menyuruhnya duduk. Untunglah Laura tidak tinggal setiap hari disana. Kalau tidak, Laura bisa kesal karena bosan. Di rumah lamanya Laura bebas melakukan hal yang di inginkannya. Papa masih bersikeras Laura tinggal bersamanya. Tapi Laura tahu ia tidak akan betah tinggal di rumah besar yang punya banyak pembantu, hingga Laura tidak perlu mengerjakan satu pun pekerjaan rumah. Laura sudah terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri, jadi rasanya aneh kalau ada orang lain yang mengerjakannya untuknya.


Mama akhirnya berhasil meyakinkan papa bahwa Laura akan lebih bahagia tinggal dirumahnya sendiri. Akhirnya Laura berkompromi, setiap hari libur akan dihabiskannya di rumah orangtuanya, dan setiap hari kerja Laura akan tinggal di rumah lamanya.


Laura memandang papa lagi. Ia tahu papa benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Laura tersenyum. "Restoran tetap ramai. Aku menjaga diri baik-baik kok. Bagaimana tidak, kalau Antonio juga sudah seperti sipir penjara yang membentakku kalau aku kelamaan berdiri?"


Papa mengangguk setuju. "Baguslah."


"Malam ini kau tinggal bersama kami, kan?" Mama menggenggam tangan Laura setengah memohon. "Mama rindu padamu. Sudah dua minggu kita tidak bertemu."


Laura tidak pernah bisa menolak permohonan mama. Ia mengangguk.


Mama tersenyum senang. "Mama akan menceritakan pengalaman mama selama di Italia."


Laura mendengar mama bercerita panjang lebar sepanjanh perjalanan menuju rumah. Dalam hati Laura senang mama dan papa sudah kembali dengan selamat.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


David menghentikan mobilnya di depan sebuah kompleks apartemen. "Apartemen Rafael terdiri atas empat gedung apartemen, dua kolam renang, sebuah spa, dan satu lapangan tenis terbuka."


Niko mengeluarkan kopernya dari bagasi sambil mendengarkan penjelasan David. Sebenarnya Niko berencana membangun rumahnya sendiri, tapi belum mendapatkan lokasi yang strategis. Jadi untuk sementara waktu dia meminta David mencarikan apartemen.


"Terima kasih karena sudah mencarikanku apartemen, David." Hari sudah malam dan Niko ingin beristirahat. Setelah mengunjungi tokonya, Niko merasa puas.


David mengangguk. "Ini kunci apartemennya. Kamarmu di gedung A , lantai empat belas. Mobilmu akan dikirim besok pagi."


Niko mengambil kunci kamar dari tangan David. "Terima kasih lagi karena sudah mengurus semuanya."


"Sama-sama,bos." David tersenyum sambil masuk ke mobil. Niko sudah tidak sabar untuk mandi lalu istirahat. Pintu lift terbuka dan Niko masuk. Di lantai dua, pintu lift terbuka lagi, seorang pria masuk. Pria tersebut memandang koper Niko. "Kau orang baru?"


Niko menatap pria tersebut. "Ya. Baru saja masuk hari ini." Niko mengulurkan tangan mengajak berkenalan. "Niko Fareli, tinggal di lantai empat belas."


Pria itu menyambut jabat tangannya. "Kamarku di lantai teratas. Lantai lima belas. Namaku Luki Rafael."


"Oh, kau pemilik apartemen ini, bukan?"

__ADS_1


Luki tersenyum. "Sebenarnya ayahku pemiliknya. Cobalah spa nya kapan-kapan. Benar-benar bisa membuatmu rileks. Ada di lantai dua."


Niko mengangguk. "Aku akan mencobanya."


Luki mengawasi pria di hadapannya dengan antusiasme tinggi. Dua lantai teratas merupakan kamar apartemen dengan biaya sewa termahal. "Jadi, apa pekerjaanmu?" Niko tertawa. "Apakah kau mewawancarai setiap penghuni apartemenmu?" "Hanya yang membuatku penasaran," jawab Luki tanpa merasa bersalah.


"Aku memiliki toko perhiasan," jelas Niko. "NF Jewelry. Tokoku akan buka minggu depan. Datanglah kalau kau ada waktu."


"Aku pernah mendengar nama NF Jewelry sebelum ini. Di Paris kalau tidak salah," kata Luki sambil berusaha mengingat.


"Kau benar. Aku punya dua toko perhiasan disana," kata Niko.


Luki terkesan. "Tertarik untuk bergabung dengan Rafael group dan membuka toko perhiasan di hotelku?"


Niko menyadari keseriusan perkataan pria di depannya, tapi dengan halus usul itu di tolaknya. "Maaf, untuk sementara aku belum berminat bekerja sama dengan orang lain."


Menari sekali, pikir Luki. Belum pernah ada orang yang menolak bekerja sama dengan Rafael Group. Luki mengeluarkan kartu namanya. "Hubungi aku kalau kau berubah pikiran. Boleh kuminta kartu namamu?"


Mereka pun bertukar kartu nama. Pintu lift terbuka di lantai 14.


"Lantaimu," kata Luki. "Senang bertemu dengan mu, Niko."


"Senang bertemu denganmu juga, Luki."


 


************************


"Steik ini enak sekali." Laura mengunyah makanannya dengan perlahan. "Menurutmu aku bisa meminta chefnya membErikan resepnya padaku?"


Luki menatap Laura sambil tertawa. "Aku akan coba memintanya."


"Aku hanya bercanda, Luki." Laura motong steiknya lagi. Mereka sedang makan malam berdua di restoran yang baru dibuka. Biasanya Luki yang datang ke restoran Laura untuk numpang makan, tapi kali ini Luki ingin membawa Laura mencoba suasana baru di restoran selain restorannya. Dan perkataan pertama yang keluar dari mulut Laura adalah resep masakan yang sedang di makannya.


"Empat hari lagi kau berulang tahun, kan?" Tanya Luki. "Kau ingin hadiah apa?" "Aku tidak ingin hadiah apa-apa," jawab Laura.


"Tahun lalu kau juga berkata yang sama. Dan aku menurutimu. Tapi tahun ini aku ingin memberimu hadiah."


"Luki...."


Luki sudah keburu menyelanya, "aku tidak pernah memberimu hadiah." Luki menatap wajah Laura dengan sunguh-sungguh. "Aku ingin memberimu sesuatu yang kau sukai. Sesuatu yang benar-benar kau inginkan."


Laura meletakkan garpu dan pisau yang di pegangnya. "Oh, Luki. Aku tidak bermaksud menolak hadiah darimu. Hanya saja,aku sudah memiliki apa yang aku inginkan. Aku punya kau, papa, dan mama."


Luki mendesah. "Apa kau tidak ingin sesuatu? Tiket jalan-jalan? Mobil?"


Laura tertawa. "Jangan konyol. Aku tidak bisa mengendarai mobil."


"Pasti ada sesuatu yang kau inginkan. Wanita biasanya suka apa ya? Ehm..... oh ya, perhiasan. Bagaimana kalau perhiasan?"


Luki mengangguk.


Laura teringat pada rancangan perhiasan bertahun-tahun lalu. "Baiklah. Kalau begitu aku ingin sebentuk cincin bintang."


Luki tertawa senang. "Aku akan memberimu sebentuk cincin bintang paling bagus yang pernah kau lihat."


"Terima kasih," kata Laura.


 


**************************


Toko NF Jewelry berada di pusat kota. Luki menghentikan mobilnya di sebuah gedung tiga lantai di kawasa eksklusif.


"Selamat pagi," seorang karyawan wanita menyapa Luki di pintu masuk dengan ramah.


"Selamat pagi," balas Luki.


Rancangan interior toko perhiasan Niko benar-benar menarik. Beberapa lemari kaca memperlihatkan model perhiasan terbaru. Di tengah-tengah ruangan terdapat puluhan meja kaca yang berjejer rapi membentuk beberapa lingkaran. Masing-masing lingkaran mewakili jenis perhiasannya. Kalung, cincin, gelang, dan anting-anting. Luki merasa seperti berada di dunia lain. Dunia perhiasan yang penuh gemerlap.


Luki menemui salah seorang pramuniaga pria yang berdiri di belakang meja kaca yang menampilkan berbagai cincin menarik. " selamat pagi, pak. Nama saya Surya. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang pramuniaga ramah.


Luki melihat cincin-cincin yang di pajang di dalam meja. "Ehm....sebenarnya saya ingin membuat rancangan cincin sendiri. Apakah kau bisa memanggil Niko? Saya ingin menemuinya."


"Boleh saya tahu nama bapak?" Tanya Surya sambil mengangkat telepon.


"Luki Rafael."


"Mohon di tunggu ya pak." Surya menekan beberapa tombol dan berbicara dengan seseorang.


"Bos saya akan turun sebentar lagi," katanya sambil menutup telepon.


"Terima kasih, Surya."


Tak lama kemudian,Luki melihat Niko menuruni tangga.


"Hai, Luki," sapa Niko ramah. "Kau datang."


"Ya. Tokomu benar-benar menawan," puji Luki.


"Thanks," sahut Niko. "Kau ingin membeli perhiasan?"


"Sebenarnya aku ingin membeli cincin," kata Luki. "Tapi aku ingin cincinnya di rancang dari awal. Aku ingin cincin yang baru. Yang belum pernah ada sebelumnya. Apakah kau bisa melakukannya?"

__ADS_1


"Aku bisa melakukannya." Niko menatap Luki dengan tenang. "Tapi harganya pasti lebih mahal daripada cincin yang sudah ada. Kau tidak keberatan?"


Luki menggeleng. "Harga bukan masalah."


Niko lalu mengajak Luki kelantai atas, tempat kantornya berada. Niko mengeluarkan selembar kertas gambar dan mengambil pensilnya. "Jadi, cincin seperti apa yang kau inginkan?"


Luki tidak menyangka Niko bisa merancang juga. "Aku ingin sebentuk cincin bintang," ungkap Luki kemudian.


Niko menjatuhkan pensilnya. "Sebentuk cincin bintang?"


"Ya," jawab Luki sambil mengangguk. "Apakah ada masalah?"


Niko tersenyum dan menggeleng. "Tidak. Tentu saja tidak ada masalah. Kau ingin detailnya seperti apa?"


"Ehm.....mungkin sebuah bintang di tengah-tengah cincin dengan sebuah berlian di dalamnya," Luki memberi penjelasan.


Setelah mendengar deskripsi Luki, Niko mulai menggambar dengan serius. Luki memperhatikan pria di depannya dengan tertarik. Seorang pemilik toko sekaligus perancang perhiasan. Sebuah kombinasi yang jarang di temuinya.


Beberapa saat kemudian, Niko meletakan pensilnya. "Ini masih sketsa kasar. Kalau kau menyukainya, aku bisa merancangnya di program komputerku dan mengirim hasilnya ke alamat e-mailmu. Jika ada perubahan, kau tinggal meneleponku dan aku akan mengubahnya." Niko membErikan gambarnya pada Luki.


Luki terdiam. Rancangan gambar Niko benar-benar bagus. Niko menggambar sebuah berlian yang di kelilingi lima sudut bintang. "Ini sudah bagus. Aku menyukainya."


"Kalau begitu, nanti aku tinggal mengirim gambar terakhirnya ke alamat e-mailmu. Jika tidak ada masalah lagi, aku akan langsung mengerjakannya." Niko menyimpan gambar cincin tersebut di mejanya.


"Bisakah kau mengerjakannya dalam waktu tiga hari?" Tanya Luki. "Aku ingin membErikannya pada seseorang di hari ulang tahunnya."


Niko mengerti. "Kalau kau sudah menyetujui sketsa terakhir, aku bisa mengerjakannya dalam tiga hari."


"Aku harap dia menyukai cincinnya," kata Luki perlahan. "Aku tidak pernah membErikan sesuatu padanya sebelum ini."


"Aku rasa, jika orang yang mau kau beri cincin ini menyukaimu, dia akan menyukai pemberianmu juga," kata Niko.


Luki tertawa mendengar perkataan diplomatis Niko. "Ya. Kau benar. Dia akan menyukainya." "Siapapun wanita itu, dia benar-benar beruntung," komentar Niko.


Luki menggeleng. "Tidak. Aku yang beruntung. Dia wanita yang spesial."


Sesaat, Niko merasa cemburu pada Luki karena memiliki wanita istimewa dalam hidupnya. Niko sudah melihat ratusan pria tersenyum senang saat wanita disampingnya mengenakan perhiasan Niko. Tapi dia sendiri belum pernah membErikan karyanya pada wanita yang dia sukai.


Setelah pertemuannya dengan Luki, Niko berkonsentrasi merancang cincin bintang kepunyaan Luki di komputernya. Sejam kemudian, Niko selesai mengerjakan sketsa terakhir dan mengirimkan gambar tersebut ke alamat e-maik Luki. Niko baru saja hendak membuat kopi ketika pintu kantornya dibuka.


"Kejutan!" Sapa orang yang membuka pintu kantornya.


Niko tertawa senang. "Julien! Kau datang."


Julien duduk di bangku tamu dengan santai. "Aku suka toko barumu." "Terima kasih. Kau mau minum kopi?" Tawar Niko.


"Tentu." Julien membuka jaketnya. "Ku dengar kau mau mengadakan pameran dua minggu lagi."


"Kau bisa datang?" Tanya Niko berharap.


Julien menggeleng. "Maaf. Aku tidak bisa. Itulah sebabnya aku datang sekarang. Oh iya," Julien membErikan sebuah kotak perhiasan pada Niko, "berlian mentah pesananmu."


Niko menaruh dua kopi buatannya di meja, kemudian mengambil kotak perhiasan pemberian Julien. "Thanks,Julien." Niko meneliti berlian mentah itu dengan seksama.


"Aku mendapatkannya dengan susah payah." Julien tersenyum. "Sangat cocok untuk kepingan berlian terakhir cincin bintangmu, bukan?"


Selama enam tahun sejak pertama kali dibuat, cincin bintang rancangan Niko kini sudah mempunyai 34 berlian. Tinggal tersisa satu sudut utama. Niko ingin sebuah berlian sempurna yang mengisinya. Saat Julien mengatakan mau ke afrika untuk membeli berlian mentah, Niko memintanya mencari berlian yang sangat indah untuk kepingan terakhir cincin bintangnya.


"Aku tidak bisa berlama-lama," lanjut Julien lagi sesudah meminum kopinya. "Nanti malam aku harus kembali ke paris."


"Semoga berhasil dengan koleksimu selanjutnya." Niko menjabat tangan Julien yang sudah hendak keluar dari pintu. Niko menatap pria yang telah menjadi pembimbingnya selama delapan tahun itu. "Aku akan main ke paris mengunjungimu kalau toko ini sudah stabil. Kalau kau butuh bantuanku,jangan segan-segan hubungi aku."


Julien memeluk Niko singkat. "Kau murid terbaik yang pernah kumiliki. Jaga dirimu, Niko. Sampai jumpa lagi."


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Niko mengubah lantai tiga tokonya menjadi ruang kerjanya. Sesudah kepergian Julien, dengan tidak sabar Niko mulai menggunakan kacamata pembesarnya dan menandai berlian mentah yang tadi diterimanya untuk dipotong.


Pekerjaan memotong berlian membutuhkan konsentrasi dan ketelitian yang tinggi. Niko menyukai tiap detiknya. Walaupun proses tersebut bisa dikerjakan oleh orang lain, tapi sering kali Niko mengerjakannya sendiri. Dia tidak keberatan duduk selama berjam-jam dan meneliti berlian yang sudah dipotongnya sampai menjadi bentuk yang sempurna.


Proses pemotongan tersebut dimulai dengan menandai berlian mentah yang akan dipotong. Lalu menggunakan gergaji khusus,berlian tersebut dipotong. Setelah itu berlian dibentuk dan diasah. Tidak boleh ada kesalahan dalam setiap proses. Karena satu kesalahan akan berujung pada sebongkah batu berlian yang tidak berharga.


"Kau masih disini,bos?" David menengok ke ruang kerja bos nya.


"Karyawan lain sudah pulang?"


David mengangguk. "Kau tidak turun sejak Julien datang."


"Kau pulanglah dulu," Niko mengusulkan.


David tersenyum simpul dan keluar dari ruangan. Bos nya memang tidak mengenal waktu kalau sudah bekerja di ruang kerjanya. Tapi David tahu, bosnya menyukai apa yang dikerjakannya.


Tak lama setelah asistennya pergi,telepon Niko berbunyi. Ada pesan masuk dari Luki. Dia sudah setuju dengan rancangannya. Niko menulis memo untuk asistennya. Dia akan menyuruh asistennya mengerjakan cincin bintang pesanan Luki.


Ketika meletakkan berlian terakhir ke cincin bintang miliknya, Niko merasa puas. Selama beberapa waktu dia memandangi cincin tersebut. Butuh waktu enam tahun untuk melengkapi semua berlian di cincin itu. Kini cincin nya sudah sempurna.


Niko meletakkan foto Laura yang diambilnya sewaktu reuni sekolah dulu di samping cincin bintangnya. Dia menautkan kedua telapak tangannya di depan dagu dan berlama lama memandangi kreasinya malam itu. ("Bagaimana aku mencari sebuah bintang di antara jutaan bintang lainnya?") Pikirnya. ("Satu-satunya cara adalah dengan membuat bintang tersebut bercahaya lebih terang dibandingkan bintang lainnya. Itulah masalahnya. Laura bukan tipe wanita yang menonjolkan diri. Dia lebih suka bersembunyi di balik kerumunan").


Ketika jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam,Niko berhenti menatap cincin bintangnya.


("Mungkin kini sudah waktunya aku melepaskanmu,)" katanya dalam hati.

__ADS_1


Niko menaruh foto Laura di dalam laci meja kerjanya, lalu menutup kotak tempat cincin bintangnya berada.


__ADS_2