
Laura berbalik dan tersenyum untuk melihat orang yang merancang cincinnya., serta ingin berterima kasih padanya. Tapi, senyumnya langsung menghilang.
“Ini bos saya. Niko Fareli,” kata David pada Laura.
Beberapa langkah dari tempat Laura berdiri, Niko terdiam tak bergerak. Jantungnya berhenti berdetak. Gadis yang di carinya selama delapan tahun berdiri di hadapannya. Mereka saling menatap tanpa suara.
“Niko, Laura benar-benar menyukai cinci nya. Aku harus berterima kasih padamu.” Luki maju dan tersenyum pada Niko.
Napas Laura tidak beraturan. Tangan nya jatuh terkulai. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Niko. NF Jewelry. Niko Fareli Jewelry. Seharus nya Laura bisa menerkanya. Bukan seorang dokter, tapi perancang perhiasan.
Luki yang tidak mengetahui apa-apa masih tetap berbicara. “Ah, iya. Kenalkan. Ini Laura. Laura, ini Niko, orang yang merancang cincinmu.”
Niko maju beberapa langkah mendekati Laura. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Laura. Dia hendak memeluknya saat itu juga.
Laura tersadar dari rasa kagetnya. Ia menguatkan hatinya dan maju selangkah, senyumnya mengembang perlahan. “Senang bertemu dengan anda. Rancangan anda benar-benar bagus.” Laura tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak bisa menghadapi pertemuannya dengan Niko saat ini. Jadi ia memilih untuk berpura-pura tidak mengenalnya. Ia masih ingat perkataan terakhir Niko. (“Aku tidak bisa menjadi temanmu lagi”)*.
Setelah menatap Niko sejenak, Laura berbalik dan berjalan ke arah Luki, mengabaikan Niko yang kebingungan mendengar pernyataan Laura. “Luki, aku harus kembali bekerja sekarang. Aku harus pergi.”
*(“tolonglang, Luki. Turuti kemauanku. Aku tidak akan bisa bertahan jika berada di sini lebih lama lagi.”)*. Laura berharap dalam hati. Dia menggenggam tangan Luki seakan meminta kekuatan.
“Baiklah,” kata Luki. “Aku akan mengantarmu.”
“Thanks.” Laura sedikit lega. “Ayo pergi.”
Luki mengucapkan selamat tinggal pada Niko dan David, lalu membawa Laura keluar dari toko perhiasan.
“Bos, kau tidak apa-apa?” David menyentuh pundak Niko.
__ADS_1
Niko perlahan tersenyum. Dia sudah menemukan Laura. Dia tidak tahu mengapa Laura purapura tidakmengenalnya, tapi Niko tahu Laura mengenalinya. “Aku baik-baik saja,” jawab Niko.” Lebih baik dari pada delapan tahun yang pernah kulalui.”
Niko tersenyum pada asistennya. David bingung melihat senyuman bosnya. Niko berlari ke lantai atas dan mengambil kotak cincin bintang di laci meja kerjanya. Dia membukanya. “Senang bertemu denganmu lagi, Laura.”
Laura memutar-mutar cincin di jari tengah tangan kirinya. Jantungnya masih belum berhenti berdebar-debar. Niko. Berada di depan matanya setelah delapan tahun tidak bertemu. Ia merasa melakukan hal yang benar dengan berpura-pura tidak mengenalnya. Ia kira ia sudah bisa melupakan masa lalunya. Tapi begitu bertemu Niko lagi, semua kenangan yang sudah berusaha ia pendam bermunculan kembali. Laura tidak berharap bertemu Niko lagi. Ia tidak ingin melihat Niko lagi. Terlalu menyakitkan rasanya.
“Kau memainkan cincinmu dari tadi,” kata Luki yang memegang kemudi.
Laura berhenti memainkan cincinnya.
“Kau benar-benar menyukai cincinnya, kan?” Luki terlihat ragu. Laura menatap Luki sambil tersenyum. “Ya. Aku menyukainya. Aku akan mengenakannya setiap hari.”
“Tapi,dari tadi kau diam saja. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”
*(“pria yang ku sukai delapan tahun yang lalu muncul di depanku”)* Laura ingin mengatakan demikian, tapi ia memutuskan lebih baik Luki tidak tahu. Ia tidak ingin membuat Luki khawatir. “Tidak ada. Hanya sedang mengagumi cincin ini.”
Laura tersedak ludahnya sendiri dan batuk-batuk. Ia mengambil sebotol air di sebelah kursi penumpang dan meminumnya. Laura menarik napas perlahan beberapa kali. (“Kenapa Luki harus menanyakan pendapatnya soal Niko?) Tanya Laura dalam hati.(“aku tidak bisa menjawabnya”).
Luki menatap Laura dengan seksama. Semenjak keluar dari toko perhiasan,Laura tidak bersikap seperti biasanya. Ia gugup.
“Aku tidak mengenalnya,” akhirnya Laura menjawab pertanyaan Luki. Setidaknya jawabannya setengah benar. Laura tidak mengenalnya sekarang.
Luki tertawa. “Aku tahu kau tidak mengenalnya. Maksudku, bagaimana pendapatmu tentang rancangannya? Pemilik toko sekaligus perancang perhiasan.”
“Ya. Rancangannya memang bagus.” Laura merasa sedikit lega. Di sisi lain, ia senang Niko dapat meraih impiannya menjadi perancang perhiasan. “Kau sudah lama mengenal Niko?” “Sekita dua minggu yang lalu. Aku bertemu dengannya di lift apartemen,” jelas Luki.
“Apartemen?” Laura kaget. “Apartemenmu?”
__ADS_1
Luki mengangguk. “Ya. Dia tinggal di lantai bawah. Cuma beda satu lantai.”
Laura menunduk menghindari wajah Luki. Ia memejamkan matanya. (“Bagaimana aku bisa menjauhinya kalau dia tinggal di apartemen yang sama dengan Luki?”).
Sesampainya di restoran,Laura terduduk lemas. Waktu telah mempertemukan mereka kembali. Ia menatap cincin di tangannya. Cincin rancangan Niko. Di luar jendela,matahari sore mulai tenggelam. Laura berhenti melihat cincinnya dan mulai bekerja untuk melupakan pertemuannya dengan Niko.
NIKO bertemu kembali dengan Luki di lift apartemen seminggu kemudian. Dia menyerahkan undangan pameran perhiasannya. Luki mengatakan dia akan datang. Lalu Niko menambahkan, “ajaklah Laura.” Luki menyetujui usul Niko. Dia tidak tahu alasan utama Niko mengundangnya adalah untuk bertemu Laura lagi.
Minggu depannya, Luki membawa Laura ke pameran perhiasan Niko. Laura tidak menyangka dia akan diajak ke pameran perhiasan itu, karena kalau tahu, sudah tentu dia menolaknya. Jadi,ketika melihat poster pameran perhiasan NF Jewelry di depan pintu masuk ballroom hotel, Laura kembali merasa gugup. Sudah seminggu dia berusaha untuk tidak pergi ke apartemen Luki. Dia tidak ingin bertemu secara sengaja maupun tidak dengan Niko.
Laura menghentikan langkahnya di pintu depan. Luki berbalik menatap Laura dengan bingung. “Kau tidak mau masuk?”
“Kau tidak pernah bilang kau mengajakku ke pameran perhiasan,” keluh Laura. Terutama pameran perhiasan Niko.
“Aku kira kau akan menyukainya. Ayolah, kau boleh memilih perhiasan yang kau inginkan. Aku pasti akan membelikannya untukmu,” Luki berusaha menghibur Laura. “Lagi pula, aku sudah janji pada Niko akan menghadiri pamerannya.”
Laura menyerah. “Baiklah. Aku melakukan ini untukmu.”
Di dalam ruangan pameran sudah terdapat kerumunan orang. Sebagian berasal dari kalangan atas. Kebanyakan dari mereka sedang mengagumi karya Niko yang terpampang di kotak-kotak kaca. Laura melihat Niko kewalahan berbicara dengan beberapa orang sekaligus. Laura tersenyum kecil. Sejak zaman sekolah dulu sampai sekarang,Niko tidak pernah luput dari perhatian.
Seorang wartawan memotret Niko bersama dengan salah satu koleksi perhiasannya. Luki mendekat ke arah Niko. Laura mengenggam tas tangannya kuat-kuat. Ia harus berpura-pura tidak mengenal Niko lagi hari ini.
Tepat saat Niko melihat Laura, seorang wartawan bertanya padanya, “apa yang membuat anda ingin menjadi perancang perhiasan?”
Fb@ardhy ansyah
Ig@ardhy_ansyah123
__ADS_1