1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 29


__ADS_3

 


Hari sudah mulai larut malam Luki pulang ke apartemen. Hatinya merasa lega. Dia menangani masalah salah satu anak perusahaan Rafael dengan baik, dan papa memuji solusinya.


Ketika memasuki ruang apartemennya yang gelap, Luki sedikit bingung. Dia tahu hari ini Laura tidak masuk kerja. Seharusnya Laura berada di apartemennya. Tapi kenapa lampu apartemennya mati?


Luki hendak menyalakan lampu ruang tamu saat melihat Laura tidur di sofa. Rupanya Laura ketiduran. Luki mendekati Laura lalu mengangkatnya dari sofa dan menidurinya di kamar tidur tamu. 


Luki hendak berbalik pergi ke kamarnya saat mendengar suara Laura mengigau.


"Niko..." katanya perlahan.


Luki terduduk di sisi ranjang Laura dan mendesah, "kau belum melupakannya, bukan?" Ujarnya perlahan. "Aku rasa kau masih menyukainya."


Luki termenung. Dia berpikir keras. Dia tahu mengapa Laura tidak mau kembali pada Niko. Sebagian karena rasa takut. Sebagian lagi karena Laura merasa tidak pantas berasa di sisi Niko. Apalagi setelah kecelakaan yang dialami Laura. Gara-gara dirinya. Luki sudah berhenti menyalahkan dirinya sendiri sejak lama. Laura telah memberinya kekuatan untuk mengatasi rasa bersalahnya. Laura mengatakan Luki tidak bisa mengetahui dan mengendalikan apa yang terjadi pada masa depan.


Laura benar. Luki menatap adiknya yang sedang tidur. Sebuah ide muncul di benaknya. Dia tersenyum pada Laura.

__ADS_1


 


******************************************


Keesokan paginya, Laura membuka matanya perlahan. Ia melihat jam di meja kamar tidurnya. Sudah jam delapan. Hal terakhir yang diingat Laura adalah kemarin sore saat ia menjatuhkan belanjaannya. Luki pasti membawa nya ke kamar tidur. Laura tidak pernah tidur senyenyak ini.


Pasti karena obat antisakit yang diminumnya kemarin.


Laura bergegas mandi. Hari ini ia masuk kerja.


"Selamat pagi," sapa Luki dari ruang makan.  "Selamat pagi," balas Laura. "Kau tidak ke kantor?" "Ini kan Sabtu," Luki mengingatkan.


Luki menggiring Laura ke ruang makan. "sarapan dulu. Baru pergi kerja." "Tapi..."


Luki menggeleng. "Tidak ada tapi-tapian. Kau harus sarapan sampai kenyang."


Laura mengalah. "Baiklah". Ia mulai mengambil roti panggang yang ada di meja makan dan memakannya.

__ADS_1


Akibatnya, Laura terlambat sampai di restorannya. Tapi Antonio dan para staf memakluminya.


Restoran masih sepi saat Laura datang. Saat jam makan sianh, Laura sibuk bekerja di dapur. Sesekali Antonio mengomeli dan menyeretnya keluar dari dapur untuk beristirahat.


Ketika Laura kembali ke apartemennya, hari sudah menjelang sore. Malam nanti restorannya akan sibuk. Biasanya malam minggu memang malam yang paling sibuk.


Laura ingin beristirahat sejenak di apartemen melepas rasa penatnya. Dan setibanya disana ia lihat Luki baru keluar dari kamar mandi.


"Kau tidak bepergian?" tanya Laura. Luki menggeleng. "aku baru saja bermain tenis di lapangan bawah". 


"Malam ini aku pasti sibuk," kata Laura. "Kau tidak perlu menungguku pulang. Tidur saja duluan. Aku pasti pulang malam sekali." "Oke" kata Luki.


Laura mengambil susu dingin dari kulkas dan menawarinya pada Luki. Ketika Luki melihat tangan kiri Laura, Luki bertanya, "Laura, kau tidak mengenakan cincinmu?"


Laura melihat jari tengah tangan kirinya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali melepas cincin Luki dari tangannya. Laura langsung berlari ke kamar mandi dan mengecek apakah cincinnya ada di sana. Setelah keluar, ia berkata "aku mungkin meninggalkan cincinku di restoran. Biasanya aku suka melepas cincinku kalau sedang mencuci tangan. Jangan khawatir Luki. Aku pasti menemukannya kembali."


Luki tersenyum. "Aku yakin kau pasti menemukannya".

__ADS_1


Dalam hati Laura sedikit panik. Ia benar-benar lupa kapan terakhir kali memakai cincinnya. Ia memang sering melepas cincin tersebut kalau sedang mandi dan mencuci tangan. Kalau tidak ada di apartemen, Laura yakin pasti ada di restoran.


__ADS_2