
LUKI memperhatikan keluarganya makan bersama dengan perasaan bahagia. Dia ingin tinggal dalam perasaan ini selamanya. Melihat papa dan mama tertawa gembira. Melihat Laura tersenyum karena salah satu lelucon yang di ceritakan papa. Tapi ada satu masalah yang mengganjal hatinya. Niko Fareli. Luki punya perasaan kuat bahwa Niko sudah mengenal Laura sebelum dirinya. Ketika mengingat kembali pertemuan Laura dan Niko pertama kali di toko perhiasan,Laura sedikit kalut. Luki semakin curiga ketika Laura membiarkan Niko meminum kopi dari cangkirnya. Dan Laura tidak memberitahukan hal tersebut padanya.
Ketika Laura sedang mandi,Luki mendekati mama yang brrada di dapur mencuci piring.
"Mama tidak perlu mencuci piring. Biarkan saja salah satu pembantu yang melakukannya," ujar Luki.
Mama tertawa pada Luki. "Sepertinya mama tidak bisa menghentikan kebiasaan lama. Mama sudah terbiasa melakukannya. Rasanya aneh kalau orang lain yang mengerjakannya. Lagi pula mama senang mengerjakan hal ini. Mencuci piring keluarga sehabis makan. Rasanya menyenangkan."
Luki tersenyum. "Biar kubantu." Luki mengambil lap dan mulai mengeringkan piring dan gelas yang sudah dicuci.
"Ma,bolehkah aku bertanya tentang Laura?" tanya Luki.
Mama mematikan keran air. Tugas mencuci piringnya sudah selesai. "Tentu saja." "Apakah Laura pernah menyukai seseorang selama ini?" tanya Luki langsung.
Mama mengerutkan kening. "Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"
Luki menutupi rasa penasarannya dengan senyuman. "Habis, aku tidak pernah melihat Laura berpacaran. Jadi aku ingin tahu, apakah dia pernah menyukai seseorang sebrlumnya?"
Mama tersenyum mendengar pertanyaan Luki. "Laura terlalu memfokuskan hidupnya pada dunia memasak. Tapi... Laura pernah menyukai seseorang,dulu sekali sewaktu masih sekolah."
Luki sudah menduganya. "Apakah mama tahu nama orang itu?" Penyelidikannya tentang masa lalu Laura sedikit demi sedikit mendapat titik terang.
Mama menggeleng. "Mama tidak tahu namanya. Laura tidak pernah memberitahu. Dia menyukai orang itu tapi orang tersebut sudah punya pacar. Jadi rasa suka Laura bertepuk sebelah tangan." "Laura patah hati,bukan?" Luki sudah bisa menebak dengan benar sekarang.
Mama mengangguk. "Iya. Dia terus-menerus mengejar orang itu. Bahkan berusaha masuk kelas yang sama dengannya. Dia bilang tidak masalah baginya kalau orang itu tidak menjadi pacarnya. Tapi dia ingin menjadi temannya dan mengenalnya. Suatu hari,Laura menangis berjam-jam. Dia bilang dia sudah kehilangan orang itu. Mama tidak pernah melihatnya sesedih itu. Laura pasti benar-benar menyukai orang tersebut."
"Laura tidak pernah bertemu dengan orang itu lagi sesudahnya?" tanya Luki.
"Mama tidak tahu," ungkap mama jujur. "Kami pindah kota sesudah Laura lulus ujian akhir."
Luki mengerti sekarang. "Mama,apakah mama ingat tempat sekolah Laura dulu?"
Mama mengangguk dan memberitahukan nama SMA Laura. Luki mengingatnya dalam hati.
******************************
Sepulangnya ke apartemen,Luki langsung membuka komputernya dan mencari semua informasi tentang Niko Fareli. Terutama tentang masa lalunya,seperti tempat dia bersekolah. Ketika melihat nama sekolah Niko sama dengan nama sekolah yang diberitahukan mama, Luki berpikir keras. Laura dan Niko satu SMA. Luki mencari informasi lagi tentang SMA tersebut. Ia melihat halaman alumni SMA tersebut. Alumni lulusan delapan tahun yang lalu. Nama Laura berada di kelas yang sama dengan nama Niko.
Luki menarik napas panjang. Dia sudah menemukan benang merah hubungan Niko dan Laura. Tetangga lantai bawahnya adalah pria yang pernah disukai Laura. Luki sekarang tahu segalanya. Kemungkinan besar Niko Fareli sudah membuat Laura patah hati. Itulah sebabnya Laura selalu menatap mata Niko dengan penuh kesedihan. Luki tidak akan tinggal diam membiarkan Laura berlarut-larut dalam kesedihan. Jam dinding di apartemennya menunjukkan pukul satu dini hari.
__ADS_1
Sudah terlalu malam untuk membangunkan tetangga lantai bawahnya. Luki akan membiarkan Niko tidur nyaman malam ini. Tapi dalam beberapa jam berikutnya. Luki akan membuat Niko Fareli tidak nyaman lagi.
****************************
Telepon di apartemennya berbunyi. Luki membuka matanya yang masih setengah mengantuk. Dia melihat jam dinding di kamar tidurnya. Baru pukul 06.00. Luki baru bangun tidur selama tiga jam.
"Halo," katanya. Dia menguap dan berusaha menutupi dengan tangannya.
"Ini aku Niko".
Luki langsung terjaga. Dia memang berniat menghubungi Niko pagi ini, tapi ternyata Niko sudah menghubunginya lebih dulu.
"Temui aku setengah jam lagi di restoran apartemen". Niko laly menutup teleponnya.
Luki menutup teleponnya juga dan bergegas ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian, keduanya bertatap muka dengan serius di restoran apartemen.
"Apa yang mau kau bicarakan, Niko?" tanya Luki langsung tanpa basa basi.
Niko menatap Luki dengan tajam. "Aku tidak mau berpura-pura lagi".
"Aku sudah mengenal Laura sejak lama". Niko tidak mengalihkan pandangannya dari Luki sedikit pun. "Aku tidak bisa berpura2 tidak mengenalnya di depanmu".
Luki melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku sudah tahu".
Perkataan Luki membuat Niko terperangah. "kau sudah tahu?".
"Aku baru saja mengetahuinya kemarin" ucap Luki. Dia memandang pria di depannya dengan tatapan dingin.
"Laura memberitahu mu?" tanya Niko bingung. Dia tidak menyangka Laura akan memberitahu Luki, apalagi setelah usaha kerasnya untuk berpura2 tdk mengenalnya.
Luki menggeleng. "Aku mengetahuinya sendiri. Kalian masuk ke sekolah yang sama. Kelas yang sama"
Saking terkejut, Niko juga merasa lega Luki mengetahui yanh sebenarnya. "Baguslah kalau begitu. Aku memanggil mu kemari karna aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Laura".
Luki mengernyit keheranan. "Apa maksud mu? Bukankah hubunganmu dengan Laura sudah berakhir?".
Niko tertawa pendek. "Tidak. Hubungan ku dengannya takkan pernah berakhir. Aku datang untuk memberimu peringatan. Aku tidak suka mengejar Laura secara diam-diam di belakangmu. Itu bukan gayaku. Aku ingin kau tahu bahwa aku mengejar kekasih mu. Dan aku tidak akan meminta maaf padamu untuk itu."
Luki bersandar di kursi. Matanya menatap Niko dengan sedikit bingung.
__ADS_1
Kenapa Niko menganggap ku kekasih Laura? Tapi kebingungan tersebut hanya bertahan sebentar.
Niko tidak tahu bahwa Laura adikku.
Senyum Luki mengembang perlahan. Dia juga baru mengetahuinya dua tahun yang lalu. Bagaimana sekarang Niko bisa tahu Luki memutuskan untuk tidak memberi tahu Niko yang sebenarnya. Selain karna itu bukan urusan Niko, dia juga ingin tahu sejauh mana Niko akan menantangnya. Luki selalu menyukai tantangan baru.
"Apakah menurut mu kau bisa merebut Laura dariku?" pancing nya. Senyum Niko mengembang perlahan. "Ya. Aku pasti bisa mendapatkan Laura kembali. Dia tidak pernah melupakan ku."
Luki tersenyum singkat. "Apakah kau berkata begitu untuk membuatku cemburu?". Niko menggeleng. "Aku berkata demikian karena itulah yang sebenarnya. Aku mencintai Laura. Kau memang menyayanginya. Tapi... Kau tidak mencintainya". Luki menatap Niko dengan tidak percaya. "Bagaimana mungkin kau bisa tahu aku tidak mencintai Laura?". Niko tersenyum tipis. Lalu senyumnya melebar. "Sebenarnya aku tidak tahu. Tapi pertanyaanmu tadi telah meyakinkanku. Kau tidak mencintainya".
"Apa?" tanya Luki semakin bingung. Niko tertawa ringan. "Aku baru saja mengatakan bahwa aku mencintai Laura. Dan kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, bukan dengan pukulan. Kau bahkan tidak menyadari aku telah mengatakan hal itu. Kalau kau benar-benar mencintainya, kau sudah memukul wajahku saat aku mengatakan aku mencintainya."
Luki diam tidak berkutik. Dia tepah mendapat lawan yang sebanding. "Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan Laura. Kau sudah membuatnya patah hati."
"Aku tahu". Tatapan Niko berubah sedih. "Itulah sebabnya aku tidak akan melakukam kesalahan yang sama lagi." "Laura bahagia bersamaku," kata Luki kesal. "Kenapa kau bersikeras merebutnya dariku? Bukankah kalau mencintainya kau akan membiarkan Laura bahagia? Dengan siapapun?"
Kini giliran Niko yang menatap Luki dengan dingin. "Laura tidak bahagia. Apakah kau tahu Laura tidak menyukai kopi? Kopi membuat perutnya mual. Dia tidak bisa menolerirnya. Tapi kemarin kau memintanya untuk meminum kopi yang kau pesan. Kau tidak bisa menjaganya. Itulah sebabnya aku tidak akan menyerah mengejar Laura".
Luki syok mendengar penyataan Niko. Laura tidak pernah memberitahunya bahwa dia tidak bisa minum kopi. Luki ingat ketika dia menyerahkan kopi buatannya di rumah sakit dan Laura meminumnya tanpa ragu. Luki berhenti bernapas. Saat itu Laura berusaha menahan rasa tidak sukanya hanya untuk membuat Luki senang. Luki jadi mikirkan hal apa lagi yang tidak dikatakan Laura padanya. Selama ini dia berusaha membuat Laura bahagia, tapi apa yamg terjadi malah sebaliknya. Laura yang berusaha membuat Luki bahagia. Luki tidak tahu adiknya tengah menderita dibalik kebahagiaanya. Luki tidak pernah menyadari perasaan Laura sesudah kecelakaan. Tentang bekas luka mengErikan di kakinya. Dan mengapa Laura tidak mau membiarkan seorang pria pun mendekat.
"Aku rasa aku sudah mengutarakan maksudku dengan jelas." Niko berdiri, lalu pergi meninggalkan Luki yang tampak di merana sendirian. Setelah Niko pergi, rasa bersalah Luki kembali merayap ke hatinya. Luki menggenggam cangkir kopi di depannya erat-erat, sampai tangannya gemetar sehingga cangkir tersebut jatuh dan pecah.
Pelayan di belakangnya terlihat khawatir dan menanyakan keadaan Luki. Tapi Luki tidak menyadari apapun. Para pelayan lain membersihkan pecahan cangkir dan mengompres tangan Luki dengan air dingin. Luki baru sadar ketika rasa dingin menyentuh telapak tangannya. Tangannya tidak terasa sakit, padahal terdapat beberapa luka goresan. Dia membayangkan rasa sakit yang dialami Laura. Rasa sakit di tangannya tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang dirasakan Laura di kakinya. Adiknya memendam rasa sakit tanpa seorang pun tahu, termasuk dirinya. Di kamar apartemennya, Luki memandangi Laura pada foto mejanya. Luki sudah bisa menguasai rasa bersalahnya. Kini dia sungguh2 ingin membuat Laura bahagia. Sebuah pesan masuk ke handphone nya. Luki melihat isinya. Dari Laura.
Aku membuat makan siang untukmu.
Aku sudah menaruhnya di meja kerjamu.
Jangan lupa makan, ya.
Setelah membaca pesan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Luki meneteskan air mata.
******************************
Laura memutuskan untuk kembali bekerja setelah mengantar makan siang Luki. Ia sadar ia tidak bisa berpisah dari pekerjaan nya terlalu lama. Walaupun cutinya masih tersisa beberapa hari, Laura merindukan dapur restorannya. Jadi, sepulangnya dari kantor Luki, ia menuju Restoran Antonio. Teman-temannya sedikit terkejut melihat kedatangannya. Mereka tahu seharusnya Laura cuti.
"Aku harus bilang apa...?" desah Laura. "Aku merindukan kalian. Aku tidak bisa berlama-lama berpisah dengan kalian.
Laura tersenyum melihat dapurnya. Masih bersih tanpa noda makanan. Hanya dia seorang diri ditemani peralatan masaknya. Laura menutup mata dan membukanya kembali. Ia selalu bahagia di dapur ini. Di tempat ini, ia bisa menjadi seorang chef yang membuat makanan lezat. Ia bisa menjadi dirinya sendiri. Bukan wanita rapuh di hadapan Niko, atau adim yang menyembunyikan kesengsaraan di hadapan Luki, ataupun putri yang merasa sedikit iri dengan kebahagiaan dan kebersamaaan mama dan papa.
Laura berjalan mengelilingi dapur dengan perlahan. Saat ia hendak mengambil peralatan masaknya, kaki kanannya tersandung kursi besi. Laura mengernyit kesakitan. Napasnya terengah-engah. Ia bersandar pada meja sampat rasa sakit di kakinya mereda. Ia mencoba mengatur napasnya. Laura mengambil obat dari tasnya dan langsung menelannya. Perlahan rasa sakit di kakinya menghilang.
__ADS_1
Laura berdiri perlahan, lalu mengambil celemek putih dari atas lemari dan mengenakannya. Perasaan sedikit lega. Saat ia memasak makanan pertama hari itu, hatinya sudah kembali normal. Aroma masakan di dapur menentramkan perasaannya.