1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 23


__ADS_3

 


TAKSI Laura berhenti di sebuah restoran tepi pantai. Luki meneleponnya tadi siang dan memintanya datang ke restoran ini. Katanya ada hal penting yang ingin di bicarakan. Hari sudah malam. Suasana restoran benar-benar romantis. Lilin-lilin di meja menyala untuk menghangatkan suasana.


"Reservasi atas nama Luki Rafael," kata Laura pada pelayan di balik meja.


Sang pelayan menyuruh Laura mengikutinya.


Laura sedikit bingung ketika sang pelayan memintanya duduk di meja yang sudah berpenghuni. "Maaf, tapi mungkin ini bukan meja saya."


"Laura?" Tanya pria yang menghuni mejanya.


Laura memandang pria di mejanya dan tersenyum. "Oh, hai, Sam. Lama tidak melihatmu." Laura pertama kali bertemu Sam saat Luki memintanya melakukan tes DNA dua tahun yang lalu.


"Duduklah." Sam berdiri lalu menggeser kursi di sebelahnya untuk Laura.


"Aku tidak tahu Luki mengundangmu ke sini," tanya Laura sedikit heran.


Sam tertawa. "Aku juga tidak tahu Luki menyuruhmu kemari. Tadi siang dia bilang dia mau membicarakan hal penting denganku, dan memintaku kemari."


Tiba-tiba HP Laura berbunyi. Sebuah pesan masuk muncul disana.


SILAHKAN NIKMATI MAKAN MALAMNYA BERSAMA SAM. ANGGAP SAJA HADIAH ULANG TAHUN PENDAHULUAN DARIKU. SEMOGA BERHASIL ADIK KECIL.


Diseberangnya ,HP Dan juga berbunyi. Sam menatap pesan masuknya dengan bingung. Laura kini mengerti maksud Luki.


"Luki tidak akan datang, bukan?" Tanya Sam pada Laura.


Laura menggeleng. "Aku rasa dia mau menjodohkan kita."


Sam mendesah. "Ya. Aku rasa begitu. Sejak dulu Luki selalu berbuat semaunya."


Laura meletakkan HP nya di meja. "Aku akan memarahinya habis-habisan."


"Maaf, Laura." Wajah Sam terlihat tidak enak. "Hanya saja, minggu lalu aku bertemu dengan wanita yang aku sukai. Luki belum tahu soal ini. Mungkin itu sebabnya dia mau menjodohkan kita. Kau wanita yang menawan. Kalau aku belum punya pacar, aku tidak keberatan di jodohkan denganmu. Maaf."


Laura tertawa. "Kau tidak perlu merasa tidak enak. Aku menyukaimu sebagai seorang teman."


Sam bernapas lega. "Untunglah. Aku tidak keberatan kalau kau mau pergi."


"Kenapa kita harus pergi? Luki kan sudah membayar semuanya? Mari kita pesan makanan yang paling mahal. Kau tidak keberatan, kan? Tanya Laura sambil tersenyum puas.


"Aku tidak keberatan," kata Sam balas tersenyum.


Sambil menunggu pesanan, keduanya mengobrol ringan.


"Jadi, Sam, berapa lama kau mengenal Luki?" Tanya Laura ingin tahu.


"Sejak kuliah, mungkin sudah enam atau tujuh tahun. Kami sama-sama kuliah di Harvard. Dia masuk bisnis dan aku masuk hukum."


Laura sedikit kaget. "Luki masuk Harvard? Aku benar-benar tidak menyangka. Luki jarang berbicara tentang dirinya sendiri padaku."


"Ya. Luki lebih suka berbicara tentang orang lain." Sam menuangkan minuman ke gelas Laura.


"Aku rasa Luki masuk Harvard hanya untuk menantang om Charles."


Laura mengangguk. "Ya. Itu lebuh masuk akal. Aku tidak pernah membayangkan Luki duduk diam di ruang kuliah dan mendengarkan penjelasan dosen."


Sam tertawa.


"Wanita yang kau sukai,apakah dia cantik?" Ujar Laura mengalihkan pembicaraan.


Sam mengangguk. Selama satu jam kemudian Laura mengetahui segalanya tentang wanita yang disukai Sam.


"Hm.... kau benar-benar pendengar yang baik Laura," ujar Sam di akhir penjelasan. "Benar-benar nyaman rasanya berbicara denganmu. Mungkin seharusnya kau yang jadi pengacara. Aku rasa semua pelaku kejahatan bisa langsung mengaku. Tampangmu yang tenang itu sangat cocok berada di ruang pengadilan."


Laura tertawa. "Rasanya tidak. Aku lebih suka menjadi juru masak dari pada harus keluar masuk pengadilan."


"Yah. Makanan buatanmu benar-benar lezat. Aku sudah mencobanya sewaktu Rafael Group mengadakan acara. Kau bisa membuat seorang pria betah tinggal dirumah Laura," Sam memujinya. "Kau wanita yang istimewa. Aku yakin ada seorang pria istimewa juga untukmu di luar sana."


Laura terdiam sesaat. "Aku tidak tahu. Aku harap begitu."


Sam menditeksi keraguan jawaban Laura, dan sebagai pengacara yang piawai dia tahu bila seseorang mencoba menyembunyikan sesuatu. "Maaf kalau aku bertanya yang sedikit pribadi. Laura, apakah kau pernah patah hati?"

__ADS_1


Pertanyaan Sam kena sasaran. "Seharusnya aku tahu, aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari pengacara." Laura tersenyum singkat. "Tapi untuk menjawab pertanyaanmu.... ya. Aku pernah memgalaminya."


"Kau masih belum melupakannya?" Tanya Sam lagi.


"Aku tidak tahu," jawab Laura jujur. "Aku sudah mencobanya selama bertahun-tahun.


Seandainya saja patah hati punya batas waktu."


Sam memandangi Laura dengan sendu. "Aku pernah patah hati sekali. Benar-benar butuh waktu untuk melupakannya. Tapi, saat kau hanya mengingat kenangan yang indah dengannya dan kau tidak merindukannya lagi,saat itu patah hatimu sudah berakhir. Jadi saranku, ingatlah kenangan yang indah, kemudian perlahan-lahan lupakanlah dia."


Laura terharu mendengar perkataan Sam. "Terima kasih, Sam. Aku akan mencoba saranmu. Benar-benar menyenangkan berbicara denganmu."


"Ya. Aku juga merasakan hal yang sama. Apakah kita bisa terus berteman baik?" Tanya Sam.


Laura mengangguk. "Tentu saja. Dan sekarang sebagai teman baikku, aku ingin minta bantuan darimu."


Sam mengernyit keheranan.


 


************************


Luki Rafael bersiul gembira di apartemennya. Dia sudah mengenal Sam sejak lama dan tahu Sam pria yang baik dan perhatian. Laura akan menyukainya. Kalau rencananya malam ini membuahkan hasil, Laura akan sangat berbahagia mendapatkan kekasih baru. Dan siapa tahu, tahun depan mereka bisa melanjutkannya ke pelaminan.


Luki tersenyum puas. Sahabat baiknya dan adiknya. Keduanya benar-benar cocok.


Hp nya berbunyi. Dari Laura. Luki tersenyum. "Jadi, bagaimana kencan romantisnya?"


Laura berkata dengan tenang dari ujung telepon, "oh. Kencannya baik-baik saja." Luki sudah mendendangkan lagu pernikahan di kepalanya.


"Sam pria yang baik. Kau tidak akan menyesal bersamanya."


"Aku tahu dia pria baik," kata Laura lagi. Luki menyeringai. "Hanya saja kau melupakan satu hal kecil. Sam sudah punya wanita yang disukainya."


Luki langsung terduduk. "Apa? Sejak kapan Sam punya pacar?"


"Sejak minggu lalu," ungkap Laura. "Dia memang belum memberitahu siapa pun."


"Tapi,Laura.....," sanggah Luki.


Laura mengancam lagi, "kalau kau masih melakukannya, aku akan bilang pada papa dan mama apa yang kau lakukan di las vegas setelah kau lulus kuliah."


Luki panik. "Bagaimana kau bisa tahu tentang itu?" Luki terdiam, lalu melanjutkan, "Sam. Pasti dia. Tolong, Laura, jangan bilang papa dan mama soal itu."


"Aku tidak akan bilang kalau kau berhenti menjodohkanku," tegas Laura.


"Baiklah," Luki mendesah panjang. "Aku tidak percaya aku dikalahkan lagi olehmu."


Tak berapa lama setelah teleponnya ditutup, telepon apartemen Luki berbunyi. Kali ini giliran Sam yang mendampratnya habis-habisan. Rencana Luki hancur berantakan. Setelahnya Luki berpikir lama. Dia ingin Laura mendapatkan kebahagian. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu hari nanti. Luki hanya memerlukan ide lain untuk memastikan hal itu terjadi.


 


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Laura menatap kertas di tangannya. NF Jewelry. Ia melihat nama tersebut terpampang di depan sebuah gedung. Ia menyuruh sopir taksi berhenti. Luki bilang dia punya kejutan untuknya dan ingin Laura melihatnya langsung. Pintu masuk terbuka, Laura berhenti melangkah. Dia tidak pernah melihat ruangan luas dan berkilau seperti yang ia masuki sekarang.


Luki menatapnya sambil tersenyum dari tengah ruangan dan menyuruhnya mendekat. "Kenapa kau memintaku bertemu di sini?" Tanya Laura setelah berada di samping Luki.


"Aku ingin memberimu sesuatu." Luki membErikan sebuah kotak cincin ke hadapan Laura. "Bukalah."


Laura membuka kotak cincin tersebut. "Oh.....Luki...." Laura tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Cincin bintang di depannya benar-benar indah.


"Kau menyukainya?" Luki bertanya penuh harap.


"Benar-benar indah. Aku menyukainya." Laura masih belum bisa melepaskan tatapannya dari cincin itu. "Terima kasih."


"Kau bilang kau ingin sebuah cincin bintang. Selamat ulang tahun." Luki mengeluarkan cincin tersebut dari kotaknya dan memasukkannya ke jari tengah Laura.


Laura merentangkan telapak tangan kirinya. Cincin tersebut sangat pas di jarinya. Ia menyentuhnya dengan lembut.


"Aku sudah tidak sabar ingin memperlihatkannya padamu. Jadi aku memintamu kemari." Luki memegang tangan kiri Laura dan mengangkatnya supaya cincin tersebut menghadap ke arahnya.


"David, terima kasih kau sudah membuat cincin ini," kata Luki pada pria disampingnya.

__ADS_1


"Sama-sama," kata David. Melihat pelanggannya senang membuat hatinya senang juga.


Laura menatap David. "Kau yang merancangnya? Kau benar-benar hebat."


David menggeleng. "Bukan saya yang merancangnya. Saya hanya membuat cincinnya. Bos saya yang merancangnya. Ah... itu dia."


Laura berbalik dan tersenyum untuk melihat orang yang merancang cincinnya., serta ingin berterima kasih padanya. Tapi, senyumnya langsung menghilang.


"Ini bos saya. Niko Fareli," kata David pada Laura.


Beberapa langkah dari tempat Laura berdiri, Niko terdiam tak bergerak. Jantungnya berhenti berdetak. Gadis yang di carinya selama delapan tahun berdiri di hadapannya. Mereka saling menatap tanpa suara.


"Niko, Laura benar-benar menyukai cincinya. Aku harus berterima kasih padamu." Luki maju dan tersenyum pada Niko.


Napas Laura tidak beraturan. Tangannya jatuh terkulai. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Niko. NF Jewelry. Niko Fareli Jewelry. Seharusnya Laura bisa menerkanya. Bukan seorang dokter, tapi perancang perhiasan.


Luki yang tidak mengetahui apa-apa masih tetap berbicara. "Ah, iya. Kenalkan. Ini Laura. Laura, ini Niko, orang yang merancang cincinmu."


Niko maju beberapa langkah mendekati Laura. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Laura. Dia hendak memeluknya saat itu juga.


Laura tersadar dari rasa kagetnya. Ia menguatkan hatinya dan maju selangkah, senyumnya mengembang perlahan. "Senang bertemu dengan anda. Rancangan anda benar-benar bagus." Laura tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak bisa menghadapi pertemuannya dengan Niko saat ini. Jadi ia memilih untuk berpura-pura tidak mengenalnya. Ia masih ingat perkataan terakhir Niko. ("Aku tidak bisa menjadi temanmu lagi")*.


Setelah menatap Niko sejenak, Laura berbalik dan berjalan ke arah Luki, mengabaikan Niko yang kebingungan mendengar pernyataan Laura. "Luki, aku harus kembali bekerja sekarang. Aku harus pergi."


*("tolonglang, Luki. Turuti kemauanku. Aku tidak akan bisa bertahan jika berada di sini lebih lama lagi.")*. Laura berharap dalam hati. Dia menggenggam tangan Luki seakan meminta kekuatan.


"Baiklah," kata Luki. "Aku akan mengantarmu."


"Thanks." Laura sedikit lega. "Ayo pergi."


Luki mengucapkan selamat tinggal pada Niko dan David, lalu membawa Laura keluar dari toko perhiasan.


"Bos, kau tidak apa-apa?" David menyentuh pundak Niko.


Niko perlahan tersenyum. Dia sudah menemukan Laura. Dia tidak tahu mengapa Laura purapura tidakmengenalnya, tapi Niko tahu Laura mengenalinya. "Aku baik-baik saja," jawab Niko." Lebih baik dari pada delapan tahun yang pernah kulalui."


Niko tersenyum pada asistennya. David bingung melihat senyuman bosnya. Niko berlari ke lantai atas dan mengambil kotak cincin bintang di laci meja kerjanya. Dia membukanya. "Senang bertemu denganmu lagi, Laura."


 


******************************


Laura memutar-mutar cincin di jari tengah tangan kirinya. Jantungnya masih belum berhenti berdebar-debar. Niko. Berada di depan matanya setelah delapan tahun tidak bertemu. Ia merasa melakukan hal yang benar dengan berpura-pura tidak mengenalnya. Ia kira ia sudah bisa melupakan masa lalunya. Tapi begitu bertemu Niko lagi, semua kenangan yang sudah berusaha ia pendam bermunculan kembali. Laura tidak berharap bertemu Niko lagi. Ia tidak ingin melihat Niko lagi. Terlalu menyakitkan rasanya.


"Kau memainkan cincinmu dari tadi," kata Luki yang memegang kemudi.


Laura berhenti memainkan cincinnya.


"Kau benar-benar menyukai cincinnya, kan?" Luki terlihat ragu. Laura menatap Luki sambil tersenyum. "Ya. Aku menyukainya. Aku akan mengenakannya setiap hari."


"Tapi,dari tadi kau diam saja. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?"


*("pria yang ku sukai delapan tahun yang lalu muncul di depanku")* Laura ingin mengatakan demikian, tapi ia memutuskan lebih baik Luki tidak tahu. Ia tidak ingin membuat Luki khawatir. "Tidak ada. Hanya sedang mengagumi cincin ini."


Luki tersenyum. "Jadi menurutmu Niko bagaimana?"


Laura tersedak ludahnya sendiri dan batuk-batuk. Ia mengambil sebotol air di sebelah kursi penumpang dan meminumnya. Laura menarik napas perlahan beberapa kali. ("Kenapa Luki harus menanyakan pendapatnya soal Niko?) Tanya Laura dalam hati.("aku tidak bisa menjawabnya").


Luki menatap Laura dengan seksama. Semenjak keluar dari toko perhiasan,Laura tidak bersikap seperti biasanya. Ia gugup.


"Aku tidak mengenalnya," akhirnya Laura menjawab pertanyaan Luki. Setidaknya jawabannya setengah benar. Laura tidak mengenalnya sekarang.


Luki tertawa. "Aku tahu kau tidak mengenalnya. Maksudku, bagaimana pendapatmu tentang rancangannya? Pemilik toko sekaligus perancang perhiasan."


"Ya. Rancangannya memang bagus." Laura merasa sedikit lega. Di sisi lain, ia senang Niko dapat meraih impiannya menjadi perancang perhiasan. "Kau sudah lama mengenal Niko?" "Sekita dua minggu yang lalu. Aku bertemu dengannya di lift apartemen," jelas Luki.


"Apartemen?" Laura kaget. "Apartemenmu?"


Luki mengangguk. "Ya. Dia tinggal di lantai bawah. Cuma beda satu lantai."


Laura menunduk menghindari wajah Luki. Ia memejamkan matanya. ("Bagaimana aku bisa menjauhinya kalau dia tinggal di apartemen yang sama dengan Luki?").


Sesampainya di restoran,Laura terduduk lemas. Waktu telah mempertemukan mereka kembali. Ia menatap cincin di tangannya. Cincin rancangan Niko. Di luar jendela,matahari sore mulai tenggelam. Laura berhenti melihat cincinnya dan mulai bekerja untuk melupakan pertemuannya dengan Niko.

__ADS_1


__ADS_2