1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
BAB 31


__ADS_3

 


“Kau menemukan cincinnya.”  uki melihat cincin bintang pemberiannya di tangan kiri Laura saat Laura pulang ke apartemen.


Laura menunjukan jemarinya sebentar pada  uki. “Ya. Aku menemukannya di dapur restoran.


Aku pasti melepaskannya saat mencuci peralatan masakku.”  uki tersenyum tipis. “Kau masih harus kembali ke restoran malam nanti?” Laura mengangguk.


“Kau pulang malam sekali kemarin. Bagaimana kalau malam ini kau pulang jangan terlalu malam? Aku terlalu khawatir padamu. Mukamu terlihat sedikit pucat.”  uki memandang Laura khawatir.


“Baiklah,” kata Laura. “Malam ini aku akan pulang lebih cepat.”


“Kau bekerja terlalu keras,” omel  uki. “Bagaimana kalau bulan depan kita jalan-jalan sekeluarga ke luar negeri? Kita belum pernah melakukannya.”


Laura tertawa. “Kepalamu selalu penuh dengan ide aneh. Kalau kau dan Papa jalan-jalan, siapa yang mengurus perusahaan?” Luki cemberut.


Laura mendekatkan wajahnya ke wajah  uki. “ ebenarnya usulmu bagus juga kok. Mungkin tidak sekarang.  ain kali saja. Bagaimana?”  uki tertawa. “Aku akan mengusulkannya pada Papa.”


Laura terbangun dengan rasa sakit yang amat sangat di lutut kanannya. Tubuhnya berkeringat. Ia meminum obat antisakitnya, tapi sepertinya efek obat itu hanya sementara. Laura tahu, pasti ada masalah dengan kakinya. Di dalam kamar ia berusaha tidak berteriak kesakitan dan membangunkan Luki. Laura perlu menemui Dokter Riswan.

__ADS_1


Pagi harinya, ketika Laura bangun, Luki sudah berangkat ke akntor. Laura menelpon Dokter Riswan untuk membuat janji temu. Sejam kemudian, Laura sudah berada di rumah sakit.


Laura tidak terlalu suka dengan bau rumah sakit, karena mengingatkannya pada kecelakaannya. Dokter Riswan tersenyum ramah ketika Laura memasuki ruang prakteknya. Laura mulai menjelaskan rasa sakit di kakinya.


“ udah berapa lama?” tanya Dokter Riswan.


“ ekitar beberapa minggu, Dok.  aya tidak tahu mulai pastinya kapan. Awalnya hanya merasa kelelahan, lalu kram, dan sekarang obat antisakit hanya bisa meredakan sementara.”


Dokter Riswan terlihat khawatir, dan memutuskan untuk memeriksa kaki kanan Laura secara menyeluruh. Dua jam kemudian, Laura kembali ke ruang praktik untuk mendengarkan hasil pemeriksaan kakinya. Saat melihat wajah Dokter Riswan yang murung, Laura berkesimpulan bahwa hasil pemeriksaannya tidak bagus.


“Kakimu mengalami infeksi lagi.” Dokter Riswan menatap Laura.


Dokter Riswan mengangguk. “Kau harus menjalani operasi lagi, Laura.” “Kapan?” tanya Laura lirih.


“ ecepatnya.  aya sarankan minggu ini.  ebih cepat lebih baik. Kalau infeksinya sampai menjalar kemana-mana, kondisi kakimu akan menjadi lebih parah, dan kau akan mengalami rasa sakit yang luar biasa.”


Laura tidak bisa bernafas. “Apakah dengan operasi, kaki saya bisa normal kembali?”


Dokter Riswan memperlihatkan hasil pemeriksaan kaki Laura dan memandangnya dengan serius. “ aya akan berusaha sekeras mungkin supaya operasi kakimu berhasil.”

__ADS_1


“Dan kalau operasinya tidak berhasil...?” ucap Laura perlahan. Air mata sudah menggenangi matanya. “Kalau infeksinya sudah terlalu parah?” Dokter Riswan terdiam.


“ aya akan kehilangan kaki saya, bukan?” Laura mencoba untuk menelan kenyataan pahit yang akan ia terima.


Dokter Riswan mendesah perlahan. “ aya akan berusaha supaya itu tidak terjadi. Kau harus optimis, Laura.”


Air mata mulai membasahi pipi Laura. Ia mengusapnya dengan cepat. “Tolong katakan yang sebenarnya, Dokter.”


Dokter Riswan menatap Laura dengan sedih. “Kalau memang infeksinya parah, saya terpaksa mengamputasi kakimu. Tapi itu adalah jalan terakhir. Kakimu harus dioperasi secepatnya. Karena kalau dibiarkan terlalu lama, kemungkinan infeksinya akan semakin parah. Saya akan memberitahu ayahmu.”


Laura menggeleng. “Jangan. Tolong jangan bilang pada Papa. Tidak hari ini.”


“Laura, kau harus dioperasi secepatnya,” Dokter Riswan bersikeras. “Keluargamu perlu tahu. Kau butuh dukungan mereka untuk operasimu.”


Laura berdiri dari kursinya. “ aya tahu. Tapi jangan beritahu mereka hari ini.  aya akan memberitahu mereka besok. Setelah itu saya bersedia dioperasi. Tolong beri saya waktu. Saya mohon, Dokter.”


Dokter Riswan mengangguk. “Baiklah. Tapi kalau besok kau tidak datang ke rumah sakit, saya pasti akan menghubungi ayahmu. Saya tidak bisa menyimpan hal sepenting ini darinya. Dia sudah menjadi teman baik saya sejak dua tahun lalu.”


Laura mengangguk. Ia keluar dari rumah sakit dengan linglung. Ia terduduk di salah satu halte bus. Tangannya menyentuh kaki kanannya. Mungkin hari ini hari terakhirnya ia bisa menggunakan kaki kanannya. Laura menangis sejadi-jadinya. Ia tidak ingin kehilangan kaki kanannya. Ia ingin berdiri dengan kedua kakinya di dapur dan melakukan pekerjaannya.

__ADS_1


Setelah tangisnya mereda, Laura membasuh mukanya di toilet umum. Matanya masih sedikit merah. Tapi ia tidak akan melewatkan hari ini dengan kesedihan. Ia akan melakukan pekerjaannya di dapur restoran. Walaupun mungkin itu terakhir kalinya ia bisa berdiri dengan kedua kakinya.


__ADS_2